
...⪻⪼...
Ivew terengah-engah saat melihat tim Laveron dan Leister berhasil keluar dari perisai anginnya. Cairan hijau dari monster di depan mereka berhenti saat Laveron dan anggota pasukan militernya mulai melemparkan bom ke bagian tubuh monster. Suara ledakan bergema di sekeliling mereka dan Ivew langsung menghilangkan perisai anginnya.
Gadis itu menunduk menstabilkan nafasnya yang semakin memberat. Lolita yang berada di sampingnya membantu menopang tubuh Ivew yang hendak jatuh. Kucing Veister yang berada di sampingnya melirik wajah Ivew dan diam-diam menciptakan perisai untuk melindungi mereka.
“Kamu baik-baik saja, Ivew?” tanya Lolita menatap wajah Ivew.
Gadis bermata emerald itu mengangguk sembari menyeka keringat dengan kedua tangan dan segera mengajak Lolita untuk memantau keadaan dari atas pohon. Di belakang kedua gadis itu pertarungan kembali pecah, Leister bergerak menghindari tubuh monster di depannya. Cairan ungu tua yang di keluarkan sang monster hampir mengenainya.
Pedang perak panjangnya bergerak menusuk tubuh hitam legam monster dengan satu tangan yang berusaha menstabilkan laju kudanya. Monster itu berdecit dan berusaha menggulingkan tubuhnya. Di sisi lain Laveron segera melemparkan bom yang mengandung ekstrak tanaman vanilla ke arah luka sang monster yang terus mengalirkan cairan ungu tua. Debu berterbangan di sekitar mereka, Leister melirik suasana sekitar tembok yang tetap hening dan berjaga dengan pedang yang terhunus ke depan.
“Berpencar! Tusuk monster itu sebanyak yang kalian bisa!”
Leister melompat dari kudanya dan kembali berlari menuju monster yang sibuk menggulingkan tubuhnya. Pedang peraknya berkilau di bawah sinar mentari dan bilah tajam pedang perak itu mulai menusuk bagian samping kiri sang monster. Mengabaikan cairan ungu tua yang mengenainya Leister terus menarik pedangnya untuk membuat luka yang besar pada tubuh monster hitam itu.
“Tuan Muda luar biasa!”
Sorak seorang kstaria flowerlax yang berusaha menghindar dari gerakan random sang monster. Mata kstaria itu terus menatap Leister yang berlari meninggalkan luka robekan panjang dari pedang peraknya. Mulut yang penuh dengan gigi tajam itu tampak menjulang dan berusaha menangkap Leister yang terus melukai tubuhnya.
Pemuda bermata ruby itu segera menghindar saat mulut yang penuh gigi tajam itu bergerak ke arahnya. Suara kesakitan monster itu bergema saat cairan ungu kembali keluar dari mulut tajamnya yang mengigit tubuh sendiri. Leister yang melihat hal itu tersenyum dan berniat menambah lebih banyak luka pada tubuh monster di depannya.
“Tuan Muda, menyingkir dari sana!”
__ADS_1
Leister menoleh menatap bom yang dilemparkan ke arah luka monster yang dibuat pedangnya. Pemuda itu mengangguk dan segera menjauh sebisa mungkin menuju kudanya yang dijaga oleh kstaria flowerlax. Ledakan kembali terdengar bersamaan dengan angin yang menyebarkan cairan ungu tua di dalam tubuh sang monster.
Menetralkan nafasnya yang sedikit berat Leister menatap ke arah monster hitam yang kehilangan sebagian tubuhnya. Manik ruby pemuda itu menatap ke arah tim Laveron yang masih mempersiapkan sisa bom mereka.
Pandangan keduanya bertemu dan Laveron bersama rekan pasukan militernya kembali bergerak ke sisi tubuh monster yang masih utuh diikuti dengan tim Leister yang menyusul di belakang mereka. Monster hitam itu berdecit dan kembali mengangkat mulutnya yang penuh gigi tajam hendak menyerang mangsa yang berlari ke arahnya.
Salah satu ksatria flowerlax melempar pedangnya ke arah mulut monster yang menganga tepat di atasnya. Gigi tajam yang melingkar di sekitar mulut monster itu membuatnya sedikit ngeri. Pedang itu menancap tepat di dalam mulut sang monster menghentikan sesaat gerakannya yang hendak menghisap Leister dan yang lainnya.
Laveron kembali melemparkan bom ke dalam mulut sang monster. Mereka segera bergerak dengan kuda masing-masing, menjauh dari ledakan yang akan menghancurkan tubuh monster hitam di depan mereka. Monster berdecit dan meledak menghamburkan cairan ungu tua ke segala arah.
“Kita menang?”
Pasukan militer tetap berjaga dengan bom di tangan saat pertanyaan itu terdengar di antara mereka. Leister yang hendak menjawab terdiam saat manik ruby-nya menemukan objek lain yang bergerak di antara potongan tubuh serta cairan ungu tua sang monster. Mereka semua terdiam saat melihat dua monster hitam yang sama yang menyerang mereka. Monster yang menggantung di atas pohon dan menunggu mereka untuk berada dalam jangkauan serangannya.
“Jangan bergerak dulu!” perintah Laveron yang tetap fokus ke depan.
“Apa monster itu membelah dirinya?!” seru salah satu prajurit militer.
Leister menggenggam erat gagang pedangnya dan melirik Laveron di sampingnya. Pemuda bermata navy itu memandang fokus pada dua monster yang menggeliat dalam kubangan cairan ungu tua dan kembali mengeluarkan suara decit keras. Monster hitam itu mulai bergelung dengan menggerakkan penghisap yang berada di bagian kepala dan ujung ekornya yang runcing. Tubuhnya bergelung saat gerakan mereka semakin cepat menuju Leister dan yang lainnya.
“Kita berpencar, Tuan Muda!”
Leister mengangguk menanggapi teriakan Laveron dan menggerakkan kudanya menjauh dari Laveron. Salah satu monster itu bergerak mengikuti tim Leister. Cahaya matahari membuat kulit hitam monster itu berkilau. Leister mulai menghunuskan pedangnya dan mencari waktu yang tepat untuk kembali menusuk tubuh sang monster.
__ADS_1
Laveron dan tim nya mulai menggunakan satu pistol yang mereka bawa. Pistol yang baru saja dikembangkan oleh tim pengembangan senjata dan dalam tahap uji coba. Manik mata navy Laveron menatap pistol panjang berwarna hitam di tangannya.
Salah satu monster mulai bergerak cepat ke arahnya, berusaha menjaga posisi kudanya tetap aman Laveron mulai membidik monster di depannya yang hendak menghisap mereka dengan mulut yang penuh gigi tajam. Suara tembakan itu bergema bersamaan dengan tubuh monster yang hancur. Leister yang mendengar suara tembakan melirik monster yang telah mati dan mulai menjadi debu tak jauh dari posisi Laveron.
“Senjata yang mengerikan,” gumam Leister menghindar dari gigi tajam yang baru di tembakkan sang monster.
Kstaria di belakangnya terjatuh saat gigi tajam itu menghantam kudanya. Manik ruby Leister melirik kstaria yang berusaha bangkit di tengah lumuran darah kudanya. Monster hitam itu berbalik dan menggunakan ekor runcingnya untuk menusuk kstaria yang duduk memegang kepalanya yang berdengung.
Kstaria flowerlax yang berada di sisi lain tubuh monster berusaha menusukkan pedangnya untuk menarik perhatian monster hitam. Leister segera berbalik dan membantu kstaria di belakangnya untuk berdiri dan menarik tangan ksatria itu dengan cepat ke atas kudanya.
“Maaf, Tuan Muda.”
Suara ksatria itu terdengar lemah di telinga Leister. Pemuda itu bergerak cepat dengan kudanya dan menjauh dari tubuh monster yang mulai mengejar mereka. Bau darah dari ksatria yang berada di belakang Leister menarik perhatiannya. Laveron yang melihat itu kembali menembakkan pistol panjangnya dan mengenai ekor runcing sang monster.
Monster itu berteriak kesakitan saat merasakan ekornya hancur. Cairan hijau monster itu kembali membasahi tanah di sekitarnya dan bercampur dengan cairan ungu tua dari monster sebelumnya. Leister menoleh ke arah monster yang terus mengejarnya dengan mulut yang semakin terbuka.
“Ada banyak hal yang harus kita laporkan pada ilmuan kekaisaran. Jadi berhati-hatilah!”
Ksatria flowerlax yang kini berada di dekat kuda Leister mengangguk. Sedangkan Laveron dan tim nya juga bergerak menyusul Leister di belakang monster dengan terus menembakkan senjatanya. Tubuh monster itu semakin hancur dan hanya meninggalkan bagian leher sampai kepalanya.
Laveron menutup hidungnya saat cairan hijau dari tubuh monster itu mengenai kakinya. Gerutuan kesal Laveron terhenti saat salah satu rekan yang berada di depannya berteriak pada Leister dan ksatria flowerlax yang semakin dekat dengan mulut tajam sang monster.
“Tuan Muda, hati-hati!”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ....✨