
...⪻⪼...
Istana Kekaisaran Attle
Ivew tersenyum dan membalas pelukan Laveron yang menunggunya di halaman Istana Kekaisaran. Pemuda bermata navy itu mengelus pelan puncak kepala sang adik yang berada di dalam pelukannya.
Seragam hitam khas prajurit militer miliknya membuat Ivew merasa hangat. Manik emerald gadis itu menatap dua bilah pedang yang tersarung rapi di pinggang Laveron.
“Semua baik-baik saja, kan? Tidak ada yang terjadi selama satu bulan ini kan, Ivew?” tanya Laveron melepaskan pelukannya kepada Ivew dan menatap manik emerald sang adik.
Ivew menggeleng perlahan dan menjelaskan semua hal yang dilakukannya, sesi latihan panahnya atau dirinya yang mencoba berlatih pedang. Laveron menguntai senyum di wajahnya dan segera menyapa Leister dengan hormat saat pemuda bermata ruby itu berdiri di belakang Ivew.
Ivew menyapu pandangannya pada sekitar saat menatap keramaian dari pasukan prajurit militer yang sibuk menyusun berbagai barang yang akan mereka bawa termasuk beberapa senjata seperti pedang, bom, dan juga pistol panjang. Kucing Veister menatap segalanya dalam diam, Ivew yang merasakan kehadiran sang kucing sedikit tersentak saat kedua matanya bertemu.
Gadis itu sedikit menjaga jarak saat kembali mengingat aura yang dikeluarkan Veister kemarin. Pemuda dengan mata dua warna itu kembali normal beberapa saat kemudian tetapi Ivew butuh waktu untuk menstabilkan tubuhnya dan menghilangkan rasa curiganya.
Untuk saat ini lebih baik aku menghindar dulu! Dia seperti bukan Veister. Batin Ivew bergeser pelan-pelan.
Laveron yang melihat Ivew menjaga jarak dengan kucing Veister hendak bertanya. Namun, kedatangan Raceta ke arah mereka membuat pemuda dengan mata navy itu menoleh menghadap ajudan kepercayaan sang Kaisar.
“Selamat pagi ... apa kalian sudah menyelesaikan semua persiapan? Kaisar ingin bertemu dengan kalian,” ucap Raceta tersenyum di depan ketiganya. Laveron melirik Leister yang mengangguk.
“Ya kami sudah menyelesaikannya, Tuan Raceta,”
Laveron menjawab mewakili Leister, sedangkan Ivew memandang Raceta yang tersenyum sembari mengangguk. Pemuda dengan mata emas itu segera mengajak mereka menuju ruang sang kaisar.
Lorong istana pagi itu cukup sepi dan hanya dilalui beberapa pelayan yang sibuk membersihkan sudut-sudut istana. Raceta berjalan dengan langkah tenang sembari tangannya membawa beberapa dokumen.
__ADS_1
“Saya harap ... semua berjalan lancar dan kalian kembali dengan selamat,” ucap Raceta menatap mereka saat ksatria mengetuk pintu ruang sang Kaisar dan membukakan pintu untuk mereka.
Leister dan Laveron tersenyum serta menganggukkan kepalanya. Ivew hanya terdiam mendengar akhir kalimat yang di sampaikan Raceta. Kembali dengan selamat? Tentu saja mereka akan kembali dengan selamat. Harus! Apa ini salam yang biasa diucapkan untuk mereka yang pergi berperang?
Ivew merasa gugup saat Raceta tersenyum menatapnya dan segera menutup pintu ruangan. Gadis bermata emerald itu terdiam dan kembali mengikuti langkah Laveron serta Leister yang telah lebih dulu berdiri di hadapan kaisar.
“Salam kepada bintang kekaisaran.”
Ketiganya membungkuk dan memberi salam hormat kepada Kaisar Aradi yang duduk di meja kerjanya. Rambut pirang sang kaisar tampak berkilau terkena mentari dari jendela, Manik emerald Ivew menelisik meja kerja yang penuh dengan tumpukan dokumen dan pena bulu yang diletakkan sang kaisar di dalam tinta.
“Apa semua persiapan sudah selesai?”
Kaisar Aradi tersenyum menatap ketiga orang di depannya.
“Sudah, Yang Mulia. Sebentar lagi kami akan berangkat menuju Kota Rizery,” jawab Laveron mewakili ketiganya.
Kaisar Aradi tersenyum dan melirik halaman istana dari jendela ruang kerjanya. Manik perak sang kaisar menatap keramaian yang terjadi dengan mata yang berbinar. Ivew terdiam saat melihat senyum hangat hadir di wajah kaisar dan melirik Laveron serta Leister yang tetap diam menunggu.
Ketiganya mengangguk saat mendengar ucapan sang kaisar.
“Kalian berdua boleh keluar kecuali, Lady Mirabeth.”
Laveron dan Leister saling lirik dan menatap Ivew yang mengangguk perlahan. Kedua pemuda itu segera memberi salam hormat dan berjalan keluar ruangan. Suara pintu yang tertutup membuat Ivew sedikit menahan nafas saat Kaisar Aradi menatapnya.
“Bolehkah ... bolehkah aku memelukmu, Lady Mirabeth?”
Kaisar Aradi bertanya dengan senyum sendu hadir di wajahnya. Berbanding terbalik dengan wajah biasanya sang kaisar yang dingin dan angkuh. Manik emerald Ivew melebar saat merasakan tatapan hangat dari manik perak kaisar yang menembus hatinya, seperti melihat tatapan seorang ayah kepada putrinya.
__ADS_1
Ivew perlahan mengangguk dan membiarkan Kaisar mendekat dan memeluknya. Gadis itu terdiam saat merasakan rangkulan gemetar Kaisar Aradi yang memeluknya, jemari Ivew bergerak membalas pelukan sang kaisar, menepuk punggungnya pelan berusaha menenangkan orang paling berkuasa di kekaisaran Attle.
Kaisar Aradi tertawa lepas dan melepaskan pelukannya pada tubuh kecil Ivew. Gadis bermata emerald itu menatap kaisar yang menyeka air mata yang mengalir di wajahnya.
“Wajahmu sangat mirip dengan wajah sang ratu membuatku sedikit merindukannya,” ucap Kaisar Aradi menjawab pertanyaan yang singgah di dalam kepala Ivew.
Demi rambut berubannya Veister! Kenapa bisa wajahku mirip dengan wajah ratu negeri ini! Bahkan, Abang atau Tuan Muda dan Nona Muda tidak pernah membahas ini! Batin Ivew berusaha menampilkan senyum di wajahnya meski berakhir dengan senyum canggung yang ditampilkan sang gadis.
Kaisar Aradi tertawa saat menangkap raut wajah gugup dari gadis bermata emerald di depannya. Manik perak sang
kaisar nampak memandang jauh foto yang berada di atas meja kerjanya. Foto sang ratu yang dibingaki dalam figura kecil, foto yang masih disimpannya hingga saat ini dan selalu dibawa kemanapun dirinya pergi.
Jika warna mata dan rambutnya sama mereka pasti seperti saudara kembar. Aku merindukanmu ratuku. Batin sang Kaisar menatap Ivew yang tampak berpikir keras dengan dahi yang berkerut.
“Maaf karena memintamu untuk ikut ekspedisi ini, Lady Mirabeth. Tapi sebelum kita bertemu aku ... mendapat mimpi. Sebagai seorang kaisar aku tentu tidak mudah percaya dengan mimpi tak berdasar, akan tetapi mimpi itu terus berulang hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Sebuah tempat yang penuh dengan ladang bunga, angin yang terasa sejuk membelai kulit dan suara senandung yang menenangkan. Suara lembut itu menyuruhku untuk mengikutsertakan Lady Mirabeth dalam ekpedisi yang sedang aku rencanakan.”
Kaisar Aradi menatap Ivew dengan senyum di wajahnya dan kembali duduk menuju meja kerjanya.
Senandung? Ladang bunga? Apa itu kak Iletta? Batin Ivew menatap sang kaisar.
“Jadi kembalilah dengan selamat, Lady Mirabeth. Aku tidak tau apa alasan mimpi itu menyuruhmu untuk ikut, tapi kemunculanmu dengan kekuatan alam setelah sekian tahun berlalu pasti memiliki arti.”
Kaisar Aradi terdiam dan menguntai senyum di wajahnya saat melihat wajah Ivew yang mendengarkan setiap perkataannya dengan tenang.
“Aku tau kamu pasti kembali dengan selamat dan bawalah harapan kemenangan untuk negeri ini!”
Kaisar kembali tersenyum dan menyambung kalimatnya dengan wajah serius, “Dan berhati-hatilah dengan sang peniru!”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya ...✨