Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
96 - Hati yang Gusar


__ADS_3

Halo ... White Blossom kembali menyapa 🌺


Aku kembali dengan rekomendasi novel yang menarik nih! Jangan lupa mampir ya!


...Happy reading 🌺...



...⪻⪼...


“Hah … apa terjadi sesuatu dengan Windy? Kenapa dia masih belum kembali?”


Ivew bergumam menatap halaman istana kekaisaran dari kamarnya. Cahaya dari lampu-lampu yang berada di halaman istana memenuhi pandangannya.


Setelah sampai di istana gadis itu memilih untuk berdiam diri di dalam kamar dan mengabaikan ajakan Veister untuk ke taman kekaisaran.


Api merah bata tiba-tiba hadir memberi nyala terang dalam remang di dalam kamarnya, membuat Ivew berbalik menatap Efir yang hadir dalam wujud rubah berekor sepuluh di belakangnya.


“Dia pasti baik-baik saja. Kami adalah perwujudan alam, Saintess. Pasti ada alasan kenapa dia tak kunjung kembali hingga saat ini. Namun, satu hal yang bisa aku katakan, dia baik-baik saja. Selama ada angin yang terus berhembus di alam dia akan baik-baik saja.”


Ivew mengangguk dan mendekat ke arah Efir. Gadis itu segera memeluk rubah berekor sepuluh itu dan menggendongnya ke atas tempat tidur lalu berbaring menatap langit-langit kamarnya dengan tangan tetap memeluk bulu halus sang roh api.


Efir membiarkan Ivew memeluknya dan menggerakkan salah satu ekornya untuk menghapus air mata yang mengalir di wajah Ivew.


Gadis itu tersentak saat merasakan bulu halus Efir menyentuh pipinya. Ekor lainnya dari rubah itu bergerak memeluk pelan leher Ivew memberikan kehangatan pada sang gadis.


“Tidurlah, Ivew! Berikan tubuhmu haknya. Jangan siksa dirimu seperti ini, kamu adalah orang pertama yang harus berada dalam kondisi prima.”


Ivew bergumam pelan dengan pandangan mata yang menatap jauh ke atas dan mulai memejamkan matanya saat merasakan perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.


Efir yang melihat Ivew mulai terlelap itu tersenyum kecil dan menatap ke arah pintu kamar dengan pandangan datar.


“Masuklah, Penyihir Suci! Apa yang kamu lakukan di sana?”


Hening beberapa detik dan kemudian pintu kamar Ivew terbuka menampilkan Veister yang tersenyum tipis menatap sang roh api di depannya. Manik dua warna pemuda itu menatap Ivew yang terlelap dan tersenyum kecil.

__ADS_1


“Saya hanya ingin memastikan keadaannya, Tuan Efir.”


Veister berjalan mendekat ke arah Ivew dan memberikan gadis itu selimut untuk menutupi tubuhnya. Efir melirik Ivew dan menarik salah satu ekornya dari leher Ivew dan menggantinya dengan selimut pemberian Veister.


Rubah berekor sepuluh itu meletakkan tangannya di dahi Ivew dan mengeluarkan cahaya berwarna merah bata membuat Ivew semakin nyaman dalam tidurnya.


“Situasinya semakin rumit ya, Penyihir suci.”


Veister menoleh menatap Efir yang kini duduk di samping Ivew. Sepuluh ekor di belakang tubuhnya itu bergerak menghasilkan nyala api kecil di dalam remangnya ruangan.


Veister menganggukkan kepalanya. Dibandingkan dengan keadaan sebelumnya saat dirinya membantu saintess kedua, situasi saat ini lebih rumit karena sudah melibatkan ruang dan waktu.


Penyihir hitam itu juga semakin licik dan mampu memanfaatkan keadaan. Jika saja Ivew tak selamat saat itu maka pupus sudah harapan mereka untuk menyelamatkan dunia yang sudah melenceng ini.


Veister menghela nafas dan mengingat pertemuannya dengan gadis berambut hitam sebahu saat di dunia Ivew, yang tak lain adalah sang pencipta dunia mereka, Daisy.


“Kamu … karakter ciptaanku? Ya ampun … ganteng sekali! Cona juga harus melihat ini!”


Veister tersenyum tipis saat mengingat respon Daisy yang tiba-tiba saja melihat dirinya muncul di dalam kamar sang gadis.


“Lalu apa rencanamu, Penyihir Suci? Para penyihir hitam itu tidak akan tinggal diam. Aku yakin mereka akan membuat kekacauan saat acara pelantikan nanti.”


Veister menganggukkan kepalanya dan setuju dengan kalimat Efir. Mereka tidak boleh lengah saat itu. Para penyihir hitam itu pasti sudah menyiapkan rencana untuk menimbulkan lebih banyak korban jiwa dan menghiasi suasana dengan genangan darah.


“Apa kalian tidak ada waktu selain mengeluh? Pikirkan rencana ke depannya! Mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan!”


Keduanya tersentak saat Etwar muncul dalam wujud angsa biru muda. Veister menatap roh alam tertua di depannya dan menundukkan kepala hormat.


Saat bersama saintess alam sebelumnya, Veister tak pernah bertemu langsung dengan roh air dan hanya mendapat pesan penghubung dari sang saintess.


“Tidak perlu formal, Penyihir Suci. Aku tahu kinerjamu sangat baik. Tolong lindungi Saintess Alam sebaik mungkin dan jaga pandangan matamu tetap padanya. Aku merasakan firasat buruk saat ini, terlebih kita kesulitan menghubungi Windy.”


Efir menggerakkan ekornya dan menatap ke arah Etwar. “Menurutmu apa yang terjadi dengan Windy?”


Etwar membentuk bola air di bawahnya dan menggunakannya sebagai tempat duduknya. Bola air itu mengambang di atas lantai setinggi lima meter

__ADS_1


Mata biru roh alam itu memandang ke arah halaman istana, menatap para ksatria kerajaan yang sibuk berjaga.


“Pasti ada hubungannya dengan penyihir hitam. Asap hitam berbau busuk yang mereka katakan itu … aku yakin bukan asap biasa.”


Veister menganggukkan kepalanya. “Apa kita membutuhkan bantuan roh tanah, Tuan? Saya … sudah lama tidak mengetahui keberadaan roh tanah.”


Efir tampak bergumam pelan dan menatap Etwar juga sibuk berpikir. Roh tanah adalah roh tertua kedua setelah roh air.


Keberadaannya sangat tersembunyi dan dia akan muncul sesuai kehendak hatinya. Roh tanah terakhir muncul saat saintess alam pertama masih hidup.


Setelah saintess alam pertama mengalami kematian, roh tanah juga ikut menghilang tanpa jejak dan memutus kontak dengan roh alam lainnya.


Keberadaan roh tanah akan sangat membantu mereka dalam pertempuran. Selain itu, roh tanah adalah roh alam dengan sifat tak terduga dan tingkat sensitivitas hati yang paling tinggi.


“Hah … aku bahkan tidak tahu dia di mana saat ini, tetapi aku yakin dia sedang memantau keadaan. Dia pasti tahu tentang keadaan darurat yang sedang terjadi.”


Etwar menghela nafas dan menatap ke arah dinding ruangan di mana terdapat kadal rumput berwarna coklat sedang memanjat dinding.


Efir menganggukkan kepalanya dan menggerakkan ekornya. “Ya, kita tidak bisa mengharapkannya saat ini. Jika dia tahu tanggung jawabnya dia pasti akan muncul. Padahal dia adalah salah satu roh alam yang penting! Kenapa dia terus bersembunyi?”


Etwar mengalihkan pandangannya dari dinding dan memandang wajah Ivew yang tertidur pulas. Angsa biru muda itu kembali menghela nafasnya.


“Kamu tahu kan kalau dia sangat dekat dengan saintess alam yang pertama. Kematian saintess alam yang pertama memberikan dampak yang besar untuknya.”


Veister terdiam mendengar penjelasan Etwar. Penyihir suci itu ingat pertemuan dengan saintess alam pertama saat dirinya baru saja dipersiapkan sebagai pewaris penyihir suci selanjutnya dan menjadi murid dari sang penyihir suci pertama. Tahun-tahun yang indah dan penuh kedamaian.


Saintess alam selalu digambarkan sebagai sosok yang lembut dan berwibawa. Menjadi perwakilan dari alam dan juga sosok yang diandalkan dalam menghadapi penyihir hitam.


Namun, kematian saintess alam pertama mengubah semua pandangan. Penyihir suci pertama yang tertinggal sendirian harus menahan rasa sakit dan tanggung jawab dari saintess alam. Seharusnya jika saintess alam mati maka peny-


“Aku tahu itu! Tetapi itu bukan alasan untuk lari dari tanggung jawab! Bukankah kita sudah sepakat saat memberikan anugrah kita kepada manusia yang akan menjadi perwakilan kita itu? Bahwa kita tidak akan terikat perasaan apa pun dengan yang namanya manusia!”


...⪻⪼...


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ... Aku menunggu komentar kalian ... 🌺

__ADS_1


__ADS_2