
...⪻⪼...
“Apa dia mati?”
Ivew samar-samar mendengar suara berat di dekatnya dan berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa berat. Gadis itu kembali meringis saat merasakan sakit pada bahu kanannya.
Suara ringisan Ivew menarik perhatian sosok-sosok berjubah hitam di luar ruangan. Manik hitam kosong mereka memandang ke arah Ivew yang terbaring di dalam jeruji besi kegelapan.
“Pemilik kekuatan alam tidak mungkin mati semudah itu! Kalau dia mati itu artinya dia lemah! Hihi ....”
Sosok berjubah lainnya muncul di belakang mereka dan ikut dalam pembicaraan mereka. Tiga sosok berjubah hitam pekat itu hanya memandang datar ke arah Ivew yang mulai membuka mata dan menyesuaikan diri dengan remangnya ruangan.
Manik emerald gadis itu memandang ke arah tiga sosok berjubah yang terus menatapnya. Gadis itu bangkit duduk dan kembali meringis saat menggunakan tangan kanannya sebagai tumpuan untuk bangun.
“Sepertinya dia memang lemah,” sindir salah satu sosok berjubah hitam itu menatap Ivew dengan mata hitam yang terlihat kosong.
Ivew mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan dari sosok asing di depannya. Gadis itu melirik api merah yang berada di luar jeruji besi yang mengurungnya. Menatap remangnya kegelapan sejauh mata memandang dan tiga sosok asing yang terus berbicara tentang betapa lemahnya dirinya.
Ivew kembali mengingat pertemuannya dengan sosok bertaring serta pesan Iletta agar dirinya tetap tenang. Gadis itu mengepalkan tangannya dan menatap tajam sosok-sosok di depannya. Salah satu sosok berjubah itu tertawa kecil dan mengeluarkan sulur hitam dengan menggerakkan tangannya.
Ivew yang melihat sebuah sulur hitam mengarah kepadanya segera menghindar meski harus menahan sakit pada bahu kanannya yang sekali lagi terluka akibat goresan sulur hitam itu. Suara ringisan gadis itu bergema di remangnya ruangan di sekitar mereka.
Dua sosok berjubah lainnya cekikikan dan melakukan hal yang sama. Manik emerald Ivew berkilat akan kemarahan dan berusaha mengeluarkan kekuatan anginnya dengan sisa tenaga yang ada. Gadis itu tersentak saat merasakan rasa panas di seluruh tubuhnya dan memuntahkan darah segar.
“Hihi ... kamu tidak akan bisa menggunakan kekuatan angin mu! Master kami menyegelnya.”
Salah satu sosok berjubah tertawa kecil saat melihat Ivew menyeka darah yang terus keluar di sudut bibirnya. Ivew tak punya pilihan selain menghindar dari sulur hitam yang terus mengarah padanya dan menyandarkan tubuhnya pada sudut dinding di dekatnya. Gadis itu terengah-engah dan menatap sosok-sosok berjubah yang kembali tertawa puas.
“Master membawa mainan yang menarik. Benar, kan?”
__ADS_1
Salah satu sosok berjubah hitam bersuara dan diangguki oleh dua sosok berjubah hitam lainnya. Tawa mereka kembali mengisi remangnya ruangan sekitar, sedangkan Ivew menundukkan kepalanya berusaha menahan rasa pusing yang kembali datang. Manik emerald gadis itu menatap luka pada bahu kanannya yang kembali mengalirkan darah.
“Wah ... ternyata kalian memang tak punya hati nurani ya? Beraninya kalian menyerang seorang Lady tanpa senjata dan menganggapnya sebuah mainan? Dasar monster!” cibir seseorang yang berada di jeruji besi di depan Ivew.
Gadis bermata emerald itu mengedarkan pandangannya dan bertemu pandang dengan manik mata orchid seorang pemuda. Rambut abu-abu sebahu pemuda itu tampak remang di bawah cahaya api merah. Sosok-sosok berjubah yang baru saja mengeluarkan sulur hitamnya ke arah Ivew berbalik dan menatap pemuda dengan mata orchid yang tersenyum remeh.
Warna mata yang cukup familier. Batin Ivew saat pemuda dengan mata orchid itu berdebat dengan beberapa sosok berjubah hitam di depannya.
Salah satu sosok berjubah hitam itu menggerakkan sulur hitam ke arah sang pemuda. Namun, pemuda itu berhasil menghindarinya dengan baik membuat sosok berjubah hitam itu mengerang kesal.
Kekesalan sosok berjubah hitam itu terhenti saat sebuah suara raungan menggetarkan dinding-dinding jeruji besi di sekitar mereka. Ivew menatap sosok-sosok berjubah hitam itu yang kembali serius dan bersiap pergi.
“Sampai jumpa lagi mainan!”
Sosok-sosok berjubah hitam itu melambaikan tangan ke arah Ivew yang menatapnya kesal dan menghilang dalam kegelapan di ujung lorong. Ivew bersandar pada dinding di belakangnya dan menstabilkan nafasnya yang tidak beraturan. Jemarinya bergerak menyeka keringat dingin yang terus mengalir dari dahinya.
Manik emerald Ivew menatap darah yang kembali membasahi baju bagian bahu kanannya. Pemuda dengan mata orchid yang berada di dalam jeruji besi di depan Ivew memperhatikan gadis bermata emerald itu dalam diam.
“Pakailah! Setidaknya obat oles dalam botol ini bisa menghentikan pendarahan mu,” ungkap pemuda dengan mata orchid itu mendekatkan botol kecil bulat di tangannya ke arah Ivew.
Gadis bermata emerald itu mengeluarkan tangannya dan berusaha meraih botol kecil bulat di tangan sang pemuda. Pemuda itu menguntai senyum saat melihat Ivew berhasil meraih botol di tangannya.
“Jika kamu tidak keberatan boleh aku bertanya, Lady?”
Pemuda itu kembali bersuara menatap Ivew yang baru saja selesai memberikan obat pada luka di bahunya. Ivew mengangguk sebagai jawaban dan mendekatkan diri ke arah jeruji hitam di depannya.
Manik emerald gadis itu menatap manik orchid pemuda di depannya dan menunggu dengan tenang pertanyaan yang akan diajukan sang pemuda.
“Apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa mendapat luka itu? Dan bagaimana kamu bisa berada di sini, Lady?”
__ADS_1
Ivew terdiam dan menatap gurat khawatir di wajah pemuda di depannya. Gadis bermata emerald itu menyapu pandangannya pada jeruji besi di sekitarnya. Api merah yang sama saat bertemu sosok bertaring itu kembali masuk ke dalam penglihatannya.
“Mereka datang sendiri dan menyamar menjadi salah satu rekanku. Aku cukup lengah dan berakhir di tangkap olehnya,” terang Ivew melirik pemuda bermata orchid di depannya.
Pemuda itu mengangguk dan kembali bersandar pada dinding di belakangnya. Suara raungan serta getaran kembali terdengar oleh keduanya. Ivew ikut menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya dan terdiam saat wajah Laveron melintas dalam memorinya. Kedua tangan gadis itu mengepal erat dengan mata berkilat akan kemarahan saat mendengar tawa dari ujung kegelapan.
“Sepertinya mereka menemukan mainan baru lagi.”
Pemuda dengan mata orchid itu berbisik sembari melirik ke arah ujung kegelapan.
Ivew melirik pemuda bermata orchid yang kini tersenyum menatap wajahnya. Rambut abu-abu sebahu sang pemuda sedikit bergerak terkena angin yang mengalir di sekitar mereka.
“Apa lukamu sudah lebih baik, Lady?”
Pemuda itu kembali bertanya dan Ivew mengangguk sebagai jawaban. Manik emerald Ivew melirik luka di bahunya yang tak lagi mengalirkan darah dan rasa nyeri yang perlahan mulai menghilang.
“Terima kasih atas obatnya, Tuan Muda. Anda ... terlihat seperti seorang bangsawan, apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Muda?”
Ivew bertanya saat manik emerald-nya menangkap pakaian yang digunakan serta kharisma sang pemuda yang terasa seperti seorang bangsawan.
Pemuda bermata orchid itu tersenyum kecil dan menatap Ivew dengan binar di matanya.
“Kamu benar, Lady. Aku seorang bangsawan dari keluarga Angena, Rayn Angena,” ucap Rayn tersenyum menatap Ivew yang sedikit kaget.
“Salam kenal, Lady,” sambung pemuda dengan mata orchid itu tersenyum lembut.
...⪻⪼...
Siang-siang buka kaleng
__ADS_1
Happy reading ...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨