Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
94 - Dirinya yang Menghilang


__ADS_3

Halo ...White Blossom kembali menyapa🌺


Sambil nunggu aku update bab selanjutnya, aku kembali merekomendasikan cerita yang bagus nih! Dari judulnya aja udah menarik kan? Ayo merapat!


...Happy reading 🌺...



...⪻⪼...


Hilang? Abangnya menghilang? Lagi? Apa sebagai Ivew Mirabeth dirinya juga harus merasakan arti kehilangan lagi? Kenapa semesta selalu merenggut orang terkasihnya? Apa tidak cukup rasa kehilangan yang dimilikinya di kehidupan sebelumnya?


“Ivew?”


Gadis itu tersentak saat mendapati Veister menepuk pundaknya serta Diano dan Ramound yang berdiri di belakang penyihir suci itu.


Jemari penyihir suci itu bergerak menghapus air mata yang mengalir menuruni pipi Ivew tanpa dirinya sadari. Gadis itu tersentak dan segera mengusap air mata yang masih mengalir di wajahnya.


Ah … aku menangis … lagi. Batin Ivew mengepalkan kedua tangannya dan sedikit menundukkan kepalanya.


Reaksinya lebih tenang dari yang kupikirkan. Aku pikir dia akan mengamuk. Batin Ramound menatap ke arah jendela di belakangnya.


“Lebih baik kali-”


“Apa aku bisa menghubungi kediaman flowerlax saat ini, Tuan Muda Diano?” tanya Ivew memotong kalimat Diano sambil menghapus sisa air matanya membuat semua pasang mata di dalam ruangan itu memandangnya kaget.


Tidak ada gunanya menangis saat ini. Aku harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Batin Ivew menatap Diano yang berdiri di samping Ramound.


Tuan Muda keluarga Angena itu segera mengangguk dan memerintah pelayannya untuk menyiapkan kristal video di ruang komunikasi keluarga mereka.


Veister melirik Ivew yang masih mengusap air mata yang turun di wajahnya. Veister segera menggunakan kekuatan penyembuhnya untuk membantu Ivew yang berjalan terhuyung.


Gadis dengan mata emerald itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Veister. Ivew segera berjalan mengikuti langkah Diano, meninggalkan Veister yang terdiam di tempat bersama Ramound saat penyihir suci itu hendak membantunya berjalan.


“Dia … menjadi orang yang berbeda lagi,” ucap Ramound yang menatap punggung Ivew yang berjalan di depannya.


“Sorot matanya terasa berbeda. Aku yakin hatinya penuh dengan gejolak kemarahan dan aku kagum dia bisa menahan semuanya dan berpikir rasional. Melawan luka hati itu sangat sulit,” tambah Ramound dan Veister menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


...***...


“Ivew? Kamu baik-baik saja?”


Lolita Flowerlax, gadis bangsawan dari keluarga Flowerlax yang sudah lama tak ditemui Ivew itu menunjukkan raut wajah lega. Manik emerald Ivew menelisik penampilan Lolita di depannya.


Ada perban yang melingkar kepalanya dan luka gores di pipi dan serta jejak darah di sudut bibirnya, selain itu ada kantung mata yang tampak di bawah matanya.


“Saya baik-baik saja, Nona Muda. Bagaimana keadaan Anda saat ini?”


Lolita terdiam mendengar pertanyaan Ivew. Mata delima gadis itu menelisik jejak air mata yang terdapat di sudut mata Ivew dan suara sang gadis yang sedikit serak.


Ah … sepertinya Diano sudah mengatakan semuanya. Batin Lolita menatap Diano yang berdiri di belakang Ivew.


Nona Muda keluarga Flowerlax itu tersenyum getir. “Sepertinya yang kamu lihat, Ivew. Wilayah kita terdampak paling parah terhadap serangan yang datang tiba-tiba itu. Ada banyak korban dari warga yang tak sempat melarikan diri.”


Ivew terdiam dan menunggu Lolita untuk melanjutkan penjelasannya.


"Saat kami berpikir kami akan menang sebuah serangan datang dari atas kami. Mengirim api yang membakar hutan hitam dan pepohonan sekitar serta asap hitam berbau busuk yang mengaburkan pandangan. Laveron berhasil mengalahkan monster hitam terakhir saat asap itu datang."


"Leister sempat mendorongku untuk menjauh dari asap hitam itu. Saat kami berusaha memadamkan api yang membakar pepohonan asap hitam itu menghilang dan tidak ada Leister ataupun Laveron disana. Mereka menghilang tanpa jejak."


Lolita kembali menatap Ivew dan menunggu reaksi gadis itu. Tak ada ekspresi yang hadir di wajahnya hanya sorot mata yang kosong seolah larut dalam lara yang kembali menenggelamkannya.


Lolita tentu tahu kondisi Ivew saat gadis itu hilang sebelumnya. Perasaan marah yang membara dalam jiwanya yang membuat kekuatan apinya hilang kendali. Lolita masih ingat saat Leister menceritakan hal itu kepadanya.


"Ivew. Apa kamu baik-baik saja?"


Suara Lolita membuat Ivew tersentak dan menganggukkan kepalanya pelan. Gadis itu tersenyum tipis, sangat tipis sampai Lolita menganggap itu adalah ekspresi di wajah datar.


Veister yang berdiri tak jauh dari Ivew bersama Ramound memutuskan untuk mengamati keadaan.


Ini pasti ulah sosok mahkota taring itu bukan? Sampai kapan dia akan mengganggu hidupku? Batin Ivew mengepalkan tangannya saat mengingat sosok mahkota taring yang hadir dibenaknya.


"Lalu apa rencana Anda selanjutnya, Nona Muda?"


Ketiga pemuda yang ada di sekitarnya tampak menunggu jawaban dari Nona Muda Keluarga Flowerlax itu.

__ADS_1


Manik delima gadis itu melirik halaman mansion keluarganya dari jendela. Para ksatria keluarga flowerlax terus berdatangan dengan para korban terluka bersama mereka.


Suasana riuh dan ketegangan semakin terasa tak kala api yang membakar hutan hitam tak kunjung padam. Lolita menata dokumen-dokumen yang terus berdatangan di mejanya.


"Aku harus memulihkan wilayah ini, Ivew. Aku hanya bisa menugaskan para ksatria untuk mencari petunjuk mengenai Leister dan Laveron. Meskipun aku sangat ingin mencari keberadaan keduanya … aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku sebagai satu-satunya pemimpin Flowerlax yang tersisa."


Kalimat Lolita itu memberi tamparan kecil bagi Diano dan juga Ramound. Kedua tuan muda itu mengepalkan tangan mereka seiring rasa tanggung jawab yang mekar di dada mereka.


Haruskah aku kembali pulang? Lalu dia akan sendirian? Batin Ramound menatap Ivew yang duduk di depan bola kristal komunikasi.


Veister melirik Ramound yang tampak ragu. Penyihir suci itu menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya dan kembali menatap Ivew yang sedang berbincang dengan Lolita.


"Jangan ragu, Tuan Muda. Buat keputusan yang tepat agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Hanya kamu yang mengetahui apa yang dibutuhkan dirimu saat ini. Tanyakan pada hati kecilmu."


Ramound melirik Veister yang tetap fokus memandang ke depan.


Hati kecilnya? Tak ada keinginan di dalam sana. Hanya kekosongan dan rasa hampa serta penyesalan yang terus mengukungnya. Manik lilac pemuda itu menatap punggung Ivew yang tampak tegap di depannya.


"Aku akan tinggal," bisik Ramound tenang membuat Veister meliriknya dari sudut mata.


"Kamu yakin? Apa wilayahmu tidak membutuhkanmu, Tuan Muda?" tanya Veister.


"Aku yakin mereka mengizinkanku. Sebelum itu aku akan bicara dengan Rayn. Dia pasti akan menyuruhku tetap tinggal untuk menjaga Ivew. Anda tahu kan kami masih ada hutang budi dengannya?"


Veister tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. "Terserah Anda saja, Tuan Muda."


Ramound kembali tersenyum tipis dan memandang Lolita dalam sambungan video.


Selain itu masih ada dendam dengan sosok mahkota taring itu dan dia pasti akan muncul di mana pun Ivew berada. Batin Ramound mengepalkan tangannya erat.


"Ah … Nona Muda. Saat kita bertemu nanti … ada yang ingin saya katakan mengenai Duke Ekan."


Lolita terdiam mendengar kalimat Ivew dan kemudian menganggukkan kepalanya sebelum sambungan video itu terputus.


...⪻⪼...


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ... 🌺

__ADS_1


__ADS_2