Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
51 - Yang Tertinggal


__ADS_3

⪻⪼


Mansion Rizery


Laveron mendongak menatap langit biru di atasnya. Dua hari telah berlalu semenjak hilangnya sang adik dan mereka terus melakukan pencarian. Bahkan, hingga saat ini sudah ada beberapa orang bangsawan yang juga menghilang tanpa jejak. Hal ini menimbulkan kecemasan sendiri di kalangan bangsawan yang merasa tak tenang di wilayah mereka.


“Katanya putra kedua dari keluarga Angena juga menghilang,” ucap Leister saat dirinya baru kembali melakukan pencarian terhadap Ivew.


Laveron yang sedang menatap ke arah jendela menatap Leister yang duduk di sofa. Pemuda bermata ruby itu menyandarkan tubuhnya dan menatap langit-langit ruangan di atasnya. Lampu gantung dengan kristal berwarna biru itu tampak megah disandingkan dengan warna biru dari dinding ruangan.


“Bagaimana dengan kabar pencarian Duke Ekan, Tuan Muda?” tanya Laveron duduk di sofa berhadapan dengan Leister.


Pemuda dengan mata ruby itu menghela nafas seraya menggelengkan kepalanya. Duke Ekan adalah bangsawan yang pertama kali menghilang tanpa jejak disusul oleh Ivew yang menurut Veister hilang karena serangan penyihir hitam.


Sehari setelah hilangnya Ivew, mereka juga mendapat kabar bahwa putra kedua dari keluarga Angena juga menghilang saat dirinya tengah berpatroli di sekitar wilayahnya. Veister yang berada di sudut ruangan membuka matanya.


Pemuda dengan manik dua warna itu masih memulihkan kekuatan sihirnya setelah mendapatkan potion tingkat tinggi dari Duke Dexter. Veister melirik Laveron yang duduk di depan Leister, pemuda dengan mata dua warna itu kembali mengingat hasil penyelidikan yang dilakukan prajurit militer laut di kamar Ivew.


Mereka menemukan cairan hijau di beberapa sudut ruangan dan segera mengantarkan sample cairan itu ke wilayah Rozitto untuk diteliti lebih lanjut oleh para ilmuan di sana.


“Lalu sekarang apa? Kita tidak mungkin berdiam diri saja, Tuan Muda?”


Veister kembali tersadar dari lamunannya saat mendengar pertanyaan yang diajukan Laveron. Pemuda dengan manik dua warna itu kembali menutup mata dan memfokuskan kekuatan sihirnya.


“Angin yang menyaksikan segalanya. Sampaikan kebenaran kepada kami tentang raga yang hilang dari pandangan. Infyd!”


Leister dan Laveron menoleh ke arah Veister saat pemuda itu merapalkan mantranya. Cahaya coklat bercampur perak bersinar di sekitar mereka saat sebuah lingkaran sihir berwarna putih hadir di depan Veister. Angin kecil berputar di dalam ruangan seiring keluarnya sebuah makhluk di atas lingkaran sihir itu.


Veister membuka kedua matanya dan menatap cahaya putih kecil yang perlahan berubah menjadi sebuah kupu-kupu berwarna putih. Kupu-kupu itu berpendar di tengah lingkaran sihir dan terbang mengelilingi Veister yang tersenyum.

__ADS_1


“Mirip seperti Grein,” gumam Leister menatap kupu-kupu yang terbang dan hinggap di atas tudung jubah hitam-perak Veister.


Pemuda dengan mata dua warna itu tersenyum dan mengangguk. Kupu-kupu putih itu terbang ke luar ruangan menuju kamar Ivew yang masih dijaga oleh ksatria keluarga Rizery. Veister segera mengikuti kupu-kupu putih itu diikuti oleh Leister dan Laveron.


Ksatria yang berjaga di depan pintu kamar yang hancur itu sedikit tersentak saat menatap kupu-kupu putih yang terbang ke arahnya dan hendak mengeluarkan pedangnya. Namun, tindakannya terhenti saat melihat Veister yang berlari diikuti oleh Leister dan Laveron.


Ksatria itu menunduk hormat dan membiarkan ketiga orang itu masuk. Laveron yang terakhir masuk ke dalam kamar itu terdiam saat melihat cahaya putih samar di dalam ruangan. Mereka melihat sebuah hologram yang menampilkan pertarungan Ivew dengan sosok hitam yang menyerangnya. Ketiganya terdiam saat hologram putih itu menampilkan adegan Ivew yang tertusuk sulur hitam di bahu kanannya.


Manik navy Laveron langsung melirik bekas genangan darah yang berada di dinding di samping pintu masuk kamar. Tangan pemuda itu terkepal erat dan menatap nyalang hologram putih di depannya. Mereka melihat bagaimana Ivew mencoba bertahan dengan mengeluarkan perisai angin untuk melindunginya.


Veister menahan amarahnya saat melihat gelang perlindungan yang diberikannya kepada Ivew saat itu pecah. Mereka menyaksikan sosok itu yang terus menerus mengeluarkan sulur hitam penuh durinya tak peduli sulur itu meleset dan mengarah pada jendela di belakangnya.


“Apa itu juga penyihir hitam, Tuan Veister?” tanya Leister tetap fokus menatap hologram di depannya.


Veister mengangguk sebagai jawaban. Ketiga pemuda itu tersentak saat sosok hitam itu mengarahkan sulur hitam penuh duri ke luka di bahu Ivew. Gadis bermata emerald itu tampak pusing dan mulai kehilangan kesadaran saat sosok itu menusuk bahu kanannya.


Manik ketiga pemuda itu menatap darah yang jatuh dari bahu Ivew pada hologram putih di depannya. Sosok hitam itu segera menangkap tubuh Ivew dengan sulur hitam biasa dan membawa gadis itu mendekat ke arahnya.


Sosok hitam itu tampak menyeringai dan mendekat ke arah jendela. Leister tersentak saat dirinya sempat melihat sosok itu menyeringai kepadanya dan segera menghilang digantikan oleh ledakan yang menghancurkan kamar.


Mereka melirik ke arah Ivew yang sempat menggerakkan tangannya ke arah dinding di dekat jendela yang hancur. Jemari gadis itu dengan gemetar menulis sesuatu dari darahnya yang terus mengalir saat sosok hitam itu menatap ke arah jendela.


“Oh ada si penyihir suci rupanya. Lihat!  Dia masih hidup. Apa kamu mau meninggalkan pesan terakhir? Hihi ....”


Sosok hitam itu tertawa kecil dan menyeringai saat menatap ke arah jendela ketika matanya bertemu dengan pandangan mata Leister.


“Tenang saja ... mereka tidak akan mati kok, kalau beruntung.”


Manik ketiga pemuda itu melebar saat mendengar suara berat sosok hitam di dalam hologram berbicara kepada Ivew yang berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


“Heh ... aku yakin! Mereka semua akan selamat. Mereka orang ... yang kuat!” bisik Ivew pelan menggema di dalam  ruangan.


Sosok hitam itu hanya menyeringai dan mengeluarkan cahaya hitam dari tangannya dan mengarahkannya ke tengah ruangan dengan wajah menyeringai. Sosok hitam itu segera menghilang di dalam kegelapan membawa Ivew yang terkulai lemah dalam jeratan sulurnya bersamaan dengan ledakan yang menghancurkan perabotan dan


pintu kamar.


Hologram putih itu menghilang berganti menjadi kupu-kupu putih yang hinggap di atas tudung jubah Veister. Laveron melirik Veister dan sedikit terkejut saat sosok hitam itu menyebutnya sebagai penyihir suci.


“Jadi kamu ... penyihir suci? Mohon maafkan sikap tidak sopan saya, Tuan Veister,” ucap Laveron membungkuk hormat kepada Veister.


“Sudahlah ... tidak perlu formal. Panggil aku seperti biasa saja. Tidak ada penolakan!” ujar Veister malas.


Laveron mengangguk dan kembali menatap Veister dan Leister yang tampak tenang.


Jadi, Tuan Muda sudah mengetahuinya. Batin Laveron.


Ketiga pemuda itu kembali terdiam dan melirik kondisi kamar yang sedikit rapi. Manik ruby Leister menatap ke arah tulisan dari darah yang sempat ditulis Ivew, kaki pemuda itu melangkah ke arah dinding di samping jendela dan menyentuh tulisan itu dengan jemarinya.


Bahkan, dalam situasi genting seperti itu dia masih bisa meninggalkan petunjuk. Sungguh hebat. Batin Leister menyusuri gurat tulisan dengan jemarinya.


“Dia bertahan dengan baik,” ujar Veister setelah hening cukup lama dan melirik Laveron yang diam di belakangnya.


Veister merasakan kemarahan yang menguar dari tubuh Laveron saat mana dalam tubuh pemuda itu tampak menguar.


“Lalu sekarang apa, Veister? Kemana sosok itu membawa Ivew?”


Laveron bertanya dan menatap Veister yang tampak berpikir. Pemuda dengan mata dua warna itu tersenyum melirik kupu-kupu putih di atas kepalanya yang terbang ke arah Laveron.


“Aku akan berusaha melacaknya melalui jejak angin. Jadi tenanglah!”

__ADS_1


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ....


__ADS_2