Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
29 - Diskusi


__ADS_3

...⪻⪼...


Ivew menatap wajah Laveron yang tetap bersikeras dengan pendapatnya. Gadis bermata emerald itu menghela nafas dan berdiri di samping Laveron yang berada di meja dapur mereka. Pemuda bermata navy itu mulai memotong bahan-bahan yang akan mereka santap nanti malam sedangkan Ivew hanya fokus menatap Laveron yang tetap diam, tak terusik dengan pandangannya.


“Ayolah, Bang ... izinkan aku pergi. Aku juga tidak bisa menolak permintaan tuan muda Leister tanpa alasan yang jelas.”


Ivew kembali melirik Laveron yang tetap diam sembari tangan pemuda bergerak menguliti kelinci hasil buruannya. Ivew hanya menghela nafas dan hendak kembali ke kamarnya tetapi suara Laveron menghentikan gerakan kakinya.


“Beri abang waktu untuk berpikir."


Laveron kembali sibuk menguliti kelinci sedangkan Ivew mengangguk dan tersenyum. Gadis bermata emerald itu segera menaiki anak tangga menuju kamarnya. Membuka pintu kamar dengan sedikit keras manik emerald Ivew menangkap Veister yang kaget dan hampir menjatuhkan pot bunga anggrek biru di dekat jendela.


Pemuda bermata dua warna itu menghela nafas saat berhasil menahan pot dengan salah satu tangannya. Ivew hanya tertawa kecil dan meminta maaf, gadis itu mendekat ke arah Veister yang menatapnya sedikit kesal.


“Apa yang kamu lakukan dengan bunga itu?” tanya Ivew menatap bunga anggrek biru yang beberapa kelopaknya berguguran.


“Hanya membersihkan kelopak yang jatuh,” jawab Veister dan mengambil kelopak anggrek biru yang berguguran.


Ivew mengangguk dan berjalan menuju tempat tidurnya, gadis itu berbaring  menatap langit-langit kayu kamarnya dan tanpa sadar memasuki alam mimpi. Ivew tersentak saat seseorang menggoyangkan tubuhnya.


Membuka kelopak matanya perlahan manik emerald Ivew bertemu dengan manik mata navy Laveron yang menatapnya teduh. Pemuda itu tersenyum mendapati sang adik telah bangun dan segera mengajaknya untuk makan malam. Ivew mengangguk dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Apa Veister juga ikut?” tanya Laveron menatap Ivew yang sedang menyuap sup kelinci di depannya.

__ADS_1


Gadis bermata emerald itu melirik kucing Veister yang sedang makan di sampingnya dan mengangguk. Laveron kembali terdiam dan tampak berpikir sembari mengunyah daging di dalam sup kelinci di mangkuknya.


“Baiklah kamu boleh pergi,” ucap Laveron setelah hening cukup lama dan menatap Ivew yang tersentak.


Gadis bermata emerald itu menatap sang abang dengan wajah berbinar membuat pemuda di depannya terkekeh dengan tingkah sang adik.


“Dengan satu syarat. Jangan gunakan kekuatanmu sembarangan dan jangan menunjukkannya di depan umum. Itu akan memancing perhatian bangsawan atau pihak kekaisaran.”


Laveron berujar sembari menghabiskan sisa sup kelinci di mangkuknya. Manik mata navy pemuda itu menatap Ivew yang terdiam dan menunggu jawaban sang adik atas jawaban yang diajukannya. Laveron menguntai senyum saat melihat Ivew menganggukkan kepala dan menyetujui sarannya. Pemuda bermata navy itu beralih menatap kucing Veister yang kini tengah menjilat bulu hitamnya.


“Dan berjanjilah untuk tidak meninggalkan Ivew, Veister. Aku tidak bisa terus berada di sampingnya. Sebagai perwakilan prajurit militer ada banyak tugas dan laporan serta pertemuan yang menantiku sesampainya di kekaisaran. Bisakah kamu berjanji untuk tidak meninggalkan, Ivew?”


Laveron bertanya dan menunggu jawaban dari kucing Veister. Manik mata dua warna kucing itu sedikit bercahaya dan perlahan kepala kecil hitam kucing itu mengangguk.


Veister menjawab sembari melirik Ivew yang kesal di sebut keras kepala olehnya. Laveron mengangguk dan tersenyum. Rasa was-was dan cemasnya hilang saat melihat Veister menyetujui janjinya, walaupun mereka tidak bisa mencegah apa yang akan terjadi nantinya setidaknya kucing jadi-jadian itu mau menyetujui persyaratan yang diajukan Laveron.


Keesokan harinya Ivew turun ke dapur dan menemukan Laveron yang bersiap berangkat dengan seragam hitam prajurit militernya. Pemuda itu tersenyum saat menatap Ivew yang turun dari tangga dan mengucapkan selamat tinggal karena ada banyak hal yang harus dikerjakannya sebagai perwakilan prajurit militer. Ivew mengangguk dan terdiam menatap pintu rumah yang kembali terkunci oleh mana Laveron yang berwarna biru tua.


Ivew melirik ke belakangnya saat mendengarkan suara langkah kaki dan menemukan Veister yang menatapnya. Gadis bermata emerald itu hanya tersenyum dan melangkah menuju dapur mencari sarapan yang bisa mereka makan.


Sisa hari itu berjalan dengan tenang tanpa ada gangguan dan Laveron segera pulang sore harinya bersamaan dengan seorang pemuda berambut perak dengan mata ruby tersenyum saat melihat Ivew yang duduk di kusi kayu dekat meja makan mereka. Gadis bermata emerald itu kaget dan segera bangun memberi salam hormat pada sosok yang berdiri di belakang Laveron.


“Hahaha ... santai saja, Ivew. Kalian berdua selalu menyapa kami dengan sopan meski awalnya kalian kaget dengan kemunculan kami.”

__ADS_1


Ivew hanya tersenyum canggung dan melirik Laveron yang menatap ke arah lain. Mereka segera masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi kayu rumah Mirabeth bersaudara. Kursi yang terlalu kontras yang biasa di duduki para bangsawan.


“Jadi ada apa anda ke sini, Tuan Muda Leister?” tanya Ivew duduk di depan Leister sedangkan Laveron duduk di sampingnya.


“Hanya ingin berdiskusi tentang keberangkatan kita nanti. Karena Laveron juga sudah memberi izin jadi sekalian saja aku juga ingin melihatmu,” jawab Leister santai.


Ivew mengangguk dan Leister mulai menjelaskan keberangkatan mereka dua hari lagi. Laveron yang berada di samping Ivew hanya diam dan menyimak semua pembicaraan Leister. Karena dirinya akan berangkat esok hari sehingga Leister mengajukan untuk membawa Ivew satu hari lebih cepat menuju kediaman Flowerlax sehingga mereka berdua bisa berangkat bersamaan keesokan harinya. Terlebih suasana sekitar rumah mereka belum aman dan ada kemungkinan sosok peniru itu kembali muncul.


Ivew menyetujui usulan Leister dan melirik kucing Veister yang menatapnya dari atas anak tangga. Manik mata dua warna kucing itu sedikit bersinar saat melihat mereka dari celah-celah tangga. Leister kembali menjelaskan bahwa perjalanan menuju kekaisaran akan memakan waktu cukup lama karena itu mereka akan mengambil beberapa kali kesempatan untuk istirahat di sepanjang perjalanan.


“Sampai jumpa di kediaman besok, Ivew,” ucap Leister yang pulang dengan kudanya.


Mirabeth bersaudara mengantar tuan muda Flowerlax itu dari depan pintu mereka dan menatap kuda Leister yang semakin jauh. Ivew melirik Laveron yang merenggangkan tubuhnya dan pamit ke dalam kamarnya setelah mengamankan pintu rumah mereka.


Gadis bermata emerald itu kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk mempersiapkan


barang-barang yang akan dibawanya. Veister yang kembali berubah ke wujud manusianya kini berdiri di dekat jendela, melirik keadaan di sekitar rumah Ivew dengan mata dua warnanya.


“Aku harap semuanya berjalan lancar tanpa ada gangguan.”


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya agar author makin semangat .... ✨

__ADS_1


__ADS_2