
...⪻⪼...
Sosok mahkota taring itu menyeringai saat melihat api hijau yang menguar dari tubuh Ivew. Mata bulan sabit yang bersinar merah itu menatap ke arah atas saat merasakan sesuatu datang ke arahnya.
“Hihihi ... silahkan saja! Tapi kurasa sekarang bukan waktunya,” ucap sosok mahkota taring itu membuat Ivew mengernyit heran.
Gadis dengan mata emerald itu tersentak saat angin putih berputar di sekitarnya dan bisikan lembut suara seseorang sedikit menurunkan kemarahannya. Sosok mahkota taring itu menyeringai lebar ke arahnya Ivew yang mulai tertelan angin putih.
“Kau! Apa yang kau laku-”
“Hihi ... aku akan menunggu sampai waktunya tiba. Sampai saat itu teruslah pupuk rasa dendammu itu!” cemooh sosok mahkota taring itu melambai ke arah Ivew yang mulai hilang di telan angin putih.
Gadis bermata emerald itu mengeram marah saat sosok mahkota taring itu hilang dari pandangannya. Ivew melirik angin yang berada di sekitarnya dan kembali mendengar senandung seorang gadis yang sangat familiar dengannya dan kembali masuk ke dalam kegelapan.
Ivew membuka matanya dengan nafas memburu saat menemukan dirinya berbaring di tengah rimbunnya bunga yang bergerak di tolak angin. Gadis dengan mata emerald itu bangkit duduk dan meringis saat merasakan sakit pada kepalanya. Ivew mengedarkan pandangannya dan terdiam saat mengetahuinya dirinya berada di tempat pertemuannya dengan Iletta.
“Apa yang kamu lakukan, Ivew?”
Gadis dengan mata emerald itu berbalik saat mendengar suara Iletta muncul di belakangnya. Gadis itu terdiam saat Iletta menatapnya dengan wajah sendu. Bahkan, beberapa air mata tampak lolos dari matanya. Rambut putih gadis itu bergerak dihembus angin.
Ivew menunduk menghindari tatapan Iletta kepadanya. Gadis itu kembali menatap ke depan dan memeluk kedua lututnya erat, mengabaikan eksistensi Iletta yang berada di belakangnya. Ivew tetap diam saat angin bergerak menyentuh rambut hitam legamnya, menerbangkan beberapa helai rambut hitam legamnya.
Iletta bergerak maju dan bersimpuh di depan Ivew, menatap dalam gadis dengan mata emerald di depannya. Ivew tetap diam dan menunggu Iletta memulai percakapan, suasana hening itu membuat Ivew tak nyaman tetapi gadis itu tak punya pilihan karena tak sanggup memulai pembicaraan dengan Iletta.
“Ada apa denganmu? Kenapa kamu biarkan kegelapan menguasai hatimu?”
__ADS_1
Iletta bertanya memecah hening diantara keduanya dan menatap Ivew yang terus menghindari tatapannya.
Iletta menghela nafas lelah saat Ivew tak kunjung menjawab pertanyaannya. Gadis dengan rambut putih itu mulai bersenandung melepaskan melodi gundahnya pada alam. Angin menyambut senandung Iletta dengan menggerakkan rambut sang gadis dan bunga-bunga di sekitarnya.
Beberapa kelopak bunga berterbangan dan menari di birunya langit. Ivew merasakan rambutnya bergerak mengikuti tarian angin hanya diam. Gadis itu masih bisa merasakan kemarahan memuncak dalam jiwanya saat mengingat sosok bertaring sebelumnya.
Iletta yang menyadari aura kegelapan kembali menguar dari tubuh Ivew menatap gadis itu tajam dan bangkit berdiri, menggerakkan angin di kedua tangannya untuk membentuk penjara angin berwarna putih. Ivew tersentak saat jeruji dari angin mengurung dirinya. Gadis itu menatap Iletta yang sudah berhenti bersenandung dan kini berdiri di depannya.
“Kak Iletta, aku-”
“Alam akan sangat kecewa jika kekuatannya digunakan untuk balas dendam, Ivew!”
Suara lletta terdengar dingin dan masuk ke dalam pendengarannya. Ivew menundukkan kepalanya dan mulai menangis. Tangisan gadis itu menggema ke seluruh ladang bunga dan Iletta tersenyum sendu menatap wajah Ivew yang banjir air mata.
“Lepaskan rasa gundahmu adik manis! Jangan menahannya lagi! Dengan begitu kamu akan merasa lebih tenang!” ucap Iletta dengan senyum lembut di wajahnya.
Memori gadis itu kembali memutar tentang ingatan kecelakaan yang di alami keluarganya dalam wujud Cona Renjana. Kecelakaan yang menyengsarakan hidupnya di kehidupan sebelumnya dan mengambil semua keluarganya dari pelukannya.
Masih jelas dalam ingatan Ivew bagaimana mobil yang dikendarai keluarganya tiba-tiba terbalik di jalanan yang sepi, dan manik gadis itu sempat menangkap sosok hitam yang menyeringai saat melihat mobil keluarganya terbalik.
Ingatan itu baru saja kembali saat dirinya bertemu pandang dengan sosok bertaring sebelumnya. Salah satu kebenaran tentang kematian keluarganya akhirnya terungkap dan Ivew tidak bisa menahan rasa dendamnya saat sosok bertaring itu terus menyeringai di depannya.
“Kenapa aku baru mengingatnya sekarang?! Kenapa fakta itu selalu menyakitkan?!” pekik Ivew memukul tanah penuh bunga di bawahnya.
Iletta terdiam dan ikut merasa perit saat melihat Ivew yang larut dalam lukanya. Jemari gadis itu bergerak
__ADS_1
menghilangkan penjara anginnya dan beralih meraih Ivew yang terus memukul tanah. Gadis berambut putih itu mengelus pelan punggung Ivew yang tersentak akan pelukannya. Manik emerald Ivew yang penuh air mata menatap wajah Iletta yang tersenyum lembut di depannya.
“Bukan fakta yang menyakitkan, Ivew. Tapi karena hati kita menolak fakta yang terjadi, itulah yang membuatnya terasa lebih menyakitkan. Kita menolak menerimanya, berandai-andai dan menyesali kenapa hal itu terjadi. Itu tidak ada gunanya Ivew! Semua yang kamu lakukan hanya menyakiti dirimu!”
Iletta tersenyum lembut dan mengelus pelan puncak kepala Ivew, meraih helai rambut hitam legam Ivew dan menguntai senyum di wajahnya. Gadis bermata emerald itu mulai tenang saat Iletta terus mengelus kepalanya merasa nyaman dan penuh kehangatan.
“Jangan biarkan dendam menguasai hatimu, Ivew! Jangan bawa kekuatan alam ke arah yang salah! Tenangkan hatimu seperti air yang tenang! Jangan biarkan bara kemarahan menghempaskan kesabaran hatimu!”
Iletta tersenyum dan meraih tubuh Ivew, membaringkan kepala gadis itu di atas pahanya. Jemari Iletta kembali mengelus puncak kepala Ivew. Seperti elusan yang diberikan ibu kepada putrinya.
Ivew kembali menangis saat merasakan perasaan familier yang membuat hatinya bergemuruh akan perasaan rindu. Iletta membiarkan Ivew kembali menangis melepas rasa gundahnya, membiarkan Ivew memeluk pinggangnya dengan erat.
Angin di sekitar mereka kembali bergerak menerbangkan sekumpulan bunga dandelion yang berada di ujung ladang. Iletta mendongak memandang dandelion yang berterbangan di atasnya. Berkilau saat kelopak putihnya terkena cahaya matahari di bawah langit yang terbentang biru.
“Seperti dandelion yang terus bertahan hidup di mana pun aku harap kamu juga mampu bertahan dari takdir ini, Adik manis. Selalu ada kebahagiaan di ujung penderitaan,” ujar Iletta terus mengelus kepala Ivew yang semakin sesegukan.
Jemari Iletta bergerak menghapus air mata Ivew dan gadis berambut putih itu mulai bersenandung. Menyampaikan melodi penenang pada alam yang terus menanti kepulangannya. Mengajak alam untuk menari dan melepaskan perasaan negatif di dalam jiwa.
“Ssstt ... sudahlah. Sekarang kamu harus tidur, Ivew! Dan saat bangun nanti pastikan hatimu telah bersih dari kegelapan!”
...⪻⪼...
Pagi-pagi makan ikan goreng
Happy reading .... 💐
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨