Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
15 - Pulang


__ADS_3

...⪻⪼...


Kelopak mata gadis itu mulai terbuka perlahan menampilkan manik emerald yang berusaha menyesuaikan dengan cahaya ruangan. Mengejap matanya perlahan hingga akhirnya gadis itu beranjak bangun dan sedikit meringis saat merasakan sakit di bagian kepalanya.


Manik matanya memandang seisi ruangan yang mewah dan cahaya rembulan yang menarik matanya untuk memandang ke arah jendela. Gerakan gadis itu terhenti saat merasakan seseorang menggenggam tangannya, senyum hadir di wajahnya saat menatap wajah tertidur pemuda dengan mata navy di sampingnya.


“Bagaimana keadaanmu, Ivew? Masih ada yang sakit? Pusing?”


Suara berat seseorang menarik perhatiannya ke arah sofa yang berada di depan tempat tidur yang ditempatinya. Manik dua warna pemuda itu memandangnya lurus tetapi terbesit khawatir dari gerakan tubuh dan pandangan matanya. Gadis dengan mata emerald itu mengangguk sebagai jawaban, jemari tangannya mengelus surai hitam sang abang yang masih terlelap.


“Aku minta maaf ... karena meninggalkanmu saat itu. Aku tidak menyangka monster itu bisa sampai ke tempat kalian.”


Manik emerald Ivew menatap datar wajah pemuda dengan manik dua warna itu. Walaupun ada rasa kesal yang menguasai hatinya gadis itu melepaskannya dengan menghela nafas.


“Pasti ada alasannya kan, Veister? Tindakanmu yang tiba-tiba itu menyulitkanku dan aku terpaksa menggunakan kekuatan angin yang baru aku dapatkan.”


Veister mengangguk menanggapi pertanyaan Ivew. Pemuda itu menghela nafas dan menatap Ivew yang menunggu penjelasannya.


“Hanya bertemu dengan sosok yang aku hormati. Hanya itu yang bisa aku jelaskan karena ini adalah rahasia semesta. Suatu saat aku akan menjelaskan semuanya. Aku janji,” jawab Veister membuat Ivew mengerutkan keningnya dan mengangguk karena dirinya lelah untuk berdebat.


“Lalu bagaimana kamu bisa menggunakan kekuatan sebesar itu untuk membunuh monster laba-laba itu? Tindakan ini pasti akan menarik perhatian duke kan?” tanya Veister setelah hening cukup lama.

__ADS_1


Ivew mengangguk dan kembali mengelus surai hitam Laveron. Pemuda itu nampak nyenyak dalam tidurnya, Ivew yang menatap itu tersenyum dan merasa sedikit tenang. Gadis bermata emerald itu melirik telapak tangan kanannya yang terdapat tato lima kelopak bunga yang sedikit bercahaya karena biasan cahaya bulan dari jendela. Salah satu kelopak bunga bewarna biru muda itu tampak jelas dibandingkan kelopak lainnya yang masih samar.


“Itu tanda yang dimiliki oleh mereka yang mendapat berkah dari alam.”


Suara Veister menarik perhatian Ivew kembali padanya. Gadis itu bergumam pelan menatap gambar bunga yang mulai redup di tangan kanannya. Jika kelopak berwarna biru muda yang terlihat lebih jelas itu adalah kekuatan angin maka artinya cepat atau lambat dirinya akan mendapatkan kekuatan alam lainnya. Dan untuk mendapatkan hal itu artinya gadis bermata emerald itu harus mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan buruk di luar rencananya termasuk pertemuannya dengan gadis berambut putih di dalam mimpinya itu.


“Hei, Veister. Apa kamu kenal dengan gadis berambut putih? Atau apa ada sejarah soal gadis berambut putih?” tanya Ivew menatap Veister.


“Rambut putih? Tentu saja aku kenal, rambutku kan putih.”


Ivew menatap datar Veister yang tersenyum di depannya. Sedangkan pemuda itu hanya terkekeh dan mulai berpikir serius.


“Hmmm ... gadis berambut putih? Oh ... seingat ku dari buku kuno yang pernah aku baca itu ... rambut putih adalah orang yang mendapat seluruh berkah alam. Sosoknya sangat dihormati dan dianggap sebagai salah satu dewa. Mereka bisa memilih menjadi penyihir atau sosok yang dicintai alam.”


“Ah ... aku membangunkan Abang ya? Maaf-"


Suara Ivew terputus saat tangan Laveron memeluknya erat. Manik mata emerald gadis itu sedikit melebar saat merasakan rasa gemetar dari tubuh Laveron yang memeluknya. Ivew membalas pelukan Laveron dan mengusap punggung pemuda di depannya perlahan.


Gadis itu tersenyum saat merasakan kembali sebuah pelukan hangat seseorang, pelukan yang sangat dirindukan dirinya saat menjadi Cona di dunia sebelumnya. Pelukan yang tidak pernah di dapatkannya dan berakhir dalam rasa sepi yang membuatnya bergelut dalam rindu akan kasih sayang.


Jemari tangan Laveron bergerak mengelus surai hitam legam Ivew, gadis itu terdiam dan mulai menikmati elusan yang diberikan Laveron. Tak menyadari air mata yang mulai menggenang di kelopak matanya. Ingatan akan sosoknya sebagai Cona yang terdiam di depan sebuah makam berputar dalam memorinya. Laveron yang merasakan sang adik mulai gemetar dalam pelukannya tersenyum.

__ADS_1


“Maaf Abang meninggalkanmu sendirian dan membuatmu kembali mengalami rasa sakit.”


Suara pemuda itu terdengar gemetar, Ivew tersenyum dan berusaha menenangkan Laveron dengan jawabannya. Veister yang dalam sosok kucing mengeong pelan menarik perhatian Laveron. Pemuda itu melepaskan pelukannya pada Ivew dan mengelus bulu hitam berkilau Veister.


Senyum kecil hadir di wajahnya yang lelah, manik mata emerald Ivew menatap wajah sang abang yang sedikit pucat. Suara keributan di luar ruangan menarik perhatian mereka, pintu ruangan itu terbuka menampilkan Lolita yang datang dengan nafas sedikit tersengal.


Manik delima sang gadis melebar menatap Ivew yang tersenyum canggung dan menyapanya sopan. Gadis itu berlari dan memeluk Ivew erat mengucapkan terima kasih dan kata maaf dalam satu kalimat berbalut rasa haru. Laveron yang berada di dekatnya tersenyum dan menyingkir sembari menggendong kucing Veister.


Lolita melepaskan pelukannya dan menjelaskan semua yang akan terjadi. Gadis bermata delima itu mendapat laporan bahwa duke flowerlax saat ini sedang dalam perjalanan kembali ke mansion mereka. Gadis itu sedikit panik membayangkan rencana yang dibuat pria itu untuk Ivew yang berkontribusi paling besar mengalahkan monster laba-laba yang menyerang mereka.


Laveron yang menangkap maksud pernyataan Lolita mengepalkan tangannya erat. Sebagai prajurit militer yang berada di bawah kekuasaan duke flowerlax sudah menjadi hal umum bagi mereka mengetahui sifat duke yang tamak akan kekuasaan dan memanfaat berbagai cara agar bisa menjadi yang paling berkuasa di kekaisaran. Ivew terdiam dan melirik Laveron yang ekspresinya mengeras. Manik navy pemuda itu tampak dipenuhi kemarahan.


“Ivew aku rasa kamu harus segera pulang. Aku tidak bisa membiarkanmu bertemu dengan pria itu! Leister masih belum sadar dan pria itu tidak akan mendengarkan penjelasanku.”


Suara Lolita terdengar serius dan Laveron yang berdiri di belakangnya mengangguk setuju. Kucing Veister yang berada di dalam pelukannya juga mengeong setuju. Manik delima Lolita melirik ke arah jendela yang mulai terang menandakan pagi mulai datang.


Ivew mengangguk dan bangkit dari tempat tidur dibantu oleh Laveron yang merangkul sang adik erat. Keduanya hendak berjalan ke arah pintu sebelum pintu itu kembali terbuka dan menampilkan sosok pria yang menatap mereka tajam.


“Mau ke mana kalian?”


...⪻⪼...

__ADS_1


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar .... ✨


__ADS_2