
...⪻⪼...
“Hahaha ... lihat darahnya kembali mengalir! Kau terlalu bersemangat!”
Suara tawa kembali menggema di ruang remang itu. Beberapa sosok berjubah hitam berada di dalam ruangan di ujung lorong saling tertawa disertai dengan bau amis darah yang menguar ke ruangan lainnya. Suara teriakan kesakitan menjadi musik sehari-hari bagi mereka, semakin keras teriakan terdengar semakin besar tawa yang mereka keluarkan.
Manik emerald Ivew berkilat penuh kemarahan saat melihat sosok berjubah hitam itu berjalan di depan jeruji besi yang mengurungnya. Sosok berjubah hitam tertawa kecil saat melihat kemarahan dari wajah Ivew saat melihat jubah hitam mereka penuh noda darah.
“Apa tujuan mereka membawa orang-orang itu?” tanya Rayn Angena menarik perhatian Ivew ke arahnya.
Mata orchid pemuda itu menatap Ivew yang mendekat ke arah jeruji besi yang mengurung mereka. Mempersempit jarak di antara mereka agar lebih mudah berbicara. Manik emerald Ivew menatap penampilan pemuda di depannya yang meski kotor dan penuh debu serta sisa darah di pakaiannya tetap tampan dan penuh aura bangsawan.
Rayn yang menyadari Ivew diam dan terus menatapnya tersenyum lembut dan lebih dekat ke jeruji besi di depannya. Menatap manik emerald Ivew yang berkilau di tengah remangnya pencahayaan. Gadis itu tetap larut dalam pikirannya memandang Rayn dari jeruji di seberangnya.
“Kenapa? Aku tampan ya?” goda Rayn tersenyum lembut, sedangkan Ivew yang mendengar itu segera tersadar dan menggeleng dengan wajah sedikit merah.
Rayn hanya tertawa kecil dan tersenyum kecil melihat Ivew yang menyandarkan tubuhnya pada dinding bebatuan di belakang mereka. Samar-samar telinga mereka menangkap ringis kesakitan dari jeruji besi di ujung lorong. Ivew berusaha melihat kondisi di ujung lorong dari jeruji besinya.
“Kepalamu tidak akan bisa keluar dari sana! Tidak usah dipaksakan!”
Rayn berucap melihat Ivew yang berusaha mengintip walaupun pipi gadis itu sudah menekan jeruji besi. Gadis dengan mata emerald itu hanya mendengus kesal menatap Rayn Angena yang kembali tertawa kecil.
Mata orchid sang pemuda itu memandang ke arah lorong, ke arah jeruji besi yang berseberangan dengan posisinya. Aliran darah tampak keluar dari sela-sela jeruji besi menguarkan bau amis darah yang semakin pekat.
__ADS_1
Ivew kembali duduk dan menatap Rayn yang mengernyit saat melihat ke ujung lorong yang semakin remang. Gadis itu segera menutup hidungnya saat merasakan bau amis darah yang semakin pekat.
Ivew segera menatap telapak tangannya dan berusaha mengeluarkan kekuatan angin untuk membersihkan bau amis darah. Gadis itu kembali berdecak kesal saat melihat tak ada angin yang terbentuk di telapak tangannya.
“Ruangan ini kedap udara jadi tidak ada angin yang bisa mengusir bau darah ini.”
Ivew menatap Rayn yang terus memandang ke arah ujung lorong. Gadis dengan mata emerald itu kembali
menyandarkan punggungnya menatap langit-langit bebatuan yang gelap di atasnya. Ivew menghela nafas saat tidak bisa menggunakan satu pun kekuatan alamnya.
Gadis itu pernah mencoba untuk menggunakan api merah yang berada di ujung lorong, tetapi tidak pernah berhasil dan api itu seolah menolak dirinya, bahkan hampir menyerang dirinya. Ivew juga tidak lagi mendengar suara-suara lembut angin atau suara bersemangat dari api yang pernah di dapatkannya. Seolah kekuatan alam yang baru dimilikinya itu lenyap.
“Sudah berapa lama ya waktu berlalu di luar sana? Tiga minggu? Satu bulan?”
Rayn bergumam pelan sembari merebahkan tubuhnya pada bebatuan di bawahnya, manik mata orchid sang pemuda menatap remangnya cahaya api merah yang sedikit mengenai lorong-lorong di atasnya.
Rayn melakukan hal yang sama, manik keduanya melebar saat melihat salah satu sosok hitam yang berjalan paling depan dengan sulur berduri yang keluar dari jubahnya bagian belakang menusuk salah satu tubuh seorang pria dan berjalan dengan menarik tubuh itu menggunakan sulurnya.
Bau amis darah semakin pekat membuat Ivew menutup hidungnya saat merasakan gejolak di perutnya. Jeruji besi di samping Ivew terbuka dan sosok berjubah hitam itu memasukkan tubuh yang sudah tak bergerak tadi dengan melemparnya sembarangan dan kembali mengunci jeruji besi itu dengan sihir hitamnya.
Ivew yang terdiam saat mendengar benturan tubuh itu dengan dinding tersentak. Manik emerald gadis itu melebar dan menatap ke arah jeruji di depannya. Sosok berjubah itu berdiri di sana dengan sulur hitam penuh darah melambai-lambar di belakangnya.
“Apa yang kamu lakukan di sana?” tanya sosok berjubah hitam itu memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Ivew enggan menjawab dan tetap menampilkan raut wajah tenang saat menatap salah satu sulur berdarah itu bergerak masuk ke dalam jeruji besi yang mengurungnya. Sosok berjubah hitam lainnya muncul di belakangnya dan menatap Ivew dengan mata bulan sabitnya yang bersinar ungu gelap.
“Dia orangnya?”
Sosok berjubah dengan mata bulan sabit itu menatap sosok berjubah hitam yang mengeluarkan sulur berdarahnya. Ivew tetap fokus menatap ke sosok-sosok di depannya. Manik emerald gadis itu bertemu dengan manik orchid Rayn.
Pemuda itu menyuruh Ivew tetap diam dan tenang sembari bergerak ke arah sudut lainnya di dalam jeruji besinya. Sosok bermata bulan sabit itu tampak menyeringai dan Ivew segera bergerak ke arah lainnya saat sulur hitam penuh darah itu bergerak hendak menusuknya.
Gadis dengan mata emerald itu mengerang kesal saat dirinya terkurung di dalam dua sulur yang membentang menghalangi pergerakannya.
“Bagaimana rasanya tidak bisa mengendalikan kekuatanmu itu?”
Sosok dengan mata bulan sabit itu bertanya saat melihat Ivew yang kembali meringis kesakitan terkena duri pada salah satu sulur. Manik emerald gadis itu berkilat dengan kemarahan menatap dua sosok berjubah di depannya.
“Aku beritahu satu hal menarik. Hihi ... kamu penasaran bukan dengan orang-orang yang kami bawa selama ini?”
Sosok dengan mata bulan sabit itu bertanya dengan menggerakkan kuku panjangnya ke jeruji besi. Ivew tersentak dan menatap sosok bermata bulan sabit itu sambil menahan darah yang kembali mengalir dari bahu kirinya, sedangkan Rayn yang berada di jeruji besi di depan Ivew juga ikut terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan sosok di depannya. Mata orchid sang pemuda menatap punggung dua sosok berjubah yang membelakanginya.
“Hihi ... mereka akan dijadikan bahan untuk upacara persembahan,” ujar sosok bermata bulan sabit itu dengan mata yang semakin menyala.
“Persembahan? Persembahan apa?!”
Ivew bertanya sambil menahan amarah yang mulai keluar, sedangkan Rayn yang mendengar hal itu berdecak kesal dan kembali ke sudut ruangan yang gelap sembari mengeluarkan sesuatu dari kantung yang disembunyikannya.
__ADS_1
“Hihihi ... tentu saja persembahan untuk mengambil kehidupan saintess alam yang bodoh seperti dirimu!”
...⪻⪼...