Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
14 - Dua Penyamaran


__ADS_3

...⪻⪼...


“Jadi itu benar-benar kamu ya?” Sosok pria dengan rambut perak yang di ujungnya terdapat warna merah bersandar pada batang pohon bewarna hitam di belakangnya.


“Maafkan saya karena tidak mengenali anda sejak awal, Tuan.”


Sosok lain di depannya yang menggunakan jubah hitam-perak tampak membungkuk hormat.


“Tidak masalah ... kamu kan memang pelupa.”


Sosok dengan jubah hitam-perak hanya tertawa canggung. Suasana sekitar yang hening membuat suara nafas keduanya terdengar satu sama lain. Sosok pria yang bersandar pada dahan pohon itu menghela nafas saat angin di sekitar mereka mulai bergerak ribut diikuti dengan getaran yang menggoyangkan pijakan mereka.


“Akhirnya alam menemukan pengganti selanjutnya,” ucap pria yang bersandar pada pohon di belakangnya.


Rambut perak dengan ujung merahnya bergerak mengikuti gerakan angin. Sedangkan pria berjubah hitam-perak di depannya mengangguk dan menatap wajah tersenyum pria di depannya dengan manik dua warnanya.


Keduanya kembali terdiam saat mendengar teriakan monster yang bergema. Menggetarkan sekitar mereka, sosok berjubah hitam-perak melirik ke arah luar hutan yang merupakan sumber datangnya suara. Suara seseorang muncul dalam kepalanya membuat sosok dengan jubah hitam-perak itu tergerak untuk pergi.


“Pergilah ... kurasa monster itu sudah sampai di sana.”

__ADS_1


Sosok berjubah hitam-perak itu mengangguk dan hendak berlari. Namun, suara sosok di belakangnya membuatnya menoleh. “Veister ... jaga dirinya baik-baik.”


Sosok berjubah hitam-perak yang tak lain adalah Veister mengangguk dan mulai berlari menuju Ivew yang sempat di tinggalkannya. Langkah kaki pemuda itu semakin sulit saat tanah di sekitarnya terus bergoyang. Pemuda itu menggerakkan tangannya dan mulai menggunakan sihir untuk menerbangkan dirinya.


Suara keributan semakin memasuki telinganya saat cahaya dari luar hutan semakin terlihat. Bersamaan dengan itu suara kuda datang dari arah belakangnya dan Veister segera menggunakan sihir tembus pandangnya.


Manik mata dua warnanya menatap sekumpulan orang dengan seragam hitam merah, seragam khas pasukan militer. Manik pemuda itu menatap sosok yang berada paling depan, pemuda dengan rambut hitam dan mata navy, Laveron yang mempercepat laju kudanya dengan pedang teracung ke depan. Siap menebas apapun yang menghalangi jalannya.Veister mengikuti dengan tenang di belakang rombongan dan manik dua warna pemuda itu melebar saat merasakan aroma angin yang kuat.


Suara teriakan monster itu membuat fokusnya pecah dan saat sampai di depan hutan hitam kekacauan di depan mata mengejutkan semuanya. Manik dua warna Veister mencari keberadaan Ivew dan segera mendekat saat menemukan gadis itu kelelahan dalam rangkulan Lolita. Pasukan militer yang baru datang segera menyerang monster yang sudah sekarat dan menghabisinya secepat yang mereka bisa. Pedang panjang dan tajam mereka memotong setiap tubuh monster laba-laba itu tanpa sisa. Mengabaikan bau busuk dari cairan ungu sang monster yang menyebar ke segala arah.


Monster itu mati dan beberapa pasukan militer segera  membantu Leister serta ksatria lainnya yang tak sadarkan diri. Manik navy Laveron menyisir segala arah di sekitarnya, pemuda itu tersentak kaget saat menemukan sang adik yang menutup kedua matanya rapat dalam rangkulan Lolita yang terduduk kelelahan. Pemuda itu segera berlari menuju sang adik yang sudah hilang kesadaran. Manik delima Lolita bersinar lega saat menemukan Laveron hadir tepat waktu menyelamatkan mereka.


Lolita menghela nafas dan meminta maaf. Nona muda itu meminta mereka untuk membawa semua yang terluka ke dalam mansion Flowerlax dan akan menceritakan semuanya kepada Laveron. Pemuda bermata navy itu mengangguk dan mengikuti langkah Lolita sembari mengamankan Ivew dalam gendongannya.


Manik navy nya menatap wajah sang adik yang sedikit pucat. Beberapa pasukan militer mengikuti langkah mereka membawa semua orang yang terluka. Hari itu penyerangan yang terjadi di hutan hitam disebarkan ke seluruh kekaisaran. Duke Flowerlax yang mengetahuinya berusaha menyelesaikan pekerjaannya di kekaisaran secepat mungkin dan mencari informasi lebih lanjut tentang penyerangan yang terjadi di daerahnya.


Veister yang sedari awal mengikuti langkah Laveron dengan sihir tembus pandang hanya terdiam dan melirik Ivew yang tenang dalam gendongannya. Manik mata dua warnanya melirik gelang yang melingkar di pergelangan tangan kanan Ivew. Pemuda itu merasakan gejolak kekuatan yang mulai memudar dari tubuh Ivew.


Menatap Laveron yang membaringkan tubuh Ivew di kamar tamu yang disediakan Lolita pemuda itu merasa bersalah saat menatap wajah khawatir Laveron. Tangan pemuda bermata navy itu menggenggam erat tangan sang adik yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Kamu selalu membuat abang khawatir, Ivew,” gumam Laveron memecah hening ruangan. Beberapa pelayan datang dan mulai membersihkan tubuh Ivew yang penuh debu.


Laveron dan Veister segera keluar ruangan membiarkan para pelayan melakukan tugasnya. Kedua pemuda itu menoleh ke arah lorong saat mendengar langkah kaki Lolita yang datang dengan keadaan yang bersih dan rapi. Manik delima gadis itu menatap wajah khawatir Laveron dan mengajak sang pemuda ke ruang kerjanya untuk menjelaskan semua hal yang terjadi.


Veister menatap ruangan di depannya, cukup berantakan dan penuh dokumen di bagian meja akan tetapi sangat rapi jika bergeser ke bagian lainnya. Aroma vanilla cukup kental di dalam ruang kerja sang nona muda. Lolita duduk di atas sofa yang berada di ruang kerjanya berhadapan dengan Laveron. Pemuda itu dengan sabar menunggu Lolita menjelaskan semuanya termasuk Veister yang penasaran.


Lolita menghela nafas dan mulai menjelaskan semuanya tanpa melewatkan satu hal pun. Laveron mendengarkan dengan tenang tanpa menyela lain halnya  dengan Veister yang berdiri di belakangnya, pemuda itu sudah berdecak kesal saat mendengar jawaban yang diberikan Ivew mengenai pembicaraan mereka sebelumnya atau tentang Duke Flowerlax yang haus akan kekuasaan.


Manik kedua pemuda itu melebar saat Lolita mulai menjelaskan bagaimana Ivew memberikan serangan kepada monster laba-laba dan membuatnya sekarat. Veister segera meninggalkan ruangan dan beranjak menuju ruang tempat Ivew istirahat. Manik dua warna pemuda itu menatap wajah Ivew yang sedikit pucat dengan kondisi yang masih tidak sadar.


“Sudah kubilang, kan? Kamu akan menguasai kekuatan angin itu,” gumam Veister meraih helai hitam rambut Ivew yang menutupi wajahnya.


Pintu kamar kembali terbuka dan Veister berbalik memandang Laveron yang memasuki kamar dengan helaan nafas yang berat. Pemuda itu segera duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Ivew. Kamar itu memang mewah tapi pemuda bermata navy itu merasa sesak, ada banyak hal yang membuatnya tidak suka jika mengunjungi mansion flowerlax terutama jika hal itu ada hubungannya dengan Ivew.


Terlebih jika duke mulai mengetahui tentang potensi kekuatan sang adik. Maka skenario buruk dalam pikiran Laveron tinggal menunggu waktu untuk terwujud. Veister yang berada di belakang Laveron hanya diam.


“Abang harap kamu tidak berakhir menjadi boneka untuk kekuasaan, Ivew.”


...⪻⪼...

__ADS_1


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan komentar ✨


__ADS_2