
...⪻⪼...
Leister tersentak dan melirik Lolita yang terdiam setelah mendengarkan perkataan kucing hitam di depan mereka. Ivew menatap Veister yang tetap tenang dan terus menatap Lolita yang mengalihkan pandangan darinya.
“Serangan penyihir hitam itu bereaksi terhadapmu. Itu artinya hatimu mulai terikat dengan sesuatu berbau kegelapan yang menyebabkan secuil sihir hitam dari serangan itu bereaksi dengan darahmu.”
Suara Veister bergema dalam heningnya kamar Lolita. Laveron dan Ivew saling lirik dan kembali memandang kucing Veister yang mendekat ke arah Lolita.
“Maksud anda urat-urat hitam itu, Tuan Kucing?” tanya Leister dan kucing hitam itu kembali mengangguk.
Veister meletakkan tangannya di atas telapak tangan Lolita, ruangan itu kembali dipenuhi dengan cahaya coklat bercampur perak. Lolita tetap diam dan merasakan perasaan hangat saat cahaya dari kucing Veister perlahan menghilang. Mata ruby Leister menatap wajah Lolita yang lebih santai dan tangan pemuda itu bergerak memeluk Lolita.
Gadis bermata delima itu terdiam saat suara permintaan maaf Leister memasuki pendengarannya. Jemari tangan gadis itu bergerak mengelus punggung Leister dan memeluknya lebih erat. Laveron dan Ivew yang merasa canggung dengan permasalahan keluarga bangsawan di depan mereka hanya bisa diam. Mirabeth bersaudara itu melirik Veister yang mendekat ke arah mereka dan meminta gendongan dari Ivew.
“Ikatan kasih sayang bisa melepaskan kegelapan di dalam hati. Jadi jangan biarkan ikatan kasih sayang kalian hancur!” ucap kucing Veister yang kini berada di dalam gendongan Ivew.
Lolita yang masih berada di dalam pelukan Leister mengangguk. Laveron memutuskan untuk pamit pulang ke rumah mereka dan meminta maaf karena mereka hadir di waktu yang kurang tepat. Senyum dari Lolita dan Leister segera mematahkan kegundahan hati keduanya.
Pemuda bermata ruby itu melepas kepulangan kedua saudara Mirabeth itu di depan halaman mansion Flowerlax. Ivew dan Laveron mengangguk kepada Leister saat keduanya menaiki kuda. Pemuda bermata ruby itu menatap kucing Veister yang berada di dalam pelukan Laveron.
“Terima kasih, Tuan Kucing atas bantuan anda. Saya ... senang akhirnya Lolita mau membuka hatinya lebih banyak.”
Veister dan yang lainnya menoleh menatap Leister yang tersenyum. Kucing hitam itu mengangguk.
“Namaku Veister bukan Tuan Kucing,” jawab Veister dan segera menutup mata menyamankan dirinya dalam pelukan Laveron.
__ADS_1
Ivew tersenyum dan mewakili Laveron untuk pamit kepada Leister. Pemuda itu mengangguk dan tersenyum saat kuda Mirabeth bersaudara itu mulai keluar dari halaman mansion Flowerlax. Angin kembali datang membelai rambut peraknya dan manik mata ruby Leister melirik ke arah jendela ruang kerja duke yang masih menyala.
Mata ruby itu bertemu dengan mata merah darah duke yang terus mengamatinya. Leister mengalihkan pandangannya dan kembali masuk ke dalam mansion berjalan santai menuju kamar Lolita. Keduanya memutuskan untuk menuntaskan semua rasa dan gundah yang sempat merenggangkan hubungan mereka.
“Baguslah kalian akhirnya saling terbuka. Kucing itu benar ... jangan sampai kegelapan memakan hati kalian.”
Suara Grein terdengar di antara sepinya lorong mansion. Leister tersenyum dan mengangguk melirik Grein yang terbang di sampingnya. Pemuda itu kembali masuk ke dalam kamar Lolita meninggalkan Grein yang tetap terbang dalam sunyi nya lorong.
“Aku tidak segan-segan untuk menghabisi keturunan flowerlax yang terikat dengan kegelapan. Karena kegelapan akan mengacaukan dunia ini dan akan menambah tugas baru untuk anak itu.”
Ivew sedikit merinding saat merasakan angin membelai rambut hitamnya. Bulan biru bersinar dengan terang di atasnya menerangi jalanan menuju rumah hangat mereka. Manik emerald Ivew menatap punggung Laveron yang berada di depannya.
Rambut hitam pemuda itu bergerak mengikuti arah angin dan goncangan kuda sedangkan ekor perak kucing Veister tampak melambai-lambai. Ivew kembali teringat dengan perkataan Veister tentang sihir hitam dan hubungannya dengan Lolita.
“Itu benar. Karena itulah aku mencegahnya lebih awal karena waktu dan takdir dunia ini sudah sangat kacau.”
Suara Veister terdengar dalam kepala Ivew. Manik dua warna kucing itu tetap fokus menatap ke depan sembari merebahkan kepalanya dalam rangkulan tangan kiri Laveron. Pemuda bermata navy itu hanya tersenyum saat merasakan bulu hangat Veister menyentuh kulitnya. Lain hal nya dengan Ivew yang berada di atas kudanya gadis itu mencerna pernyataan tiba-tiba Veister kepadanya.
Kuda keduanya mulai memasuki kawasan rumah penduduk dan akhirnya sampai di rumah mereka yang berada paling ujung dari rumah lainnya. Rumah yang cukup tersembunyi dari arah jalanan desa. Laveron turun dari kudanya dan segera mengarahkan kudanya dan kuda Ivew menuju kandang kuda.
Ivew menunggu Laveron sembari membuka pintu rumah mereka dengan energi mana. Saat gadis bermata emerald itu membuka pintu rumah mereka harus vanilla segera menyambut penciuman membuat kedua saudara Mirabeth itu lebih tenang.
“Istirahatlah, Ivew! Kita punya banyak waktu untuk bersantai. Mau berburu besok?”
Laveron bertanya sembari melepaskan jubah hitam seragam militernya dan melepaskan sarung pedang dari pinggangnya. Gadis bermata emerald itu mengangguk dan segera naik ke kamarnya di lantai dua yang diikuti oleh kucing Veister tanpa Laveron sadari.
__ADS_1
Membuka pintu kamarnya manik emerald Ivew teralihkan pada anggrek biru yang kembali bersinar terkena cahaya bulan. Gadis itu mendekat dan menatap ukuran anggrek biru yang sedikit lebih besar dari yang terakhir dilihatnya.
“Bunga itu berevolusi, Ivew,” ucap Veister yang berubah ke bentuk manusianya dan menutup pintu kamar Ivew.
Gadis bermata emerald itu menoleh menatap Veister yang berjalan mendekat ke arahnya. Tangan pemuda itu memegang kelopak bunga yang terus bermekaran saat cahaya bulan mengenainya.
“Berevolusi?”
“Ya ... sama seperti kekuatanmu. Alam akan berevolusi begitu juga dengan elemen di dalamnya.”
Veister menatap wajah Ivew yang berdiri di sampingnya. Gadis itu mengangguk dan duduk di tepi tempat tidurnya, merapikan rambut hitamnya yang kacau.
“Aku penasaran dengan hal ini. Kenapa aku karakter yang tidak pernah ada dalam dunia ini justru mendapat berkah dari alam? Bukankah ada banyak karakter lainnya dengan potensi yang lebih baik?”
Ivew menatap punggung Veister yang terus memegang kelopak bunga anggrek biru. Pemuda itu berbalik dan menatap Ivew dengan manik mata dua warnanya.
“Kamu akan segera mengetahui kebenarannya, Ivew. Tepat saat jiwamu siap menerima ingatan pemilik tubuh ini,” jawab Veister dengan senyum kecil di wajahnya.
Saat keduanya sedang sibuk berdiskusi mereka justru tak menyadari seseorang yang tepat berdiri di balik pintu hendak mengetuk pintu kamar Ivew. Manik navy pemuda itu melebar dan terdiam di depan pintu mendengar kalimat yang baru saja dituturkan oleh si pemilik kamar.
“Apa ... maksudnya itu?”
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya tentang cerita ini, agar cerita ini semakin baik kedepannya .... ✨
__ADS_1