
...⪻⪼...
“Ivew! Bagaimana kabarmu? Senang bisa melihatmu lagi!”
Ivew tersenyum dan membalas pelukan Lolita saat dirinya baru sampai di mansion Flowerlax bersama Laveron. Leister yang berdiri di belakang gadis bermata delima itu hanya tersenyum. Ivew menatap kagum ke arah Lolita yang terasa berbeda hanya dalam waktu satu bulan. Dari penampilan gadis itu tak banyak berbeda selain tubuhnya yang sedikit lebih tinggi.
Namun, dari aura dan pembawaan tubuhnya terasa lebih anggun dan penuh kharisma. Wajahnya pun lebih cerah dan penuh semangat. Laveron yang berdiri di belakang Ivew membungkuk hormat pada keduanya dan segera pamit menuju rekan prajurit militer yang telah menunggunya.
Pemuda bermata navy itu tersenyum menatap Ivew dan segera pamit untuk berangkat menuju kekaisaran. Gadis bermata emerald itu mengangguk dan mengantar kepergian Laveron beserta rombongannya dengan senyum di wajah. Kucing Veister yang berdiri di sampingnya hanya diam dan melirik wajah Ivew.
Saat Laveron sudah hilang dari pandangan mereka Lolita segera mengajak Ivew untuk minum teh di taman keluarga Flowerlax. Beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka membungkuk hormat dan Lolita menyapa mereka dengan riang dan tersenyum lebar.
Leister menatap keduanya dari kejauhan dan menguntai senyum. Pemuda bermata ruby itu kembali menuju kamarnya dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk mereka berangkat esok hari tak menyadari kucing Veister yang mengikuti langkahnya.
Lolita memegang jemari Ivew erat sambil sesekali gadis bermata delima itu menjelaskan perubahan yang terjadi pada taman mansion selama satu bulan mereka tidak bertemu. Lolita duduk di bangku kecil di depan Ivew. Dihadapan mereka terletak beberapa kue kering dan juga teh hangat.
Gadis bermata delima itu tersenyum saat para pelayan kembali datang membawa beberapa makanan. Ivew hanya mengangguk sopan pada pelayan yang tersenyum padanya atau beberapa pelayan yang menatapnya sinis dari kejauhan.
“Kamu akan berangkat besok, kan?” tanya Lolita sembari mengangkat cangkir tehnya.
Ivew mengangguk dan menunggu pertanyaan selanjutnya. Lolita melirik Ivew yang menampilkan wajah sedikit gugup hingga teh di depannya hanya ditatap datar.
“Apa Anda baik-baik saja, Nona Muda? Dengan keputusan tuan duke ini? Anda tidak marah?” tanya Ivew menatap Lolita yang meletakkan cangkir tehnya.
__ADS_1
Gadis bermata delima itu mengangguk dan menguntai senyum kepada Ivew yang gugup dan canggung dengan suasana. Jemari tangannya sedikit gemetar diikuti telapak tangannya yang sudah berkeringat. Namun, saat senyum hadir di wajah Lolita gadis itu menghela nafas dan mulai menenangkan dirinya.
“Tenang saja, Ivew. Mungkin ... aku benar-benar akan merelakan posisi penerus kepada Leister. Yah dia lebih pantas dariku dalam segala hal,” ujar Lolita dengan tawa kecil dan mengambil sepotong kue kering.
Ceritanya berubah lagi. Batin Ivew menatap Lolita yang tersenyum ke arahnya.
“Anda ... terlihat berbeda, Nona Muda. Dalam artian yang baik tentunya, sangat baik malah dan saya sangat senang dengan hal itu.”
Ivew tersenyum dan mulai mengganti topik obrolan.
Lolita tertawa kecil dan tersenyum lebar. Gadis bermata delima itu mulai menceritakan semua hal yang terjadi satu bulan sebelumnya, perasaan tenang yang hadir di dalam jiwanya dan Ivew tidak bisa untuk berhenti tersenyum setelah mendengar cerita Lolita.
Lolita Flowerlax pasti akan selamat dari takdir buruknya, Batin Ivew tersenyum lebih lebar.
Leister yang saat ini sedang sibuk di kamarnya dengan memegang beberapa berkas yang akan menjadi informasi untuk pertemuan di kekaisaran nanti. Manik mata ruby pemuda itu melebar saat menemukan kucing Veister yang duduk di atas kasurnya. Kucing bermata dua warna itu hanya memandangnya tenang membuat pemuda itu tak nyaman dan akhirnya menatap kucing Veister sepenuhnya.
Kucing Veister terdiam dan kemudian berubah menjadi bentuk manusia dengan jubah hitam perak dan rambut putih sebahu yang berkilau saat terkena cahaya. Leister terdiam dan berdiri dari kursinya menatap pemuda di depannya dengan kaget.
“A-anda penyihir suci? Tuan Veister?”
Leister bertanya dengan gugup menatap Veister yang tersenyum dan mengangguk. Pemuda bermata ruby itu segera mendekat ke arah Veister yang kini berdiri di samping tempat tidurnya dan menunduk sopan.
“Sudahlah! Tidak perlu formal begitu. Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal.”
__ADS_1
Veister berucap dan menatap malas salam sopan yang diberikan Leister. Pemuda bermata ruby itu mengangkat kepalanya dan menatap manik dua warna Veister yang sedikit bercahaya. Leister segera mengajak Veister untuk duduk di atas sofa yang ada di depan tempat tidurnya. Jubah hitam-perak pemuda itu bergerak mengikuti langkahnya.
“Hanya soal perjalanan besok. Rahasiakan dari Ivew jika kamu sudah mengetahui identitasku dan juga pastikan keamanan perjalanan besok. Jangan sampai sosok peniru itu kembali,” ucap Veister serius menatap Leister yang duduk di depannya.
Pemuda bermata ruby itu mengangguk dan tersentak saat Grein tiba-tiba hadir di antara mereka. Kupu-kupu merah dengan corak perak itu terbang dan hinggap di atas rambut putih Veister. Pemuda bermata dua warna itu hanya melirik sekilas dan kembali menatap Leister.
“Apa Lolita Flowerlax baik-baik saja?” tanya Veister dan senyum hadir di wajah Leister.
“Ya, Tuan Veister. Sejak hari itu dia sudah membuka semuanya, rasa sakit, rasa kesal yang menyerang hatinya dan juga ambisi akan kekuasaan yang tak sebesar sebelumnya. Anda bisa melihat dari ekspresinya tadi kan? Saya ... selalu berterimakasih atas peringatan Anda hari itu, karena jika tidak Lolita pasti sudah tenggelam dalam ambisinya.”
Leister tersenyum dan menatap Veister di depannya. Pemuda itu kembali menunduk hormat sebagai bentuk rasa terima kasihnya.
“Ya ... mansion ini juga jadi lebih hidup sejak anak itu lepas dari ambisinya. Benar-benar menyegarkan.”
Suara berat Grein terdengar menggema di antara mereka. Leister kembali mengangguk dan menatap sekeliling ruangannya yang terasa berbeda. Masih lekat dalam ingatannya hari itu saat Lolita menyerahkan beberapa bunga mawar putih untuk menjadi penghias dalam kamarnya.
Senyum yang hadir di wajah gadis bermata delima itu benar-benar membuatnya bahagia. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa sepupunya itu akan kembali tersenyum lebar, senyum yang benar-benar tulus dari hatinya. Meski perubahan Lolita itu hanya ditatap miring oleh Duke Ekan Flowerlax tetapi gadis itu tak lagi peduli.
Tidak ada lagi mata delima yang memandang pria itu dengan ambisi atau pun rasa benci. Lolita seolah lahir
dengan sosok baru, dengan jiwa baru dan perasaan yang baru. Bahkan, para pelayan di mansion mereka juga merasakan perubahan nona muda mereka dan terus berharap akan kebahagian nona muda mereka.
“Sekarang apa rencanamu, Leister Flowerlax? Apa kamu akan mengambil posisi penerus Flowelax atau menyerahkannya kepada Lolita?”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar. Satu komentar kalian akan memberi semangat untuk author melanjutkan cerita ini ....✨