Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
9 - Tekad


__ADS_3

...⪻⪼...


Ivew menatap Veister dengan pandangan bingung. Pemuda dengan manik dua warna itu menghela nafas dan meminta gadis di depannya untuk istirahat, melanjutkan obrolan mereka esok hari. Ivew mengangguk dan beranjak ke kamar mandi membersihkan dirinya meninggalkan Veister yang menatap kedua tangannya yang terdapat sisa debu perak dan bergumam dalam sunyinya ruangan, “Sepertinya aku harus lebih waspada.”


Hingga malam tiba pemuda dengan manik dua warna itu tetap terjaga, menatap Ivew yang terlelap dalam gulungan selimutnya. Pemuda itu beranjak ke arah tangga saat mendengar pintu rumah terbuka menemukan Laveron yang pulang dengan wajah lelah. Veister langsung berubah ke dalam bentuk kucingnya dan berpura-pura tidur di dekat jendela tepat saat kaki Laveron membuka pintu kamar Ivew untuk mengecek keadaan sang adik.


Pemuda itu tersenyum saat menemukan wajah damai Ivew dalam balutan selimutnya, manik navy sang pemuda melirik kucing hitam yang tertidur lelap di dekat jendela dan bergerak untuk memindahkan kucing itu di ujung tempat tidur Ivew. Mengusap pelan rambut hitam sang adik Laveron segera keluar kamar dan beristirahat menuju kamarnya.


Veister membuka matanya dan kembali berubah ke bentuk manusia. Jubah hitam-peraknya tampak bersinar saat terkena cahaya bulan. Manik dua warna pemuda itu membesar saat menatap bunga anggrek biru di dekat jendela bercahaya dan debu biru hadir menguntai langkah menuju Ivew yang tertidur. Gadis itu sedikit bergerak gelisah dan mulai bergumam tak jelas sedangkan Veister yang berusaha menghentikan debu biru itu justru berakhir dengan tangan kanannya yang memar dan terbakar.


Ivew mengernyit dalam tidurnya. Samar-samar gadis itu mendengar suara nyanyian dalam kegelapan yang perlahan berubah menjadi cahaya terang dan alunan angin yang menenangkan. Membuka matanya perlahan manik emerald Ivew membesar menatap pemandangan di depan mata. Sebuah tempat yang penuh dengan bunga warna-warni dan beraneka bentuk sejauh mata memandang. Angin membelai rambut hitam sepunggungnya dan beberapa kelopak bunga beterbangan menari mengikuti gerak angin.


Suara nyanyian seseorang kembali menarik Ivew dari rasa terpesonanya. Gadis itu melangkah dan menemukan sebuah pohon besar di tengah ladang bunga. Seorang gadis berambut putih sepunggung terus bersenandung bersamaan dengan angin dan bunga-bunga di sekitarnya yang tampak bergoyang mengikuti nyanyiannya.


Gadis berambut putih itu tertawa. Suara yang hangat dan menenangkan, manik emerald Ivew terus menatap punggung sang gadis, rambut putihnya tampak berkilau dan menawan mengikuti gerak tubuhnya yang mulai menari riang. Langkah kaki Ivew terhenti saat sebuah kupu-kupu melewatinya, terbang menuju arah sebaliknya. Gadis berambut putih itu menoleh ke belakang dan bertemu dengan pandangan manik emerald Ivew.


Senyum hadir di wajahnya dan manik mata navy itu memandang Ivew dengan binar kebahagiaan. Langkahnya tampak anggun dengan gaun putih panjang menghiasi tubuhnya. Ivew terdiam di tempatnya menunggu sosok bak malaikat di depannya mendekat ke arahnya.


“Halo ... akhirnya kita bertemu,” ucap sosok itu berdiri di depan Ivew.

__ADS_1


Manik navy gadis itu tampak mendominasi dan Ivew hanya menjawab dengan anggukan kepala. Gadis itu hendak membuka mulutnya tetapi suara berat seseorang samar-samar terdengar dan semakin keras memanggil nama gadis dengan mata emerald itu.


Manik Ivew membesar saat menyadari pemilik suara itu adalah Veister dan melirik gadis di depannya yang terdiam. Kedua tangannya terangkat dan memegang kedua pundak Ivew erat dan berbisik di antara desau angin yang hadir di sekitar keduanya, “Kita akan bertemu lagi. Jaga dirimu baik-baik! Untuk saat ini ... kekuatan ini akan membantumu.”


Ivew menutup matanya saat angin bercampur kelopak bunga memisahkan dirinya dengan gadis berambut putih di depannya. Senyum gadis berambut putih itu adalah hal terakhir yang manik emerald Ivew lihat dan kemudian dengan nafas yang berat Ivew membuka matanya cepat bertemu dengan dua manik mata berbeda warna milik Veister.


Dengan nafas sedikit tersengal Ivew menatap Veister yang menghela nafas lega. Gadis itu merasakan


sesuatu yang berbeda saat telinganya menangkap suara-suara bisikan kecil dari angin sepoi yang terbang di sekitarnya.


“Kamu baik-baik saja, Ivew?” tanya Veister menyadari Ivew yang terlalu hening. Gadis itu mengangguk dan beranjak duduk menatap bunga anggrek biru di dekat jendela yang bersinar samar.


Ivew bertanya menatap Veister yang menghela nafas dan duduk di kursi di samping tempat tidur sang gadis. Jemari sang pemuda menunjuk bunga anggrek biru di dekat jendela dan mulai menjelaskan semua yang terjadi.


“Dunia ini ... benar-benar sudah melenceng dari kisah aslinya, kan?” tanya Ivew tanpa menatap Veister. Pemuda itu mengangguk dan menatap Ivew yang kembali berbaring menatap langit-langit kamarnya.


“Itu artinya semua informasi yang ku baca dari buku itu tidak ada gunanya. Aku harus mulai semuanya dari awal dan juga mengembangkan kekuatanku sendiri."


Ivew berujar sambil mengangkat tangannya menuju langit-langit kamar dan sedikit terkejut saat menemukan angin berputar dari telapak tangannya. Veister yang melihat hal itu berdiri dan menarik tangan Ivew mendekat.

__ADS_1


“Ini kekuatan angin. Apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?” tanya Veister antusias dan menatap manik emerald Ivew.


Gadis itu kembali mengingat pertemuannya dengan gadis berambut putih di dalam mimpinya. Nyanyian gadis itu masih teringat dengan jelas oleh ingatan Ivew dan tanpa sadar membuatnya bersenandung. Veister yang mendengar itu terdiam dan melepaskan tangan Ivew, pemuda itu sedikit menjauh dan menunduk hormat.


Ivew yang hendak bertanya terhenti saat mendengar suara Laveron di balik pintu kamarnya. Gadis itu melirik malam yang masih datang dan berjalan mendekat ke arah pintu. Membuka pintu kamarnya dan menatap Laveron yang rapi dengan seragam pasukan militernya lengkap dengan pedang yang tersampir di pinggangnya. Senyum hadir di wajah pemuda itu saat menatap manik emerald Ivew.


“Kamu ingat kan tugas yang diberikan tuan duke?” tanya Laveron dan Ivew mengangguk sebagai jawaban. Memegang kedua bahu sang adik Laveron menyambung kalimatnya, “Abang akan berangkat pagi ini Ivew. Mungkin akan menghabiskan waktu sekitar sepuluh hari karena kami di minta memantau tembok pelindung di dekat hutan hitam. Berjanjilah kalau kamu tidak akan terluka lagi.”


Ivew terdiam mendengar ucapan sang abang, senyum hadir di wajahnya. Jemari tangannya terangkat dan beralih memeluk tubuh pemuda yang lebih tinggi darinya. Laveron terdiam dan kemudian tersenyum membalas pelukan adiknya. Kedua saudara Mirabeth itu kembali terpisah jarak. Ivew mengantar kepergian Laveron dengan senyum yang menenangkan. Saat pemuda itu hilang dibalik pintu, Ivew langsung mengunci pintu dengan mengeluarkan mana hijaunya.


Sesuai instruksi dari Veister bahwa semua orang punya mana yang mengalir di dalam tubuhnya dan jika ingin mengeluarkan mana mereka hanya perlu fokus dan merasakan aliran mana di dalam tubuh, kemudian memusatkannya pada kedua tangan. Manik emerald gadis itu melirik tanaman vanilla yang berada di sudut ruangan dan kembali mengeluarkan sedikit mana di tubuhnya untuk mengaktifkan pelindung transparan yang sempat disampaikan Laveron. Veister yang sedari tadi diam di lantai atas turun dan menatap Ivew dari tangga.


“Kamu tau cara mengaktifkannya?”


Veister bertanya sambil melompat dari tangga dan mendekat ke arah Ivew yang berada di depan tanaman vanilla kering yang ditempelkan pada dinding kayu rumah. Ivew menoleh dan mengangguk, tangan gadis itu bercahaya hijau dan tanaman vanilla di depannya bersinar menyerap cahaya. Vanilla kering berwarna coklat itu berubah menjadi warna kuning keemasan menandakan perisai siap dengan sempurna.


Ivew melakukan hal yang sama pada vanilla lainnya di sudut ruangan dan menatap perisai transparan yang melindungi sekeliling rumah dari jendela depan. Manik emerald gadis itu beralih menatap Veister yang sedang memasak makanan di dapur.


“Veister aku penasaran kenapa tanaman vanilla kering ini digunakan sebagai perisai?”

__ADS_1


...⪻⪼...


__ADS_2