Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
16 - Kekuasaan dan Kasih Sayang


__ADS_3

...⪻⪼...


Langkah Laveron dan Ivew terhenti begitu melihat Duke Flowerlax berdiri di depan pintu dengan tatapan dinginnya. Lolita yang berada di belakangnya juga terdiam dan berseru tertahan. Pria dengan rambut perak itu memasuki ruangan dengan aura yang membuat suasana menjadi berat.


Kucing Veister beringsut mundur dan bersembunyi dibalik kaki Lolita. Laveron dan Ivew membungkuk hormat menyampaikan salam hormat pada penguasa di depan mereka. Mata merah darah sang duke memandang mereka dengan angkuh dan kemudian tersenyum miring menatap Ivew yang masih menunduk menyapanya.


Lolita yang melihat hal itu mengepalkan tangannya dan ikut menunduk menyapa pria di depannya. Duke Flowerlax hanya melirik Lolita dan berjalan ke arah Ivew yang masih di rangkul Laveron. Kedua tangannya memegang pundak gadis bermata emerald di depannya dengan senyum yang kembali hadir di wajah dinginnya. Laveron yang berada di samping Ivew melirik sang duke yang masih setia dengan senyumnya.


“Kamu sudah sadar ternyata. Mau pergi ke mana kalian?”


Suara Duke terdengar dingin saat tangannya mulai mencengkeram pundak Ivew, gadis bermata emerald itu sedikit meringis dan berusaha mempertahankan sikap sopannya.


“Salam, Tuan Duke. Kami hendak pulang kare-"


“Kenapa? Bukankah lebih baik jika kalian beristirahat di sini. Ada banyak hal yang ingin saya ketahui dari penyerangan kemarin.”


Laveron terdiam saat Duke Flowerlax memotong perkataannya. Manik navy sang pemuda melirik Ivew yang tetap menampilkan wajah tenang dan melirik Lolita yang juga diam. Ivew mengepalkan tangannya saat cengkeraman Duke di pundaknya semakin kuat, kening gadis itu sedikit berkerut berusaha tetap tenang agar sosok di depannya tidak menekannya dengan mudah.

__ADS_1


“Kalian bisa kembali besok. Sebelum kembali ke rumah kalian temui saya di ruang kerja saya!” perintah Duke Flowerlax menepuk pundak Ivew dan berjalan keluar ruangan sembari melirik tajam Lolita.


Pintu ruangan itu tertutup dan Ivew menghela nafas dan sedikit meringis memegang pundaknya yang terasa panas dan ngilu. Laveron yang menyadari hal itu segera membawa Ivew kembali ke tepi tempat tidur. Lolita segera melihat kedua pundak Ivew dengan sedikit menyingkap kerah baju sang gadis.


Manik delima sang gadis melebar saat menemukan jejak kemerahan di pundak Ivew. Manik emerald Ivew terdiam melirik bekas kemerahan di pundaknya. Laveron yang berdiri di belakang Lolita terdiam dan mengepalkan tangannya, tidak menduga bahwa duke akan menggunakan ancaman untuk membuat mereka tetap diam di mansion nya.


“Dia menggunakan kekuatannya kepada orang yang baru sadar?! Dan mengancamnya?! Pria itu!”


Kemarahan Lolita menguar dengan kilatan yang terlihat pada mata delimanya. Ivew menenangkan gadis di depannya dengan mengusap pelan tangan Lolita yang terkepal erat. Memorinya mulai mencari informasi tentang karakter Duke Flowerlax. Keluarga Flowerlax merupakan keluarga penguasa di Kota Osgord dan masuk ke dalam bangsawan yang disegani di kekaisaran.


Duke Ekan Flowerlax adalah pemimpin keluarga duke saat ini yang memiliki seorang putri bernama Lolita Flowerlax. Dalam novel Jalan Takdir, Ekan Flowerlax di ceritakan dengan karakter yang dingin dan haus akan kekuasaan. Seorang pemimpin yang rela melakukan apa pun demi kekuasaan. Bahkan, membuat tantangan untuk putri kandungnya sendiri. Menjadikan Lolita Flowerlax sebagai alat yang berjuang di medan perang agar dirinya semakin disegani. Bahkan, hubungan ayah dan anak itu sangat buruk terbukti dari Lolita yang tidak pernah memanggil Duke dengan sebutan ayah.


“Tidak apa-apa, Nona Muda. Saya baik-baik saja mungkin tuan duke tidak bisa mengontrol kekuatannya saat memegang pundak saya tadi,” ucap Ivew menarik perhatian Lolita yang sedang diliputi amarah.


Gadis bermata delima itu terdiam dan segera pamit keluar ruangan. Sebelum pintu kamar tamu itu kembali tertutup Lolita dengan lirih mengucapkan permintaan maaf atas hal yang terjadi pada Ivew. Laveron melirik Ivew saat pintu kamar itu tertutup, pemuda bermata navy itu duduk di samping sang adik dan kembali mengelus surai hitam legamnya.


Ivew melirik Laveron yang tersenyum di sampingnya. Kasih sayang yang ditunjukkan Laveron kepadanya membuat hati gadis itu hangat. Rasa takut dan was-was akan pertemuan dengan duke sedikit hilang berganti menjadi rasa kantuk yang membuat kelopak matanya berat.

__ADS_1


“Apapun yang terjadi abang akan selalu ada di sampingmu, Ivew.”


Suara Laveron terdengar tegas dan penuh dengan keyakinan sembari tangannya terus membelai surai hitam legam Ivew yang mulai masuk ke alam mimpi. Gadis bermata emerald itu terbangun saat seseorang menggoyangkan tubuhnya. Kelopak mata Ivew terbuka dan bertemu dengan pandangan  Veister. Pemuda itu tersenyum saat melihat Ivew membuka mata dan membantu gadis itu duduk.


“Ada apa, Veister?” tanya Ivew melirik sekeliling ruangan.


Manik Ivew melirik ke arah luar jendela, menatap langit siang yang penuh dengan beberapa burung yang terbang. Perhatian Ivew kembali teralih pada Veister saat matanya menangkap cahaya perak kecoklatan keluar dari tangan Veister menuju kedua bahunya. Sensasi dingin mengalir di kedua pundaknya dan saat jemari tangannya menyentuh bekas kemerahan yang sebelumnya ada di pundaknya rasa sakit itu sirna.


Ivew tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Veister yang juga ikut tersenyum di depannya. Veister menjelaskan hal yang terjadi selama Ivew tertidur, mulai dari Laveron yang berada di markas pasukan militer dan akan kembali sore nanti, Lolita yang berada di kamar Leister yang baru sadar dan Duke Ekan Flowerlax yang meminta untuk bertemu dengan dirinya esok pagi. Ivew mengangguk dan membiarkan dirinya bersantai menjadi tamu ‘kehormatan’ Flowerlax dan mempersiapkan dirinya untuk esok hari.


Keesokan paginya kedua saudara Mirabeth itu berdiri di pintu depan ruang kerja sang duke. Ivew menggenggam erat tangan kekar Laveron yang berada di balik jubah hitam seragam militernya. Manik navy sang pemuda melirik Lolita dan Leister yang masih berbalut perban berdiri tak jauh dari mereka dan hanya diam.


Pemuda itu tersenyum dan mengangguk sopan pada kedua bangsawan muda Flowerlax yang ikut mengantar mereka. Kstaria yang berjaga di depan pintu membuka pintu, mempersilahkan kedua saudara Mirabeth itu masuk. Lolita mengepalkan tangannya erat dan menuntun Leister lebih dekat ke depan ruang kerja duke agar mereka bisa mendengar pembicaraan di dalam ruangan.


Laveron dan Ivew kembali membeli salam hormat kepada Duke yang telah menunggu mereka di depan meja kerjanya. Duke Ekan Flowerlax tersenyum dan menyambut keduanya dengan senyum hangat. Manik mata merah darahnya menatap kedua saudara Mirabeth dan menatap lama Ivew dengan senyum miring di wajahnya.


“Ivew Mirabeth. Bagaimana kalau kamu ikut dalam ekspedisi ke hutan hitam selanjutnya?”

__ADS_1


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan komentar .... ✨


__ADS_2