
...⪻⪼...
Satu minggu berlalu dan saat ini Laveron dan Ivew sedang mempersiapkan barang yang akan mereka bawa untuk ekspedisi nantinya. Manik emerald Ivew menatap kucing Veister yang menggunakan sihirnya untuk menyusun beberapa barang. Kejadian satu minggu yang lalu kembali mengundang tawanya saat Laveron tidak sengaja mendengar Veister yang bergumam mengenai kekuatan anginnya.
Kucing hitam dengan mata dua warna itu panik dan langsung terdiam. Bahkan, dirinya yang sedang tertawa menatap kelopak bunga yang beterbangan juga terdiam. Tarian angin itu menghilang saat fokus Ivew terarah pada Veister yang diam membisu di bawah tatapan tajam Laveron.
Pemuda dengan mata navy itu terus bertanya dan menunggu jawaban dari kucing hitam di depannya hingga akhirnya Veister mengaku bahwa dirinya bisa berbicara tetapi kucing itu masih menyimpan rapat identitas aslinya sebagai penyihir suci. Laveron menghela nafas dan mengangkat tubuh kucing hitam itu sembari mengajukan pertanyaan yang membuat tawa Ivew pecah saat itu.
“Kamu jantan atau betina?” tanya Laveron menatap tajam manik dua warna kucing hitam di tangannya.
Veister sedikit merinding saat bertemu dengan tatapan tajam manik navy sang pemuda. Setelah mendapatkan jawaban dari si kucing, Laveron memutuskan bahwa kucing itu akan tidur di kamarnya yang dituruti oleh Veister tanpa protes.
Begitulah tidur Ivew selama seminggu ini lebih tenang tanpa gangguan Veister yang biasanya akan mengusik ujung tempat tidurnya. Suara pedang yang masuk ke dalam sarungnya menarik perhatian Ivew, manik emerald-nya menatap Laveron yang baru saja memasukkan pedang kedua ke dalam sarung pedangnya.
Gadis itu menatap anak panahnya dan segera memasukkannya ke dalam tabung penyimpanan. Jemarinya mulai menyandangkan busur panah ke tubuhnya dan pisau kecil ke dalam sarung di pinggangnya. Laveron menatap Ivew dan mengangguk, bersiap untuk berangkat dan mengaktifkan perisai untuk melindungi rumah mereka.
Menunggangi kuda masing-masing kucing Veister tetap berada dalam pelukan Laveron. Manik navy pemuda itu tampak fokus menatap hutan hitam di kejauhan. Dua saudara Mirabeth itu berhenti di halaman mansion Flowerlax, di sana Lolita dan Leister sudah menunggu dengan seragam khas berburu bewarna perak. Kontras dengan seragam berburu Mirabeth bersaudara yang bewarna hitam.
Lolita menyambut keduanya dengan senyum hangat, rambut perak gadis bermata delima itu disanggul dan digulung menggunakan pita merah. Pedang dengan gagang pedang berwarna perak tersangkut rapi dalam sarung pedang di pinggangnya. Leister yang berada di belakangnya tampak berdiskusi dengan beberapa prajurit militer dan kstaria yang akan ikut dengan mereka.
“Bagaimana kabarmu, Ivew?” tanya Lolita saat Ivew mendekat ke arahnya. Senyum lebar hadir di wajah gadis bermata delima itu.
__ADS_1
“Seperti yang anda lihat. Saya baik, Nona Muda,” jawab Ivew ramah dan melirik kucing Veister yang duduk di sampingnya.
“Apa kucing ini juga ikut?”
Lolita kembali bertanya dan menatap kucing Veister yang kembali menjilat bulu hitam berkilaunya. Ivew mengangguk sebagai jawaban. Lolita kembali hendak bertanya tetapi raut wajah gadis itu berubah datar saat menemukan Duke Ekan Flowerlax berdiri di depan pintu mansion dan memandang rombongan dengan senyum miring.
Leister melirik Lolita yang mengalihkan pandangannya, pemuda itu berjalan menuju Duke yang menatap mereka dan menyapanya dengan sopan diikuti yang lainnya. Pria pemimpin keluarga Flowerlax itu tersenyum dan menyampaikan beberapa patah kata yang intinya bahwa pria itu tidak menerima adanya kegagalan. Leister mengangguk sebagai jawaban dan melirik Laveron yang mengangguk.
Rombongan itu siap untuk berangkat dan berjalan menuju belakang mansion Flowerlax di bawah tatapan suka cita dan doa dari para pelayan Flowerlax. Mereka semua mulai naik ke atas kuda masing-masing dengan Laveron yang berada paling depan sebagai pemimpin rombongan, diikuti dengan Laveron bersama kuda berwarna kuning pucat. Di belakang keduanya diikuti oleh Ivew dan Lolita sebagai penyerang cadangan. Dan keduanya dikelilingi oleh prajurit militer dan beberapa ksatria flowerlax yang ikut.
Rombongan itu mulai bergerak menuju hutan hitam dengan kecepatan sedang. Suasana hening dalam hutan mulai menyambut mereka. Ivew menatap sisa pertarungan satu minggu sebelumnya dengan monster laba-laba. Sisa tusukan tombak anginnya masih terlihat jelas di tanah. Bahkan, bau busuk dari cairan ungu sang monster tidak hilang.
Tanah yang sedikit lembap membuat laju kuda mereka sedikit lambat.
Kstaria dan prajurit militer di sekitar mereka sudah bersiap sedia dengan senjata masing-masing. Laveron yang berada paling depan menatap pemandangan di depannya. Hutan ini menjadi lebih sunyi sejak terakhir kali dirinya dan beberapa rekannya kunjungi. Mereka mulai memasuki bagian tengah hutan yang semakin rapat dengan pepohonan.
Kegelapan mulai menyambut mereka, tetap hening hingga suara angin pun tidak terdengar. Ivew menggerakkan tangannya berusaha mencari angin. Manik mata emerald gadis itu menatap angin kecil yang berputar di telapak tangannya dan menyebarkannya ke segala arah menelusuri hutan di depan mereka.
“Apa kita juga memeriksa tembok pelindung, Leister?” tanya Lolita memecah hening. Leister yang berada di depannya menoleh dan mengangguk.
“Kita tidak tau dari mana monster laba-laba itu datang. Kita tidak bisa membuang kemungkinan jika tembok pelindung hancur atau berlubang,” jawab Leister kembali fokus ke depan.
__ADS_1
Ivew mengangguk mendengar jawaban Leister. Gadis itu melirik kucing Veister yang berada di pelukan Laveron. Ekor peraknya tampak melambai ke sana kemari dan hal itu cukup menghilangkan ketegangan Ivew. Suara gemerisik dedaunan terdengar di bagian tengah hutan, Laveron melirik Leister yang mengangguk untuk tetap maju.
Ivew mulai merasakan hal aneh dari angin yang menerpa wajahnya, bau busuk memasuki indra penciumannya. Suara decitan mulai terdengar seiring mereka mendekat ke bagian tengah hutan yang terdapat rawa dalam. Bau busuk dari rawa itu menguar membuat Ivew segera menutup hidungnya rapat.
“Ada apa, Ivew?”
Lolita bersuara saat melihat Ivew menutupi hidungnya. Gadis bermata emerald itu menoleh dan memandang Lolita serta anggota rombongan lainnya yang tampaknya tidak mencium bau busuk yang di rasakannya.
“Nona Muda, Anda tidak mencium bau busuk ini?”
Ivew menoleh dengan tangan menutup salah satu hidungnya dan tangan lainnya memegang tali kuda. Gadis bermata delima itu menggeleng dan menatap ke depan saat suara Laveron bergema menyampaikan keadaan bahwa mereka telah sampai di rawa.
“Ada jejak aneh di sekitar sini.”
Laveron berujar saat memandang tanah di sekitar rawa yang memiliki jejak berupa gesekan sesuatu. Leister mengangguk dan melihat arah jejak gesekan yang acak. Manik ruby pemuda itu menatap ke segala arah hingga pandangannya sampai ke pohon hitam di atas kepala mereka.
“Sial! Menghindar semuanya!”
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ..... ✨
__ADS_1