
...⪻⪼...
“Jadi kita kembali ke kota Rizery?” tanya Laveron dari hologram komunikasi yang dibuka Veister untuk mereka.
Ivew menganggukkan kepalanya dan menatap Laveron dari layar hologram. Pemuda dengan mata navy itu saat ini masih berada di istana kekaisaran untuk melakukan pertemuan rutin dengan kaisar dan anggota pasukan militer laut dari wilayah Rizery, Wine Riveron.
Veister yang berada di belakang Ivew menatap Laveron yang memiliki sedikit kantung mata di bawah matanya menandakan pemuda dengan mata navy kurang istirahat.
“Jika kamu tidak cukup istirahat kita bisa membawa Tuan Muda dari keluarga Angena,” ujar Veister duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya.
Ivew menoleh dan melirik Veister yang tampak menunggu jawaban dari Laveron, sedangkan pemuda dengan mata navy itu terdiam dan mengusap kedua matanya dengan jemari berlapis sarung tangan hitam.
“Tidak, aku ikut. Aku akan menunggu kalian di kota Rizery.”
Laveron mengangguk dan segera memutus hologram komunikasi dengan keduanya. Manik emerald Ivew menatap Veister yang tampak santai di atas sofa.
Saat berbicara dengan Laveron gadis dengan mata emerald itu selalu penasaran dengan identitas asli sang pemuda. Namun, keduanya masih belum menemukan waktu yang tepat untuk kembali berbicara tentang hal yang tertunda.
“Sekarang apalagi yang kamu pikirkan, Ivew?”
Ivew menatap Veister saat mendengar pertanyaan sang pemuda. Rambut putih sebahu pemuda itu tampak berkilau saat manik emerald Ivew menatapnya.
"Perwakilan roh air itu seperti apa?" tanya Ivew ikut menyandarkan punggungnya pada sofa di belakangnya.
Veister terdiam dan berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan gadis di depannya.
"Aku hanya tahu sedikit. Roh air itu sangat tenang dan dia merupakan sumber kehidupan. Dia juga merupakan perwakilan roh yang sulit ditemukan karena bisa menyamar dimana saja. Perwakilan roh air juga tidak sembarangan memberikan berkah kekuatannya. Biasanya akan ada ujian yang diberikan kepada mereka yang menginginkan kekuatannya."
Ivew mengangguk dan mulai mengistirahatkan dirinya bersiap untuk perjalanan yang akan mereka lakukan ke kota Rizery.
__ADS_1
...***...
Tiga hari kemudian Ivew dan yang lainnya berada di halaman mansion Rizery. Diano segera menyambut mereka tepat di depan pintu mansion. Pemuda dengan mata obsidian itu menjabat tangan Ramound dan menunduk hormat kepada Veister.
Ivew melirik angin yang mengalir di sekitarnya dan manik emerald-nya memandang langit biru di kejauhan.
"Apa itu kamu? Saintess alam selanjutnya? Aku tidak menyangka aku akan melihatmu secepat ini."
Manik emerald Ivew melebar saat mendengar suara yang berbeda dari milik Windy dan Efir mengalun ke telinganya. Gadis itu melihat ke segala arah mencari dari mana sumber suara yang didengarnya berasal.
Veister yang melihat tingkah aneh Ivew menepuk pelan bahu sang gadis membuat gadis bermata emerald itu kembali menatapnya.
“Ada apa, Ivew? Apa kamu mendengar sesuatu? Jangan sampai kamu membuat Laveron kembali marah. Sebentar lagi dia akan sampai.”
Manik emerald Ivew menatap wajah Veister yang berubah serius dan menganggukkan kepalanya perlahan. Gadis itu melirik Ramound yang masih berbincang dengan Diano dan melirik langit biru di kejauhan.
Windy terbang di sekitar Ivew dan membiarkan sayap putihnya berkibar membawa angin sepoi-sepoi untuk sang gadis. Gadis itu hendak menjawab pertanyaan Veister, tetapi tersentak saat merasakan sesuatu membasahi telapak tangannya.
Penyihir suci itu segera menggunakan sihir penyembuhannya ke arah Ivew dan menarik perhatian Ramound yang baru saja selesai berbincang dengan Veister.
Pemuda dengan mata lilac itu mendekat ke arah keduanya dan hendak bertanya apa yang terjadi. Namun, tindakannya terhenti saat melihat darah yang membasahi punggung tangan Ivew.
“Ti-tidak apa-apa. Ini sering terjadi kalau aku banyak berpikir. Haha ….”
Gadis dengan mata emerald itu tertawa canggung dan membersihkan sisa darah yang berada di telapak tangannya dengan kain pemberian Veister. Diano segera mengajak mereka untuk beristirahat di kamar yang telah mereka siapkan.
“Apa gadis ini tidak bosan membuat orang lain khawatir?”
Ramound bergumam kesal saat melihat Ivew yang sedang dipapah Veister menuju kamar mereka. Manik mata lilac pemuda itu menatap punggung Ivew yang semakin menjauh bersama Veister dan segera mengikuti langkah keduanya dengan santai.
__ADS_1
Laveron datang menjelang makan malam di kediaman Rizery. Wajah pemuda itu kusut dengan kantung mata yang masih terlihat jelas. Namun, semua itu sirna saat manik mata navy pemuda itu melihat Ivew dan segera dirinya berlari memeluk sang adik.
Gadis dengan mata emerald itu hanya tertawa melihat tingkah Laveron dan membalas pelukan sang abang yang sekian hari tidak ditemuinya. Makan malam bersama keluarga Rizery itu berjalan lancar dan agenda selanjutnya dimulai dengan diskusi kegiatan mereka untuk esok hari.
Duke Dexter Rizery yang sempat berpapasan dengan Ivew sebelum rapat itu dimulai menanyakan keadaan sang gadis dan ikut senang saat gadis dengan mata emerald itu sudah pulih.
Ivew tersenyum dan mengucapkan terima kasih saat mendapat respon yang baik dari keluarga Rizery setelah kejadian dirinya menghilang. Gadis itu juga meminta maaf karena meninggalkan masalah di kediaman Rizery dan tersentak saat mendengar jawaban dari sang duke.
“Tidak masalah, Lady. Harta dan kerusakan yang kami dapatkan saat itu tidak ada artinya bagi kami, tetapi nyawa tidak ada harganya, Lady. Saya harap kesehatan dan keberuntungan selalu menaungi Anda sebagai saintess alam selanjutnya.”
Gadis itu tersenyum di tengah persiapan rapat di ruang pertemuan keluarga Rizery. Veister yang tengah berbincang bersama Laveron dan Diano serta Duke Dexter Rizery yang sedang berada di ruang kerjanya.
“Apa kamu sudah gila? Tersenyum sendiri seperti itu?”
Senyum di wajah Ivew hilang saat mendengar suara mengejek Ramound yang duduk di sampingnya. Pemuda dengan mata lilac itu menelisik wajah Ivew yang memandangnya kesal.
“Oh, apa kamu marah? Kesal denganku?”
“Tentu saja tidak, Tuan Muda Ramound. Sepertinya ada masalah dengan mata Anda.”
Senyum bisnis hadir di wajah Ivew membuat Ramound memandang ke arah lain dan tersenyum tipis. Selalu menyenangkan baginya saat mengganggu gadis yang akan menjadi saintess alam selanjutnya ini. Manik lilac Ramound melirik Ivew yang kini sedang membaca kertas yang diserahkan Diano.
Sepertinya akan banyak hal menarik yang terjadi jika aku terus mengikuti gadis ini dan aku pasti akan bertemu dengan bajingan yang sudah menyerang adikku itu. Batin Ramound menatap kertas yang baru saja diserahkan Diano kepadanya.
Diano yang menjadi pemimpin pertemuan mereka malam itu menganggukkan kepalanya ke arah Duke Dexter yang baru datang dan duduk di kursinya serta Veister dan Laveron yang juga sudah siap dengan strategi mereka.
“Baiklah … mari kita mulai pertemuan malam ini.”
...⪻⪼...
__ADS_1
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ... ✨