
⪻⪼
Satu bulan kemudian, Mansion Flowerlax
Suara alunan anak panah yang melesat membelah angin menggema dari arah taman keluarga Flowerlax. Busur panah berwarna coklat tampak berkilau terkena cahaya matahari dan manik emerald sang pemanah menatap tajam target panah di depan mata.
“Kemampuanmu semakin baik, Ivew.”
Gadis dengan mata emerald itu berbalik saat mendengar pujian dari seseorang di belakangnya. Pemuda dengan seragam khas ksatria flowerlax dengan warna perak berjalan dengan senyum di wajahnya.
“Ini berkat ajaran Anda juga, Ketua Dofer."
Ivew tersenyum saat menatap ketua pasukan ksatria flowerlax datang bersama Lolita yang membawa pedang di belakangnya. Manik emerald gadis
itu menatap Grein yang terbang di sekitar Lolita.
Gadis bermata delima itu menguntai senyum saat bertemu pandang dengan manik emerald Ivew dan mulai berjalan ke sisi lain lapangan untuk melatih kemampuan pedangnya. Dofer melirik Lolita yang
terlebih dulu mengambil pemanasan dan bersiap untuk membantu nona mudanya mengembangkan kemampuan pedangnya.
Ivew mengangguk saat Dofer beranjak menuju Lolita. Gadis bermata emerald itu memandang langit biru di atasnya, sedikit rindu dengan Laveron yang terakhir ditemuinya hampir satu bulan yang lalu saat dirinya pulang dari kekaisaran.
Dengan wajah yang cukup datar pemuda bermata navy itu menggenggam tangannya dan memintanya untuk menjaga dirinya. Kucing Veister yang hadir di sana tentu juga angkat suara bahwa ia akan menjaga Ivew.
Leister yang melihat kegundahan Laveron memutuskan untuk membiarkan Ivew menginap di mansion Flowerlax yang akan memudahkan mereka untuk melatih Ivew sesuai perintah kaisar. Sejak saat itu Ivew berada di mansion Flwerlax dan dilatih langsung oleh Ketua pasukan ksatria keluarga Flowerlax, Dofer Siin yang fokus mengajarkan kemampuan memanah Ivew dan sedikit cara mengayunkan pedang yang baik dan benar.
Kemampuan memanah Ivew lebih baik dari sebelumnya dan gadis bermata emerald itu bisa menembak dari jarak sejauh satu kilometer. Matanya yang sangat tajam mampu melihat target dari jarak jauh, sesekali Ivew menggunakan panahnya dengan bantuan kekuatan anginnya.
Atau jika bosan dengan latihan panahnya gadis
itu akan berlatih pedang bersama Lolita yang dengan senang hati membantunya.
“Kita akan berangkat besok. Apa kamu sudah siap, Ivew?”
__ADS_1
Ivew berbalik memandang Leister yang muncul di belakangnya dengan baju santai. Kaus putih sang pemuda sedikit berdebu dengan keringat yang tampak mengalir dari dahinya. Sepertinya pemuda bermata ruby itu juga baru selesai berlatih pedang di sisi lain area latihan.
“Tentu, Tuan Muda. Aku tidak sabar bertemu dengan abang di istana kekaisaran.”
Ivew tersenyum dan menyandang busur panahnya. Leister hanya mengangguk dan tersenyum, beranjak pamit menuju kamarnya sembari mempersiapkan kebutuhan ekspedisi jangka panjang mereka.
Ivew menatap Lolita yang berlatih pedang dengan Dofer. Gadis dengan mata delima itu bergerak lincah menghindari serangan yang diberikan Dofer membuat ketua pasukan ksatria itu sedikit kewalahan.
“Pagi, Ivew ....”
Ivew tersenyum saat mendengar suara lembut dari angin di sekitarnya. Sekitar dua minggu sebelumnya gadis itu mulai sering mendengar angin di sekitarnya berkomunikasi dengannya. Mulai dari memainkan rambutnya atau sekedar menggerakkan pakaian yang dikenakannya, sedangkan untuk kekuatan api Ivew masih belum bisa berkomunikasi atau mendengar suara penuh semangat sang roh api.
Gadis itu berjalan menuju kamarnya yang terletak di dekat kamar Lolita, menyapa ramah para pelayan yang tersenyum padanya. Manik emerald Ivew melirik lorong yang mengarah ke ruang kerja Duke Flowerlax. Gadis itu masih ingat saat Leister mengatakan masalah di mansion Flowerlax hari itu kepada Laveron.
Saat mereka sampai di mansion hari itu suasana suram menyambut kedatangan mereka. Lolita berlari menuju Leister dengan wajah khawatir dan menyampaikan kabar bahwa Duke Ekan Flowerlax hilang dalam perjalanan pulangnya menuju mansion flowerlax dari tempat pelatihan militer. Pencarian pun dilakukan di sekitar wilayah flowerlax tetapi Duke tak kunjung di temukan.
Kabar hilangnya Duke Ekan Flowerlax menyebar ke seluruh kekaisaran akan tetapi hingga saat ini tak kunjung ada jawaban penyebab dari hilangnya sang duke. Bahkan, kuda yang dinaiki Duke saat itu ditemukan di dekat hutan hitam dalam keadaan panik dan bertindak agresif.
Kekosongan dalam kepemimpinan keluarga Flowerlax segera diisi oleh Lolita yang bergerak mengurus masalah internal di daerah mereka dan Leister yang mengurus masalah
“Barang-barangmu sudah siap?”
Ivew tersadar dari lamunannya saat membuka pintu kamarnya dan menemukan Veister yang duduk di sofa. Jubah hitam-perak pemuda itu tampak kontras dengan warna perak sofa yang didudukinya.
“Ya, sudah semua. Aku sudah mengemasnya tadi pagi,” jawab Ivew dan duduk di samping Leister yang kini meminum teh dari cangkir di depannya.
Ivew menghela nafas melepas rasa lelahnya. Veister segera mengambil kue kering di piring di atas meja dan memberikannya kepada Ivew. Gadis itu mengunyah kue kering rasa coklat itu perlahan dan melirik Veister yang juga menatapnya.
“Ada apa? Ada yang salah?”
Veister melirik ke arah pintu masuk kamar Ivew dan menatap gelang bewarna perak dengan corak coklat gelap di pergelangan tangan kanan Ivew. Pemuda itu menjulurkan tangannya dan mulai membacakan mantra dengan suara rendah yang menggema ke seluruh ruangan.
“Wahai angin yang tak terlihat, lindungilah kami dibawah pelukanmu. Swieldn!”
__ADS_1
Ivew merasakan cahaya hangat yang sedikit menyengat mengalir mengelilingi tubuhnya dan menatap Veister yang tersenyum.
“Itu perisai pelindung yang lebih kuat dari saat ekspedisi di hutan hitam. Perisai itu mampu melindungi mu setidaknya satu kali dari benturan keras atau bahaya apapun yang datang. Hanya untuk jaga-jaga jika saja aku tidak ada di dekatmu kamu bisa melindungi dirimu, kan?”
Ivew mengangguk dan membenarkan ucapan Veister. Pemuda dengan manik dua warna itu menepuk pelan kepala Ivew dan beranjak berdiri keluar ruangan hendak memeriksa sesuatu.
“Aku akan segera kembali. Jangan kemana-mana!"
Veister berujar dengan wajah serius dan menutup pintu kamar. Ivew terdiam dengan tindakan Veister yang mirip dengan Laveron membuat rindunya akan kehadiran pemuda bermata navy itu sedikit
terobati.
Beberapa menit berlalu gadis dengan mata emerald itu merasakan hening yang menusuk di lorong depan kamarnya dan tersentak saat menatap Veister yang kembali masuk ke dalam kamar. Pemuda itu
kembali mendekati Ivew dan melirik gelang yang berada di pergelangan tangan kanannya.
“Ada apa? Bukankan tadi kamu sudah menambahkan mantra pelindung?” tanya Ivew dan Veister yang duduk di sampingnya tersenyum miring sembari mendekatkan kembali tangannya ke gelang Ivew seraya berbisik pelan.
“Shylend!”
Manik emerald Ivew menatap cahaya hitam bercampur perak yang samar-samar masuk ke dalam gelang di pergelangan tangannya. Gadis itu menatap Veister yang terasa berbeda dan angin busuk saat pemuda itu melewatinya menuju jendela.
Ugh ... bau busuk apa ini? Cahaya hitam itu? Apa itu sihir hitam? Ada yang aneh! Apa aku harus memastikannya? Batin Ivew menatap punggung Veister.
“Hei Veister ... apa kamu bisa menggunakan sihir hitam?” tanya Ivew menatap Veister dan menunggu reaksi pemuda itu.
Gadis dengan mata emerald itu merasakan gemetar pada tangannya semenjak Veister mengucapkan mantra pelindung kepadanya seolah ada sesuatu yang mengusik jiwanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Veister berbalik dan menatap Ivew yang menunggu jawabannya.
Manik emerald nya menatap kedua mata berbeda warna milik sang pemuda yang bersinar dan menahan nafas dari aura mencekam yang menguar dari tubuh pemuda berjubah hitam perak itu. Pemuda itu tersenyum miring dan menatap Ivew dengan mata yang melotot.
“Menurutmu?”
...⪻⪼...
__ADS_1
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨