
Halo ...White Blossom kembali 🌺
Sambil nunggu aku update bab selanjutnya, aku kembali merekomendasikan cerita yang bagus nih! Jangan lupa mampir ya!
...Happy reading 🌺...
...⪻⪼...
Ivew tersentak saat mendengar perkataan salah satu penjaga suku laut. Gadis itu beralih menatap Veister dan mencengkeram tangan penyihir suci itu erat.
“Kita harus kembali! Veister, kita harus kembali!”
Pikiran Ivew mulai kalut dengan keadaan Laveron di daratan. Kacau. Ternyata ini maksud dari perasaan gelisah yang terus dirasakannya. Mencengkeram erat lengan Laveron, Ivew berusaha menenangkan dirinya.
Manik dua warna Veister beralih menatap Ramound yang terdiam. Tuan Muda Angena itu mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Veister.
"Aku akan menyampaikan kepada madam Rair. Kalian bersiaplah!"
Keduanya mengangguk dan Ramound segera menuntun Ivew menuju kamarnya. Gadis dengan mata emerald itu hanya diam dan seketika teringat dengan Windy yang sempat diutusnya untuk memeriksa daratan.
Mengepalkan tangannya gadis itu mulai menyusun rencana di dalam kepalanya. Manik emerald Ivew memandang ke arah balkon dimana para pasukan penjaga suku laut mulai menambah lapisan dinding laut yang melindungi mereka.
Kepanikan jelas hadir di wajah mereka. Ivew menatap ke arah pintu keluar suku laut yang juga ditambah lapisan airnya. Itu artinya suku laut tidak akan ikut campur dengan urusan daratan.
Mereka lebih memilih mengamankan wilayah mereka dibandingkan terjun langsung dalam perang di daratan.
Apakah Madam Rair akan mengizinkan mereka meninggalkan wilayah ini? Pertanyaan yang sama yang terpatri di dalam benak Ivew sambil menunggu Veister kembali.
"Tenang, Ivew. Aku yakin Laveron akan baik-baik saja. Dia prajurit militer dan kekuatannya sangat besar."
Ivew melirik Ramound yang berusaha menghiburnya. Senyum hadir di wajah Ivew membuat Ramound yang berada di sampingnya terdiam.
"Anda juga harus tenang, Tuan Muda. Duchess Angena dan juga tuan muda Rayn pasti bisa menangani ini. Saya juga sudah mengutus Windy untuk memeriksa wilayah daratan dan mari kita berharap semoga tidak banyak kehancuran yang terjadi di wilayah daratan."
Ivew menepuk pelan bahu Ramound yang kaget dengan tindakannya.
"Terima kasih sudah mengantar saya, Tuan Muda. Saya bisa ke kamar saya sendiri."
__ADS_1
Ivew sedikit membungkuk sopan dan berjalan meninggalkan Ramound yang tersenyum tipis menatap punggung Ivew yang semakin menjauh. Pemuda itu segera berjalan menuju kamarnya dengan ekspresi tegang di wajahnya.
Semua terjadi saat aku tidak berada di dekat mereka. Aku harap kalian baik-baik saja. Batin Ramound berjalan secepat mungkin menuju kamarnya.
...***...
"Tidak! Kalian tidak bisa keluar dari wilayah kami!"
Ivew tersentak mendengar pernyataan tegas Madam Rair. Wanita tua itu menatap mereka dengan tajam dan memotong kalimat Veister yang mengatakan bahwa mereka akan kembali ke daratan.
"Maaf, Madam. Saya juga harus mengetahui situasi di daratan."
Ramound maju sebagai perwakilan dan berusaha membujuk pemimpin suku laut itu. Kerutan kesal tampak hadir di wajahnya, tetapi sebagai seorang bangsawan pemuda itu berusaha bersikap sopan.
"Tidak! Saya tidak bisa mengizinkan kalian kembali! Jika kalian keluar itu akan membahayakan kelangsungan hidup kami!"
Sekali lagi Rair menolak dengan tegas dan bahkan meminta mereka untuk keluar. Beberapa penjaga suku laut yang berada di dalam ruangan itu mulai menyuruh mereka untuk keluar, sebelum pemimpin suku laut mengamuk.
Ivew berusaha menahan rasa kesalnya atas penolakan Rair. Saat situasi di daratan tidak diketahui gadis itu tidak bisa berdiam diri tanpa tahu situasi dunia luar.
Dia mirip dengan Etwar. Pemikiran mereka sama-sama kolot. Batin Ivew menatap Rair yang tetap menggeleng dengan bujukan yang disampaikan Veister.
Gadis itu melangkah maju dan menatap Rair yang mulai kesal dengan kehadiran mereka.
"Madam Rair, saya tahu Anda tidak ingin wilayah Anda terancam. Akan tetapi, kami dari daratan Madam. Tujuan kami datang kesini adalah untuk mendapatkan pengendalian roh air. Jika terjadi sesuatu dengan daratan kami tidak bisa tinggal diam-"
"Maaf Saintess. Apa pun kalimat Anda jawaban saya tetap tidak. Silakan bawa mereka keluar prajurit."
Rair memotong kalimat Ivew membuat gadis itu terdiam. Veister melirik penjaga suku laut yang hendak membawanya keluar.
Ramound menepis tangan penjaga suku laut yang hendak menariknya dan mulai berjalan menuju pintu keluar diikuti Veister.
Saat salah satu penjaga hendak menarik Ivew, tiba-tiba angin dingin dan ledakan kecil yang menghasilkan cahaya berwarna biru muda hadir di sekitar mereka.
"Ivew!"
Ramound dan Veister berbalik menatap ke arah Ivew. Manik mata kedua pemuda itu melebar menatap cahaya biru muda bercampur putih yang berkibar di sekitar tubuh Ivew.
"Es?" gumam pelan Ramound menatap cahaya yang tadi hadir berubah menjadi es-es kecil nan tajam dan berada di sekitar tubuh mereka.
__ADS_1
"Madam. Saya adalah saintess alam. Saya hadir untuk melindungi mereka dari sihir hitam yang sudah berada di dunia ini sejak dahulu. Bagaimana mungkin Anda bisa menahan saya seperti ini?"
Suara Ivew terdengar dingin dengan mata emerald yang menyala membuat Rair yang sedang duduk di atas kursinya itu tersentak.
Para penjaga suku laut yang lain hanya diam dan menunggu perintah dari pemimpin mereka. Pintu keluar ruangan itu dibekukan oleh Ivew menggunakan esnya.
"Saya tidak bisa meninggalkan wilayah daratan begitu saja, Madam. Anda tidak bisa egois hanya karena ingin wilayah Anda aman. Sebagai pemimpin Anda tentu paham maksud saya, Madam. Jadi selagi saya masih berbicara dan memohon dengan baik. Izinkan kami kembali ke daratan!"
Suasana ruangan itu terasa semakin dingin saat es-es kecil nan tajam itu semakin banyak dan mulai menbentuk bunga-bunga es dengan ujung tajam.
Veister terdiam menatap punggung Ivew yang berdiri di depannya. Ujung-ujung rambut hitam legam gadis itu berubah warna menjadi putih, sedangkan Ramound menatap takjub es-es tajam yang hadir di sekitarnya.
Jika kami bergerak sedikit saja bunga es ini bisa membunuh kami. Pengendalian yang hebat. Batin Ramound menatap ke arah Rair yang terdiam.
"Aku sudah memperkuat pertahanan dinding air ini. Biarkan mereka pergi, Rair."
Mereka semua kecuali Ivew tersentak saat mendengar suara tegas roh air di dalam ruangan. Rair bangkit dari kursinya dan menatap Ivew dengan pandangan cukup tajam.
Menggenggam ujung kursinya pemimpin suku laut itu akhirnya mengizinkan mereka untuk pergi. Ivew mengangguk dan segera menghilangkan bunga-bunga es dan juga mencairkan kembali pintu yang sempat dibekukannya.
Para penjaga suku laut yang tadinya kesulitan bernafas kini mulai menghela nafas lega. Manik mata mereka tertuju pada Ivew yang menghela nafasnya.
Veister mendekat ke arah Ivew dan menepuk pelan pundak sang gadis. Mata emerald itu kembali seperti biasa dan ujung rambut Ivew juga kembali berwarna hitam.
"Apa kamu sudah tenang?" tanya Veister.
Ivew tersenyum kecil dan melirik sekeliling ruangan. "Sejak awal aku tidak marah kok."
Rair yang melihat itu menundukkan sedikit kepalanya menarik perhatian semua orang.
"Maaf, Saintess. Saya mengakui kesalahan dan keegoisan saya. Kami akan membuka gerbang air kembali untuk Anda lewati."
Ivew menganggukkan kepalanya dan juga ikut meminta maaf atas tindakannya sebelumnya. Ketiganya segera pergi dan diantar oleh Ajata dengan kapal yang sama seperti sebelumnya.
Rair menatap Ivew yang menjauh bersama Veister dan Ramound. Manik biru tua wanita itu menyipit tajam dan mengelus dadanya pelan.
Aku pikir aku akan mati tadi. Benar-benar kekuatan yang mengerikan. Saya harap kejayaan selalu bersama Anda Saintess. Batin Rair kembali melanjutkan perintahnya kepada para penjaga suku laut.
...⪻⪼...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ...