
...⪻⪼...
Ivew dan Lolita menghela nafas lega saat akhirnya keduanya sampai di puncak pohon hitam bersama kucing Veister yang menggulungkan tubuhnya di bahu Ivew. Manik mata kedua gadis itu menatap kekacauan yang dilakukan Laveron dan yang lainnya. Suara ledakan menggema bersamaan dengan cairan ungu tua yang memenuhi tanah di bawah mereka.
Bersandar pada batang pohon di sampingnya, manik delima Lolita memandang jauh tembok putih pelindung kekaisaran. Samar-samar tanah yang berada di kejauhan terlihat oleh matanya, tanah tandus dan bekas bangunan yang sudah hancur bersamaan dengan beberapa pedang yang masih tampak tertancap di tanah.
“Pohon ini tinggi juga ya, Nona Muda. Aku bisa melihat tanah lain di balik tembok pelindung.”
Suara Ivew menarik perhatian Lolita dan membuat gadis bermata delima itu meliriknya yang duduk di salah satu dahan sembari menatap ke arah pertarungan di bawah mereka. Kedua gadis itu tersentak saat melihat monster hitam di bawah mereka membelah diri menjadi monster berukuran sedang yang menyerang mereka sebelumnya.
“Apa kamu bisa menggunakan kekuatanmu dari sini, Ivew?” Lolita menatap Ivew yang terus fokus ke bawah.
Gadis bermata emerald itu mengangguk dan mulai mengeluarkan angin di tangannya. Pusaran angin biru muda itu berputar di tangan Ivew dan gadis itu menembakkannya langsung kepada monster yang hendak menyerang Leister. Suara kesakitan monster itu terdengar oleh keduanya bersamaan dengan tubuh monster hitam terakhir yang lenyap menjadi debu. Ivew menghela nafas dan mengelus bulu hitam Veister yang duduk pada dahan di sampingnya.
Kucing itu mengeong dan tetap menatap ke bawah memastikan keadaan Laveron dan yang lainnya. Lolita kembali bersandar pada pohon di sampingnya sembari bernafas lega. Manik delima gadis itu tak sengaja menatap ke arah atas tembok pelindung. Gadis itu bangkit berdiri mengabaikan tatapan bingung dari Ivew. Berusaha memfokuskan pandangannya Lolita terdiam saat sosok hitam di atas tembok pelindung itu seperti menatapnya.
“I-ivew ... di atas tembok pelindung itu. Apa kamu melihat apa yang aku lihat?”
Tunjuk Lolita dengan gemetar sedangkan Ivew yang awalnya duduk ikut berdiri dan mengalihkan pandangannya pada arah tunjuk Lolita. Gadis itu terdiam saat melihat sosok hitam yang berdiri diam tak terusik dengan pertarungan di bawah mereka.
“Apa itu prajurit militer, Nona Muda?” tanya Ivew dengan pandangan tetap fokus ke arah sosok di atas tembok.
__ADS_1
Lolita menggeleng dan kembali menjawab dengan suara sedikit serak, “Tidak ada prajurit militer yang ditugaskan selain yang bersama kita. Dan bagaimana mungkin orang itu bisa naik ke atas tembok tanpa bantuan penyihir. Harus ada izin dari kekaisaran jika ingin menaiki tembok pelindung.”
Ivew terdiam mendengar penjelasan Lolita. Manik emerald-nya melirik Veister yang terdiam dan beralih menatap wajahnya dengan manik mata dua warna kucing itu yang tampak bercahaya.
“Itu pasti penyihir hitam! Lebih baik kita menghindarinya!”
Seruan kemarahan Veister terdengar di kepala Ivew. Gadis itu hendak menarik tangan Lolita untuk turun tetapi terhenti saat tubuh gadis itu tiba-tiba limbung ke belakang dan jatuh bebas menuju tanah. Dengan panik Ivew berusaha meraih tangan Lolita yang menatapnya dengan raut wajah kesakitan.
Gadis bermata emerald itu segera menggerakkan angin di tangannya dan mengarahkannya pada tubuh Lolita, menahan tubuh gadis itu agar tidak berakhir mengenaskan menghantam tanah.
“Hihihi ... tidak akan semudah itu ....”
Suara berat itu terdengar di sekitar Ivew yang panik saat anginnya tak mampu menahan tubuh Lolita yang terus terjun bebas. Gadis bermata delima itu panik saat merasakan rasa sakit pada bahunya dan menatap cairan merah yang mengalir menuju ujung jarinya.
Jemari tangan Lolita berusaha meraih salah satu dahan di dekatnya dan menggunakan kedua tangannya untuk menahan tubuhnya. Rasa sakit mulai menjalar dan membuat telapak tangannya kebas. Suara panik Ivew yang menuruni pohon semakin terdengar oleh Lolita, pandangan gadis bermata delima itu sedikit kabur disertai rasa pusing yang menyerang kepalanya.
“Nona Muda, bertahanlah! Saya tidak bisa menggunakan kekuatan angin saya jadi ... tunggulah!”
Lolita menarik nafas saat mendengar gema suara Ivew yang masih berjarak sepuluh meter darinya. Gadis bermata emerald itu dengan tergesa-gesa turun dengan memeluk pohon hitam. Mengabaikan rasa panas yang muncul dari telapak tangannya saat terus bergesekan dengan permukaan pohon hitam.
Kucing Veister yang berada di bahunya berusaha menggunakan sihir untuk menahan tubuh Lolita yang menggantung tetapi sedetik kemudian kucing hitam itu menggeram saat merasakan kekuatan sihirnya hilang.
__ADS_1
“Sosok hitam itu ... di mana dia?”
Lolita bertanya dengan tangan yang tetap menggenggam dahan pohon di atasnya. Tubuhnya yang tergantung bergoyang pelan saat angin berembus melewati pepohonan.
Manik delima gadis itu kembali menatap sosok hitam yang berada di atas tembok pelindung dan menghilang menjadi debu sedetik kemudian. Menatap ke arah tanah lapang di bawahnya Lolita sedikit bernafas lega saat melihat Leister dan Laveron baik-baik saja dan sedang memastikan bahwa dua monster yang menyerang mereka mati.
Serangan angin yang diberikan Ivew berhasil membunuh monster itu tepat saat mulutnya hampir menghisap Leister dan para kstaria flowerlax. Satu tangan Lolita terlepas dari dahan di atasnya saat angin menggoyangkan tubuhnya yang terus menggantung.
Tangan gadis itu mulai terasa kebas dan berkeringat. Suara gemerisik dari atas membuat Lolita kembali mendongak dan memandang Ivew yang tampak panik. Gadis bermata emerald itu berseru panik memanggil Lolita sedangkan kucing hitam di bahunya tampak tidak terguncang dengan gerakan terburu-buru Ivew.
Kucing itu. Bahkan, tidak panik di situasi seperti ini. Apa benar dia kucing biasa? Batin Lolita menatap Veister yang tetap tenang.
Suara pijakan kaki Ivew pada dahan di atasnya membuat Lolita tersadar dari lamunannya. Ivew segera mendekat ke arah Lolita dengan memperhatikan langkahnya agar dahan pohon di bawahnya tidak terlalu bergoyang.
Lolita menghela nafas saat Ivew semakin dekat dengannya, rasa was-was memenuhinya saat dahan itu semakin bergoyang dan Ivew yang tampak ragu untuk maju. Ivew melirik Lolita yang mengangguk dan kembali melangkah mendekat dengan merangkak sedangkan kucing Veister berdiam diri di dekat sandaran pohon.
Dahan itu semakin melengkung saat menahan beban tubuh dua orang, Lolita kembali merasakan angin menggoyangkan dahan dan tubuhnya. Saat genggaman tangannya hampir terlepas dan tubuhnya kembali jatuh bebas tangan Ivew berhasil meraih lengannya. Kepanikan terpampang jelas dari mata emerald Ivew menatap Lolita yang juga menghela nafas lega. Suara lega keduanya terhenti saat suara retakan terdengar dari dahan di dekat mereka.
“Ivew ... terima ka-“
“Eh ....”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar .... ✨