
...⪻⪼...
Iletta terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan Ivew. Manik navy gadis berambut putih itu memandang wajah Ivew dan melirik bunga mawar orange di tangan Ivew. Iletta tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kehidupan kakak bisa berakhir? Apa orang-orang itu juga menghabisi kakak?"
Ivew mengepalkan tangannya menunggu jawaban yang disampaikan Iletta, sedangkan Windy terbang dan hinggap diatas bunga mawar orange yang dipegang Ivew.
"Kamu dipenuhi kemarahan lagi."
Ivew tersentak mendengar pernyataan yang disampaikan Windy. Iletta menepuk pelan puncak kepala Ivew membuat gadis itu menatapnya dengan mata emerald yang menatap sayu.
"Tidak peduli bagaimana hidupku berakhir sebelumnya. Sekarang aku hadir untuk membantu kamu, Ivew. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskannya."
Iletta menyerahkan setangkai bunga violet ke tangan Ivew. Manik emerald Ivew menatap bunga yang cukup familiar dengannya.
"Bunga violet? Apa kakak ingin aku selalu rendah hati dan tidak memiliki niat buruk?"
Ivew menatap Iletta yang kembali tersenyum. Gadis itu mengajak Ivew lebih dekat dengan bola batu permata di depan mereka.
"Alam selalu menghadirkan pesan untuk kita, Ivew. Salah satunya dari filosofi warna bunga di sekitar kita. Dan sebagai saintess alam tugas kita untuk peka dan memahami dengan baik pesan yang disampaikan alam."
Iletta meletakkan salah satu tangannya di bola batu permata di depan mereka. Cahaya berbagai warna hadir di sekitar telapak tangan Iletta yang masih menyentuh bole permata. Rambut putih Iletta berkibar saat angin sepoi-sepoi hadir di sekitar mereka. Ivew menatap pemandangan di depannya dengan tenang saat merasakan perasaan hangat mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Kak Iletta, kenapa seseorang terpilih sebagai saintess alam? Dan apa aku benar-benar saintess alam?"
Ivew mencengkeram kedua tangannya dan menatap Iletta dengan sorot mata ragu. Perasaan was-was memenuhi dadanya.
Gadis dengan mata emerald itu tidak pernah menyangka dengan beban yang berada di pundaknya. Memasuki dunia yang asing dan mengetahui beberapa informasi tentang masa depan nyatanya membuat Ivew semakin dilanda rasa ragu.
Kenapa harus dirinya? Kenapa bukan orang lain yang memiliki potensi lebih baik? Dirinya hanya orang luar yang jiwanya datang untuk membantu dunia ini.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu merasa ragu dengan dirimu sendiri?"
Ivew mendongak menatap Efir saat mendengar pertanyaan dari rubah di depannya. Sepuluh ekor rubah itu tampak bergerak di dalam pelukan lengan Iletta.
"Hentikan perasaan seperti itu. Keraguan hanya akan membuatmu tersesat dan kehilangan potensi diri. Yakinkan dirimu bahwa kamu bisa! Alam tidak akan memilih sembarang orang."
Ivew melirik Windy yang kini terbang di sekitar Iletta. Suara lembutnya memasuki pendengaran Ivew dan sayap putihnya berkilau indah saat terkena cahaya matahari di atas mereka. Iletta yang berada di depannya tersenyum menatap Ivew yang terus menghindari pandangan matanya.
"Saintess alam adalah orang-orang terpilih yang sangat mencintai alam di dalam hidupnya. Tidak hanya alam tapi juga makhluk yang berada di alam dengan kasih sayang tanpa pamrih. Tidak ada kata penyesalan yang terungkap untuk alam selain perasaan damai yang timbul di hati mereka. Dan kamu memiliki semuanya, Ivew."
Ivew menatap Iletta yang tersenyum tulus di hadapannya. Ingatan tentang kehidupan Cona Renjana kembali berputar dalam benaknya. Cona yang selalu senang memandang langit, Cona yang selalu bahagia saat seekor kucing datang ke arahnya.
Cona yang selalu tertawa riang saat datang ke pantai meski kakinya tak bisa lagi menyentuh deburan ombak dan Cona yang selalu berharap pada jutaan bintang di langit malam.
"Hanya karena itu?" tanya Ivew memandang Iletta.
"Tidak semua orang bisa mewujudkan perasaan mereka untuk alam, Ivew. Tidak semua orang suka memandang langit biru yang penuh awan, langit senja yang berwarna jingga atau langit malam yang penuh taburan bintang. Alam selalu mendengar dan melihat semuanya."
"Kami tau semuanya. Termasuk jiwamu yang bukan milik dunia ini. Semua kenangan burukmu di dunia sebelumnya dan api ku yang merenggut kebahagiaanmu."
Efir menatap Ivew yang terdiam. Manik emerald gadis itu menampilkan kilasan memori mobil yang ringsek dengan api yang mulai membakar dari bagian depan. Teriakan panik orang-orang dan suara pelan seseorang yang terus mendekap tubuhnya.
"Tapi terlepas dari itu kamu tetap mencintai alam kan, Ivew? Tak peduli seberapa dalam luka di hatimu kamu terus mencintai makhluk alam lainnya. Kamu menyelamatkan kucing yang terlantar di jalan, memberi makanan dan tempat hangat untuk bernaung. Kamu mencintai langit dan selalu mengucapkan harapan kepadanya."
Ivew mengangguk dan membenarkan pernyataan yang disampaikan Iletta. Yang dirinya lakukan hanyalah terus bergerak maju dan terus menganggap alam sebagai tempat terdamai dalam hidupnya sebagai pelepas rasa lelah.
Manik emerald Ivew menatap Iletta yang terus menguntai senyum. Rambut putih gadis itu tergerai indah melambangkan keagungan dirinya sebagai perwakilan dari alam.
"Lalu apa tanda lainnya yang menandakan aku sudah menjadi saintess alam?" tanya Ivew menatap ke depan.
"Kupikir penyihir suci sudah mengatakan salah satu tandanya kepadamu. Rambut putih adalah ciri khas bagi mereka yang punya ikatan dengan alam," ujar Windy yang terus terbang di samping Iletta.
__ADS_1
"Lalu kenapa rambutku kembali jadi warna hitam?"
Ivew menarik ujung-ujung rambutnya dan menatap warna hitam legam yang berkilau terkena cahaya matahari.
Iletta melirik Windy dan Efir yang berada di dekatnya. Manik navy gadis itu kembali menatap wajah Ivew.
"Tanyakan pada hatimu, Ivew. Kamu yang tahu apa yang ada di hatimu dan seperti perkataanku sebelumnya jangan biarkan perasaan dendam menguasai jiwamu. Kamu sangat rentan dengan kegelapan saat ini."
Ivew menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Iletta. Gadis dengan mata emerald itu mencengkeram kedua tangannya. Ivew tentu tahu maksud dari perkataan Iletta.
Terlebih kemarahan dan perasaan gelap selalu menyelimuti hatinya saat bertemu dengan sosok mahkota taring itu. Mengingat wajahnya saja sudah membuat darah di dalam tubuhnya mendidih.
"Tapi satu hal yang pasti kamu tetaplah saintess alam. Sosok yang menjadi perantara pesan dari alam. Karena itu kendalikan amarahmu terlebih dahulu, Ivew. Kamu sangat berapi-api kalau marah."
Iletta menepuk pelan kepala Ivew yang hampir tenggelam dalam amarahnya dan kembali menarik tangan gadis dengan mata emerald itu berjalan menyusuri ladang bunga di sekitar mereka.
"Itu benar. Api hadir dengan semangat yang membara. Bara api bisa juga menyimbolkan gejolak kemarahan. Karena itu kamu butuh elemen lainnya untuk menyeimbangkannya."
"Elemen lain? Maksud Anda elemen air?" tanya Ivew melirik Efir yang terbang dengan bantalan api merah di sampingnya.
"Ya … air ada untuk menenangkan gejolak dari bara api. Aku yakin kamu akan menemukannya."
Suara Windy yang terbang di samping Ivew membuat gadis itu berbalik memandang kupu-kupu dengan sayap putih itu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Sosok itu pasti akan kembali dengan serangan yang lebih besar. Aku butuh latihan untuk mengendalikan kekuatan alam ini."
Ivew berujar sembari menatap dedaunan yang melambai dari pepohonan di depannya.
"Tenang saja! Kami para elemen akan membantumu. Untuk itu temukan tiga elemen alam lainnya dan batu permata akan membuka jalannya untukmu!"
...⪻⪼...
__ADS_1
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨