Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
85 - Kisah Dua Dunia (4)


__ADS_3

Hai ... White Blossom kembali menyapa 🌺


Sebelum membaca bab selanjutnya, aku ada rekomendasi novel lagi nih! Jangan lupa mampir ya sambil nunggu aku up bab selanjutnya!


...Happy reading 🌺...



...⪻⪼...


Bagi Daisy, Cona Renjana adalah segalanya. Dirinya selalu siap menjadi kaki untuk Cona agar gadis itu bisa kembali menikmati dunianya. Cona yang sangat suka langit dan pantai, Cona yang selalu mendengar ceritanya dan Cona yang selalu ada untuknya.


Daisy rela melakukan apa pun asal Cona bisa bahagia. Itu adalah janji yang terukir di hatinya dan sampai kapan pun tidak ada yang bisa menyobeknya. Bahkan jika kematian itu sendiri yang datang untuknya.


Daisy berbalik menatap sosok hitam bermata bulan sabit yang kembali muncul di dalam kamarnya. Tubuhnya gemetar dengan sejuta kepanikan hadir di dalam hatinya, tetapi Daisy tak membiarkan semua itu hadiri di wajahnya.


Manik mata hitamnya menatap tajam sosok hitam dengan mata bulan sabit yang tampak menyeringai di belakangnya.


“Apalagi yang kamu inginkan?”


Manik coklat Cona melebar menatap Daisy yang tidak kaget dengan kedatangan sosok hitam bermata bulan sabit itu. Sosok bermata bulan sabit di depan mereka menyeringai dan Cona melirik Daisy yang tetap tenang, meskipun tangan gadis itu tampak gemetar.


Apa yang terjadi? Kenapa sosok bermata bulan sabit itu bisa disini? Batin Cona yang sedang melayang itu mendekat ke arah Daisy.


“Bukankah Anda sudah tahu Pencipta? Kami mengawasi Anda untuk menulis semuanya sesuai keinginan kami. Semuanya berjalan sesuai keinginan kami.”


Sosok bermata bulan sabit itu bergerak ke arah Daisy yang mundur perlahan. Manik hitam gadis itu tampak bergetar saat sosok bermata bulan sabit itu menyeringai lebih lebar.


Asap hitam tampak keluar dari tubuhnya membentuk dua sulur yang amat dikenal Amarly. Mata coklat Cona menatap buku yang berada di atas meja Daisy.


Gadis itu mulai merangkai semua petunjuk yang didapatnya hingga saat ini dan tujuan Etwar serta Windy mengizinkan dirinya untuk melihat kejadian ini.


“Aku sudah melakukannya! Apalagi yang kalian inginkan?” tanya Daisy memeluk erat buku yang berada di atas mejanya. Buku yang digunakan untuk menulis novelnya.


Sosok bermata bulan sabit itu menyeringai. Sulur hitam di belakangnya bergerak ke arah Daisy yang menutup kedua matanya rapat. Ketakutan tampak jelas dari gerak-gerik sang gadis yang semakin gemetar setiap detiknya.


"Anda belum melakukan semuanya, Pencipta. Kami masih membutuhkan tumbal nyawa. Anda tahu itu, kan?"

__ADS_1


Sulur hitam itu bergerak membelai pipi Daisy yang kini mulai basah oleh air matanya. Gadis itu memandang sosok mata bulan sabit di depannya dengan pandangan kacau.


"Aku tidak mau! Kenapa aku harus melakukan semua itu?! Aku tidak ingin mengorbankan siapa pun lagi!"


Daisy terduduk dan memeluk erat buku tulis di tangannya. Mengabaikan sulur hitam yang tadinya bergerak di dekatnya.


Cona terdiam mendengar penjelasan Daisy. Tumbal? Apa maksudnya itu? Manik coklat Cona menatap Daisy yang semakin sesegukan. Tubuh gadis itu gemetar dan suara tangisnya membuat Cona yang mendengarnya serasa ditusuk jarum.


Akan tetapi, yang membuat Cona tak kunjung mendekat ke arah tubuh sang sahabat adalah maksud dari kalimat Daisy sebelumnya.


Apa Daisy pernah mengorbankan orang lain sebelumnya? Dan … apakah semua ini ada hubungannya dengan permintaan maaf yang disampaikan Daisy sebelumnya.


Cona mencengkram bajunya erat.


"Anda sudah melakukannya sebelumnya. Jadi, kenapa Anda ragu Pencipta? Anda melakukannya dengan sangat baik tanpa ada yang menyadari."


Sosok dengan mata bulan sabit itu mendekat ke arah Daisy yang masih sesegukan. Jemari gadis itu berusaha menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.


"Bahkan sahabat Anda sendiri tidak menyadarinya … jika penyebab kecelakaan keluarganya tujuh tahun yang lalu itu karena campur tangan Anda!"


Daisy? Campur tangan Daisy? Apa sosok hitam yang dilihatnya saat mobil keluarganya itu terbalik karena ulang Daisy? Tubun Cona gemetar. Air mata mengalir tanpa bisa dirinya cegah.


Sekali lagi kenyataan menampar hatinya membuat gejolak dendam di dalam dadanya menggelora tanpa bisa dihentikan siapa pun. Hatinya sakit seolah ada pisau yang mengoyak dan mengacaukan perasaannya.


Pandangan mata gadis itu berubah kosong menatap sosok dengan mata bulan sabit yang terus membujuk Daisy yang masih terduduk di depannya.


"Tidak!"


Teriakan Daisy itu membuat Cona yang sedang larut dalam pikirannya segera tersadar.  Wajah penuh air mata Cona itu menatap Daisy yang kini menatap nyalang sosok bermata bulan sabit di depannya.


"Aku tidak akan membiarkan Cona mendapat penderitaan lagi! Dia harus tetap hidup dan tidak ada yang bisa mengambil nyawanya!"


Sosok bermata bulan sabit itu menyeringai. Satu sulur hitam di belakang tubuhnya bergerak dan mencengkram lengan Daisy membuat gadis dengan mata hitam itu meringis.


"Apa yang bisa Anda lakukan Pencipta? Anda tidak punya kekuatan apa pun untuk melawan kami?"


Daisy tersenyum kecil membuat Cona yang melihatnya memandang bingung. Gadis itu masih bingung dengan perasaannya. Haruskah dia marah kepada Daisy yang menjadi dalang dari kematian keluarganya?

__ADS_1


"Aku yang menciptakan dunia kalian. Jadi, aku bisa mengubahnya sesuai keinginanku. Aku tidak peduli dengan ancamanmu lagi!"


Seringai hadir di wajah Daisy yang penuh air mata. Cahaya putih hadir dari buku di tangannya membuat sosok dengan mata bulan sabit itu tersentak.


"Selalu ada cahaya untuk melawan kegelapan dan aku akan melindungi Cona dengan tanganku sendiri! Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuhnya!"


Daisy melepaskan segala amarahnya, sedangkan sosok dengan mata bulan sabit itu menyeringai seiring tubuhnya yang menghilang dalam silaunya cahaya putih yang memenuhi ruangan.


"Anda akan menyesali ini, Pencipta!"


Cona terdiam menatap kejadian di depannya. Ruangan itu kembali sepi menyisakan Daisy yang kembali menangis tersedu. Tubuhnya kembali gemetar dengan kedua tangan yang memeluk lututnya erat.


Cona mulai mendekat dan berdiri di depan Daisy yang menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya.


"Maaf, Cona. Maafkan aku sudah menyeretmu dalam bahaya."


Daisy bergumam diantara heningnya ruangan. Langit malam diluar tampak bersinar terang oleh cahaya bulan.


"Aku harap novel ini bisa membantumu dari kejaran sosok itu. Aku tidak menyangka novel yang aku buat … karakter gelap yang aku ciptakan menjadi malapetaka untuk hidup kita!"


Daisy melirik buku tulis yang terletak di sampingnya.


"Ternyata kamu melalui hal yang berat ya, Daisy."


Cona meletakkan tangannya diatas kepala Daisy yang masih menangis. Air mata kembali turun di wajah gadis itu dan jemari tangannya bergerak merengkuh Daisy dalam pelukannya. Walaupun saat ini Daisy tak mungkin merasakan pelukannya yang hanya sebuah roh.


"Tidak apa-apa. Mereka memaksamu, bukan? Bukan salahmu Daisy. Aku … aku memaafkanmu. Aku … akan membalas perlakuan jahat mereka kepadamu."


Cona larut dalam tangisnya saat merasakan rasa sakit yang sama dengan yang dirasakan Daisy. Rasa sakit dihatinya berkurang berganti dengan tekad yang membara untuk menghabisi sosok dengan mata bulan sabit itu.


"Maafkan aku Cona … tidak … Ivew Mirabeth. Aku harap kehidupan yang bahagia selalu menantimu."


...⪻⪼...


So, gimana nih bab ini?


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... 🌺

__ADS_1


__ADS_2