
...⪻⪼...
Manik emerald Ivew melebar saat telinganya mendengar alunan suara yang tenang dari air biru di dalam kolam yang mulai beriak menghasilkan gelombang kecil di permukaan airnya.
"Masuklah!"
Ivew melangkah masuk dan membiarkan air yang hadir di bawahnya menjadi pijakan untuknya berjalan. Sementara Rair dan yang lainnya hanya menatap semua kejadian dalam diam. Sebuah tembok air segera menutupi pintu masuk di depan mereka seolah mencegah mereka untuk ikut campur.
"Hanya mereka yang diizinkan roh air yang bisa masuk. Jalan air itu akan hadir atas izin roh air. Biarkan saintess alam menyelesaikan semua urusannya, yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu sampai semuanya selesai."
Rair menatap Ivew yang berjalan di atas pijakan air hingga akhirnya gadis itu sampai di depan kolam kecil itu. Air di dalam kolam itu bergerak dan akhirnya meloncat keluar dengan wujud angsa berwarna biru muda. Manik azure angsa itu menatap Ivew yang takjub dengan pemandangan di depannya.
"Ah, salam kenal roh air … saya Ivew Mirabeth."
Gadis dengan mata emerald itu sedikit menundukkan kepalanya, sedangkan angsa di depannya mengepakkan sayapnya dan hinggap di atas sebuah dahan yang terbentuk dari air.
"Aku tahu. Aku bisa merasakan aura Windy dan Efir darimu."
Ivew mengangkat kepalanya dan menatap angsa biru muda di depannya. Bulu berwarna biru muda yang tampak halus dengan sayap yang berkilau indah.
"Apa kamu kesulitan mengendalikan amarahmu, Ivew Mirabeth?"
Gadis dengan mata emerald itu menganggukkan kepalanya. Ingatan tentang dirinya yang lepas kendali saat melawan sosok mahkota taring masih terasa jelas dalam benaknya.
Kemarahan yang terasa menggebu dan kekuatan yang sulit dikontrol membuat Ivew takut kejadian itu akan terulang kembali di masa depan.
Mengingat sosok mahkota taring itu sudah membuat darah Ivew mendidih dan gadis itu harus melakukan segala cara untuk meredakan emosi di dalam jiwanya.
"Api bisa disimbolkan dengan kemarahan dan air hadir sebagai simbol ketenangan. Sudah sewajarnya kamu lepas kendali jika kamu mendapatkan kekuatan api tanpa adanya kekuatan air."
Manik emerald Ivew menatap angsa biru muda di depannya yang mengepakkan sayapnya dan kemudian bola-bola kecil dari air hadir di sekitarnya.
__ADS_1
"Yang kamu butuhkan sekarang adalah ketenangan jiwa."
Salah satu sayap biru muda angsa itu bergerak dan memecahkan beberapa bola air di sekitarnya. Ivew sedikit tersentak saat percikan air itu mengenai tubuhnya memberikan sensasi menyengat pada kulitnya.
"Jadi, jangan salahkan dirimu berlebihan, Ivew Mirabeth. Menerima kesalahan di masa lalu adalah salah satu jalan menuju ketenangan jiwa."
Gadis dengan mata emerald itu terdiam. Pernyataan roh air di depannya benar-benar menampar hatinya. Menerima kesalahan di masa lalu? Terlalu sulit bagi Ivew melakukan hal itu terlebih saat dirinya mengetahui sosok mahkota taring itu menggunakan tubuh keluarganya untuk kepentingannya.
Rasa sakit dan kecewa selalu hadir di sudut hatinya dan itu semakin besar saat mengetahui fakta menyakitkan itu. Kegelapan yang hampir saja melahap hatinya jika tidak dihentikan oleh Iletta saat itu.
"Jiwamu bukan milik dunia ini, kan?"
“Anda benar. Jiwa saya bukan dari dunia ini. Saya tidak sengaja masuk ke dalam dunia ini karena kematian yang saya alami di dunia sebelumnya,” jawab Ivew menatap air kolam di bawah roh air itu.
"Pergolakan jiwa selalu terjadi saat beradaptasi dengan perbedaan ruang dan waktu. Pada awalnya aku tidak menyetujui ide saintess alam sebelumnya untuk mencari penerus di dimensi lain."
Angsa biru muda itu mengepakkan sayapnya yang berkilau dan kembali memunculkan bola-bola air dengan berbagai macam warna.
Ivew menatap setiap bola yang berisi gambaran memori orang-orang, termasuk memori dirinya yang kecelakaan saat hidup sebagai Cona Renjana dalam sebuah bola air berwarna merah.
Ivew kembali mengalihkan pandangannya menatap angsa biru muda di depannya.
"Jiwa yang cukup murni dan mampu menerima takdir buruknya. Jadi, jangan buat kami kecewa dengan memilihmu!"
Ivew terdiam dan tiba-tiba Windy hadir di sekitarnya. Kupu-kupu putih itu terbang di sekitar Ivew dan hinggap diatas kepala angsa biru muda di depannya.
"Jadi, Ivew Mirabeth. Dapatkan kembali ketenangan jiwamu sebagai Cona Renjana."
Ketenangan sebagai Cona Renjana? Apa maksudnya? Batin Ivew menatap bingung keduanya.
"Kamu belum memperkenalkan dirimu kepadanya."
__ADS_1
Suara lembut Windy terdengar dan angin kecil hadir di sekitar mereka. Angin biru muda itu mengetuk pelan sayap biru muda angsa di depannya.
"Oh, benar juga. Aku Etwar … salam kenal, Ivew Mirabeth."
Ivew menganggukkan kepalanya dan kembali menatap bola-bola air yang hadir di sekitarnya. Bola air berwarna merah itu menarik perhatiannya, ingatan saat Cona Renjana kehilangan keluarganya.
"Jadi apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus masuk ke memori Cona Renjana lagi?"
Ivew bertanya menatap dua sosok roh alam di depannya. Windy terbang dari atas kepala Etwar dan membuat angin berwarna putih yang mengelilingi Ivew seperti sebuah tembok.
Manik emerald Ivew menatap tembok angin berbentuk kubus yang menghalanginya dengan suasana diluar. Suara Windy terdengar di antara tembok angin di sekitarnya dan memerintahkan gadis dengan mata emerald itu untuk fokus dan tenang.
Dua bola air berwarna merah hadir di hadapannya. Mata Ivew menangkap setiap kenangan yang hadir di dalamnya. Bola air berwarna merah pertama berisi kecelakaannya bersama keluarganya dan Ivew sudah pernah melihat memori itu saat dirinya ditangkap oleh penyihir hitam sebelumnya.
Saat jemari Ivew hendak menyentuh bola itu tiba-tiba saja warna bola berubah menjadi biru muda.
“Bukan yang itu, Ivew Mirabeth.”
Suara Etwar terdengar di sekitarnya dan Ivew beralih menatap bola air kedua yang berisi memori Cona Renjana tujuh tahun setelah kemalangan yang menimpa keluarganya terjadi.
Manik emerald Ivew memandang ragu bola air di depannya dan melirik bola di sampingnya yang sudah berwarna biru muda.
“Letakkan tanganmu di atas bola air itu dan biarkan dia menuntun jiwamu. Ingat apa yang kamu cari, Ivew Mirabeth. Jangan tenggelam dalam perasaan yang hadir disana.”
Ivew menganggukkan kepalanya dan mengikuti instruksi Etwar. Telapak tangannya yang kini berada di atas bola air itu mulai merasakan sensasi dingin yang menggelitik.
Gadis itu menutup matanya dan kemudian merasakan jiwanya ditarik menuju suatu tempat. Kegelapan yang terasa pekat di sekitarnya dan kemudian sebuah cahaya yang terasa menyilaukan.
Saat cahaya itu hilang telinga Ivew samar-samar menangkap suara seseorang yang memanggil namanya. Suara yang familiar dan penuh kehangatan. Suara dari sosok yang dirindukannya.
“Cona! Hei, Cona! Apa kamu baik-baik saja?”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨