
...⪻⪼...
Ivew dan Rayn terdiam saat mendengar jawaban dari sosok hitam bermata bulan sabit di depan mereka. Langkah kaki sosok itu bergema di tengah tanah lapang. Di tangannya kini terdapat dua bola hitam ukuran kecil yang siap diluncurkan ke arah keduanya.
“Aku akui ... walaupun kekuatanmu baru saja bangkit kamu cukup cerdik, Saintess.”
Sosok bermata bulan sabit itu berbicara dan menatap ke arah Ivew yang baru saja berdiri. Rayn yang terjatuh tak jauh dari gadis bermata emerald itu segera berdiri dan menggenggam erat pedang di tangan kanannya.
“Sayangnya ... takdir dari saintess sepertimu adalah kematian!”
Sosok bermata bulan sabit itu kembali bersuara dan menembakkan dua bola hitam kecil di tangannya. Ivew menyipitkan matanya dan mulai fokus mengeluarkan pusaran angin kecil berwarna biru muda yang langsung menyerap salah satu bola hitam.
Rayn mulai melakukan kuda-kuda bersiap menangkis bola hitam kecil itu dengan pedangnya. Manik orchid sang pemuda tampak berkilat dengan tangan yang memegang gagang pedang erat.
Manik orchid Rayn tampak fokus saat bola kecil itu sampai di jangkauan pedangnya dan segera memotong bola hitam kecil itu dengan pedangnya yang sudah diselimuti aura ungu miliknya. Sosok
bermata bulan sabit di depan mereka terdiam dan bertepuk tangan saat keduanya berhasil menangkis serangan yang diberikannya.
“Master kami menginginkan kematian sang saintess ... karena itu kamu pun harus mati! Kami akan mengabulkan keinginannya!”
Sosok dengan mata bulan sabit itu mulai tertawa dan merentangkan tangannya membentuk dua lingkaran
hitam di belakangnya. Dua sosok monster hitam besar dengan kepala tumpul dan ekor yang runcing muncul di hadapan keduanya.
Dua monster itu berteriak dengan gigi tajam yang muncul dari mulut mereka. Keduanya menutup telinga saat mendengar suara lengkingan monster hitam itu.
“Apa bentuk ini cukup familier bagimu, Saintess?”
Sosok bermata bulan sabit itu bertanya dengan salah satu tangannya memegang bagian licin tubuh monster di sampingnya. Manik emerald Ivew melebar menatap bentuk monster di depannya, sedangkan Rayn yang kini berdiri di samping Ivew melirik gadis itu menunggu jawaban yang diberikannya.
__ADS_1
Apa mereka meniru bentuk monster dari duniaku sebelumnya? Jika itu benar maka itu adalah hewan dari kelas hirudinea, yaitu lintah. Batin Ivew menatap bentuk monster yang sangat familier dengan dunianya yang sebelumnya dan hanya dibedakan dengan ukuran tubuhnya saja.
Sosok dengan mata bulan sabit itu menyeringai dan menepuk pelan tubuh hitam licin sang monster membuat monster itu berteriak dan segera bergerak menuju Ivew dan Rayn.
Keduanya segera bersiaga saat getaran dari gerakan dua monster itu membuat pijakan mereka goyang. Sosok bermata bulan sabit itu hanya tersenyum dan menatap santai pemandangan di depannya.
Ivew berdecak kesal dan mulai menggerakkan jemarinya untuk membentuk bola angin kecil. Gadis itu menutup matanya dan membayangkan bentuk bola dari angin, manik mata emerald-nya sedikit bersinar dan segera gadis itu melepaskan bola angin ukuran sedang ke arah salah satu monster di depannya. Rayn menepuk pundak Ivew dan menguntai senyum kecil di wajahnya.
“Aku akan mengalihkan monster ini ke arah lain. Berhati-hatilah, Ivew!”
Rayn segera berlari menjauh dari Ivew membawa monster lintah lain yang mengejarnya dengan gigi tajam yang berkilau terkena cahaya matahari. Ivew menatap Rayn yang menjauh sembari menghindar dari tembakan gigi sang monster.
Manik emerald Ivew menatap monster lainnya yang berjarak sepuluh meter darinya. Gadis itu kembali menggerakkan angin di sekitarnya untuk memperlambat gerakan tubuh sang monster.
“Lebih baik kamu menyerah! Tidak ada gunanya membuang tenagamu, Saintess.”
Sosok hitam bermata bulan sabit itu berteriak di kejauhan, sedangkan Ivew yang mendengarnya mengarahkan salah satu bola angin yang baru dibentuknya ke arah sosok bermata bulan sabit itu.
Ivew berseru panik dan berusaha menggerakkan angin untuk mengangkat tubuhnya setinggi mungkin. Gadis itu melirik Rayn yang juga kesulitan menghindari serangan monster dan melakukan hal yang sama pada tubuh pemuda bermata orchid itu. Rayn tersengal saat Ivew membawanya mendekat ke arahnya.
Aku pasti bisa! Aku harus bisa! Aku ingin hidup! Batin Ivew menahan rasa gemetar dan pusing pada kepalanya.
Sosok bermata bulan sabit itu mendongak menatap Ivew dan Rayn yang berada di atas langit. Seringai lebar hadir di wajahnya saat dua monster di bawah keduanya membuka mulut yang dipenuhi gigi tajam itu lebar-lebar dan mulai berdiri dengan ekor runcingnya sebagai tumpuan.
Ivew berseru panik saat mulut monster itu hampir mengenainya. Gadis itu dengan tangan gemetar menggerakkan tubuh mereka berdua semakin tinggi.
“Lepaskan aku, Ivew! Aku punya rencana,” ungkap Rayn menatap Ivew yang berusaha meneguhkan tangannya.
“Tidak! Apa anda ingin mati, Tuan Muda?”
__ADS_1
Ivew berseru membalas pernyataan Rayn. Pemuda dengan mata orchid itu tersenyum lembut dan mengusap pelan puncak kepala Ivew menatap manik emerald Ivew yang menyipit menahan rasa sakit dan gemetar pada tubuhnya.
Gadis ini sudah mencapai batasnya. Setidaknya dirinya harus selamat. Sebagai seorang pria aku tidak boleh bergantung seperti ini sampai membuatnya kewalahan. Batin Rayn dan menatap mulut menganga monster di bawahnya.
“Percaya kepadaku Ivew! Aku ada rencana! Aku tidak bisa bergantung kepadamu seperti ini. Lepaskan aku dan biarkan aku menunjukkan rencanaku kepadamu!”
Rayn memegang tangan Ivew yang semakin gemetar. Gadis dengan mata emerald itu menggeleng dan menghindari tatapan dari manik orchid Rayn.
“Walaupun pertemuan kita singkat tapi aku sangat senang bertemu denganmu, Ivew. Aku yakin kamu akan jadi saintess alam yang hebat.”
Rayn terkekeh kecil menatap Ivew dengan tatapan lembut. Tangan pemuda itu terus mengelus puncak kepala Ivew, sedangkan gadis dengan mata emerald itu menggerakkan jemarinya dengan perlahan, membawa tubuh keduanya menjauh dari lebarnya lubang mulut monster di bawah mereka.
Sedikit lagi! Kumohon! Bertahanlah tubuhku! Batin Ivew menyemangati tubuhnya yang sudah mencapai batas.
“Percayalah pada rencanaku, Ivew. Lepaskan anginmu padaku!” titah Rayn namun gadis itu tetap diam.
Ivew tersentak kaget saat merasakan rasa sakit pada bahunya membuat kontrol anginnya pada tubuhnya dan Rayn lepas. Manik gadis itu menatap perut kirinya yang mengalirkan darah dan melirik sosok bermata bulan sabit di bawahnya yang menyeringai.
“Ivew lukamu-”
“Ugh ... selesaikan rencanamu, Tuan Muda!” sergah Ivew memotong kalimat Rayn dengan tangan menahan luka pada perutnya dan tangan lainnya berpegangan pada Rayn.
Keduanya jatuh dari ketinggian, tetapi Rayn bergerak cepat dengan menancapkan pedangnya pada tubuh monster itu dan menariknya ke bawah seiring tubuh keduanya yang terus jatuh.
Monster itu berteriak kesakitan, sedangkan monster lainnya bergerak ke arah keduanya dengan mulut besar yang siap memakan mereka.
“Matilah, Saintess!”
Kenapa mereka sangat ingin aku mati? Aku muak dengan kematian! Aku hanya ingin hidup! Hidup untukku dan keluargaku! Tidak akan kubiarkan mereka merenggut hidupku! Batin Ivew dengan manik emerald yang tampak membara.
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨