
...⪻⪼...
Ivew akhirnya paham maksud kalimat yang diucapkan Ajata sebelum lingkaran biru muda di bawah mereka berubah menjadi kapal transparan berwarna biru muda dengan lebar sepuluh meter yang akan bergerak di bawah komando Anata.
Jika ada yang membuka mulut maka air sebanyak ini akan masuk ke dalam tubuh kan? Batin Ivew menatap gelombang air yang baru mereka lewati.
Manik emerald gadis itu menatap Anata yang berdiri di ujung depan kapal dengan kedua tangan berada di samping tubuhnya mengalirkan gelombang air untuk membantu kapal transparan biru muda yang mereka tumpangi bergerak.
Kuda-kuda yang mereka gunakan sebelumnya berada di dalam lambung kapal dalam keadaan tertidur setelah terkena sihir tidur dari Veister.
"Anda Saintess Alam selanjutnya kan, Lady?"
Ivew menoleh menatap Ajata yang tersenyum dan berdiri di sampingnya. Gadis dengan mata emerald itu mengangguk sopan, sedangkan Ajata kembali tersenyum dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya.
Ajata tertawa kecil dan kembali menatap Ivew. "Anda sudah boleh berbicara, Lady. Kita sudah melewati kawasan yang rawan."
Ivew menganggukkan kepalanya dan menampung percikan air laut di telapak tangannya.
"Kami sangat senang saat tahu Saintess Alam terlahir kembali."
Kalimat Ajata itu membuat Ivew melirik ekspresi tenang pemuda dengan kulit coklat di sampingnya. Percikan air laut sesekali mengenai mereka, tetapi Ajata tampak tenang dan tidak goyah saat beberapa kali ombak membuat mereka tidak stabil.
“Kenapa?” tanya Ivew kembali menatap laut di depannya dan punggung Anata yang berada di ujung depan kapal.
Rambut biru muda gadis itu berkibar mengikuti gerak angin yang mengalir di sekitar mereka. Laveron dan Veister yang berada di sisi lain kapal sibuk menatap ke arah tembok pelindung kekaisaran di belakang mereka, sedangkan Ramound sesekali melirik ke arah Ivew yang sedang berbicara dengan Ajata dan Anata yang sedang mengendalikan laju kapal.
"Anda akan tau saat sampai di tempat kami nanti."
Ajata tersenyum dan mendekat ke arah Anata yang masih berada di ujung kapal. Rambut biru muda keduanya bergerak mengikuti gerak angin laut. Ramound mendekat ke arah Ivew dan berdiri di samping sang gadis.
Ivew yang tahu Ramound berdiri di sampingnya hanya diam dan membiarkan tuan muda keluarga Angena itu untuk memulai pembicaraan. Diano yang sedari tadi berada di bagian belakang kapal mendekat ke arah Laveron dan kucing Veister.
"Kamu akan bertemu roh air, kan?" tanya Ramound setelah hening cukup lama.
Ivew menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Ramound yang mengajaknya ke sisi kanan kapal.
__ADS_1
"Apakah roh air bisa membawamu bertemu dengan orang yang sudah meninggal?"
Ivew terdiam mendengar pertanyaan Ramound. Wajah pemuda dengan mata lilac itu tampak datar, tetapi sorot matanya menyampaikan rasa rindu yang dalam.
"Saya … tidak tahu, Tuan Muda. Apa Anda ingin bertemu dengan seseorang?"
Ramound berbalik menatap Ivew dan tersenyum getir. Pemuda itu melangkah ke arah Ivew dan menepuk pelan puncak kepala sang gadis.
"Bukan siapa-siapa. Abaikan saja pertanyaanku barusan."
Ramound melambaikan tangannya dan berjalan ke arah sisi kapal lainnya. Tempat Diano dan Laveron sedang berbincang bersama.
Bagaimana aku bisa mengabaikannya kalau sorot mata dan senyum di wajahnya itu berkata sebaliknya. Batin Ivew kembali menatap hamparan laut di depan matanya.
Setengah jam kemudian kapal itu berhenti di depan sebuah dinding laut yang menjulang tinggi. Di depan dinding laut itu tampak penjaga dengan pakaian yang sama seperti Ajata dan Anata.
Setelah melakukan pemeriksaan penjaga itu menggerakkan tangan mereka untuk mengendalikan air yang menutupi pintu masuk.
Kapal yang membawa mereka segera bergerak mengikuti jalan yang berupa arus air. Ivew menatap takjub pemandangan di depannya dan saat memasuki kawasan suku laut.
Cara yang unik. Batin Ivew saat salah satu masyarakat suku laut yang sedang terbang dengan lingkaran air di atas kepalanya melambaikan tangan ke arahnya.
"Kita sudah dekat."
Ivew mengangguk saat mendengar suara Windy. Kupu-kupu putih itu tetap bertahan di bahunya dan kapal biru muda transparan itu akhirnya berhenti di depan sebuah istana berwarna biru muda.
Ajata dan Anata langsung mendekat ke arah mereka dan segera membimbing mereka untuk menemui pemimpin suku laut. Beberapa masyarakat suku laut yang mengetahui kedatangan mereka melambaikan tangan sambil melanjutkan aktivitas mereka.
Manik emerald Ivew menatap langit-langit transparan di atasnya. Sinar matahari tetap masuk dan menambah indah suasana saat cahaya matahari itu berkilau di atas birunya air laut.
Diano sebagai pemimpin rombongan berjalan paling depan diikuti oleh Laveron, Ivew dan Ramound di belakangnya. Mereka memasuki kawasan istana dengan nuansa biru dan segera diarahkan menuju tempat sang pemimpin suku menunggu. Pintu biru besar di depan mereka terbuka.
"Silahkan masuk semuanya! Pemimpin suku sedang menunggu Anda di dalam!"
Mereka mengangguk dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Manik emerald Ivew segera menatap wanita tua yang berdiri membelakangi mereka. Rambut biru muda bercampur putih itu tersanggul rapi.
__ADS_1
"Selamat datang di suku laut. Saya Rair. Kalian bisa memanggil saya Madam Rair."
Wanita tua itu berbalik dan menguntai senyum di wajahnya. Kharisma dan ketenangan bercampur dalam setiap kata dan tindakannya. Wajahnya tersenyum ramah menyambut rombongan yang datang.
Diano maju paling depan dan segera menyampaikan salam hormat serta tujuan kedatangan mereka. Mata biru tua wanita itu menatap ke arah Ivew yang berdiri di antara Laveron dan Ramound.
"Anda saintess alam selanjutnya, Lady?"
"Benar, Madam. Perkenalkan saya Ivew, Ivew Mirabeth."
Ivew sedikit maju dan memperkenalkan dirinya, sedangkan wanita tua di depannya menganggukkan kepala dan menguntai senyum. Kakinya bergerak mendekat ke arah Ivew dan menyentuh pundak gadis itu pelan.
Tepukan pelan dari wanita itu di bahunya membuat Ivew yang masih menundukkan kepalanya mendongak. Mata biru tua itu bertemu dengan mata emerald Ivew, menciptakan koneksi dan ikatan yang tak dapat dijelaskan.
"Tidak apa-apa. Bukan salahmu hal-hal buruk itu terjadi. Jangan menanggung semuanya sendiri, Lady."
Ivew terdiam mendengar kalimat wanita tua di depannya dan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Rasa berat yang dirasakan di bahunya perlahan menghilang hanya karena wanita itu menepuk pelan bahunya.
Ketiga pemuda ditambah satu kucing hitam di belakangnya hanya memandang punggung Ivew yang berdiri di depan mereka. Bahu yang tadinya tegang itu kini tampak lebih rileks seolah beban yang ada di sana terangkat.
"Saya adalah pemimpin suku laut saat ini. Sekali lagi selamat datang di wilayah kami. Kami akan membantu saintess alam selanjutnya untuk bertemu roh air."
Wanita tua itu tersenyum menatap Ivew dan kembali menatap Diano yang mengangguk sopan. Pertemuan mereka itu dilanjutkan dengan acara makan siang bersama. Ajata dan Anata juga hadir serta beberapa tetua suku laut lainnya.
Menjelang sore mereka membawa rombongan menuju sebuah tempat yang tersembunyi di dalam istana suku laut. Rair membuka pintu besi di depannya yang penuh dengan ukiran gelombang air.
Saat pintu itu terbuka suasana perairan dengan cahaya biru langsung menyambut mereka. Ivew terdiam menatap sebuah kolam kecil berbentuk lingkaran selebar lima meter dengan bebatuan putih di sekelilingnya dan pohon hijau kecil yang berada di sekeliling batu.
Tidak ada daratan di dalam ruangan itu. Hanya kolam kecil dan pohon yang menjadi pelindung untuk air biru di dalamnya.
"Oh, kamu sudah sampai ya. Selamat datang … aku sudah menunggumu."
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ....✨
__ADS_1