Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
75 - Takdir Dua Jiwa (1)


__ADS_3

...⪻⪼...


Laveron terdiam mendengar pertanyaan yang disampaikan Ivew. Manik navy pemuda itu memandang Ivew yang terus menunggu jawabannya. Laveron mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan melirik ke arah pintu masuk di belakangnya.


"Malam saat kita pulang ekspedisi. Abang saat itu hendak ke kamar mu tapi terhenti di depan pintu saat mendengar pembicaraanmu dengan Veister."


Laveron terdiam sejenak saat memorinya kembali memutar ingatan tentang kalimat yang diutarakan Veister. Laveron segera memahami dan mencapai kesimpulan bahwa perubahan serta kekuatan yang dimiliki adiknya datang dari entitas lain yang membawa jiwa baru dan memasukkannya ke tubuh sang adik.


Laveron menatap Ivew yang terdiam di depan matanya. Manik emerald itu memandangnya dengan tatapan gusar


dan kalut.


"Abang tidak marah, Ivew. Setiap orang punya rahasia, bukan? Dan abang kebetulan mengetahui rahasiamu."


Ivew mengernyit menatap ekspresi santai Laveron. Bukankah seharusnya pria itu marah karena dirinya mengambil tubuh dan menyingkirkan jiwa sang adik. Kenapa Laveron malah bersikap santai seolah semua itu hal yang biasa.


"Abang tidak marah? Kenapa?" tanya Ivew menatap Laveron yang kini menatapnya dengan wajah serius.


"Karena aku juga bukan jiwa dari dunia ini, Ivew."


Ivew terdiam mendengar sederet kalimat yang dilontarkan Laveron. Pemuda dengan mata navy itu tersenyum menatap Ivew yang tampak kaget.


"Apa … apa maksudnya itu? Abang bercanda, kan?"


Laveron menggelengkan kepalanya dan menyilangkan tangannya di depan dada. Manik navy sang pemuda menatap Ivew dengan tatapan hangat. Tatapan yang berbeda dari Laveron yang biasanya, tetapi Ivew merasa familiar dengan tatapan itu.


"Jiwaku berasal dari dunia modern, Ivew. Aku meninggal karena kecelakaan yang menimpa keluargaku. Aku juga baru mengetahui fakta itu belum lama ini. Seseorang menemui ku dan membawa jiwaku ke dunia ini, dunia dalam novel. Namun, aku tidak menyesal karena aku berhasil menyelamatkan saudariku."


Laveron kembali menguntai senyum saat menyelesaikan kalimatnya. Wajah tersenyum saat seorang gadis hadir


dalam benaknya.


Kecelakaan? Kenapa sama persis seperti kisahku? Batin Ivew.


"Lalu bagaimana denganmu, Ivew?"


Laveron bertanya dan menyadarkan Ivew dari lamunannya. Gadis dengan mata emerald itu tersenyum kecut dan mulai menjelaskan sedikit identitasnya di kehidupan sebelumnya. Dimulai dengan kecelakaan yang dialami keluarganya menyisakan dirinya yang selamat seorang diri.

__ADS_1


Kecelakaan juga? Apa ini suatu kebetulan? Batin Laveron terus menatap Ivew yang bercerita.


Ivew terus bercerita dengan suara sedikit gemetar. Dirinya yang berada di atas kursi roda. Dirinya yang tinggal seorang diri di rumah yang penuh kenangan keluarganya, para tetangga yang tidak suka dengan kehadirannya.


Hingga cerita Ivew yang berakhir kehilangan nyawa di tabrak bus karena menyelamatkan kucing hitam dengan ekor perak.


"Dan kucing itu adalah Veister, bukan?" tanya Laveron bersandar pada kursi di belakangnya.


"Bagaimana abang bisa tau?" tanya Ivew dan mendesak Laveron untuk menjawabnya.


"Itu karen-"


Suara Laveron terputus saat pintu kamar Ivew terbuka menampilkan sosok Veister yang masuk dengan ekspresi kesal dan menutup pintu di belakangnya sembarangan.


Veister berjalan ke arah tempat tidur Ivew dan sedetik kemudian raut wajah kesal pemuda dengan mata dua warna itu hilang saat manik matanya bertemu dengan mata emerald Ivew.


"Kamu sudah sadar, Ivew? Kapan?"


Veister segera mendekat ke arah Ivew dan berdiri di belakang Laveron. Jubah hitam perak pemuda itu bergerak mengikuti gerakan tangan nya. Manik emerald Ivew menatap rambut putih Veister yang kini tak tersembunyi lagi di dalam jubahnya.


"Baru saja. Kamu dari mana, Veister? Dan kenapa kamu terlihat kesal? Apa ada masalah baru lagi?" tanya Ivew.


"Hanya laporan tentang penyihir hitam. Abaikan itu dulu … apa kamu masih merasa sakit, Ivew? Lukamu baik-baik saja?"


Veister bertanya dan mengalihkan pertanyaan Ivew secara halus. Manik dua warna Veister menunggu jawaban Ivew.


"Ya, hanya sedikit pusing dan ngilu. Terima kasih atas bantuanmu, Veister."


Pemuda dengan manik dua warna itu mengangguk mendengar penjelasan Ivew. Manik dua warna Veister menatap Ivew, memperhatikan kekuatan di dalam tubuh Ivew yang bergerak dengan tenang. Veister menghela nafas dan menatap ke arah kupu-kupu putih yang keluar dari rambut putihnya.


"Ah … perkenalkan ini-"


"Aku tau. Windy, bukan? Perwakilan dari roh angin?"


Ivew tersenyum dan memotong kalimat Veister, mengangkat salah satu jemarinya saat kupu-kupu putih itu hinggap di sana. Laveron melirik Veister yang terdiam saat kedua mata pemuda itu sedikit membelalak karena terkejut.


Wajah kaget yang lucu. Batin Laveron menahan tawa saat melihat wajah kaget Veister yang menghilangkan kesan agung dari seorang penyihir suci.

__ADS_1


"Kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Veister pelan menatap Ivew yang tersenyum.


Gadis dengan mata emerald itu mengangguk, sedangkan Veister terdiam dan ikut menguntai senyum.


Itu artinya keduanya sudah bertemu, bukan? Batin Veister saat memorinya menampilkan gadis dengan rambut putih sepunggung.


"Aku juga sudah bertemu dengan perwakilan dari roh api."


Laveron dan Veister terkejut dan kembali menatap Ivew. Keduanya segera mengingat api hijau yang dihasilkan Ivew dari pertarungan sebelumnya.


"Apa semua baik-baik saja? Apa yang dia katakan?" tanya Veister.


Ivew mulai menjelaskan kepada keduanya, pesan yang disampaikan Efir kepadanya bahwa dirinya harus mencari elemen penyeimbang untuk kekuatan apinya, yaitu elemen air.


Veister mengangguk mendengar penjelasan Ivew, sedangkan Windy terbang dan hinggap di rambut hitam sang gadis.


"Hmmm … elemen air ya. Aku hanya punya ikatan dengan perwakilan roh angin jadi aku kurang tau dengan roh alam lainnya. Menurutku jika elemen air kota Rizery adalah tempatnya, bukan?"


Ivew mengangguk membenarkan pernyataan Veister. Sebelum dirinya sadar Efir menyampaikan pesan lain kepadanya selain tempat untuk mendapatkan elemen air.


"Sebagai saintess alam kamu harus memperkuat hatimu saat menerima kabar yang mengejutkan, Ivew. Jangan biarkan nyala api menyulut kemarahan mu. Aku tau kamu bisa! Karena sebelum mendapatkan api ini kamu orang yang cukup sabar, bukan?"


Ivew saat itu mengangguk, membenarkan pernyataan Efir. Kekuatan api yang diterimanya mempengaruhi kendali emosinya dan Ivew cukup kewalahan mengendalikan amarahnya.


"Jangan terhanyut dalam api kemarahan! Itu pesanku untukmu. Dan kita akan bertemu lagi setelah kamu mendapatkan perwakilan elemen air."


Ivew kembali menatap Laveron dan seketika gadis itu ingat dengan perkataan sang pemuda yang sebelumnya terputus dengan kehadiran Veister.


“Bang Laveron, tadi abang bilang jiwa abang juga dari dunia modern, kan?”


Ivew menatap Laveron yang mengangguk sebagai jawaban pertanyannya, sedangkan Veister menatap keduanya dengan kaget.


"Veister, apa hanya aku jiwa dari dunia lain yang kamu bawa ke dunia ini? Apa ada rahasia yang kamu sembunyikan dariku?"


Ivew menatap Veister yang baru saja memandang Laveron.


"Itu …."

__ADS_1


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ... ✨


__ADS_2