
...⪻⪼...
Manik emerald Ivew menatap sosok pemuda dengan seragam hitam khas pasukan militer datang dan berdiri di sampingnya. Gadis itu terdiam saat mata navy sang pemuda menatapnya datar tanpa ada senyum hangat yang biasa hadir di wajah tampannya. Ruangan yang semula hening terasa lebih dingin dan menusuk bagi Ivew yang menghindari tatapan pemuda di depannya.
“Se-selamat siang, Bang. Abang sudah makan?”
Ivew berusaha tersenyum dan menyapa hangat Laveron yang baru bergabung dengan mereka. Pemuda bermata navy itu hanya menatap datar Ivew yang tersenyum canggung ke arahnya.
Leister menatap kedatangan Laveron dengan senyum canggung dan menelisik penampilan pemuda di depannya yang sedikit berkeringat dan tersengal. Menandakan pemuda itu berlari dari pusat utama militer di istana utama ke paviliun barat.
“Ah ... selamat siang, Tuan Muda. Maaf saya terlambat menyapa Anda,” ucap Laveron menunduk hormat menyapa Leister.
“Santai saja, Laveron. Sudah kukatakan, jangan terlalu formal denganku. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk bersikap tidak formal sejak kita di akademi militer dulu?”
Ivew terdiam dan menatap Leister serta Laveron dengan pandangan kaget. Dunia ini punya akademi militer? Hal itu tidak pernah diceritakan dalam novel Jalan Takdir ataupun penjelasan kecil yang pernah di sampaikan sang sahabat, Daisy kepadanya. Gadis bermata emerald itu melirik kucing Veister yang hanya menggelengkan kepalanya. Gadis itu tersadar dari lamunannya saat Laveron menepuk pelan bahunya.
“Apa terjadi sesuatu lagi?”
Laveron bertanya dan menatap Ivew serius. Pemuda bermata navy itu diliputi rasa cemas saat mendengar pertanyaan yang diajukan Leister pada sang adik sebelumnya. Dirinya yang berdiri di depan pintu ruang makan berniat untuk memberi kejutan akan kedatangannya justru kaget dengan yang di dengarnya. Meski sudah mendengar keseluruhan cerita yang disampaikan Leister dirinya perlu mendengar dari sang adik yang sedari tadi hanya diam.
“Tidak ada yang serius, Bang. Aku baik-baik saja,” jawab Ivew santai dan menyuruh Laveron untuk duduk di sampingnya.
Gadis bermata emerald itu memilih untuk menghabiskan rasa rindu nya dengan Laveron daripada harus memikirkan tentang kejadian sebelumnya. Laveron melirik Ivew yang tampak tenang dan bahagia dengan kedatangannya. Pemuda bermata navy itu menghela nafas dan mengelus pelan kepala Ivew sembari menampilkan senyum kecil di wajahnya.
__ADS_1
Leister kembali ke kamarnya memutuskan untuk menyusun dokumen yang akan di sampaikan nya esok hari meninggalkan Ivew bersama Laveron dan kucing Veister di ruang makan. Laveron mengajak sang adik untuk berjalan-jalan di taman bunga yang tak jauh dari paviliun barat yang mereka tempati, menikmati matahari sore yang bersinar indah di kanvas langit.
Ivew jongkok dan melirik Laveron yang tampak tegang dan terus menggenggam gagang pedang yang tersarung di pinggangnya. Kucing Veister mengikuti keduanya dalam diam dan memperhatikan suasana sekitar yang mulai sunyi. Jemari tangan Ivew meraih kelopak bunga yang berada di taman istana sedangkan Laveron menguntai senyum saat sang adik nampak tenang.
“Abang punya firasat buruk, Ivew.”
Laveron berucap pelan dan duduk di atas salah satu kursi yang tersedia di taman diikuti kucing Veister yang duduk di samping kanannya. Gadis bermata emerald itu menoleh dan menatap Laveron yang memandang langit senja dengan gusar. Ivew kembali menatap kelopak bunga yang dipegangnya.
Gadis itu juga merasakan perasaan yang sama, perasaan gusar akan kedatangan sesuatu yang mengusik kehidupan sederhananya di rumah hangatnya bersama sang abang. Sesuatu yang akan membuat hidupnya yang tenang menjadi penuh dengan riak masalah.
Angin sepoi kembali mengalir di sekitar Ivew yang sempat melamun. Rambut hitam sepunggungnya bergerak menyentuh kelopak bunga di sekitarnya. Ivew bangkit dari jongkoknya dan duduk di samping kiri Laveron, meraih lengan sang abang dan memeluknya erat.
“Apapun yang terjadi berjanjilah abang tidak akan meninggalkanku.”
“Tentu. Tanpa kamu minta pun abang tidak akan pergi kemana-mana. Abang akan selalu ada bersama, Ivew.”
Laveron berucap dengan yakin dan menikmati angin yang menggerakkan rambut hitamnya sedangkan kucing Veister hanya tersenyum menatap interaksi Mirabeth bersaudara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing saat langit senja di atas mereka mulai berubah menjadi gelapnya malam.
Laveron segera mengajak Ivew untuk kembali ke kamarnya, membiarkan gadis itu berjalan sedikit di depannya dan menatap punggung Ivew dari belakang.
Aku tidak boleh kehilangan kesempatan lagi! Tidak lagi! Aku harus menebus dosaku, meski dengan kesempatan yang berbeda. Batin Laveron menatap rambut hitam legam Ivew yang terus berjalan di depannya.
Pemuda bermata navy itu mengernyit saat teriakan kesakitan dan penuh tangis seorang gadis memanggil namanya, tangan sang gadis yang bergerak gemetar hendak meraihnya, teriakan panik orang-orang, darah yang berceceran dimana-mana dan tatapan horor sang gadis yang melihatnya dib-
__ADS_1
“Abang? Abang, baik-baik saja?”
Suara Ivew menarik kesadaran Laveron dari ingatan yang selalu disangkalnya. Pemuda bermata navy itu tersentak saat Ivew memegang pelan pipinya, menyadari nafasnya yang sedikit berat Laveron menatap mata emerald Ivew yang berkabut penuh kekhawatiran.
“Tidak apa-apa. Semua baik-baik saja, ayo kita kembali!” ajak Laveron tersenyum kecut dan meraih tangan Ivew menarik sang gadis menuju paviliun.
Kucing Veister hanya mengikuti keduanya dalam diam tak berniat untuk masuk dalam pembicaraan kedua saudara yang penuh dengan rahasia. Manik dua warna Veister menatap punggung Laveron yang menarik Ivew untuk berjalan bersamanya sembari tertawa saat Ivew berusaha mengimbangi langkah besar Laveron.
“Aku yakin jika Ivew mengetahui salah satu kebenarannya ... gadis itu pasti akan menangis.”
Kucing Veister mengikuti langkah keduanya dan bersiap untuk hari esok yang penuh dengan kejutan. Ivew menatap Laveron yang melambaikan tangan kepadanya dan hendak kembali ke pusat utama militer di istana utama.
Gadis bermata emerald itu merebahkan dirinya di atas kasur, sedangkan kucing Veister kembali berubah ke bentuk manusianya dan duduk di salah satu sofa yang berada di depan kasur di kamar Ivew.
“Sudah lama aku tidak melihat bentuk manusiamu, Veister,” ucap Ivew memecah hening dan menatap langit-langit kamar.
Veister yang sedang memandang bekas retakan di kaca kamar Ivew menoleh dan berujar pelan, “Kenapa? Kamu kangen denganku hm?”
Ivew tertawa pelan dan melirik retakan bekas tabrakan burung gagak di kaca jendela kamarnya. Manik emerald gadis itu menatap tato lima kelopak bunga di tangannya dan mengelusnya pelan.
“Aku harap pertemuan besok berjalan dengan lancar.”
...⪻⪼...
__ADS_1
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya .... ✨