Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
56 - Sang Penjaga Dunia (4)


__ADS_3

...⪻⪼...


Sosok gumpalan monster di depan mereka mulai tertawa keras saat merasakan cahaya putih bercampur coklat yang dikeluarkan Veister bereaksi terhadap tubuhnya.


Asap putih bercampur hitam tampak keluar dari tubuh monster itu dan mulai menampakkan sedikit jubah berwarna putih. Kaisar Aradi da para ksatria kekaisaran menatap semuanya dalam diam.


“Hihi ... menarik! Tampaknya kekuatanmu telah kembali seutuhnya. Namun, apa ingatanmu sudah kembali?”


Veister tersentak dan memperkuat sihirnya saat mendengar pernyataan sosok di depannya. Suara tawa itu kembali menggema ke seisi ruangan, gigi tajamnya mulai menghilang dan siluet tubuh manusia mulai terlihat.


“Aku menanti perlawanan terbaikmu, Penyihir Suci. Jangan sampai kehilangan lagi. Hihihi ...”


Sosok gumpalan monster itu menghilang berganti bentuk menjadi tubuh Kepala Kekaisaran Aksario yang langsung jatuh tak sadarkan diri. Tangan dan kakinya terdapat jejak hitam bekas terbakar dan pembuluh darah di lehernya tampak berwarna hitam.


Veister terus mengalirkan sihirnya, sedangkan Windy sudah menghilangkan pusaran anginnya. Kupu-kupu putih itu terbang ke arah Veister dan hinggap di tudung jubah hitam-peraknya.


Manik dua warna Veister menyipit saat melihat kondisi tubuh kepala penyihir Aksario kembali normal. Ksatria kekaisaran segera menahah tubuh kepala penyihir Aksario saat Veister menghilangkan sihir pelindungnya. Kaisar Aradi yang berdiri di belakang Veister menatap punggung sang penyihir suci dan kembali menatap ke arah tubuh kepala penyihir Aksario.


“Itu ... kekuatan pemurnian yang hebat. Apa semua monster itu dari manusia? Anda bisa memurnikan semua monster?” tanya Kaisar Aradi mendekat ke arah Veister.


“Tidak. Monster tetaplah monster, orang itu hanya objek percobaan. Kepala Penyihir Aksario hanya beruntung karena dia berubah tepat di depan mataku dan masih ada jejak manusia di tubuhnya.”


Veister melirik Windy yang berada di atas kepalanya dan menatap Kaisar Aradi yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


“Kenapa Anda bisa menyadarinya?” tanya Kaisar Aradi melihat ksatria kekaisaran membawa tubuh Kepala Penyihir Kekaisaran Aksario keluar ruangan menuju penjara bawah tanah kekaisaran.


“Sebenarnya aku sudah memperhatikan tingkahnya sejak lama. Satu bulan yang lalu dalam pertemuan aku melihat darah hitam mengalir di sudut bibirnya saat dia batuk. Lalu energi aneh yang berputar di tubuhnya dan juga dua ekspresi yang kontras dan berlawanan.”


Kaisar Aradi mengangguk mendengar penjelasan Veister.


“Apa yang terjadi dengan para penyihir saat aku menghilang? Kenapa menghadapi serangan pengendalian penyihir hitam saja mereka tidak mampu?” tanya Veister setelah hening cukup lama.


Kaisar Aradi menatap Veister dan menghela nafas seraya menjawab pelan, “Itu kisah yang panjang, Tuan Penyihir. Singkatnya para penyihir kita melemah sejak Anda menghilang dan selesai dibangunnya tembok pelindung. Kepala Penyihir Aksario adalah satu-satunya penyihir terkuat yang kita miliki.”


Kaisar Aradi menambahkan bahwa mereka juga kehilangan banyak penyihir setelah dibangunnya tembok pelindung kekaisaran. Hilangnya Veister sebagai penyihir suci yang agung dan terbunuhnya saintess alam memunculkan sisi kelemahan yang besar dan memudahkan para monster serta penyihir hitam untuk mengelabui mereka.


Kepala Penyihir Aksario saat itu menjadi satu-satunya penyihir yang menyelamatkan kekaisaran bersama beberapa anak muridnya yang berhasil selamat dari serangan penyihir hitam dan monster. Aksario Arnoldi menjadi kepala penyihir diikuti oleh anak muridnya dan para penyihir baru yang bermunculan.


Satu bulan kemudian saat Kaisar Aradi kembali bertemu dengan Kepala Penyihir Aksario, mata perak Kaisar menangkap hal yangberbeda dari sang Kepala Penyihir serta ketidakhadiran anak muridnya yang biasanya selalu mengikutinya. Sejak saat itulah hubungan Kaisar Aradi dan Kepala Penyihir Aksario tidak berjalan lancar dan kepala penyihir itu selalu membantah mengikuti rencananya berakibat jatuhnya korban jiwa atau kerusakan pada wilayah.


Veister mengangguk mendengar penjelasan kaisar dan segera pamit untuk kembali ke wilayah Rizery. Pemuda dengan jubah hitam-perak itu hendak mengucapkan mantra sihir teleportasi, tetapi terhenti oleh tindakan Kaisar Aradi.


“Saya harap Anda tidak pergi lagi, Tuan Penyihir. Terima kasih sudah kembali ke kekaisaran ini.”


Kaisar Aradi sedikit membungkuk hormat menatap Veister yang terdiam dengan tindakan tidak terduga seorang kaisar. Pemuda dengan mata dua warna itu mengangguk dan tersenyum.


Pemuda itu meminta Kaisar Aradi untuk mempersiapkan diri dan menyampaikan segala informasi yang berhubungan dengan tindakan Kepala Penyihir Aksario selama dirinya tidak ada.

__ADS_1


Veister segera menggunakan mantra teleportasi menuju wilayah Duke Rozery. Pemuda dengan mata dua warna itu segera menuju kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas empuknya kasur. Windy segera terbang di sekitarnya dan menggunakan sihir putih kedap suara ke sekeliling ruangan.


“Apa kamu baik-baik saja?”


Veister menggeleng saat mendengar suara lembut Windy mengalun di sekeliling ruangan. Kupu-kupu putih itu terus terbang di sekitar mengelilingi ruangan dan terhenti di jendela kamar yang menghadap ke arah taman mansion keluarga Rizery.


“Masih belum ada kabar soal gadis itu?”


Suara Windy kembali terdengar saat kupu-kupu putih itu kembali terbang ke dekat Veister yang masih terbaring di atas tempat tidur. Pemuda dengan mata dua warna itu menggelengkan kepalanya dan menatap langit-langit kamar di atasnya.


Ingatannya kembali memutar memori tentang satu minggu yang lalu, Laveron yang terus bersikeras mencari keberadaan sang adik tanpa istirahat. Wajah pemuda itu sudah pucat dengan kantong mata yang semakin terlihat jelas.


Leister yang sudah lelah dengan sikap keras kepala Laveron hanya membiarkan pemuda itu kembali berjalan menuju kudanya. Namun, baru beberapa langkah tubuh pemuda dengan mata navy itu kehilangan keseimbangan dan jatuh menuju tanah. Untunglah Leister yang memiliki reflek cepat berhasil menangkap Laveron dan segera membawa pemuda itu menuju kamarnya.


Veister yang saat itu baru kembali dari menyempurnakan kekuatan sihirnya terdiam saat Laveron memintanya untuk menyembuhkan dirinya. Pemuda dengan mata navy itu terus mendesaknya. Suara kesal Leister pun tak meruntuhkan niatnya untuk terus mendesak Veister menggunakan sihir penyembuhan.


“Aku hanya ingin menemukan Ivew secepatnya. Satu bulan sudah berlalu, Veister. Kita tidak tahu apa yang terjadi selama itu, aku tidak ingin mengambil resiko, Veister.”


Veister mengernyitkan keningnya saat mengingat kalimat Laveron kala itu. Pemuda dengan mata dua warna itu bangkit duduk dan menatap Windy yang masih terbang di dekatnya.  Pemuda itu kembali mengernyit saat mengingat pernyataan sosok yang mengendalikan Kepala Penyihir Aksario, helaan nafas kembali keluar dari mulutnya seiring perasaan was-was yang memenuhi jiwanya.


“Hei Windy. Apa yang sebenarnya aku lupakan? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang hilang? Kenapa ingatanku tiba-tiba hilang?”


...⪻⪼...

__ADS_1


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨


__ADS_2