Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
36 - Telisik Angin


__ADS_3

...⪻⪼...


Ivew dan Leister terdiam mendengar pertanyaan Kaisar Aradi. Keduanya berusaha mengendalikan ekspresi mereka. Leister melirik Ivew yang diam di sampingnya. Pemuda bermata ruby itu diliputi rasa bersalah saat  gadis bermata emerald di sampingnya tidak lagi memiliki rasa tenang dalam hidup sederhananya.


“Maaf ... apa maksudnya, Yang Mulia?” tanya Ivew menatap Kaisar Aradi yang berada di depannya.


Kaisar hanya menampilkan senyum di wajahnya dan mengizinkan keduanya untuk pergi. Leister dan Ivew kembali memberi hormat kepada kaisar dan berjalan keluar ruangan bertemu dengan pandangan ksatria kekaisaran yang tersenyum menjaga pintu ruang singgah sana kaisar.


Ivew menghela nafas lega dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Gadis bermata emerald itu menyeka keringat yang kembali mengalir dari dahinya, sedangkan Leister yang berada di sampingnya menghela nafas dan menepuk bahu gadis itu pelan.


“Apa sekarang kamu baik-baik saja?” tanya Leister khawatir saat wajah pucat Ivew masih terlihat jelas.


Gadis bermata emerald itu mengangguk dan tersenyum, merasa lebih nyaman saat udara bebas mengalir di sekitarnya.


“Sudah kuduga kamu sampai lebih dulu. Halo, Leister!”


Suara riang seseorang mengalihkan perhatian keduanya menatap seorang pemuda yang memiliki rambut hitam dan mata obsidian melambai ke arah Leister. Pemuda bermata ruby itu tersenyum dan segera mengulurkan tangan menyambut pemuda di depannya. Keduanya tersenyum dan saling melempar pertanyaan basa basi. Ivew melirik interaksi keduanya yang meski hanya basa basi terasa hangat dan penuh ketulusan.


“O iya, Ivew. Perkenalkan dia Tuan Muda dari keluarga Rizery,” ujar Leister menatap Ivew dan memperkenalkan pemuda di depannya.


“Salam kenal Lady ... saya Diano Rizery,” ucap pemuda dengan rambut biru dan mata obsidian itu memperkenalkan diri di depan Ivew dan di balas Ivew dengan memperkenalkan dirinya dengan sopan.


Ivew tersenyum menatap Diano yang kini kembali berbincang dengan Leister dan mendengarkan dengan baik informasi yang dibahas keduanya. Diano Rizery merupakan putra tunggal dari keluarga Rizery. Jika keluarga Flowerlax berfokus pada prajurit militer darat maka keluarga Rizery akan fokus pada prajurit di laut dan membuat angkatan laut.


Kota Rizery memiliki akses tersendiri untuk keluar masuk tembok pelindung kekaisaran dan selalu rutin melaporkan kegiatan militer mereka. Kota ini juga berbatasan dengan suku laut yang membantu mereka menjaga keamanan laut.

__ADS_1


“Baiklah ... aku akan memberi salam dulu pada kaisar. Sampai jumpa lagi, Leister, Lady Mirabeth.”


Diano melambaikan tangannya dan mulai masuk ke dalam ruang singgah sana Kaisar. Keduanya mengangguk dan mengantar kepergian Tuan Muda Rizery itu dengan senyum di wajah. Leister kembali berjalan menuju paviliun mereka yang berada di barat dari istana kaisar diikuti oleh Ivew di sampingnya dengan langkah tenang.


“Kamu tidak kesulitan menggunakan gaun kan, Ivew?”


Leister melirik Ivew yang berjalan seperti para bangsawan pada umumnya.


“Tidak, Tuan Muda. Jangan khawatir saya tidak akan mempermalukan Anda besok.”


Ivew menjawab santai, sedangkan Leister tertawa kecil dan kembali menatap lorong istana di depan mereka sembari membalas sapaan para pelayan atau staf istana.


“Bukan itu maksudku. Kamu tampak seperti bangsawan sungguhan, apa Laveron atau orang tuamu dulu pernah mengajarkan mu tata krama? Atau kamu belajar sendiri?” tanya Leister tanpa melirik Ivew dan menuruni anak tangga menuju halaman istana.


Gadis bermata emerald itu terdiam dengan pertanyaan Leister. Dirinya memang pernah mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan tata krama bangsawan dan segala etiket yang berlaku. Tapi itu di dunia sebelumnya saat dirinya hidup sebagai Cona Renjana.


“Ivew?”


Panggilan Leister menyadarkan Ivew dari rasa nostalgianya. Gadis bermata emerald itu tersenyum kecil dan menjawab santai pertanyaan Leister. Sedikit berbohong bahwa dirinya memang mempelajari semuanya sendiri. Pemuda bermata ruby itu mengangguk dan mengajak Ivew untuk kembali lebih cepat ke pavilliun mereka.


“Anak yang baik jangan menangis! Kami ada di sini ....”


Ivew tersentak saat mendengar suara lembut dari angin yang mengalir di sekitarnya. Menggerakkan rambut hitam legamnya yang dibiarkan tergerai sepunggung. Gadis bermata emerald itu tersenyum dan mengusap ujung matanya yang sedikit basah. Meski raganya telah berganti rasa rindunya pada sosok berharga di dunia sebelumnya tak akan pernah hilang.


Leister melirik Ivew yang berhenti di belakangnya. Pemuda bermata ruby itu berbalik dan menatap Ivew yang tampak tenang dalam putaran angin yang mengalir di sekitarnya. Manik ruby-nya melebar saat melihat senyum kecil hadir di wajah Ivew bersamaan dengan angin yang menggerakkan lembut rambut hitam legam dan gaun hijaunya.

__ADS_1


Pemuda itu merasakan wajahnya yang sedikit panas dan ikut menguntai senyum saat melihat gadis di depannya menikmati suasana yang ada. Kucing Veister segera duduk di atas kursi saat melihat Leister dan Ivew masuk ke dalam ruang makan.


Beberapa pelayan mulai menyiapkan makanan yang akan mereka makan dan Ivew duduk dengan canggung di salah satu kursi makan.


“Ada apa, Ivew?” tanya Leister yang duduk di depannya.


Pemuda bermata ruby itu memotong daging di piringnya dan melirik Ivew yang sedari tadi diam tak menyentuh makanan di depannya.


“Tidak ada, Tuan Muda. Hanya memikirkan sesuatu,” jawab Ivew mulai memotong daging di piringnya seperti yang dilakukan Leister.


Aku tidak mungkin bilang kalau aku tidak tau cara memotong daging kan! Padahal tadi aku sudah menyombongkan diri dengan tata krama! Batin Ivew kembali melihat cara Leister memotong daging di piringnya, sedangkan kucing Veister hanya memandang keduanya datar dan kembali melanjutkan tidurnya.


“Apa kamu masih merasa sesak? Karena kaisar tadi?”


Leister bertanya sambil menatap Ivew yang sedikit tersentak dan hampir tersedak. Gadis bermata emerald itu buru-buru meraih segelas air dan meminumnya cepat, sedangkan kucing Veister bangkit duduk di atas meja dan menatap keduanya.


“Apa yang terjadi?” tanya kucing Veister bergema di dalam ruangan yang hanya diisi oleh mereka bertiga.


Leister melirik Ivew yang tetap melanjutkan makannya dan mulai menceritakan semua yang terjadi hingga pertanyaan yang diajukan kaisar kepadanya. Kucing Veister menatap Ivew yang terus mengalihkan  pandangannya.


“Ya ... tidak heran Kaisar melakukan itu. Mungkin saja desas-desus tentang orang yang mengalahkan monster laba-laba waktu itu sudah sampai ke telinga Kaisar. Kaisar sepertinya ingin menguji mu, Ivew.”


Leister mengangguk atas penjelasan yang diberikan kucing Veister. Pemuda bermata ruby itu hendak bertanya sebelum terhenti karena pintu yang terbuka dan seseorang melangkah masuk ke dalam ruang makan.


“Baru kutinggalkan sebentar sudah ada masalah. Apalagi yang terjadi, Ivew?”

__ADS_1


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨


__ADS_2