
...⪻⪼...
Teriakan Leister itu bergema ke penjuru hutan dan mereka segera berpencar dengan kuda masing-masing. Bersamaan dengan itu segumpal daging berwarna hitam arang jatuh dari pohon di atas mereka. Bagian kepalanya yang tampak tumpul dengan ujung yang runcing dan gigi tajam yang tampak melingkar di bagian mulutnya. Kuda-kuda mereka mulai bergerak gelisah saat merasakan hawa yang dikeluarkan makhluk di depan mereka.
Makhluk itu bangkit dan melihat sekeliling kemudian mulai menyedot sesuatu dengan mulutnya yang berbentuk lingkaran. Ivew yang berjarak sepuluh meter dari makhluk sepanjang lima meter itu panik saat kudanya mengeluarkan suara dan menarik perhatian makhluk di depannya.
Makhluk hitam itu mengeluarkan gigi tajamnya dan bergerak dengan menyeret tubuhnya ke arah Ivew. Gadis itu segera memacu kudanya menjauh ke arah lain bersamaan dengan teriakan panik Laveron. Ivew melirik makhluk hitam di belakangnya yang mengejarnya dengan panik.
“Makhluk itu mirip lintah tapi dengan versi yang lebih besar,” ucap Ivew merinding dan memacu kudanya lebih cepat. Kuda coklat kesayangannya itu semakin gelisah saat merasakan getaran yang dihasilkan dari gerakan tubuh sang monster.
Manik emerald Ivew kembali melirik monster di belakangnya dan mulai mengambil busur panah yang tersampir di bahunya. Mengelus pelan kudanya Ivew mulai menarik anak panahnya menuju sosok hitam yang mengejarnya. Anak panah itu menghantam bagian tengah depan tubuh sang monster.
Monster hitam itu mulai menggulingkan tubuhnya dan mengeluarkan cairan hijau berbau sangat busuk. Ivew menutup hidungnya dan menahan rasa muntah. Di belakang mereka gadis bermata emerald itu mendengar suara tembakan yang di arahkan ke tubuh monster yang mengejarnya.
Ivew terus memacu kudanya tak menyadari salah satu ujung rawa ada di depannya, gadis itu dengan panik membelokkan arah gerak kudanya ke kanan. Monster hitam di belakangnya yang terus menggelinding tidak sempat berbelok dan berakhir masuk ke dalam rawa.
Percikan air rawa itu hampir mengenai Ivew jika dirinya terlambat menggunakan angin sebagai perisai pelindung. Gadis bermata emerald itu menghela nafas lega saat berhasil lolos dari kejaran monster dan memacu kudanya menuju Laveron yang meneriaki namanya di kejauhan.
__ADS_1
Senyum di wajah Ivew hilang saat dari arah kanannya, di atas pohon yang menjulang tinggi monster yang sama menggantung dan bersiap untuk turun menghantam tubuhnya. Manik emerald gadis itu melebar saat menyusuri bagian atas pohon di sekitarnya. Beberapa monster yang sama menggantung dengan gigi tajam yang tampak siap menghabisi mereka semua.
“Abang menjauh! Jangan kesini! Monster-monster itu ada di sini!”
Suara Ivew menggema dan di dengar dengan baik oleh Laveron dan rombongan. Lolita mendongak menatap ke atas pohon tempat Ivew baru saja lewat dengan kudanya. Monster hitam itu bergoyang dan hendak turun membuat gadis bermata delima itu berseru panik saat merasakan getaran yang dihasilkan tubuh sang monster yang menyentuh tanah.
“Kita gunakan bom Laveron!” raung Leister menatap Laveron yang mengangguk dan meminta rekan prajurit militer menyiapkan bom yang mereka bawa.
Di depan mereka Ivew terus memacu kudanya berusaha menghindar dari kejaran monster di belakangnya. Gadis itu kembali mendongak saat menatap salah satu monster yang tergantung di atas kepalanya hendak menjatuhkan dirinya.
Ivew dengan panik mengendalikan angin yang ada di sekitarnya untuk menjauhkan posisi jatuh monster itu darinya. Kuda coklat kesayangannya kembali gelisah dan Ivew kembali mengelus sang kuda dengan jemarinya yang gemetar.
Ivew menghindar ke arah kanan begitu juga dengan Laveron dan rombongan yang sedang mempersiapkan bom. Mereka sedikit gemetar saat pohon yang terkena cairan hijau monster itu hancur dan melepuh.
“Sial! Kenapa monster ini mengejarku lagi!” pekik Ivew frustasi saat monster yang berusaha dijauhkannya sebelumnya juga ikut mengejarnya.
Laveron memberi komando kepada salah satu rekannya untuk melemparkan bom pada monster yang kini berjarak dua puluh meter dari mereka. Ivew yang melihat bom yang di lemparkan ke arah monster di belakangnya kembali menghindar ke arah barisan pepohonan di kirinya dan sedikit kehilangan keseimbangan saat angin dari ledakan hampir mengenainya.
__ADS_1
Ivew melirik kedua monster yang berusaha mengejarnya mati dalam ledakan bom yang berisi ekstrak tanaman vanilla. Gadis itu menghela nafas lega dan mempercepat laju kudanya menuju Laveron dan yang lain yang menunggunya.
“Kamu baik-baik saja, Ivew?” tanya Laveron dari atas kudanya menatap sang adik khawatir. Gadis bermata emerald itu mengangguk dan menatap tubuh dua monster berukuran sedang yang tampak kejang karena efek bom.
Setelah memastikan monster itu mati salah satu prajurit militer mendekat ke arah bangkai monster dan mengambil cairan hijau di sekitar tubuhnya yang dimasukkan ke dalam tabung kecil. Cairan yang akan di berikan kepada ilmuan di Kota Otto karena monster di depan mereka belum pernah mereka temukan sebelumnya. Laveron melirik Leister dan pemuda itu mengangguk untuk melanjutkan perjalanan, meski Laveron adalah pemimpin dalam rombongan tetapi pemuda bermata navy itu tetap melibatkan Leister dalam setiap keputusan.
Mereka sampai di depan rawa yang berada tepat di tengah hutan hitam. Bagian hutan yang sangat jarang di jelajahi. Bahkan, Laveron dan tim sebelumnya belum sampai ke bagian ini di karena kan mereka menyisir hutan secara horizontal mengikuti arah tembok pelindung, berlawanan dengan ekspedisi saat ini yang dilakukan secara vertikal dari arah mansion flowerlax.
Mereka kembali mengambil air rawa di depan mereka. Sedikit cahaya matahari masuk dari celah-celah daun pepohonan. Rawa berwarna hitam itu tampak dangkal akan tetapi tidak ada satu pun kehidupan di dalamnya. Setelah berpencar dan berkeliling mereka semua memastikan bahwa daerah di sekitar rawa itu aman.
Laveron dan yang lainnya memutuskan untuk masuk ke bagian hutan yang lebih dalam. Tanah hutan semakin lembek dan penuh air tetapi kuda-kuda mereka masih sanggup untuk berjalan hanya saja dengan gerakan yang lebih lambat dari sebelumnya.
Memasuki area yang lebih dalam pepohonan yang ada di sekitar semakin rapat dan perlu konsentrasi tinggi bagi mereka untuk mengendalikan laju kuda. Lolita yang berada di samping Ivew kembali mendongak berjaga-jaga jika ada makhluk lainnya yang bergantung di atas pohon. Manik delima gadis itu terus melirik sekitarnya dan mulai melihat tembok putih pelindung kekaisaran yang terlihat di kejauhan.
Angin kencang kembali menerpa mereka membuat kuda-kuda mereka panik dan bergerak agresif. Ivew langsung mengendalikan angin di sekitarnya dengan salah satu tangannya. Kuda-kuda itu kembali tenang saat angin reda tetapi salah satu kuda ksatria Flowerlax lepas dan lari menuju ke depan menuju sumber angin datang. Dalam kepanikan itu mereka dikejutkan dengan teriakan kuda di depan mereka dan juga suara tusukan benda tajam yang menghantam daging.
“I-itu kan ....”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar .... ✨