
...⪻⪼...
Mereka mendekat ke arah sumber suara dan menemukan bercak merah di sepanjang perjalanan. Manik delima Lolita melebar saat menemukan sesuatu yang berkilau saat terkena cahaya matahari. Mereka melewati pohon terakhir di hutan hitam yang berada di belakang mereka dan disambut dengan benda panjang yang penuh dengan darah berada di atas tubuh kuda yang berlari panik sebelumnya.
Darah masih mengalir dari tubuh kuda yang tak lagi bergerak. Jarak dari mereka dengan posisi kuda adalah sekitar sepuluh meter dan di depan mereka yang jaraknya tiga puluh meter terbentang tembok pelindung kekaisaran. Tembok putih kokoh setinggi enam puluh meter itu menjulang tinggi.
“Itu pasti serangan monster, kan?” tanya Lolita yang dibalas anggukan oleh Leister. Manik ruby pemuda itu memandang pemandangan di depan mereka yang terlalu hening.
Manik navy Laveron menatap tembok pelindung di depan mata. Mereka masih berada di atas kuda masing-masing dan berjaga dari kemungkinan terburuk. Kucing Veister yang berada dalam pelukan Laveron mengeong menarik perhatian mereka semua. Laveron melirik Ivew yang menatapnya was-was.
“Apa kita harus ke atas tembok?” tanya Lolita dengan pandangan fokus pada kuda yang mati tak jauh dari mereka.
“Terlalu beresiko kita juga tidak mungkin meninggalkan kuda kita. Kita juga tidak membawa ahli sih-”
Suara Leister terputus dan semua orang yang sadar akan kelanjutan ucapannya melirik Ivew yang terdiam. Gadis itu menghela nafas dan menatap tembok di depannya, sangat tinggi dan juga mereka tidak tahu apa yang menanti saat mereka melewati mayat kuda yang masih mengalirkan darah itu. Ivew menggerakkan angin di tangannya hendak mengambil golok panjang yang masih tertanam di tubuh kuda malang itu.
“Ada yang aneh dengan kuda itu! Kamu harus menjauh!”
Suara angin kembali terdengar oleh Ivew. Gerakan tangan gadis itu terhenti saat merasakan sesuatu menarik anginnya. Pisau itu seolah tertanam di dalam tanah dan tak bisa dicabut. Bahkan, Ivew hampir jatuh dari kudanya jika saja Lolita tidak menahan tubuhnya. Gadis itu segera melepaskan kendali anginnya dan mulai berseru kepada yang lainnya untuk menjauh.
__ADS_1
Kucing Veister yang menyadari hal itu membuat perisai pelindung diam-diam di berjarak lima meter dari mereka. Tubuh kuda di depan mereka tiba-tiba bergerak membuat Lolita berseru panik, mereka segera menjauh ke kanan dengan kuda mereka.
Kuda yang mati itu tampak bergerak dan berlari ke arah mereka dengan golok panjang yang masih menancap di perutnya. Di tengah kepanikan itu kuda yang sedang berlari ke arah mereka itu tiba-tiba meledak menghamburkan seluruh bagian tubuhnya. Untunglah perisai yang dibuat Veister melindungi mereka dari darah yang hampir mengenai mereka.
Laveron dan Leister terdiam. Lolita melirik ke arah tempat kuda itu tergeletak sebelumnya dan menemukan sosok berjubah hitam yang menatap mereka. Gadis bermata delima itu hendak memberitahu kepada yang lainnya tetapi sosok itu segera menghilang digantikan oleh monster yang sama yang menyerang mereka di tengah rawa. Sedikit perbedaannya adalah ukuran monster itu yang lebih besar dari ukuran monster yang di dekat rawa.
Pasukan militer segera mengeluarkan senjata dan bom mereka. Laveron, Leister dan Lolita juga bersiaga dengan pedang mereka. Ivew mulai bersiap dengan anak panahnya dan mulai menembakkan salah satu anak panahnya ke bagian atas tubuh sang monster.
Kucing Veister yang sudah menghilangkan sihir tembus pandangnya terdiam menatap objek aneh pada tembok pelindung. Manik mata dua warna kucing itu melihat sedikit retakan pada tembok pelindung yang seharusnya sudah dilapisi sihir pelindung tingkat tinggi.
Kucing hitam itu mengeong menarik perhatian Laveron pada tembok di depannya. Manik navy pemuda itu menangkap hal yang dilihat oleh kucing Veister dan segera berbisik kepada Leister yang berada di sampingnya. Pemuda bermata ruby itu melihat ke arah yang dimaksud Laveron dan terdiam. Suara decit dari monster di depannya menarik kembali perhatian dua pemuda itu.
Monster di depan mereka tampak tenang saat anak panah. Ivew mengenai tubuhnya. Monster itu membuka mulutnya dan mengeluarkan cairan hijau yang sama seperti monster sebelumnya.
Ivew kembali mendengar suara angin dan segera mengendalikan angin dengan kedua tangannya. Angin berwarna biru muda di telapak tangannya bergerak membentuk kubah angin dan melindungi mereka dari cairan hijau yang datang. Tanah di sekitar mereka mengeluarkan asap.
“Aku akan membantu memperkuat perisainya.”
Suara Veister terdengar di kepala Ivew yang masih sibuk mempertahankan perisai anginnya. Gadis bermata emerald itu mengangguk dan kembali fokus pada gerakan angin di tangannya.
__ADS_1
Monster di depan mereka berdecit dan kembali mengeluarkan cairan hijau yang terus menghantam perisai angin Ivew. Gadis itu menahan rasa kebas pada tangannya saat terus mempertahankan perisai angin. Bau busuk dari cairan itu cukup memecah fokus Ivew yang berusaha memperkuat kepadatan perisai anginnya. Perisai perak Veister tampak melapisi perisai angin Ivew dan segera menyatu. Kucing hitam itu sedikit bersuara saat melihat perisainya meleleh karena cairan sang monster.
Laveron memeluk kucing Veister erat dan bertanya pelan tentang keadaannya. Kucing hitam itu mengeong sebagai jawaban dan manik navy Laveron kembali fokus pada Ivew yang sibuk mempertahankan perisainya. Lolita yang berada di belakangnya terdiam menatap punggung Ivew yang tampak gemetar.
“Kita harus cari cara lain!” teriak Lolita saat Ivew mulai meringis dan berkeringat dingin.
“Maaf ... tapi aku tidak bisa menahan perisai ini lebih lama. Pengendalian anginku masih lemah.”
Ivew berucap pelan tetapi dapat di dengar oleh semua rombongan. Salah satu ksatria flowerlax yang ikut menyarankan mereka untuk berpencar agar memudahkan mereka untuk mengalahkan monster. Laveron melirik suasana sekitarnya dan mulai menyusun rencana bersama Leister.
Mereka memutuskan untuk membagi tiga tim. Tim pertama terdiri dari Laveron dan rekan prajurit militernya, tim kedua terdiri dari Leister dan ksatria flowerlax yang ikut dan tim ketiga terdiri dari Ivew, Lolita dan kucing Veister yang akan mereka tinggalkan bersama para gadis.
Kedua gadis itu berada di atas pohon dan menatap pertarungan dari atas langit, dengan Ivew yang akan menggunakan perisai anginnya jika terjadi sesuatu di luar rencana. Gadis bermata emerald itu mengangguk dan menyanggupi penggunaan kembali perisai anginnya.
“Aku akan membantu. Tenang saja!”
Suara Veister terdengar di kepala Ivew dan gadis itu mengangguk. Manik emerald-nya bertemu pandang dengan manik navy Laveron. Pemuda itu tersenyum dan bersiap untuk berlari keluar dari perisai angin. Kedua tim sudah mulai berjalan menuju arah masing-masing, tim Laveron arah kiri dan tim Leister ke kanan. Ivew menarik nafas dan berusaha memfokuskan kekuatannya. Melonggarkan angin pada kubah perisai di bagian kanan dan kiri agar memudahkan kedua tim itu keluar.
“Sekarang! Cepatlah!”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar .... ✨