Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
24 - Rasa Kasih Sayang


__ADS_3

...⪻⪼...


Laveron terdiam mendengar jawaban kucing Veister dan melirik Ivew yang berada di sampingnya. Manik navy-nya menatap luka lecet pada pipi dan tangan Ivew, serta rambut hitam legam-Nya yang sedikit kusut karena jatuh bebas dari ketinggian. Laveron menghela nafas dan segera mempercepat laju kudanya. Mereka sampai di mansion flowerlax pada malam harinya dan segera turun dari kuda masing-masing.


“Kenapa kalian sudah kembali? Bukankah masih ada dua hari lagi?”


Laveron yang sedang berdiskusi dengan Leister menoleh dan menatap Duke Flowerlax yang berdiri di atas tangga menuju halaman depan dan berjalan menuju mereka. Beberapa ksatria flowerlax segera menunduk sopan dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Laveron melirik Leister yang menggendong Lolita di punggungnya. Wajah pemuda bermata ruby itu tampak tenang tetapi ada kemarahan yang tampak dari matanya.


“Salam hormat, Tuan Duke! Kami kembali karena kondisi Nona Muda yang kurang baik,” ucap Laveron menunduk dengan sopan.


Mata merah darah Duke Ekan Flowerlax melirik Lolita yang masih tak sadarkan diri di gendongan Leister. Pria itu hanya menatap datar dan beralih menatap Ivew yang ikut menunduk hormat menyapa sang penguasa flowerlax di samping Laveron. Kucing Veister hanya duduk menatap duke di depannya.


Leister yang melihat sikap duke yang acuh hanya mengepalkan tangannya dan segera masuk ke dalam rumah membawa Lolita yang membuka sedikit


matanya dan melirik sang ayah dengan manik delimanya. Gadis bermata delima itu mengeratkan rangkulan tangannya pada leher Leister yang terus berjalan.


“Tidak apa-apa. Aku akan selalu bersamamu. Aku janji!”


Lolita kembali menutup matanya saat mendengar suara Leister. Merasa hangat dalam gendongan sang sepupu yang berjanji akan selalu bersamanya. Di belakang mereka Ivew dan Laveron terdiam saat melihat keduanya memasuki mansion. Ivew sedikit bergeser ke arah Laveron yang berdiri di sampingnya saat merasakan tatapan Duke Ekan tertuju padanya.


“Ya biarkan saja mereka ... setidaknya ekspedisi kalian berjalan lancar kan, Ivew?”


Ivew mengangguk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Rekan prajurit militer di belakang Laveron dan Ivew saling melirik dan tetap dengan tenang menunggu perintah selanjutnya dari duke. Penguasa flowerlax itu segera meminta Laveron serta Ivew untuk melaporkan segala hal yang terjadi ke ruang kerjanya, sedangkan anggota prajurit militer yang lain diizinkan kembali ke rumah masing-masing dan bersiap dengan perintah selanjutnya.

__ADS_1


Mereka mengangguk dan beranjak pergi dengan suara tapak kuda yang semakin menjauh. Manik emerald Ivew melirik lorong mansion flowerlax yang tampak tenang. Laveron yang berjalan di sampingnya tetap tenang mengikuti langkah duke di depan mereka.


Di persimpangan lorong ketiganya berpapasan dengan Leister yang baru keluar dari kamarnya hendak menuju kamar Lolita. Mata merah darah duke itu hanya melirik sekilas pemuda di depannya dan kembali berjalan menuju ruang kerjanya. Laveron dan Ivew kembali menunduk sopan dan mengikuti langkah duke.


“Temui aku nanti di kamar Lolita. Grein akan menuntun mu!”


Ivew menoleh melirik Leister saat pemuda itu melewatinya berjalan menuju kamar Lolita. Laveron menyenggol pelan bahu Ivew yang sempat berhenti berjalan dan mempercepat gadis itu untuk mengikuti duke yang hampir sampai di depan ruang kerjanya. Kucing Veister tetap mengikuti mereka dengan tenang menggunakan sihir tembus pandangnya. Kedua saudara Mirabeth itu kembali berdiri di depan meja kerja sang duke.


Laveron mulai melaporkan segala hal yang terjadi. Monster yang baru mereka lihat, serangan tiba-tiba yang mereka dapatkan serta keadaan tembok pelindung yang masih baik-baik saja. Duke Ekan Flowerlax menerima laporan itu dengan baik dan meminta penjelasan dari sisinya.


Ivew mengangguk dan mulai menjelaskan semua yang dilihatnya. Monster yang mengejarnya, kondisi tembok pelindung yang dilihatnya dari atas pohon hitam serta sosok hitam yang menyerangnya Lolita.


“Sosok hitam? Di atas tembok pelindung?”


“Aku rasa kaisar harus mendengar berita ini. Terima kasih atas kerja keras kalian. Kalian boleh kembali!”


Keduanya mengangguk dan segera keluar dari ruang kerja duke. Ivew menghela nafas saat berada di depan pintu ruang kerja sang duke. Ksatria yang berjaga di depan pintu ruang kerja duke hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas kerja keras mereka. Perhatian Laveron pada ksatria itu teralihkan saat kupu-kupu merah dengan corak perak hadir kembali di sekitar mereka.


Ivew segera menarik tangan Laveron untuk mengikuti langkahnya. Grein tetap terbang di depan mereka menuntun kedua saudara Mirabeth itu menuju kamar sang Nona Muda. Mereka berhenti di depan pintu kamar  dengan corak perak dan Laveron segera mengetuk pintu.


Pintu itu segera terbuka menampilkan wajah Leister yang tersenyum dan segera menyuruh mereka masuk. Kucing Veister yang berada dalam sihir tembus pandang segera menghilangkan sihirnya saat mereka memasuki kamar Lolita.


Manik emerald Ivew menatap Lolita yang duduk bersandarkan beberapa bantal di belakang punggungnya, gadis itu menguntai senyum menyambut kedatangan Ivew dan Laveron.

__ADS_1


“Bagaimana perasaan anda, Nona Muda? Apa sudah lebih baik?”


Laveron bertanya saat dirinya menyapa Lolita dengan hormat diikuti Ivew yang berdiri di sampingnya. Gadis bermata delima itu mengangguk dan melirik Leister yang duduk di kursi yang berada di samping tempat tidurnya.


“Apa duke mengatakan sesuatu?” tanya Leister menatap Mirabeth bersaudara di depannya.


Ivew melirik Laveron yang menggelengkan kepalanya dan menjelaskan secara singkat pembicaraan mereka di ruang kerja duke. Kedua bangsawan Flowerlax itu mengangguk dan kamar Lolita kembali hening.


“Ada apa dengan suasana ruangan ini?”


Mereka semua tersentak dan menatap kucing hitam berekor perak yang duduk santai di ujung tempat tidur Lolita. Gadis bermata delima itu lebih kaget menatap kucing di depannya yang benar-benar berbicara. Meskipun sudah mendengar semua yang terjadi dari Leister tetap saja sulit baginya untuk mempercayainya.


“Te-terima kasih sudah menyelamatkan saya, Tuan Kucing,” ucap Lolita berusaha mengabaikan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.


Mata dua warna Veister melirik Lolita dan mengangguk sembari menatap gadis bermata delima di depannya dalam. Lolita yang merasakan tatapan dari kucing di depannya hanya tersenyum dan sedikit was-was.


“Jangan khawatir. Kasih sayang tidak selalu datang dari hubungan darah yang kuat. Setiap orang pantas untuk mendapatkan kasih sayang, bahkan jika kamu tidak mendapatkannya dari hubungan darah sekalipun ada banyak orang yang bisa mencurahkan kasih sayang untukmu. Kamu hanya perlu menemukannya!”


Semua pasang mata di dalam kamar Lolita itu menatap kagum pada kucing hitam di depan mereka yang baru saja mengungkapkan pikirannya. Lolita terdiam dan menunduk, merasa kalimat itu benar-benar mengenai hatinya. Manik delimanya melirik Leister yang duduk tenang di sampingnya. Pemuda yang selalu ada untuknya dan menemaninya, yang selalu mengulurkan tangan meskipun Lolita berkali-kali menepisnya.


“Jadi, Lolita Flowerlax. Jangan biarkan hatimu di penuhi rasa dendam!”


...⪻⪼...

__ADS_1


Happy reading guys ... dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar. Satu komentar kalian sangat berarti untuk karya ini .... ✨


__ADS_2