Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
57 - Sang Penjaga Dunia (5)


__ADS_3

...⪻⪼...


Windy hanya diam dan kembali terbang mengelilingi ruangan, enggan untuk menjawab pertanyaan Veister yang berharap kupu-kupu angin itu akan menjawabnya. Veister hendak bertanya kembali, tetapi pemuda itu terdiam setelah mendengar suara Windy.


“Temukan semuanya sendiri. Ada hal-hal yang harus kamu temukan sendiri dari pada menunggu jawabannya dari orang lain.”


Veister hendak menjawab, tetapi suara ketukan pada pintu kamarnya menghentikannya. Pemuda dengan mata dua warna itu segera membuka pintu dan bertemu dengan manik ruby Leister.


“Anda sedang sibuk, Tuan Veister? Kaisar ingin mengadakan pertemuan nanti sore. Apa anda bisa?” tanya Leister


menunggu jawaban Veister.


Pemuda dengan manik dua warna itu mengangguk dan akan datang nanti sore. Pertemuan itu tidak akan berjalan jika dirinya tidak datang, sebagai orang yang membantu jalannya komunikasi jarak jauh dengan sihirnya, Veister memutuskan untuk istirahat sembari memulihkan tenaganya.


Windy yang melihat Veister tertidur terus terbang di sekitar ruangan. Kupu-kupu putih itu kembali menatap taman mansion keluarga Rizery dan pemandangan di kejauhan.


“Aku harap kamu masih sanggup bertahan. Sebentar lagi! Bersabarlah!”


Windy kembali terbang ke dekat Veister dan hinggap di rambut putih sang pemuda yang sedikit keluar dari tudung jubahnya dan menyatu dengan rambutnya. Sore hari kembali datang. Veister saat ini tengah berjalan menuju ruang pertemuan di mansion Rizery bersama Laveron yang berjalan di sampingnya.


“Kamu baik-baik saja, Laveron?” tanya Veister melirik Laveron.


Pemuda dengan mata navy itu mengangguk dan segera membuka pintu ruangan membiarkan Veister masuk terlebih dahulu. Pemuda dengan manik dua warna itu menatap Duke Dexter Rizery, Diano Rizer dan Leister Flowerlax yang sudah berada di dalam ruangan.


Ketiganya menunduk sejenak dan menyapa Veister hormat. Pemuda itu hanya mengangguk malas menerima salam sopan yang selalu diberikan semua orang. Manik dua warna Veister melirik Laveron yang segera duduk di samping Leister.


“Apa kita mulai sekarang, Tuan Veister?” tanya Diano yang berdiri di belakang kursi Duke Dexter.

__ADS_1


Veister mengangguk dan berjalan ke arah meja lingkaran dan duduk di tempatnya. Pemuda itu menggerakkan kedua tangannya ke arah sebuah bola kristal yang terletak di tengah meja.


Mengucapkan mantra sihir yang pernah digunakannya, cahaya kembali memenuhi ruangan dan tak lama hologram kembali muncul menampilkan lima perwakilan yang sama. Namun, Kepala Penyihir Aksario melakukan komunikasi hologram dari penjara di ruang bawah tanah.


Manik dua warna Veister menatap gurat wajah Kepala Penyihir Aksario yang tampak lebih baik. Tak ada lagi aura aneh yang menguar dari tubuhnya dan Veister bersyukur sihir pemurnian tingkat tingginya berhasil.


Veister melirik bola kristal di tengah ruangan, penemuan terbaru dari keluarga Angena yang baru saja berhasil di uji coba satu minggu yang lalu saat perwakilan keluarga Angena datang ke mansion Rizery.


“Apa yang terjadi denganmu, Kepala Penyihir Aksario?”


Duchess Veryn Angena bertanya mewakili yang lainnya saat menatap ruang remang tempat sang kepala penyihir melakukan panggilan hologram. Mata hitam kepala penyihir Aksario tampak tenang.


Tak ada gejolak kemarahan dalam sorot mata maupun ekspresi wajahnya. Risya Rozitto ikut melirik wajah tenang Kepala Penyihir Akserio, sedangkan yang dihujani pertanyaan hanya diam dan melirik ke arah Kaisar Aradi dan Veister di layar hologram.


“Aku akan menjelaskan secara singkat.”


“Singkat cerita selama ini Kepala Penyihir Akserio dikendalikan oleh penyihir hitam dan hampir diubah menjadi salah satu monster percobaannya. Tujuan dia tetap diundang dalam pertemuan kali ini adalah untuk mengorek informasi tentang penyihir itu darinya.”


Veister melirik Kepala Penyihir Akserio yang mengangguk dan siap untuk menyampaikan segalanya. Duchess Veryn Angena terdiam dan sesaat senyum lembut yang biasa hadir di wajahnya hilang. Wanita penguasa wilayah Angena itu berusaha menahan aura kemarahan yang menguar.


“Jadi ... apa kamu bertanggung jawab atas hilangnya putra bungsuku?” tanya sang duchess menatap tajam Kepala Penyihir Akserio.


Manik hitam Kepala Penyihir Akserio menatap mata ungu sang Duchess yang tampak berkilat dengan kemarahan. Pria itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan sang duchess dari wilayah Angena.


Duchess Veryn Angena yang terkenal dengan sikap lembutnya itu kali ini dipenuhi dengan kemarahan. Aura ungu tua nampak menguar dari tubuhnya dengan tatapan tajam terus menatap manik hitam kepala penyihir Akserio.


“Jika terjadi sesuatu dengan putra bungsuku. Aku tidak akan memaafkanmu, Kepala Penyihir Akserio. Aku sendiri yang akan menghukummu!”

__ADS_1


Kaisar dan yang lainnya terdiam saat melihat amarah dari Duchess Veryn Angena. Wanita dengan rambut abu-abu tua itu menenangkan dirinya beberapa menit kemudian, menstabilkan aura yang menguar-nguar dari tubuhnya.


Duchess Veryn melirik Duke Dexter meminta pria dan Veister meminta keduanya untuk melanjutkan pertemuan sembari meminta maaf atas sikapnya kepada Kaisar dan semua peserta pertemuan.


Kepala Penyihir Akserio menjelaskan semua yang diketahui dan diingatnya. Saat dirinya yang saat itu menghadapi serangan di selatan wilayah Angena, sosok berjubah hitam datang dan menyerangnya yang saat itu sedang memantau keadaan.


Dirinya yang sedikit lengah terkenal luka dari kuku panjang sosok di depannya. Sosok itu hanya tersenyum miring saat darahnya berceceran di tanah dan juga di kuku sosok dengan jubah hitam itu.


Sosok berjubah hitam itu tersenyum miring dan segera menghilang dibalik batas tembok pelindung kekaisaran. Kepala Penyihir Akserio yang hendak mengejarnya terhenti saat merasakan rasa panas pada tubuhnya.


Dirinya kehilangan kesadaran dan setelah itu tak lagi mengingat apapun. Kepala Penyihir Akserio sesekali bisa mengendalikan tubuhnya, tetapi berakhir dengan batuk mengeluarkan darah hitam.


“Lalu apa kamu tahu tujuan mereka menangkap orang-orang yang hilang itu?” tanya Kaisar Aradi .


Kepala Penyihir Akserio mengangguk dan menjawab dengan suara yang jelas.


“Ada beberapa alasan. Yang pertama mereka hanya bosan dan membutuhkan mainan, yang kedua untuk dijadikan bahan percobaan sepertiku dan yang ketiga khusus untuk mereka yang mempunyai kekuatan dan potensi yang besar ... mereka akan dikorbankan untuk acara persembahan."


Veister tersentak dan menatap Kepala Penyihir Akserio dengan mata melotot. Pemuda dengan mata dua warna itu mengernyit saat memori lainnya masuk ke dalam kepalanya. Windy keluar dari rambut putih Veister dan terbang di atas kepalanya


Sialan! Jadi itu rencananya! Serangan penyihir hitam itu bertujuan melemahkan ingatanku! Batin Veister kesal dan tak sengaja menatap Laveron yang sudah dipenuhi kemarahan.


Aura pemuda dengan mata navy itu menguar bebas dan membuat mereka yang berada di ruang pertemuan Duke Dexter Rizery itu merinding.


Penyihir hitam sialan! Aku akan membunuh kalian jika aku menemukan adikku terluka! Batin Laveron mencengkeram erat gagang pedangnya.


...⪻⪼...

__ADS_1


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨


__ADS_2