
...⪻⪼...
“Hei Ivew! Ivew Mirabeth!”
Gadis bermata emerald itu tersentak saat mendengar teriakan pemuda bermata navy di sampingnya. Laveron yang sedari tadi memanggil nama sang adik menghela nafas lega saat akhirnya gadis itu menanggapinya. Pemuda bermata navy itu membawa kudanya lebih dekat dengan kuda Ivew.
“Ada apa? Apa kaisar mengatakan sesuatu?” tanya Laveron memandang Ivew yang sedari tadi hanya diam.
Leister yang berada di depan mereka hanya melirik dari ujung mata perbincangan Mirabeth bersaudara dan mata ruby-nya menatap kucing Veister yang berada di pelukannya. Kucing hitam dengan ekor perak itu hanya menatap lurus ke depan tak peduli dengan angin yang menerpa bulunya.
Leister yang memimpin rombongan melirik lengangnya jalan yang berada di depan mereka, satu-satunya jalan yang menghubungkan istana kekaisaran dengan Kota Rizer.
Sejak keluar dari ruang kerja kaisar gadis itu hanya diam dan larut dalam pikirannya. Batin Leister kembali fokus memacu kecepatan kudanya.
Ivew yang berada tepat di belakang Leister melirik punggung pemuda bermata ruby itu dan beralih menatap Laveron yang menunggu jawabannya. Kalimat sang kaisar sebelum dirinya keluar dari ruang kerja kaisar sedikit membayangi langkahnya di tambah dengan kalimat Veister kemarin.
Manik emerald Ivew mengamati pemandangan disepanjang perjalanan. Tidak banyak pohon yang hadir di sepanjang perjalanan. Namun, angin terasa sejuk membelai kulitnya.
“Tidak ada, Bang. Aku hanya terpikir sesuatu,” jawab Ivew tersenyum menatap Laveron yang memandangnya dalam.
Gadis bermata emerald itu kembali menatap ke depan dan mengabaikan tatapan Laveron yang terus terarah kepadanya. Mereka mulai memasuki daerah perbatasan kekaisaran dengan Kota Rizer.
Manik emerald Ivew menangkap sungai-sungai yang membentang di sepanjang wilayah Rizer, tembok pelindung kota yang menjulang tinggi terlihat di kejauhan, dan mansion keluarga Rizery yang dominan dengan warna biru.
“Selamat datang di mansion Rizery!”
Mereka turun dari kuda masing-masing dan disambut oleh Diano Rizery yang menunggu kedatangan mereka di halaman mansion Rizery. Bunga lily biru tampak memenuhi taman yang berada di depan mansion sewarna dengan rambut biru Diano dan juga warna mansion keluarga Rizery.
__ADS_1
Leister segera menjabat tangan Diano yang menyambut mereka dengan senyum ramah. Mata obsidian Diano tampak berkilau saat terkena cahaya matahari yang bersinar terang. Laveron bersama beberapa rekan prajurit militer berdiri di belakang Leister yang masih asik berbicara dengan Diano.
Kucing Veister berdiri di samping Ivew dan melirik wajah gadis dengan mata emerald itu yang tampak sibuk dengan pikirannya seraya tersenyum miring. Angin sepoi-sepoi mengalir di sekitar mereka, membelai lembut tubuh mereka yang sedikit kepanasan karena cahaya matahari.
Semuanya pasti baik-baik saja, kan? Batin Ivew tetap menatap ke depan.
“Ivew ... biarkan kami menyejukkanmu! Lihat ada banyak air di sini! Penuh dengan warna biru yang akan membuatmu tenang!”
Ivew tersenyum saat suara lembut angin kembali terdengar olehnya. Benar-benar menenangkannya dari rasa gundah dan perasaan kalutnya yang sering memikirkan tentang takdir. Manik emerald Ivew memandang Laveron yang bertemu dan berjabat tangan dengan prajurit militer laut di bawah naungan keluarga Rizery.
Seragam mereka identik dengan warna biru muda, sangat kontras dengan seragam militer darat dibawah naungan keluarga flowerlax yang bewarna hitam. Ivew menatap pemuda yang menepuk pelan pundak sang abang, saat mereka berdua tertawa bersama atau sekedar berbicara singkat. Hubungan yang tampak hangat dan akrab.
Pemuda dengan mata aquamarine itu tersenyum saat bertemu pandang dengan mata emerald Ivew. Mata yang indah dan menenangkan, Ivew mendekat saat Laveron memanggilnya dan mengenalkan mereka berdua.
“Saya, Wine Riveron ketua prajurit militer laut. Salam kenal, Lady Mirabeth,” ucap sang pemuda.
“Salam kenal, Tuan Wine. Panggil saya Ivew saja,” ucap Ivew tersenyum dan melirik Laveron yang mengangguk.
Mereka sampai di kediaman Rizery menjelang sore hari karena itulah Diano segera mengajak mereka untuk beristirahat dan mengundang mereka untuk makan malam bersama Duke dari keluarga Rizery.
Ivew menatap kamar bernuansa biru yang diberikan untuknya selama mereka berada di wilayah Rizery, kamar yang terletak di antara kamar Laveron dan Leister. Kaki sang gadis melangkah menuju jendela kamarnya dan menatap hamparan lily biru yang terkena cahaya matahari.
Manik emerald Ivew beralih menatap tembok pelindung kekaisaran yang terlihat di kejauhan. Berbeda dengan tembok pelindung di daerah Flowerlax, di wilayah Rizery mereka memiliki gerbang yang menjadi akses keluar masuk menuju laut dan juga suku laut.
“Biru yang menenangkan.”
Ivew bergumam dan merebahkan dirinya di atas sofa di dalam kamarnya dan kembali tenggelam ke alam mimpi. Lagi dan lagi Ivew mendengar senandung indah dan angin yang membelai tubuhnya saat kesadarannya kembali hadir. Ivew membuka kelopak matanya dan membiarkan manik emerald-nya menyambut kembali ladang bunga di depan mata.
__ADS_1
“Ah ... Ivew! Kamu sudah datang!”
Ivew berbalik dan menatap gadis berambut putih yang tersenyum ke arahnya. Di tangannya terdapat beberapa bunga lily biru yang berkilau dan mengeluarkan harum seperti permen. Gadis itu mendekat ke arah Ivew dan segera mengajaknya menuju pohon besar di tengah ladang.
Ivew mengikuti dengan langkah tenang sembari merasakan wangi permen yang menyebar. Angin sepoi-sepoi menggerakkan rambut hitam legamnya yang tergerai. Gadis bermata emerald itu duduk bersandar pada pohon besar di belakangnya.
“Apa yang terjadi? Wajahmu tampak kacau dan gundah.”
Ivew tersentak dan menatap gadis berambut putih di depannya yang tersenyum. Jemari tangan sang gadis menyerahkan satu tangkai lily biru kepadanya. Ivew menerima dengan tenang dan tersenyum saat wangi permen dari bunga kembali menyebar memenuhi indera penciumannya.
“Kak Iletta, aku-”
“Jika kamu memikirkan tentang takdir itu hal yang sia-sia, Ivew. Tidak ada gunanya memikirkan sesuatu yang akan terjadi ke depannya, yang harus kamu lakukan hanyalah berusaha sekuat yang kamu bisa. Seperti filosofi lily biru ini.”
Iletta memotong jawaban Ivew seolah mengetahui hal yang menjadi sumber kegundahan si gadis bermata emerald. Ivew menatap lily biru yang ada di tangannya saat Iletta menyelesaikan jawabannya.
“Kamu tau filosofi lily biru? Mereka melambangkan kepercayaan diri terhadap kekuatan yang tinggi. Jadi, Ivew ... selama kamu punya kekuatan dan kamu melatihnya dengan baik kamu pasti bisa mengatasinya. Jangan biarkan ketakutan akan masa depan menghambat langkahmu.”
Gadis berambut putih itu tersenyum dan mengelus pelan puncak kepala Ivew. Rambut hitam legam gadis itu kembali bergerak saat angin sepoi-sepoi hadir di antara mereka. Ivew merasakan ketenangan mengisi hatinya dan kembali menatap lily biru di tangannya.
Iletta tersenyum melihat Ivew lebih tenang dan menatap hamparan bunga di depannya. Gadis itu melirik lily biru di tangannya dan memandang jauh ke hamparan bunga di depan mata dengan sorot mata yang berkilat.
“Kamu tau ... aku juga mencemaskan takdir dunia saat mendapatkan kekuatan alam sepertimu. Yah ... meski aku berakhir terbunuh karena terlalu mencemaskan banyak hal.”
...⪻⪼...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ... ✨
__ADS_1