Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
76 - Takdir Dua Jiwa (2)


__ADS_3

...⪻⪼...


Ivew terus menunggu Veister menjawab pertanyaannya. Pemuda dengan mata dua warna itu sesekali menatap ke arah Laveron menggelengkan kepalanya.


"Hanya kalian berdua yang datang dari dunia modern, tetapi bukan aku yang membawa jiwanya. Aku juga baru mengetahui fakta kalau ada jiwa lainnya yang datang ke dunia ini."


Tunjuk Veister ke arah Laveron yang menganggukkan kepalanya.


"Lalu siapa yang membawa jiwa bang Laveron jika bukan kamu?" tanya Ivew.


"Gadis dengan rambut pu-"


Suara ketukan pada pintu menghentikan perkataan Laveron. Pemuda dengan mata navy itu segera berjalan ke arah pintu dan membukanya, sedangkan Ivew mengerang kesal karena selalu saja ada orang yang mengganggu pembicaraan mereka.


Manik emerald Ivew menatap ke arah pintu dan menemukan Rayn yang datang bersama Ramound. Kedua Tuan Muda Angena itu tampak menawan dengan baju yang mereka gunakan. Rambut abu-abu tua keduanya tampak berkilau dengan pedang yang tersarung masing-masing di pinggang mereka.


"Kami kebetulan lewat di depan kamarmu dan mendengar suaramu," ujar Ramound memulai pembicaraan.


"Aku pikir kamu dengar sudah sadar, Ivew. Dan ternyata itu benar … syukurlah. Jadi bagaimana keadaanmu?"


Rayn segera duduk di tempat Laveron duduk sebelumnya, sedangkan Ramound berdiri di kursi di belakannya. Veister yang duduk di sofa hanya menatap mereka dan menutup matanya hendak beristirahat.


"Lebih baik dan hanya merasa ngilu di beberapa tempat. Bagaimana denganmu, Tuan Muda Rayn?"


Ivew menatap Rayn yang tersenyum di depannya, sedangkan Laveron yang tadi ada di kamar beranjak keluar kamar bersama Veister saat seorang ksatria memanggil keduanya.


"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku waktu itu, Ivew. Aku belum sempat mengatakannya kepadamu."


Rayn kembali tersenyum, sedangkan Ramound yang berada di belakangnya hanya menatap Ivew dengan mata lilac-nya datar. Ada gurat gugup dan cemas dari gadis di depannya.


"Tidak, seharusnya aku lah yang minta maaf. Api hijauku saat itu juga mengenai kalian kan, Tuan Muda? Apa kalian baik-baik saja?"


Ivew menggenggam erat kedua tangannya seraya menatap Rayn dan Ramoun bergantian. Mata lilac Ramound kembali menangkap ekspresi gusar di wajah Ivew dan melirik Rayn yang duduk di depannya.


"Ya .. aku memang tidak bisa menyangkal itu, tetapi jangan khawatir berlebihan, Ivew. Semuanya baik-baik saja benarkan, Bang?"

__ADS_1


Rayn tersenyum dan melirik Ramound yang berdiri di belakangnya. Pemuda dengan mata lilac itu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil dan menepuk pelan kepala sang adik.


Ivew menatap kasih sayang antar saudara dari kedua pemuda di depannya dan teringat dengan sosok sang abang di dunia sebelumnya. Pemuda yang selalu ada untuknya saat dirinya masih hidup dalam identitas Cona Renjana.


Manik mata lilac Ramound kembali menatap Ivew yang terdiam.


“Apa kamu butuh sesuatu?”


Ivew mendongak menatap Ramound yang berdiri lebih dekat dengannya. Gadis dengan mata emerald itu hanya menggelengkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan keluarga Angena kepadanya serta kalimat permintaan maaf yang kembali terucap dari mulutnya.


"Berhentilah meminta maaf, Lady!"


Ramound tidak sengaja meninggikan suaranya membuat Ivew sedikit tersentak. Manik emerald Ivew menatap wajah kesal pemuda dengan mata lilac di depannya.


Rayn menepuk pelan punggung tangan Ramound dan meminta pemuda itu sedikit lebih tenang. Ramound mengusap kasar rambut abu-abu nya dan kembali menatap Ivew.


“Kamu tau? Aku tidak suka dengan orang yang merendahkan dirinya seperti ini. Setiap orang bisa berbuat kesalahan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini!"


Ivew menundukkan kepalanya mendengar kalimat dari Ramound. Pemuda dengan mata lilac itu memang benar. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, tetapi bagi Ivew yang pernah merasa sendirian di dunia sebelumnya dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk orang di sekitarnya.


Ivew tersentak saat pemuda yang cukup baginya itu memanggil dirinya saintess. Manik emerald Ivew menatap wajah datar Ramound dan melirik Rayn yang tersenyum hangat ke arahnya.


"Bang Ramound benar, Ivew. Semua baik-baik saja dan tidak ada yang terluka. Jadi, istirahatlah dan pulihkan tenagamu."


Ivew mengangguk mendengar kalimat Rayn. Gadis itu tanpa sadar menguntai senyum kecil di wajahnya dan hal itu tidak luput dari perhatian manik lilac Ramound. Pemuda dengan mata lilac itu tersenyum kecil saat menatap Ivew yang lebih tenang dari sebelumnya.


"Apa ini tidak apa-apa? Kamu yakin tidak ingin masuk?"


Veister yang berdiri di depan pintu kamar memecah hening saat mendengar semua pembicaraan di dalam ruangan dan melirik pemuda di sampingnya.


"Tidak apa-apa. Kata-kata yang disampaikan Tuan Muda Ramound sangat tepat. Seseorang harus menyadarkannya dari rasa bersalah itu."


Laveron tersenyum kecil dan kembali berujar, " Kita pergi sekarang? Ada yang kamu ingin bicarakan denganku, kan?"


Laveron menatap Veister yang berdiri di sampingnya dan mengangguk. Keduanya berjalan menjauh dari kamar Ivew menuju taman di luar mansion keluarga Angena.

__ADS_1


Beberapa ksatria keluarga Angena yang berpapasan dengan Veister membungkuk hormat ke arahnya. Pemuda dengan mata dua warna itu hanya mengangguk malas dan mempercepat langkahnya.


Manik navy Laveron menatap bunga anggrek biru sejauh mata memandang di taman keluarga Angena. Angin sepoi-sepoi hadir di sekitar keduanya menggerakkan rambut putih Veister yang berjalan di depannya.


Pemuda dengan mata dua warna itu segera duduk di salah satu bangku taman dengan mengeluarkan sihir peredam suara di sekitar mereka. Laveron menunggu Veister untuk memulai pembicaraan.


Manik navy Laveron menatap bunga anggrek yang


bergerak mengikuti angin dan sedikit tersentak saat kupu-kupu putih, Windy muncul dan terbang di sekitar mereka.


"Jadi? Siapa yang membawa jiwamu ke dunia ini?"


Veister bertanya tanpa menatap Laveron di sampingnya.


"Kamu sudah tahu jawabannya, bukan? Saintess sebelumnya yang membawa jiwaku."


Veister menatap Laveron dan  menganggukkan kepalanya. Pemuda dengan mata dua warna itu mencerna informasi baru yang disampaikan Laveron. Tebakannya benar saat merasakan keanehan dari kalimat Laveron di mansion Rizery saat itu.


Sejak saat itulah Veister mulai menyelidiki secara perlahan gerak-gerik Laveron dan melihat aliran waktu jiwanya. Namun, yang membuat pemuda itu tidak percaya adalah saintess sebelumnya yang membawa jiwa Laveron dari dunia modern.


"Bagaimana caranya? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Veister bertanya dengan suara gemetar. Pemuda itu menghela nafas saat merasakan emosi menguasainya.


Bayangan kematian saintess sebelumnya masih segar dalam ingatan Veister dan pemuda itu yakin bahwa sang saintess tidak memiliki kekuatan untuk menjelajah dimensi dengan tubuh yang sudah kehilangan jiwa. Jadi bagaimana caranya?


Veister bergumul dalam berbagai teori di benaknya, sedangkan Laveron yang berada di sampingnya melirik wajah khawatir Veister.


"Itu bukan cerita yang bagus, tetapi bagiku itu adalah kesempatan hidup yang kedua  sebagai penebusan dosa. Karena aku kembali diizinkan untuk mengabadikan hidupku sebagai seorang kakak."


Veister melirik Laveron yang tersenyum pahit. Pemuda dengan mata navy itu menghela nafas dan menengadah menatap langit.


"Penebusan dosa? Apa yang terjadi?"


...⪻⪼...

__ADS_1


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨


__ADS_2