Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
55 - Sang Penjaga Dunia (3)


__ADS_3

...⪻⪼...


“Bagaimana dengan pencarian Duke Ekan, Lady Flowerlax? Apa sudah membuahkan hasil? Apa kalian menemukan petunjuk?”


Kaisar Aradi kembali bertanya menatap Lolita di layar hologram. Gadis bermata delima itu melirik wajah Leister yang berada di dekat Duke Dexter dan menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari kaisar.


“Bagaimana dengan pencairan putra Anda, Duchess Veryn?” tanya Kaisar Aradi menatap manik ungu penguasa wilayah Angena itu.


Wanita itu menggelengkan kepalanya seraya menjawab cepat, “Belum ada hasil, Yang Mulia. Saat ini putra sulung saya sedang berusaha mencari jejaknya. Dari informasi terakhir yang saya terima ada cairan hijau busuk itu di beberapa tempat yang sempat dikunjungi putra saya.”


Kaisar Aradi mengangguk atas jawaban yang disampaikan Duchess Veryn Angena. Mata perak kaisar menatap wajah peserta rapat termasuk Veister, Sang Penyihir Suci yang kembali muncul setelah menghilang tanpa jejak bertahun-tahun sebelumnya.


Manik perak sang Kaisar beralih melirik Laveron yang hanya diam di samping Duke Dexter dan Leister Flowerlax. Veister kembali menatap ke arah Kepala Penyihir Aksario yang kembali terbatuk dan mengeluarkan sedikit darah berwarna hitam dari sudut bibirnya.


Itu darah hitam? Batin Veister menatap ekspresi tidak puas Kepala Penyihir Aksario.


“Pertemuan hari ini hanya sampai di sini. Sebisa mungkin kita harus mencegah hilangnya orang-orang dan memperketat keamanan kita. Grup ekspedisi yang kuperintahkan kalian bisa tetap di wilayah Rizery. Daerah lainnya akan mendapat bantuan dari ksatria kekaisaran secara berkala. Tetap laporkan perkembangan dan hal yang terjadi di wilayah kalian secara berkala kepada kekaisaran. Itu saja.”


Kaisar Aradi mengangguk dan segera memutus sambungan komunikasi jarak jauh mereka diikuti dengan perwakilan daerah lainnya. Lolita Flowerlax yang masih tersambung dengan hologram menatap Leister dan meminta pemuda itu untuk menjaga dirinya dan tidak usah mengkhawatirkan wilayah mereka dan juga dirinya.


Leister mengangguk dan cukup yakin dengan keamanan Lolita karena ada Grein yang menjaganya. Duke Dexter Rizery dan Diano Rizery melirik Veister yang duduk kembali di kursi di ruang pertemuan.


Rasa canggung memenuhi jiwa mereka saat mengetahui sang penjaga dunia kembali hadir dan kini ada di depan mata mereka. Pemuda dengan mata dua warna itu tiba-tiba merasakan sakit pada kepalanya menarik seluruh perhatian mata saat suara ringisannya mengisi hening.


Leister dan Laveron segera mendekat ke arah Veister yang menundukkan kepalanya di atas meja. Kedua pemuda itu membantu membawa sang penyihir suci ke kamarnya saat pemuda itu tidak mampu menggunakan kekuatannya untuk berpindah.


Duke Dexter dan Diano segera kembali ke ruang masing-masing untuk melakukan pekerjaan mereka. Windy, kupu-kupu putih yang tadinya di dekat Laveron kini hinggap di atas kepala Veister dan menyatu


dengan rambut putih sang pemuda.

__ADS_1


Satu bulan berlalu. Namun, tak kunjung ada kabar tentang menghilangnya Ivew, putra bungsu Duchess Angena, dan juga Duke Ekan. Kekaisaran saat ini juga mulai dilanda kecemasan karena bukan hanya bangsawan yang menghilang, tetapi kini rakyat biasa juga ikut menghilang tanpa jejak, bahkan para penyihir yang ditugaskan menjaga wilayah beberapa di antara mereka juga menghilang.


Wilayah yang kehilangan rakyat terbanyak adalah wilayah kekuasaan Duchess Angena dan wilayah yang paling sedikit kehilangan rakyatnya adalah wilayah kekuasaan Duke Rozitto.


Laveron dan yang lainnya sudah melakukan pencarian ke segala wilayah kecuali wilayah Kota Batu dan juga daerah selatan dari wilayah Duke Rozitto, sedangkan wilayah Kota Abob pencarian dilakukan oleh Ramound Angena bersama ksatria keluarga Angena.


Veister sesekali bertemu dengan Kepala Penyihir Aksario di istana kekaisaran bersama sang Kaisar untuk menemukan petunjuk hilangnya orang-orang dari segi sihir sekaligus membuktikan rasa curiganya tentang tingkah aneh sang kepala penyihir yang selalu tidak ada di tempat saat Veister ingin menemuinya.


Manik dua warna Veister mengernyit saat melihat Kepala Penyihir yang kembali terbatuk dan sesekali menyeringai aneh menampilkan ekspresi yang berbeda dari sebelah wajahnya, seolah ada dua jiwa yang berusaha mengontrol ekspresi tubuhnya.


Kepala Penyihir itu hanya banyak diam saat mendapat pertanyaan dari Veister. Pemuda dengan mata dua warna itu hampir saja melepaskan amarahnya jika tidak merasakan energi aneh yang dipancarkan Kepala Penyihir Aksario.


“Anda baik-baik saja, Kepala Penyihir Aksario?” tanya Veister mengajak Kaisar Aradi sedikit menjaga jarak dari Kepala Penyihir yang mengangguk patah-patah.


“Sa-saya ... hanya kelelahan,” ungkap Kepala Penyihir Aksario menghapus keringat yang mengalir dari dahinya.


Kaisar Aradi menutup hidungnya saat merasakan bau busuk yang menguar dari Kepala Penyihir. Veister segera menggunakan perisai pelindungnya untuk melindungi dirinya dan sang kaisar. Kepala Penyihir Aksario yang berada di depannya mulai tersenyum miring saat sebelah matanya bercahaya dengan warna menjadi ungu terang, sedangkan matanya yang lain tetap hitam.


“Ugh ... Apa ini? Apa yang terjadi?!”


Kepala Penyihir Aksario berseru panik saat merasakan tubuhnya seperti dikoyak seolah sesuatu sedang berusaha keluar dasri dalam tubuhnya. Kaisar Aradi menatap pemandangan di depannya dengan mata melotot, sedangkan Veister berdecak kesal dan memunculkan Windy di sekitarnya.


“Tu-tuan tolong .... sa-saya merasa dikendalikan! Ugh!”


Teriakan kesakitan Kepala Penyihir Aksario menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitar ruang pertemuan di Istana. Beberapa ksatria kekaisaran yang berjaga di depan pintu segera membuka pintu untuk memastikan keamanan sang kaisar.


Manik mata mereka melebar saat menatap ke arah Kepala Penyihir Aksario yang menguarkan cahaya ungu dari tubuhnya dan jubah putih yang digunakannya mulai berubah menjadi hitam.


“Sial! Sejak awal kita sudah bersama penghianat!” umpat Kaisar Aradi menatap ke arah Kepala Penyihir Aksario yang menyeringai di depan mereka.

__ADS_1


“Kamu mengendalikannya ya, Penyihir hitam? Apa dia salah satu bidakmu?”


Veister menatap ke arah Kepala Penyihir Kekaisaran yang telah berubah menjadi gumpalan bola tak beraturan. Tak ada lagi wujud manusia dari Kepala Penyihir Aksario. Mata besar hadir di kedua sudut gumpalan monster di depan mereka dengan mulut yang menyeringai lebar menampilkan gigi tajam.


Para ksatria kekaisaran yang berada di belakang kaisar dan Veister menutup hidung mereka saat merasakan bau busuk dari monster di depan mereka. Veister memperluas jangkauan perisainya hingga melindungi ksatria kekaisaran di belakangnya.


“Ya, dia adalah bidak terbodoh yang kumuliki,” jawab dari sosok monster di depan mereka dengan suara yang berbeda dari Kepala Penyihir Aksario.


“Bidak terbodoh?” tanya Kaisar Aradi pelan.


“Hihi ... apa yang akan kamu lakukan, Penyihir Suci? Jika kamu tidak bergerak cepat kamu akan kehilangan banyak hal lo ....”


Veister mengepalkan tangannya saat manik mata dua warnanya bertemu dengan pandangan mata sosok monster di depannya.


“Bentuk monster itu belum sempurna, bukan?”


Veister tiba-tiba menyeringai dan mulai mengeluarkan rangkaian mantra untuk memurnikan sosok monster di depannya bersamaan dengan Windy yang membentuk pusaran angin di sekitar tubuh monster yang berbentuk gumpalan.


“Ho ... kamu ingin mendapatkan tubuh orang ini kembali? Hihi ... cobalah!”


Veister menyeringai dan menjawab cepat sembari membaca mantra pemurnian, “Tentu saja aku akan berhasil. Penyihir Suci tidak pernah kalah!”


Kedua tangan Veister mulai bercahaya putih bercampur coklat muda seiring mantra terakhir keluar dari mulutnya.


“Singkirkan semua kotoran yang menghalangi jalan kesucian. Buang jauh-jauh dari wajah semesta! Alote Umarasi!”


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨

__ADS_1


__ADS_2