Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
84 - Kisah Dua Dunia (3)


__ADS_3

Hola ... White blossom kembali menyapa kalian 🌺


Aku kembali dengan rekomendasi novel horor nih bagi kalian pecinta horor. Jangan lupa mampir ya! Dijamin seru !


...Happy reading 🌺...



...⪻⪼...


“Wah … rasanya sangat lega bisa melepaskan semuanya.”


Cona merenggangkan tubuhnya sambil menonton tayangan televisi di depannya. Malam kembali datang dan gadis itu tengah makan nasi goreng yang dibuatnya dari bahan yang masih tersisa di dalam kulkas.


“Lama hidup sebagai Ivew Mirabeth membuatku lupa dengan wajah mereka. Aku yakin mereka tidak akan tinggal diam setelah ini.”


Cona menjeda kalimatnya dan kembali memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Hujan yang meraung di luar rumah membuat gadis itu tersenyum saat merasakan hangatnya nasi goreng buatannya di dalam mulutnya.


“Sampai kapan aku berada di dunia ini ya? Aku masih belum bisa menemukan maksud dari kalimat Etwar.”


Satu bulan berlalu menurut waktu dunia modern. Cona Renjana telah menjalani harinya sebaik mungkin dan mulai melupakan identitas lainnya sebagai Ivew Mirabeth.


Senyum merekah di wajahnya saat dirinya kembali mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Daisy, satu-satunya sahabat yang selalu setia bersamanya.


Suara ketukan pada pintu rumahnya menyadarkan Cona dari pikirannya. Gadis itu segera menggerakkan kursi rodanya menuju pintu dan membuka pintu rumahnya perlahan.


Wajah sumringah Daisy segera memasuki penglihatannya dan jemari gadis itu bergerak memeluk pelan tubuh Cona.


“Ada apa, Daisy? Apa semua baik-baik saja?” tanya Cona melirik Daisy yang masih memeluknya.


“Apa kamu tidak marah karena aku tidak menghubungimu satu bulan ini?”


Daisy melepaskan pelukannya dan menunduk menatap wajah Cona. Gadis dengan mata coklat itu hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. “Aku yakin kamu punya alasan dibalik semua itu kan, Daisy?”


Daisy terdiam mendengar jawaban Cona dan kemudian tersenyum tipis. Tangan gadis itu bergerak mengacak-ngacak surai hitam sepunggung Cona dan tertawa saat mendengar gerutuan kesal Cona.

__ADS_1


“Aku senang kamu menerima semua yang terjadi, Cona. Kamu hebat bisa bertahan sejauh ini.”


Daisy bergumam pelan menatap senyum yang terukir di wajah Cona. Gadis itu segera pergi ke belakang kursi roda Cona dan bersiap mendorong kursi roda sang sahabat.


Keduanya berjalan santai di bawah hangatnya cahaya mentari. Lalu-lalang kendaraan dan juga tatapan sinis orang-orang yang melihat Cona dan kursi rodanya.


Keduanya segera sampai di sebuah taman yang berada di luar komplek perumahan mereka. Taman yang sepi saat pagi hari dan juga banyak pohon yang menyejukkan udara. Cona tersenyum kecil saat merasakan rindangnya pohon di atasnya.


Manik coklat Cona melirik Daisy yang duduk di kursi taman di samping kursi rodanya. Cona menelisik penampilan Daisy yang sedikit berbeda dari yang terakhir diingatnya. Ada sedikit kantong mata di bawah mata Daisy dan tubuhnya yang sedikit lebih kurus dari sebelumnya.


“Apa kamu baik-baik saja, Daisy? Apa kamu sakit selama satu bulan ini?” tanya Cona membuat Daisy menoleh menatapnya.


“Tentu aku baik-baik saja dan aku tidak sakit. Aku sehat. Kenapa?”


Daisy tersenyum menatap Cona yang kini mengerutkan keningnya. Sesuatu terasa aneh baginya, tetapi Cona memutuskan mengabaikannya dan kembali menatap taman di depannya.


“Aku hanya ingin mengatakan … aku senang kamu hadir didalam hidupku, Daisy. Terima kasih telah menjadi sahabat terbaik yang tak pernah meninggalkanku dalam keadaan apapun. Terima kasih telah menjadi bahu tempatku bersandar saat aku tak mampu lagi menemukan sandaran. Jangan tinggalkan aku ya, Daisy … hanya kamu keluarga yang aku punya.”


Cona tersenyum saat angin datang membelainya dan menggerakkan rambut hitam sepunggungnya. Manik coklatnya menatap Daisy yang duduk di sampingnya dengan pandangan hangat, sedangkan Daisy yang mendengar kalimat itu berkaca-kaca dan segera memeluk tubuh Cona yang sedikit lebih kecil darinya.


Bertahun-tahun berteman dengan Daisy baru kali ini Cona melihat gadis itu menangis begitu keras, biasanya Daisy selalu menyembunyikan tangisnya dan hanya meninggalkan jejak berupa mata dan hidung yang merah serta suaranya yang sedikit serak.


“Ada apa, Daisy? Apa terjadi sesuatu?” tanya Cona saat tangis Daisy tak kunjung henti.


Gumpalan awan dari langit biru di atasnya terus bergerak saat angin kembali membelai keduanya. Suasana taman di sekitar mereka yang cukup sepi membantu Cona untuk menenangkan tangisan Daisy.


“Aku minta maaf … maaf, Cona. Maafkan aku ….”


Cona mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat Daisy.


“Maaf? Untuk apa? Aku mengucapkan terima kasih untukmu, Daisy. Kenapa kamu meminta maaf kepadaku? Apa terjadi sesuatu?”


Tangan Daisy bergerak menghapus air matanya dan sekali lagi memeluk Cona erat. Gadis itu segera melepaskan pelukannya dari Cona dan menatap wajah sang sahabat dengan senyum kecil di wajahnya.


Cona mengerutkan keningnya menatap Daisy yang tersenyum seolah tidak ada tangis yang dikeluarkan sebelumnya. Mata dan hidung gadis itu tampak merah menjadi bukti bahwa tangisnya itu ada.

__ADS_1


“Daisy kamu-”


“Tidak apa-apa, Cona. Semua baik-baik saja.”


Daisy memotong kalimat Cona yang hendak bertanya kepadanya. Cona terdiam saat melihat senyum yang diberikan Daisy untuknya.


Gadis itu segera bangkit dari kursi taman sembari merenggangkan tubuhnya dan berbalik menatap Cona yang masih memandangnya bingung.


“Ayo kita jalan-jalan. Cuaca yang sangat indah untuk menghabiskan hari di alam. Apa kamu mau ke pantai? Sudah lama bukan kamu tidak ke pantai?”


Cona menganggukkan kepalanya menatap wajah antusias Daisy dan membiarkan gadis itu kembali menuntun kursi rodanya menuju pantai, tempat favoritnya.


Keduanya berada di pantai hingga senja datang dan Daisy kembali mengantar Cona pulang sambil bercerita tentang betapa indahnya sunset yang baru saja mereka saksikan.


Cona melirik Daisy yang antusias bercerita dan kembali teringat tangis gadis itu sebelumnya. Hingga Daisy akhirnya pulang dan punggung gadis itu menghilang di balik pintu rumahnya Cona tetap larut dalam perasaan was-was yang datang kepadanya.


“Apa benar dia baik-baik saja?” gumam Cona mulai mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk istirahat.


Cona menatap roti coklat yang sempat ditinggalkan Daisy untuknya dan mulai memakan roti itu sambil menonton tayangan televisi di depannya. Tiba-tiba pandangan matanya menjadi gelap dan jiwanya kembali terasa ditarik. Manik coklat Cona melebar saat menyadari ruangan tempatnya berada.


“Eh … ini di kamarnya Daisy kan? Bagaimana aku bisa disini?”


“Kamu diizinkan meninggalkan tubuhmu. Kami membiarkanmu melihat benang merah semua kejadian yang akan membawamu menuju dunia kami, Ivew Mirabeth.”


Cona tersentak saat dua kata berisi identitasnya yang lain itu terdengar. Rasa sakit sedikit menyerang kepalanya dan kalimat Etwar kembali berputar dalam benaknya.


Mengusap wajahnya kasar Cona menatap tubuhnya yang melayang tanpa bantuan kursi roda dan menatap kamar Daisy yang berada di depannya. Sibuk menatap sekitar kamar Daisy yang rapi dan sang sahabat yang tengah menulis di bukunya.


Manik coklat Cona melebar melihat asap hitam muncul di dalam kamar Daisy. Cona terdiam saat melihat sosok yang dikenalnya hadir di dalam kamar Daisy. Sosok hitam dengan mata bulan sabit dan seringai yang hadir di wajahnya. Sosok hitam yang kembali membangkitkan dendam di dalam hatinya.


“Halo … sang pencipta!”


...⪻⪼...


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨

__ADS_1


__ADS_2