
Halo ...White Blossom kembali 🌺
Sambil nunggu aku update bab selanjutnya, aku kembali merekomendasikan cerita yang bagus nih! Jangan lupa mampir ya!
...Happy reading 🌺...
...⪻⪼...
“Jaga dirimu, Ivew.”
Laveron memeluk sang adik saat dirinya harus kembali berpisah dengan Ivew. Gadis dengan mata emerald itu membalas pelukan Laveron dan mengangguk sopan ke arah Diano. Keduanya harus kembali demi menyampaikan kabar darurat kepada kekaisaran.
Ivew menatap punggung Laveron dan Diano yang mulai menjauh bersama Ajata yang bertugas mengantar keduanya menuju daratan wilayah Rizery. Suasana sekitar mereka mulai riuh untuk memperketat keamanan. Ivew juga melihat beberapa pasukan penjaga suku laut mulai menambah dinding pelindung air di sekitar mereka.
“Kamu akan aman selama berada di sini, Ivew.”
Ivew menoleh menatap Veister yang berdiri di sampingnya dan Ramound yang berdiri tak jauh dari keduanya. Manik emerald Ivew kembali menatap dinding laut yang mengelilingi mereka. Angin sepoi-sepoi mengalir di sekitar mereka dan menggerakkan rambut hitam sepunggung Ivew bersamaan dengan kemunculan Windy yang terbang di sekitar Veister.
“Ayo, Ivew! Etwar sudah menunggumu.”
Suara lembut Windy terdengar di sekitar mereka dan mata Ivew menatap kapal biru muda yang membawa Laveron dan Diano yang sudah mencapai dinding air perbatasan suku laut. Gadis itu segera berbalik menuju ruang tempat Etwar, sang roh air menunggunya.
Saat memasuki ruangan itu dinding air kembali hadir di belakang Ivew agar menghalangi mereka yang diluar untuk ikut campur. Windy juga ikut masuk bersama Ivew meninggalkan Veister dan Ramound diluar ruangan.
“Apa ada hal yang ingin kamu lakukan, Tuan Muda?” tanya Veister menarik perhatian Ramound dari menatap dinding air yang menutupi pintu.
Pemuda dengan mata lilac itu menelisik Veister yang tampak menunggu jawabannya.
“Apa roh air … bisa mempertemukan kita dengan orang yang sudah meninggal?” tanya Ramound bersandar pada dinding di belakangnya.
__ADS_1
Veister yang berdiri di samping Ramound ikut menyandarkan tubuhnya pada dinding yang sama. Sebagai penyihir suci ini bukan pertama kalinya Veister mendengar pertanyaan tersebut. Saat awal-awal dirinya menjadi penyihir suci entah dari mana tersiar kabar bahwa roh air mampu berhubungan dengan mereka yang sudah meninggal dan mempertemukan mereka dengan keluarganya.
Manik dua warna Veister melirik Ramound yang tampak tenang, tetapi Veister yakin tuan muda itu menunggu kebenaran jawaban dari kabar simpang siur yang cukup mengganggunya.
“Kenapa? Apa ada orang yang ingin kamu temui?” tanya Veister balik membuat Ramound meliriknya dengan sorot tajam.
“Seharusnya Anda tahu siapa yang ingin saya temui, Penyihir suci.”
Ramound berdecak kesal dan mengusap rambut abu-abunya kasar. Mengepalkan tangan kanannya tuan muda dari keluarga Angena itu menghembuskan nafasnya kasar. Menahan sekuat tenaga perasaan gelisah yang hadir di dalam hatinya.
Rasa kesal membuncah di dalam dadanya saat membicarakan mengenai kematian. Selalu ada kenangan buruk yang mengusiknya jika itu mengenai kematian. Karena itulah saat Rayn menghilang, dirinya tak bisa menghilangkan perasaan bersalah yang hadir dan mekar di dalam hatinya.
Veister melirik kegundahan yang tampak hadir di wajah Ramound. Penyihir suci itu menghembuskan nafasnya kesal dan mengusap pelan kepala Ramound membuat pemuda itu berseru kesal dan menjaga jarak darinya.
“Kamu masih menyimpan rasa bersalah itu ya, Tuan Muda? Bertahun-tahun telah berlalu tak ada yang menyalahkanmu soal kematian duke Angena.”
Ramound hanya tersenyum getir dan melirik Veister yang menatap dinding air di depan mereka yang mulai berubah warna.
***
Ivew menatap Etwar yang sudah hadir di depannya bersama Efir, sang roh api. Tak lama Windy juga hadir di sekitar mereka membawa angin sepoi-sepoi yang menyejukkan Ivew. Gadis dengan mata emerald itu mengepalkan tangannya saat merasakan tekanan dari ketiga roh alam di depannya.
“Apa kamu sudah siap, Ivew Mirabeth?”
Etwar bertanya mewakili roh alam lainnya. Sayap biru muda angsa itu terbuka menghasilkan bola-bola air kecil seukuran kelereng. Ivew menatap bola-bola yang mengambang di sekitarnya.
“Apa yang harus aku lakukan dengan bola-bola ini?” tanya Ivew menatap roh-roh alam di depannya.
Windy yang berada di samping kanan Etwar mulai menggunakan anginnya untuk menggerakkan bola-bola air di sekitar Ivew. Bola-bola air itu mulai bergerak membentuk pusaran angin dengan Ivew sebagai pusatnya.
“Kendalikan pusaran angin bercampur air ini, Ivew. Kamu sudah cukup mahir mengendalikan angin, aku yakin kamu bisa melakukannya. Berhati-hatilah dengan bola airnya karena itu akan melukaimu.”
__ADS_1
Suara Windy terdengar di antara kencangnya angin yang mengelilingi Ivew. Manik emerald gadis itu menatap bola-bola air yang sudah menyatu bersama angin Windy. Kedua elemen alam itu menyatu menghasilkan putaran angin yang kuat dan tajam.
Ivew meringis saat merasakan sedikit air menggores kulitnya. Gadis itu mulai duduk di tengah angin dan berusaha untuk konsentrasi. Berusaha mengenali kedua elemen alam yang berada di sekitarnya. Ivew menyatukan kedua telapak tangannya dan mulai berkonsentrasi saat merasakan aliran angin yang mengalir di sekitarnya.
Gadis itu tersentak saat merasakan sesuatu menggores lengannya yang Ivew yakini itu adalah bola-bola air yang bersatu bersama angin milik Windy.
“Fokus, Ivew Mirabeth!”
Suara Etwar terdengar seiring keringat mengalir di dahi Ivew. Mengendalikan kedua elemen alam itu membuat Ivew banjir keringat. Kehilangan konsentrasi sedikit saja membuat air yang mengalir bersama angin itu langsung bergerak menggores tubuhnya.
“Rasakan aliran anginnya Ivew! Lalu secara perlahan sambungkan dengan pengendalian elemen dan ambil benang-benang air yang terhubung dengannya.”
Penjelasan yang masuk akal. Batin Ivew kembali berkonsentrasi.
Dalam kegelapan Ivew mulai meraba mencari aliran angin yang mengalir di sekitarnya. Manik emerald gadis itu menatap akar-akar angin yang mengambang di sekitarnya dan segera meraih salah satu akar yang paling besar dengan tangan kanannya.
Gadis itu mengerutkan keningnya saat merasakan rasa sakit menyerang tangannya. Ivew tetap berkonsentrasi dan mengikuti penjelasan Windy. Gadis itu mulai mencari dan merasakan air yang terhubung dengan akar angin Windy. Ivew bisa melihat aliran air yang berada di dalam angin yang membentuk akar di depannya.
Tangan kiri Ivew bergerak dan berusaha mengendalikan air di dalam akar angin itu. Cahaya biru muda keluar dari tangan Ivew dan gadis itu berusaha menarik aliran air di dalam akar angin itu. Dengan sisa tenaganya dan menahan rasa sakit seperti sengatan di tangan kanannya Ivew terus menarik aliran air itu keluar.
Sementara diluar kesadarannya, para roh alam memandang Ivew yang tampak fokus dan banjir keringat.
“Dia mengenalinya dengan cepat! Keterampilan yang mengagumkan,” ungkap Efir menatap dua aura yang berlawanan menguar dari tubuh Ivew.
“Apa karena jiwanya berasal dari luar dunia ini? Apa itu mempengaruhi ketahanan tubuhnya?” tanya Windy yang hinggap di atas kepala Etwar, sedangkan Efir menganggukkan kepalanya.
Etwar hanya mengamati pemandangan di depannya dengan tenang. Sebagai roh alam tertua, Etwar tentu kagum dengan potensi yang dimiliki Ivew. Namun, potensi tersebut tidak akan ada artinya jika gadis di depannya itu tidak bekerja keras untuk mendapatkannya.
“Perbedaan dimensi bisa saja membawa pengaruh itu dan membuat jiwanya menyesuaikan dengan perbedaan ruang dan waktu. Satu hal yang pasti gadis itu harus berhasil!”
⪻⪼
__ADS_1