Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
7 - Grein


__ADS_3

...⪻⪼...


Duke Flowerlax menatap Ivew yang diam dan mengalihkan pandangannya sementara Laveron melirik sang adik yang tetap diam saat kupu-kupu itu terus terbang di sekitarnya. Pemuda berambut perak itu hanya diam bersiul pelan memanggil kupu-kupu di sekitar Ivew mendekat ke arahnya. Gadis itu menghela nafas lega saat kupu-kupu pergi menuju tuannya, jemari tangannya bergerak meraih jubah militer Laveron diam-diam. Pemuda itu segera menyadari rasa tidak nyaman sang adik.


“Tuan Duke, Tuan Muda sepertinya saudari saya belum pulih sepenuhnya kami izin pamit terlebih dahulu,” ucap Laveron membalas genggaman tangan Ivew yang mulai berkeringat dingin.


Duke Flowerlax mengangguk dan mengizinkan Mirabeth bersaudara itu pergi sementara pemuda tadi hanya tersenyum dan mengangguk. Pintu kembali tertutup meninggalkan Duke bersama sang pemuda yang kini berwajah datar.


“Apa maksud ucapanmu tadi, Leister?” tanya Duke Flowerlax menatap pemuda di depannya. Mata ruby pemuda itu melirik kupu-kupu yang kembali hinggap di bahunya.


“Anda tau kalau Grein suka dengan alam kan, Tuan Duke? Hanya itu,” jawab pemuda yang di panggil Leister tadi santai. Sementara Duke Flowerlax hanya mendengus kesal, dirinya lebih dari paham maksud kalimat pemuda di depannya akan tetapi bukan itu penjelasan yang ingin ia dengar.


“Sudahlah ... apa tujuanmu datang ke sini?” tanya Duke Flowerlax duduk di meja kerja dan memijit kepalanya perlahan.


Pemuda di depannya hanya menggeleng dan segera pamit keluar ruangan meninggalkan pemimpin keluarga Flowerlax itu dengan ekspresi penuh kemarahan karena membuang waktunya. Pria itu menghembuskan nafasnya kesal dan melirik berkas berisi informasi tentang keluarga Mirabeth.


Manik mata merahnya menatap segelintir informasi tentang bungsu keluarga Mirabeth yang baru saja bertemu dengannya. Senyum miring terbit di wajah dinginnya, “Sepertinya gadis itu perlu di awasi.”


Ivew yang sedang berjalan berpegang pada lengan Laveron merasa merinding dan menoleh ke belakang memandang lorong kediaman Flowerlax. Laveron yang melihat sang adik juga ikut memandang lorong kosong di belakangnya. Jemari tangannya bergerak menyentuh kepala sang adik dan segera mengajaknya untuk keluar.

__ADS_1


Ivew bernafas lega saat sampai di halaman rumah keluarga Flowerlax, menghirup udara alam membuat tubuhnya kembali segar sedangkan Laveron yang berada di sampingnya melirik salah satu ksatria yang berada di gerbang dan meminta mengambil kembali kuda untuk mereka berdua.


“Apa maksud perkataan tuan muda tadi, Adik? Kalian pernah bertemu?”


Laveron berbisik sambil menunggu kuda mereka datang. Ivew yang sedari tadi menatap langit menoleh menatap manik navy sang abang.


Gadis itu menghela nafas dan mengangguk pelan. “Saat aku ke taman kemarin, Bang. Dan karena kupu-kupu itu juga.”


“Mereka bilang kupu-kupu itu adalah hewan pusaka keluarga Flowerlax yang diberi nama Grein dan mampu mendeteksi orang-orang yang memiliki kekuatan alam. Adik apa jangan-jangan kamu?” tanya Laveron melirik Ivew yang kini juga menatapnya.


Gadis dengan mata emerald itu hendak menjawab tetapi suara langkah kaki dari belakang mereka membuat dua saudara Mirabeth itu berbalik. Ivew kembali merutuki nasibnya yang tidak beruntung sedangkan Laveron di sampingnya menunduk dan menyapa sosok lain dari keluarga Flowerlax.


Rambut peraknya tergerai saat angin datang melewati mereka semua, suara sepatunya terdengar bergema dan mata delima gadis itu beralih menatap Ivew dan mengangguk menerima salam hormat dari Laveron. Menyadari tatapan dari mata delima di depannya Ivew juga ikut membungkuk memberi salam mengabaikan tangannya yang sedikit gemetar karena gugup.


Laveron mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu menguntai senyum dan berjalan mendekat ke arah Ivew yang terus mengalihkan pandangan. “Ivew, kan? Mau minum teh bersama?”


Ivew terdiam saat menatap senyum dari gadis di depannya. Manik mata emerald nya melirik Laveron yang mengangguk seolah berkata untuk tidak mengabaikan permintaan sosok di depannya. Gadis itu mengangguk dan menjawab dengan sopan bahwa dirinya bersedia.


Laveron yang hendak berbicara terhenti saat seorang kstaria memanggil namanya dan meminta pemuda bermata navy itu untuk menemui ketua prajurit militer yang menunggu di pos pasukan pelatihan militer. Laveron mengangguk dan melirik Ivew yang mengangguk memberi izin, pemuda itu segera menunduk sopan dan meminta izin untuk pergi pada gadis bermata delima yang berdiri di dekatnya.

__ADS_1


Laveron segera menaiki kudanya, melirik Ivew yang tersenyum menatapnya dan segera memacu kudanya menuju pos pelatihan militer. Ivew menatap kuda sang abang yang menjauh dan melirik gadis di sampingnya. Aura bangsawan terasa sangat kental meski gadis di sampingnya hanya memakai gaun berwarna biru muda.


Manik delima gadis itu menatap wajah Ivew dan segera meminta gadis bungsu Mirabeth itu untuk mengikutinya. Langkah kaki keduanya mengisi lorong yang menjadi penghubung menuju taman keluarga Flowerlax, manik emerald Ivew menatap lukisan yang terpampang di sepanjang lorong. Beberapa pelayan yang lewat mengangguk pada gadis di depannya.


“Jadi, Ivew Mirabeth? Aku boleh memanggil Ivew, kan?”


Suara gadis itu menyadarkan Ivew dari alam pikirannya yang sibuk menyusun rencana. Manik emerald Ivew menatap senyum yang hadir di wajah dengan mata delima di depannya. Wajah yang menawan tetapi sayangnya banyak air mata yang mengalir dari mata delimanya.


“Ya, Nona Muda,” jawab Ivew sedikit canggung sedangkan gadis itu kembali tertawa. Rambut peraknya bergerak mengikuti gerakan tubuhnya yang anggun saat duduk di salah satu kursi yang berada di gazebo Flowerlax. Ivew ikut duduk saat gadis di depannya memberi arahan untuk duduk.


Angin kembali membelai keduanya, rambut hitam Ivew juga ikut bergerak saat gadis itu menyadari angin berputar di sekitarnya. Gadis di depannya menguntai senyum dan memegang kedua tangan Ivew yang berada di atas meja. Gadis itu sedikit kaget dan menatap manik delima di depannya yang berkilat akan air mata.


Duh ... aku harus mengatakan sesuatu kan? Batin Ivew sembari  mengusap pelan kedua tangan yang menggenggam tangannya dan menguntai senyum.


“Saya ... tidak tau apa yang terjadi dengan anda, Nona Muda. Tapi jika Anda ingin menangis saya di sini dan siap menampung keluh kesah Anda. Berbagi perasaan akan membuat hati Anda sedikit lapang,” ucap Ivew tersenyum membuat gadis di depannya terdiam dan ikut menguntai senyum.


“Terima kasih atas kebaikan hatimu, Ivew tapi aku baik-baik saja. Aku hanya ingin membuktikan sesuatu,” ujar gadis bermata delima itu tersenyum dan melepaskan genggaman pada kedua tangan Ivew.


“Membuktikan sesuatu? Maksudnya, Nona Muda?” tanya Ivew mulai merasakan firasat buruk.

__ADS_1


Gadis bermata delima itu menyeringai dan menjawab pertanyaan Ivew dengan santai, “Kamu sudah bertemu dengan Grein kan? Ya ... aku hanya ingin bertemu denganmu karena Grein tertarik dengan aromamu dan juga aku menyadari hal lainnya yang terdengar menarik. Apa kamu mau tau, Ivew Mirabeth?”


...⪻⪼...


__ADS_2