Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
86 - Kisah Dua Dunia (5)


__ADS_3

Halo ... White Blossom disini 🌺


Sebelum lanjut membaca aku ada rekomendasi novel horor lagi! Dijamin seru dan jangan lupa mampir ya!


...Happy reading 🌺...



...⪻⪼...


Cona terdiam saat mendengar Daisy menyebutkan identitasnya yang lain. Melepaskan pelukannya dari Daisy, Cona berdiri dan sedikit mundur ke belakang. Manik mata coklatnya fokus menatap mata hitam Daisy yang kini menatap wajahnya.


Apa Daisy baru saja menyebut nama Ivew Mirabeth? Batin Cona saat merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.


Ruangan di sekitar mereka berubah menjadi ruangan putih tak berujung dan Cona melirik penampilannya yang kini berubah menjadi Ivew Mirabeth terbukti dari pakaian yang digunakannya berubah menjadi baju berburu yang biasa digunakannya sebagai Ivew.


Daisy yang berada di depannya tersenyum dan mendekat ke arah Cona.


"Maaf aku telah menyeret mu ke dalam bahaya dam maafkan aku untuk semua yang terjadi … kepada keluargamu."


Daisy kembali menangis, sedangkan Cona yang berada di depannya terdiam dan tidak tahu harus bereaksi dengan perubahan suasana yang terjadi.


"Daisy … kamu … bisa melihatku? Saat ini? Dalam wujud ini? Kamu tahu ini aku?"


Daisy yang mendengar pertanyaan gadis di depannya mengangguk. Jemarinya bergerak menghapus air mata yang turun di pipinya. Manik mata hitamnya menelisik penampilan Cona dalam wujud Ivew Mirabeth.


"Kamu cantik, Cona … ah tidak … Ivew. Kamu cantik. Matamu sangat indah … warna emerald yang menenangkan"


Daisy tersenyum di sela tangisnya, sedangkan Cona tidak, Ivew hanya terdiam menatap Daisy yang terus menangis sembari bergumam kata maaf kepadanya.


“Bagaimana mungkin?” tanya Cona(Ivew) yang tidak bisa menghilangkan rasa bingungnya.


Daisy tersenyum dan menarik pergelangan tangan Cona(Ivew) untuk mengikutinya. Keduanya berjalan dalam hening di tengah putihnya ruangan sejauh mata memandang.


Semakin jauh mereka berjalan beberapa bingkai foto besar mulai hadir di sisi kanan dan kiri dinding putih itu. Bingkai kosong tanpa isi dan hanya menampilkan kegelapan.

__ADS_1


Mata Cona(Ivew) menatap punggung Daisy yang menuntunnya. Rambut hitam sebahu yang sama, langkah kaki yang sama. Namun, Cona(Ivew) merasakan ada perbedaan yang tidak diketahuinya dari sosok Daisy yang berada di depannya.


“Aku berada di tempat ini sejak kematian datang menjemputku … sebagai seseorang yang mereka sebut sang pencipta.”


Daisy melirik sekitarnya dan berhenti di depan sebuah meja kayu panjang dengan tumpukan kertas berwarna coklat dan pena yang sedang menuliskan kata demi kata di atas kertas dengan warna yang sama.


Pena-pena itu terus menulis tanpa henti dan menambah tumpukan kertas demi kertas di sekitarnya.


“Daisy itu-”


“Kamu benar. Pena-pena itu sedang menuliskan kisah di dunia Jalan Takdir atau lebih tepatnya kisah di dunia yang kamu masuki saat ini.”


Manik mata Cona(Ivew) menatap senyum kecil yang hadir di wajah Daisy. Kebenaran yang tak terduga. Rasa sakit menyerang kepala gadis itu saat fakta demi fakta menampar dirinya.


“Sama seperti sosok dengan mata bulan sabit itu yang muncul ke dunia kita, aku juga sempat berkomunikasi dengan karakter lain yang aku ciptakan. Jika ada kegelapan sudah pasti ada cahaya yang mengiringinya, kan?”


Cona(Ivew) kembali menatap Daisy yang kini mendekat ke arah meja kayu panjang di depannya.


“Apa maksudmu Veister?” Daisy mengangguk menjawab pertanyaan Cona(Ivew).


Itu menjelaskan semuanya. Perkataan Etwar dan juga bagaimana cara Veister sampai di dunia kami dan juga pengetahuannya akan buku itu. Batin Cona(Ivew).


“Apa kamu memaafkan ku?” tanya Daisy yang berjalan di depan Cona(Ivew).


“Tentu saja,” jawab Cona(Ivew) cepat membuat Daisy tersentak.


“Semudah itu? Aku … benar-benar minta maaf. Jika  saja-”


“Tidak apa-apa, Daisy. Kita tidak perlu menyesali masa lalu yang sudah terjadi. Satu hal yang aku pelajari dan sempat aku lupakan saat menjadi Ivew Mirabeth adalah ketenangan jiwa yang kumiliki saat ini.”


Cona(Ivew) memotong kalimat Daisy, seolah tahu kalimat yang akan disampaikan Daisy. Senyum kecil hadir di wajahnya membuat Daisy terdiam akan perasaan nostalgia yang memenuhi kalbu.


“Sebagai Cona Renjana aku menerima semua takdir yang terjadi. Aku menjalaninya dengan lapang dada dan tidak larut dalam perasaan penyesalan. Aku berhasil meraih ketenangan di dalam hatiku walaupun masalah yang datang tidak berhenti karenanya dan aku berhasil melewatinya.”


Cona(Ivew) menghentikan kalimatnya sejenak dan menatap ke arah kertas-kertas yang terus menumpuk di atas meja kayu panjang itu.

__ADS_1


“Jadi, yang ingin aku sampaikan adalah ... jangan menyalahkan dirimu, Daisy. Aku tidak marah kepadamu … aku hanya kecewa dengan kenyataan yang mempermainkan takdirku. Akan tetapi, aku bisa apa terhadap sesuatu yang sudah terjadi? Bukankah lebih baik jika aku fokus menghadapi masa depan?”


Cona(Ivew) menggenggam erat tangan Daisy yang berada di depannya. “Menghadapi dunia yang takdirnya berada di tanganku? Dunia yang kamu ciptakan dengan jerih payahmu sendiri?”


Daisy terdiam mendengar kalimat Cona(Ivew). Senyum tulus hadir di wajah gadis bermata hitam itu dan tubuhnya bergerak memeluk tubuh Cona(Ivew) yang berada di depannya. Pelukan yang erat dan melepaskan kerinduan yang terkumpul di dalam dada.


“Kamu masih Cona yang sama dengan Cona yang aku kenal. Terima kasih sudah bertahan dan terima kasih sudah mau menyelesaikan amanah yang aku tinggalkan. Aku benar-benar beruntung bertemu dan bisa mengenalmu.”


Cona(Ivew) melirik Daisy yang masih memeluknya dan juga ikut membalas pelukan sang sahabat. Rasa rindu dan nostalgia membuncah di dalam dadanya saat detik demi detik pelukan erat keduanya itu berlanjut. Pelukan keduanya itu sedikit terganggu saat suara lonceng yang menggema di ruangan di sekitar mereka.


“Aku rasa sudah saatnya kamu kembali.”


Daisy melepaskan pelukannya dan menatap Cona(Ivew. Wajah gadis itu tampak lebih cerah meski ada air mata yang mengalir di pelupuk matanya. Cona(Ivew) menatap lingkaran sihir berwarna putih bercampur biru muda yang hadir di bawah kakinya.


“Tunggu dulu! Aku-”


“Tidak apa-apa, Cona. Semua akan baik-baik saja sekarang. Kamu sudah mengetahuinya kan? Kamu sudah bisa menyimpulkan semuanya kan? Kecelakaan keluargamu, kematianku dan juga kematianmu.”


Cona(Ivew) tersentak saat Daisy mengungkit tentang kematiannya. “Sosok bermata bulan sabit itu! Dia yang membunuhmu kan?”


Daisy hanya tersenyum mendengar pertanyaan Cona(Ivew) dan melihat hal itu maka jawabannya sudah jelas bagi gadis dengan mata emerald itu. Suara lonceng kembali menggema di sekitar mereka.


“Aku hampir lupa, masih ada satu hadiah untukmu. Hadiah kecil dariku untukmu.”


Cona(Ivew) menatap Daisy yang mulai tampak samar di depannya.


“Daisy! Apa kita bisa bertemu lagi?”


Daisy hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Cona(Ivew) yang mulai tenggelam dalam cahaya biru muda bercampur cahaya putih di sekitarnya.


Senyum menawan Daisy adalah hal terakhir yang Cona(Ivew) lihat sebelum cahaya itu menelannya sepenuhnya bisikan lembut yang mengalun memasuki telinganya.


“Aku menyayangimu. Tetaplah hidup dan jangan mudah menyerah!”


...⪻⪼...

__ADS_1


Gimana nih bab ini?


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨


__ADS_2