
⪻⪼
Ivew tersentak dan segera bangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya. Gadis itu sedikit mengerang saat merasakan rasa sakit pada kepalanya. Bangkit dari baringnya Ivew berjalan menuju pintu kamar dan membukanya perlahan menemukan Veister yang berdiri dalam wujud manusianya.
Manik dua warna Veister bertemu dengan manik emerald Ivew yang menghindari pandangannya. Ivew membiarkan pemuda itu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya perlahan, masih merasa canggung dengan keberadaan Veister.
Rasa sesak yang dirasakannya dari aura pemuda waktu itu masih melekat dalam ingatannya. Ivew segera mengesampingkan ingatan buruknya dan menatap Veister yang duduk di atas sofa dan duduk di hadapan sang pemuda yang tampak menunggunya untuk duduk.
“Kamu berubah ke bentuk manusia? Kalau ada yang melihatmu bagaimana?” tanya Ivew berusaha memecah suasana canggung yang tercipta.
Veister berdehem pelan menarik kesadaran Ivew yang sempat melamun.
“Kenapa kamu menghindari ku? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Veister datar.
Ivew menggelengkan kepalanya saat Veister menunggu jawabannya. Pemuda dengan mata dua warna itu berdehem pelan dan tertawa kecil.
“Atau karena auraku waktu itu? Kamu merasakannya?”
Veister bertanya dengan senyum miring di wajahnya. Ivew tersentak saat aura dingin sang pemuda membuatnya gemetar. Bahkan, kedua mata berbeda warna itu tampak berkilat akan kemarahan.
“Dia aneh! Menghindar, Ivew!”
Ivew segera bangkit dari duduknya saat mendengar peringatan dari suara lembut angin di sekitarnya. Manik emerald gadis itu menangkap aura hitam yang menguar dari tubuh Veister dan segera mundur menuju pintu.
Sosok Veister di depannya tertawa lebih lebar dengan kedua matanya berubah warna menjadi hitam pekat dengan tubuh yang sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Jubah hitam perak yang biasa digunakan Veister berubah warna menjadi hitam dengan beberapa bekas noda yang tersebar.
“Sudah tau ya? Karena angin, kah?”
__ADS_1
Sosok di depan Ivew itu bertanya dengan senyum lebar di wajahnya sedangkan Ivew mulai melangkah mundur menuju pintu dengan pandangan tetap fokus pada sosok asing di depannya. Jemari panjang sosok itu muncul dari jubahnya dan mulai mengeluarkan sulur hitam dengan bau yang membuat Ivew merasa mual.
Gelang pemberian Veister bersinar perak di pergelangan tangan kanan Ivew melindungi gadis itu dari salah satu sulur hitam yang hendak menyerangnya. Ivew menggunakan kekuatan anginnya untuk mendorong sosok di depannya hingga menabrak dinding di dekat tempat tidur.
Gadis bermata emerald itu segera berlari untuk meminta bantuan dan hendak membuka pintu kamarnya. Namun, tindakannya terhenti saat sulur hitam itu membentang mengunci pintu dari dalam. Ivew hampir mual saat sulur hitam itu lewat tepat di sampingnya.
Tawa dari sosok asing itu hadir menggema di dalam kamar Ivew. Cahaya sore dari matahari senja merembes masuk dari sela-sela jendela kamar. Ivew terdiam saat sosok itu berjalan keluar dari kegelapan
dinding di dekat tempat tidurnya. Giginya yang sedikit tajam muncul dari celah mulutnya yang lebar.
Ivew menahan rasa gemetar dan detak jantungnya yang cepat, gadis itu berdiri dalam posisi siaganya saat sebuah sulur hitam kembali datang ke arahnya.
Menggunakan kekuatan anginnya Ivew membuat sulur itu terpental ke arah jendela dan memecahkan kaca jendela kamarnya.
Suara pecahan kaca itu bergema ke seluruh mansion Rizery dan Ivew berharap bantuan akan segera datang kepadanya. Sosok asing itu melirik kaca jendela yang pecah dan menyeringai ke arah Ivew yang menatapnya diam.
“Kekuatan yang hebat. Tapi sayangnya kamu ceroboh!”
Manik emerald Ivew melebar saat sulur itu bergerak liar ke arahnya. Gadis itu menggunakan anginnya untuk membuat perisai yang melindungi tubuhnya dan berhasil menahan laju sulur yang terarah ke arahnya, menimbulkan bercak kehijauan yang tersebar ke penjuru ruangan saat sulur itu menghantam perisainya.
Ugh ... sulur ini bau sekali. Batin Ivew menahan rasa mual yang menggoyahkan konsentrasinya.
Perisai angin di depannya mulai retak dan Ivew berusaha mempertahankan kepadatan perisai di depannya. Sosok itu menyeringai dan mengeluarkan satu sulur hitam dengan bentuk yang sama dan kembali mengarahkannya ke arah perisai Ivew.
Gadis dengan mata emerald itu berseru tertahan saat manik matanya menangkap perisai anginnya retak dan duri tajam di sisi sulur itu siap melukainya. Ivew menggunakan anginnya untuk membawa tubuhnya berpindah tetapi salah satu sulur mengenai bahu kanannya meninggalkan rasa sakit tak tertahankan dengan darah merah yang keluar membasahi bajunya dan jatuh menuju lantai.
Ivew merasakan rasa panas dan seperti tusukan jarum pada luka di bahunya. Sosok hitam itu tertawa lebar dan kembali mengeluarkan sulur yang sama.
__ADS_1
Ivew menatap sulur yang datang ke arahnya dengan pandangan gusar. Sinar perak kecoklatan hadir di depannya dan menjadi perisai pelindung bagi sang gadis. Manik mata emerald Ivew melebar dan segera menatap gelang di tangan kanannya.
“I ... Ivew! Kamu ... bisa men ... dengarku kan?”
Ivew samar-samar mendengar suara dari gelang di tangannya. Suara Veister yang terdengar panik bersamaan dengan suara desau angin.
“Veister? Itu kamu? Iya! Aku mendengar mu! Veister,
kamu di mana?!”
Ivew berseru dengan panik saat sosok asing di depannya menyeringai dan kembali mengeluarkan sulur yang sama hendak menghancurkan perisai yang melindunginya. Ivew mulai merasa pusing dari luka di bahu kanannya, menatap darah yang terus mengalir dan membasahi lantai.
Gadis itu beringsut mundur dan bersandar pada dinding di samping pintu dengan perisai yang tetap setia melindungi sekeliling tubuhnya. Samar-samar Ivew mendengar keributan dari luar jendela yang pecah menandakan bahwa yang lainnya merasa ada yang janggal. Gadis itu sedikit bernafas lega dan meneguhkan diri untuk bertahan sampai bantuan datang.
“Ternyata si penyihir suci itu masih hidup.”
Ivew tersentak dan menatap sosok asing di depannya yang menyeringai dengan sulur penuh duri di sekeliling tubuhnya.
“Suara itu! Ivew kamu di mana? Menjauhlah darinya! Dia berbahaya!”
Suara panik Veister terdengar dari gelang di pergelangan tangannya. Ivew mulai panik dan melirik pintu kamarnya yang bersinar dengan aura gelap karena sulur sosok di depannya. Ivew berusaha bangkit berdiri dengan menahan rasa sakit yang mulai membuat kabur pandangannya.
“Sial! Ivew tunggu ak-”
Gadis bermata emerald itu berseru panik saat gelang pemberian Veister di tangan kanannya pecah dan mengeluarkan aura hitam yang membuat komunikasi Ivew dengan Veister terputus. Sosok di depannya menyeringai dan tertawa lepas. Ivew mulai pucat saat mengingat sosok itu pernah menyentuh gelangnya dalam wujud penyamarannya sebagai Veister dan menguji dirinya dengan aura mengerikannya saat itu.
“Sayang sekali! Kamu akan mati di sini! Seperti pemilik kekuatan alam sebelumnya!”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading ... Makin seru kan ceritanya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya ... ✨