Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
52 - Windy


__ADS_3

...⪻⪼...


Leister dan Laveron serentak menatap kupu-kupu putih yang kembali terbang ke tengah ruangan. Manik navy Laveron menatap Veister yang menganggukkan kepalanya dan kembali menatap kupu-kupu putih yang dipenuhi cahaya putih bercampur hijau.


Angin berputar di sekitar mereka seiring cahaya dari kupu-kupu putih itu semakin terang. Veister melihat semuanya dalam diam, mata dua warna pemuda itu tampak berkilat.


“Hawa keberadaannya sangat samar. Sepertinya dia berada di ruangan yang tidak memiliki jalur udara.”


Suara kupu-kupu putih itu kembali terdengar saat angin di sekitar mereka menghilang. Kupu-kupu itu kembali terbang ke arah Veister dan hinggap di tudung jubah hitam-peraknya.


“Ruangan yang tidak memiliki jalur udara? Bukankah itu penjara bawah tanah?” tanya Leister menatap Veister dan Laveron.


“Saya rasa kita harus melaporkan ini kepada yang lainnya,” ungkap Laveron yang diangguki oleh Leister dan juga Veister.


Kedua pemuda itu kembali berjalan keluar dari kamar dan berpapasan dengan Diano yang baru saja kembali dari ruang kerja duke. Pemuda dengan mata obsidian itu melirik kupu-kupu putih yang berada di atas tudung jubah Veister.


“Apa kamu sedang sibuk, Tuan Muda Diano? Ada yang harus kita bicarakan,” ucap Leister mewakili yang lainnya.


Tuan Muda dari keluarga Rizery itu menggelengkan kepalanya dan segera mengajak mereka menuju ruang tamu tempat biasa mereka bertemu. Leister mulai menjelaskan semua informasi yang baru mereka dapatkan. Diano mengangguk dan mencatat semuanya dalam sebuah kertas.


“Kita harus melaporkan ini pada kaisar, kan?” tanya Diano yang diangguki oleh Veister.


“Kita harus mengadakan pertemuan darurat secepat mungkin. Aku yakin kaisar juga tidak ingin kehilangan kekuatan alam milik Ivew, bukan?” papar Veister menatap mata-mata di dalam ruangan.


Diano mengangguk dan segera melaporkan informasi yang baru di dapatkannya kepada ayahnya. Ruangan itu kembali hening saat Diano menutup pintu. Veister bersandar pada sofa di belakangnya dengan kupu-kupu putih yang tetap bertengger di atas tudung jubahnya.


“Bersemangatlah prajurit militer! Aku tau kamu mencemaskannya, tapi tenangkan dirimu!”

__ADS_1


Suara lembut dari kupu-kupu putih itu kembali terdengar, manik navy Laveron menatap kupu-kupu yang terbang dan hinggap di meja di depannya sedangkan Veister dan Leister hanya diam memperhatikan.


“Bagaimana mungkin aku bisa tenang?! Satu-satunya keluargaku yang tersisa hilang tanpa jejak. Firasat ku mengatakan hal buruk akan terjadi jika aku tidak cepat bertemu dengannya! Masih ada hal yang harus aku pastikan kepadanya.”


Laveron berteriak melepaskan segala perasaan gundah dan kecemasan yang ditahannya. Sebagai prajurit militer dirinya paham untuk tidak membawa perasaan dalam setiap tugas yang dijalankan dan pemuda bermata navy itu mampu mengendalikan perasaannya dengan baik. Namun, jika menyangkut keluarga terlebih satu-satunya saudarinya maka Laveron kehilangan kendali perasaannya.


“Aku paham perasaanmu, Laveron. Tapi dalam situasi apa pun kita tidak boleh kehilangan ketenangan diri kita. Kepanikan hanya akan membuat kita mencapai keputusan yang salah,” ungkap Leister yang kini duduk di samping Laveron.


Pemuda itu menepuk pelan bahu Laveron berusaha menenangkan pemuda dengan mata navy itu dari rasa gelisah nya. Laveron melirik Leister dari sudut matanya dan menghembuskan nafas lelah.


Berbagai perasaan negatif bergejolak di dalam jiwanya, jantungnya berdetak tak karuan. Bahkan, sesekali pemuda itu gemetar saat pikiran buruk tentang sang adik mendatanginya.


“Hal-hal negatif yang kamu pikirkan hanya akan menghambat langkahmu! Singkirkan itu semua! Kamu harus yakin dan percaya bahwa saudarimu akan baik-baik saja!”


Suara lembut dari kupu-kupu putih itu membuat Laveron yang sedari tadi menunduk mendongak menatap kupu-kupu putih yang kini terbang dari atas meja.


Veister tersenyum dan manik dua warna pemuda itu bercahaya membuat Laveron yang menatapnya mulai tenang. Pemuda itu mengusap wajahnya pelan dan mengusap sudut matanya yang sempat tergenang air mata. Pemuda bermata navy itu masih menggunakan seragam militernya dan menggenggam erat gagang pedangnya.


“Ya, Anda benar. Maafkan sikap putus asa yang sempat saya tunjukkan. Saya hanya kehilangan kendali perasaan saya saja,” ujar Laveron tersenyum tipis.


Veister dan Leister ikut tersenyum saat melihat pemuda bermata navy itu mulai lepas dari rasa putus asanya. Manik ruby Leister melirik kupu-kupu putih yang kembali hinggap di atas tudung jubah Veister.


“Anda bilang nama kupu-kupu ini, Windy? Tuan Veister?” tanya Leister menatap Veister yang menguntai senyum.


“Ya, dia adalah salah satu roh angin yang terkuat. Mirip dengan Grein, tapi kekuatannya tak sekuat Grein yang bisa mengendalikan semua elemen,” jelas Veister.


Leister mengangguk dan melirik pintu yang terbuka menampilkan Diano yang meminta mereka untuk berkumpul di ruang kerja duke Dexter. Keempat pemuda itu segera bergerak menuju ruang kerja duke Dexter. Veister dan Diano berjalan lebih dulu di depan mereka sedangkan Laveron dan Leister cukup jauh di belakang keduanya.

__ADS_1


“Boleh aku bertanya sesuatu, Laveron? Hari itu ... apa maksudmu kematian memisahkan mu dengan Ivew? Apa kalian berdua pernah mengalami kematian bersama? Itu ... cukup membuatku penasaran.”


Laveron menoleh saat mendengarkan pertanyaan dari Leister. Pemuda dengan mata navy itu menguntai senyum dan menjawab cepat, “Saya tidak bisa mengatakannya sekarang, Tuan Muda. Mungkin suatu saat nanti di waktu yang tepat.”


Laveron tersenyum dan mulai mempercepat langkahnya menyusul Veister serta Diano, meninggalkan Leister yang hanya menghela nafas dan segera mengikuti mereka. Pintu ruang kerja Duke Dexter terbuka dan mereka langsung disambut senyum ramah duke walaupun sangat kontras dengan wajahnya yang lelah.


Duke segera menyampaikan informasi terbaru yang di dapatnya dari kaisar kepada mereka serta pesan dari kaisar yang menyetujui diadakannya pertemuan darurat.


“Tapi bagaimana caranya? Perangkat komunikasi tidak akan cukup untuk menyambungkan semua perwakilan daerah dalam satu sambungan video?” tanya Duke Dexter Rizery menatap keempat pemuda di depannya.


Veister tersenyum bangga dan berucap cepat, “Saya bisa melakukannya Duke. Kekuatan sihir saya sudah cukup untuk membuat sihir tingkat tinggi.”


“Apa maksud, Anda?” tanya Duke Dexter Rizery menatap Veister.


Pemuda dengan mata dua warna itu tersenyum menatap wajah bingung Duke Dexter. “Anda akan tau besok.”


Maka keesokan harinya mereka berkumpul di ruang pertemuan keluarga Rizery. Berbagai dokumen tampak menjulang di ujung meja, sedangkan Duke Dexter Rizery duduk di bagian tengah sebagai perwakilan rapat dari keluarga Rizery.


“Baiklah aku akan memulainya.”


Veister menatap Duke Dexter yang mengangguk kepadanya dan melirik Leister serta Laveron yang duduk di dekat duke. Diano yang menyiapkan beberapa dokumen berdiri di belakang kursi Duke.  Veister mulai mengangkat kedua tangannya dan merapalkan mantra.


“Alam yang selalu membuka tabir, pinjamkan sedikit matamu kepada kami agar semuanya terselesaikan. Izinkan kami saling terhubung dalam jarak dan waktu yang sama. Iotyn Eyes!”


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... 💐

__ADS_1


__ADS_2