Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
88 - Pengendalian Elemen Alam (1)


__ADS_3

Halo ...White Blossom kembali 🌺


Sambil nunggu aku update bab selanjutnya, aku kembali merekomendasikan cerita yang bagus nih! Jangan lupa mampir ya!


...Happy reading 🌺...



...⪻⪼...


"Apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu lama sekali, Ivew?"


Ivew hanya tersenyum getir saat dirinya yang baru saja sampai di ruang makan langsung di cerocos oleh pertanyaan Lavaron.


Menepuk pelan bahu sang abang berusaha menenangkan gejolak kegelisahannya Ivew menjawab pertanyaan Laveron dengan suara pelan.


"Aku hanya melihat laut, Bang."


Ivew melangkah menuju tempat duduknya yang berada di antara Laveron dan Ramound. Manik lilac Tuan Muda keluarga Angena itu menatap Ivew intens membuat gadis itu berbalik menatap Ramound.


"Cocok juga untukmu," ucap Ramound dengan senyum tipis di wajahnya.


“Terima kasih, Tuan Muda. Anda juga cocok dengan pakaian itu,” ucap Ivew menatap pakaian yang Ramound dan yang lainnya  gunakan.


Veister yang saat ini dalam wujud manusia juga ikut makan bersama dan sedang berbincang dengan Rair. Acara makan malam itu berjalan dengan lancar dan mereka segera dituntun menuju ruang pertemuan istana suku laut.


"Apa Anda istirahat dengan baik, Saintess?" tanya Rair dan semua pandangan mata tertuju pada Ivew.


"Ya … terima kasih untuk ruangannya dan aku sangat menyukai pemandangan laut dari jendela kamarku," jawab Ivew sopan menatap Rair yang duduk di kursi paling tengah di meja panjang ruang pertemuan.


Basa-basi ini membuatku tidak nyaman. Batin Ivew melirik Laveron dan yang lainnya.


"Baik, kami minta maaf karena harus mengambil jadwal istirahat kalian semua. Akan tetapi, ada kabar darurat yang harus kamu sampaikan."


Rair mulai membuka suara menatap Ivew dan rombongan, sedangkan di belakang wanita tua itu Ajata berdiri dengan sebuah bola kristal berwarna biru muda.


"Kami mendapat kabar dari penjaga suku laut yang berjaga di sisi utara. Mereka  menangkap pergerakan aneh di dasar lautan yang mengarah menuju daratan wilayah Rizery."

__ADS_1


Diano menatap pemimpin suku laut itu dengan pandangan terkejut.


Apakah masa damai untuk wilayah Rizery akan segera hilang? Apa mereka akan menghadapi serangan monster lagi? Apakah pasukan militer sudah bersiap dengan hal ini? Banyak hal yang hadir di dalam kepala Diano saat mendengar penjelasan Rair.


“Apa pergerakan monster itu agresif?” tanya Veister menatap pemimpin suku laut.


Rair menganggukkan kepalanya dan mulai menjelaskan pesan yang dibawa penjaga suku laut sambil memberi kode kepada Ajata yang berdiri di belakangnya.


Pemuda itu segera meletakkan tangannya di atas bola kristal biru muda itu dan tak lama cahaya putih keluar menunjukkan rekaman video serta foto yang diambil para penjaga suku laut.


Dalam salah satu foto tampak sebuah tentakel berwarna merah dengan ujung berbentuk mata panah berwarna hitam dan hendak menyerang sekelompok penjaga suku laut.


Rekaman video yang berada di depan mereka menunjukkan para penjaga suku laut yang sudah menjauh dari tentakel merah yang mulai mengeluarkan api kecil di ujung tentakel yang berbentuk mata panah hitam itu.


“Salah satu penjaga kami terkena ujung tentakel berbentuk anak panah itu dan hingga saat ini belum sadar. Kabar ini sampai kepada kami satu hari yang lalu.”


Veister mulai larut dalam pikirannya.


Apa itu artinya para penyihir hitam mulai menunjukkan serangan balasan mereka? Pola serangan yang tak bisa ditebak dan ditambah lagi kekuatan mereka semakin meningkat sejak terakhir kali Veister berhadapan dengan mereka.


“Apa tentakel itu melakukan serangan lain, Madam?” tanya Laveron yang sedari tadi mengamati pergerakan tentakel dari foto dan video hologram di depan mereka.


Mata lilac Ramound memicing tajam menatap hologram di depannya sambil fokus mendengar penjelasan yang disampaikan Rair.


“Penjaga kami berhasil selamat berkat teknik dinding air yang kami perkuat dari generasi ke generasi. Yang kami semua takutkan adalah sewaktu-waktu serangan ini bisa sampai ke wilayah Rizery.”


Rair menoleh ke arah Diano yang khawatir dengan keselamatan keluarga dan wilayahnya. Mata biru tua pemimpin suku laut itu menatap ke arah Ivew yang sedari tadi diam dan mengamati percakapan.


“Apa roh air mengatakan sesuatu kepada Anda, Saintess?”


Semua mata mengarah kepada Ivew yang menganggukkan kepalanya. “Roh air meminta saya untuk kembali mengunjunginya esok hari. Saya akan mempelajari teknik pengendalian air.”


Rair menganggukkan kepalanya dan kembali menatap ke arah Veister dan yang lainnya. “Penyihir hitam pasti membuat pergerakan untuk menghalangi kita. Kelahiran kembali Saintess Alam pasti mengusik rencana mereka.”


“Anda benar, Penyihir Suci. Kita butuh koordinasi semua pihak untuk melawan mereka. Kami suku laut siap membantu Kekaisaran.”


Kalimat Rair itu menjadi akhir dari pertemuan mereka di malam itu.

__ADS_1


“Tuan Veister jika benar yang dikatakan Madam Rair, maka saya harus segera kembali ke rumah saya,” ucap Diano saat ruangan pertemuan itu telah ditinggalkan oleh Rair dan Ajata.


Veister menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah jendela, menatap pemandangan laut malam di depan mereka.


Masalah tak terduga selalu mengiringi langkah mereka. Manik mata dua warna penyihir suci itu menatap Ivew yang sedari tadi menundukkan kepalanya.


Tentu saja karena Saintess Alam sudah lahir. Mereka ada untuk memberantas penyihir hitam. Jadi, wajar saja jika mereka kembali bergerak. Batin Veister mengepalkan tangannya yang berada di balik jubahnya.


“Itu berarti aku juga harus pergi. Pasukan militer juga harus bersiap dan juga kaisar harus mendapatkan informasi ini,” jelas Laveron yang masih duduk di kursinya.


Pemuda bermata navy itu akhirnya bersuara setelah sibuk bergelut dengan keraguan di dalam hatinya dan menatap ke arah Diano yang menganggukkan kepalanya.


“Itu benar. Peperangan yang mereka katakan saat itu … pasti akan segera terjadi. Kita harus mempersiapkan semuanya.”


Veister mengangguk mendengar kalimat Laveron. Penyihir suci itu tentu tau alasan Laveron baru bersuara. Ivew, pemuda itu ragu untuk meninggalkan sang adik.


Setelah peristiwa yang terjadi sebelumnya, jika berhubungan dengan Ivew maka Laveron akan dipenuhi keraguan dalam pengambilan keputusannya.


Apa yang terjadi jika dia tahu kalau Ivew itu adalah adiknya di dunia sebelumnya? Dia pasti akan lebih overprotective dari saat ini. Rasa kasih sayang yang sangat kuat. Batin Veister menatap laut di kejauhan.


“Hei, apa dia tidur?” tanya Ramound memecah suasana tegang di antara mereka.


Pemuda dengan mata lilac yang berada di samping kanan Ivew itu bersuara setelah melihat Ivew terus menundukkan kepalanya. Laveron yang mendengar itu menoleh dan melihat Ivew yang berada di samping kirinya.


Senyum kecil hadir di wajah pemuda itu saat wajah tertidur Ivew kembali bisa dilihatnya. Melihat senyum di wajah Laveron, Ramound segera diam dan membiarkan pemuda itu memindahkan Ivew menuju kamarnya.


“Jangan khawatir, Laveron. Kami akan menjaganya disini. Jadi, pergilah.”


Kalimat Veister itu membuat Laveron yang membawa Ivew dalam gendongannya berhenti. Pemuda itu berbalik memandang Veister yang berdiri membelakanginya dan menatap ke arah jendela. Senyum kecil hadir di wajah pemuda itu  dan mata navy-nya melirik wajah Ivew yang tertidur.


“Terima kasih.”


Jemari Laveron membuka pintu yang berada di depannya walaupun sedikit kesusahan saat menyeimbangkan kondisi Ivew dalam gendongannya.


Dalam sepinya lorong di depannya Laveron larut dalam pikirannya yang kembali kacau, manik navy pemuda itu menatap wajah terlelap Ivew dan menguntai senyum lembut di wajahnya.


“Aku harap kamu selalu bahagia, Adik kecilku.”

__ADS_1


...⪻⪼...


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya, biar aku makin semangat untuk update cerita ini 🌺


__ADS_2