Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
32 - Gadis dan Api


__ADS_3

...⪻⪼...


“Apa kita akan sering bertemu?”


Ivew menatap gadis berambut putih yang kini duduk di bawah rindangnya pohon. Jemari gadis itu bergerak memainkan angin dan menggerakkan ribuan bunga di sekitar mereka.


“Tentu saja ... ada banyak hal yang harus aku ajarkan kepadamu.”


Gadis berambut putih itu tersenyum dan melirik Ivew yang berdiri di sampingnya. Rambut putihnya kembali bergerak saat angin membelainya dengan lembut, tawa gadis itu keluar seiring mulutnya melantunkan senandung. Ivew bersandar pada pohon di belakangnya dan merasakan perasaan yang damai.


“Lalu aku harus memanggilmu apa? Aku tidak mungkin memanggil gadis berambut putih kan?” tanya Ivew sambil tertawa kecil dan mengambil salah satu kelopak bunga yang terbang ke arahnya.


Gadis itu tersenyum dan berkata lembut di antara senandungnya, “Panggil aku Iletta, Adik manis.”


Ivew tersenyum dan mengangguk saat gadis berambut putih di sampingnya berdiri dan mengelus kepalanya pelan. Kelopak bunga di sekitar mereka kembali berterbangan saat Iletta kembali mengajak Ivew untuk berjalan. Genggaman tangan gadis itu terasa hangat membuat Ivew tersenyum lebih lebar.


Langkah keduanya terhenti saat mereka sampai di sebuah bunga yang tampak kontras dengan bunga lainnya. Bunga bewarna merah itu tampak bersinar terang seperti ada api yang mengelilinginya. Bahkan, angin yang berembus di sekitarnya pun tak memadamkan cahaya bak api membara itu.


“Apa ini, Kak Iletta?” tanya Ivew saat manik emerald-nya bersinar terkena cahaya dari bunga di depannya.


Gadis berambut putih itu tersenyum dan meletakkan telapak tangannya di depan bunga yang mulai bersinar lebih terang. Kelopak bunga itu mulai membesar dan menjulurkan cahaya yang terasa sepanas api.


Manik emerald Ivew menatap cahaya bak api yang terus membesar dan membumbung tinggi ke atas. Angin di sekitar mereka mulai berkurang saat cahaya dari bunga itu kini setinggi dua meter.

__ADS_1


“Kamu akan segera mendapatkannya,” ucap Iletta menjauhkan tangannya dan berbalik memandang Ivew yang terdiam.


“Maksudnya?”


“Cukup sampai di sini. Kamu harus segera kembali. Sampai jumpa lagi, Adik manis.”


Senyum Iletta adalah hal terakhir yang manik emerald Ivew lihat sebelum kegelapan kembali datang dan suara samar-samar Veister yang memanggil namanya terdengar. Gadis itu membuka matanya dan bertemu dengan pandangan kesal Veister. Pemuda itu mendengus saat Ivew akhirnya bangun dan kembali berubah ke bentuk kucingnya.


Samar-samar cahaya matahari dari luar masuk melewati tirai kereta kuda yang ditutupnya. Ivew beranjak duduk dan merenggangkan tubuhnya melirik Veister yang memandangnya diam. Pemuda yang kini kembali ke wujud kucing itu mengucapkan mantra sihir untuk merapikan kembali rambut hitam legam Ivew yang sedikit berantakan.


Suara ketukan pada pintu kereta kuda membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dan segera membuka pintu beranjak keluar saat Leister memanggil namanya. Mereka kembali sarapan dan melanjutkan perjalanan saat pagi datang. Melewati rimbunnya hutan yang dekat dengan pegunungan kekaisaran dan menjadi pembatas akhir dari kota mereka dengan ibukota kekaisaran.


Suasana hutan yang sepi dan cahaya matahari yang sedikit menyinari bagian dalam hutan membuat gadis bermata emerald itu merasakan perasaan yang aneh saat telinganya menangkap ketukan pelan pada jendela kereta kuda dari angin yang lewat di sekitar.


“Apa apa, Ivew?” tanya Leister menangkap raut kegelisahan dari gadis bermata emerald di depannya.


Suara Ivew terputus saat kereta kuda mereka tiba-tiba berhenti mendadak membuat gadis itu jatuh ke depan. Untunglah reflek cepat dari Leister berhasil menangkap tubuhnya dan menarik Ivew duduk lebih dekat dengannya diikuti dengan kucing Veister yang duduk dipangkuan Ivew. Leister mulai meraih gagang pedang di pinggangnya bersiaga dengan segala hal yang terjadi.


Suara panik ksatria di luar kereta kuda membuat pemuda bermanik ruby itu memandang ke arah luar jendela dan disambut dengan bara api yang membakar hutan di sebelah kiri mereka. Api terus membesar di sepanjang jalan yang mereka tinggalkan dan semakin meluas ke sisi lainnya.


Beberapa ksatria mulai panik dan lidah api dari kebakaran itu hampir mengenai kereta kuda mereka. Leister segera keluar dari kereta kuda dan tepat saat pintu kereta kuda itu terbuka rasa panas dari api langsung menyambut mereka.


Ivew yang masih duduk di dalam kereta kuda mengernyit saat merasakan panasnya api menyentuh kulitnya. Kucing Veister yang berada di pangkuannya segera berlari keluar membuat gadis bermata emerald itu ikut berlari keluar dan berseru memanggil nama Veister. Langkah Ivew terhenti saat salah satu pohon yang terbakar tumbang dan jatuh tepat di sampingnya. Kusir kereta kuda mereka segera memacu kereta kuda menjauh dari api yang semakin membara.

__ADS_1


“Halo ....”


Manik emerald Ivew yang hendak berlari menuju Veister melebar saat mendengar suara yang sangat bersemangat menyapanya. Mata emerald gadis itu tertuju pada bara api yang melahap pohon, bahkan suara teriakan Leister yang memanggil namanya tak dihiraukan Ivew.


Gadis itu melangkah mendekati sumber api tanpa dirinya sadari membuat kucing Veister yang sedari tadi memadamkan api di sisi lain hutan berbalik saat mendengar Leister kembali menyerukan nama Ivew.


“Apa kamu sudah siap?”


Suara yang penuh semangat itu kembali terdengar oleh Ivew. Gadis bermata emerald itu tepat berhenti di depan sebuah pohon besar yang daunnya sudah di lalap api. Beberapa dahan pohon itu sudah jatuh ke bawah. Rambut hitam legam Ivew berkibar saat kobaran api membara di depannya diikuti dengan hawa panas yang membuat pergerakan Leister dan ksatria di sekitarnya terhenti.


Kucing Veister segera berlari dan terhenti di samping Leister yang berusaha mendekat meraih tubuh Ivew yang mulai terkena lidah api.


“Apa yang terjadi, Tuan Veister? Kenapa Ivew bisa diam di sana dan tidak terganggu dengan panasnya api?”


Leister semakin panik saat reruntuhan dahan pohon kembali menghasilkan angin bercampur arang dan debu. Kucing Veister hanya diam dan fokus memandang ke arah Ivew. Manik mata dua warna kucing itu bercahaya saat melihat kedua tangan Ivew terangkat hendak mencapai lidah api di depannya.


Cahaya merah bata memenuhi penglihatan semua orang yang ada di sana dan dengan serentak mereka menutup mata. Manik mata emerald Ivew sedikit berkilau saat api di sekitar mulai bergerak dan berputar di telapak tangannya.


“Kamu berhasil! Setelah sekian lama akhirnya aku menemukan sosok yang layak untuk menggunakan api ini!”


Ivew terdiam saat suara bersemangat itu kembali terdengar olehnya. Mengalihkan pandangannya menatap sekeliling hutan dengan api yang padam Ivew menghela nafas lega. Pohon besar di depannya mulai kehilangan bara apinya menjadi kobaran api kecil berwarna merah bercampur biru. Semilir angin hadir di sekitar mereka membawa api itu mendekat menuju Ivew dan segera masuk ke tato bunga di tangan kanannya.


“Itu ... kekuatan api, kan?”

__ADS_1


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨


__ADS_2