
...⪻⪼...
Satu jam sebelumnya, perbatasan Kekaisaran dengan Kota Rizery.
“Sial! Bagaimana mungkin aku bisa lengah!”
Veister berteriak frustasi saat dirinya berusaha mengejar Ivew dengan sihir teleportasinya menuju mansion Rizery. Pemuda dengan mata dua warna itu kelelahan dan hanya bisa berteleportasi separuh perjalanan.
Manik matanya menatap sekeliling saat menangkap keberadaan Mansion biru keluarga Rizery dari kejauhan. Menyeka keringat yang mengalir menuruni dahinya Veister bangkit berdiri dan mulai berjalan di bawah terik matahari siang.
“Penyihir hitam itu! Serangannya melemahkan sihirku!”
Veister bergumam dan terus berjalan meski efek serangan penyihir hitam itu masih menyiksanya. Saat langkahnya semakin limbung Veister berpapasan dengan seorang pemuda bermata aquamarine menggunakan seragam yang identik dengan warna biru muda sedang menunggang kudanya menuju daerah perbatasan kekaisaran. Pemuda itu segera turun dari kereta kudanya dan membantu Veister yang hampir jatuh.
“Hei kamu baik-baik saja, Tuan?”
Pemuda itu merangkul Veister yang hampir jatuh dan mendekatkan telinganya ke mulut Veister yang mulai kehabisan suara.
“Bawa aku ... ke mansion Rizery! Cepatlah!”
Pemuda bermata aquamarine itu menatap Veister yang kelelahan dan kemudian mengangguk. Membantu pemuda berjubah hitam perak itu naik ke atas kudanya dan mulai memacu kudanya menuju Mansion Rizery.
Manik dua warna Veister menatap Mansion Rizery yang mulai memasuki penglihatannya dan merasa gusar saat melihat samar-samar cahaya hitam terlihat di salah satu kamar.
Pemuda bermata aquamarine yang berada di depan Veister meliriknya saat mendengar Veister yang terus menghela nafas. Memasuki gerbang mansion Rizery keduanya tersentak saat mendengar pecahnya kaca di salah satu kamar di mansion.
Samar-samar manik mata kedua pemuda itu menangkap cahaya kehitaman yang keluar dari jendela kamar. Veister mulai panik saat merasakan gelang pemberiannya pada Ivew bereaksi.
“Ivew! Kamu bisa mendengar ku, kan?”
Veister berteriak dalam kepanikan saat kuda yang di bawa sang pemuda melaju lebih cepat menuju halaman mansion. Pemuda bermata aquamarine itu melirik Veister yang menyebut nama Ivew.
__ADS_1
Bukankah itu nama adiknya Laveron? Batin pemuda dengan mata aquamarine itu.
“Suara itu! Ivew kamu di mana? Menjauhlah darinya! Dia berbahaya!”
Veister yang awalnya bernafas lega saat mendengar suara Ivew memasuki kepalanya kembali panik saat mendengar suara berat dari sosok yang menyerangnya sebelumnya. Pemuda bermata dua warna itu menatap mansion Rizery yang berjarak lima belas meter dari mereka.
“Sial! Ivew tunggu ak-”
Veister terdiam saat tak lagi mendengar suara Ivew di kepalanya. Pemuda itu merasa gelang pemberiannya pada Ivew pecah. Keduanya segera turun dari kuda dan bertemu dengan Leister dan Laveron yang juga baru kembali dengan membawa kuda mereka. Kedua pemuda itu memandang kaget ke arah Veister dan pemuda dengan mata aquamarine itu.
“Tuan Wine, kamu dari mana? Dan ... Tuan Veister? Kenapa Anda di sini?” tanya Leister menatap Veister yang tampak kotor dan juga kelelahan.
“Saya habis patroli dan bertemu dengannya di jalan perbatasan menuju mansion,” jelas Wine melirik Veister yang berdiri di sampingnya dengan mata aquamarine-nya.
“Dia ... Veister?”
Laveron bertanya dan melirik sosok Veister yang berada di depannya. Pemuda dengan manik dua warna itu mengangguk patah-patah dan kembali berseru panik.
“Ada apa dengan Ivew?”
Laveron bertanya memotong ucapan Veister. Manik navy sang pemuda itu menatap Veister yang terdiam dan melirik ke arah jendela kamar yang pecah. Leister dan Laveron mengikuti arah pandang Veister dan menatap jendela kamar yang pecah.
Ketiganya terdiam saat merasakan aura yang mencekam dari celah jendela. Beberapa ksatria keluarga Rizery berlari di sekitar mereka bersamaan dengan Diano yang berlari keluar dari dalam mansion.
“Ada apa, Diano?” tanya Leister melihat ekspresi panik di wajah sang pemuda bermata obsidian.
“Aku tidak tau! Tiba-tiba kami mendengar pecahnya kaca di kamar Lady Mirabeth dan saat para pelayan memeriksanya tak ada jawaban dari dalam kamar. Kami sudah mencoba membuka paksa pintu kamar, akan tetapi gagal seolah ada sesuatu yang menghalanginya!”
Diano menjelaskan dengan nafas tersengal sehabis berlari dari kamar ruang kerjanya saat mendapat laporan dari pelayannya. Pemuda dengan mata obsidian itu sudah mencoba membuka pintu kamar Ivew dengan menggunakan aura atau pun tebasan pedangnya tetapi tak ada hasil yang di dapat hingga dirinya berinisiatif untuk melihat keadaan dari luar.
Laveron yang mendengar penjelasan Diano segera berlari ke dalam mansion menuju kamar sang adik diikuti oleh Wine yang ingin membantunya. Leister yang melihat Laveron berlari melirik Veister yang kelelahan di sampingnya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi, Tuan Veister?” tanya Leister menatap Laveron yang mulai merapalkan mantra dan mengarahkan kekuatannya menuju celah jendela kamar yang pecah.
Pemuda dengan mata dua warna itu berdecak kesal saat cahaya yang muncul di telapak tangannya kembali menghilang dan tak mencapai celah yang pecah pada jendela kamar. Leister segera membantu Veister yang hampir tersungkur. Manik ruby-nya menatap wajah Veister yang pucat dan dipenuhi keringat.
“Jadi yang bersama saya dalam perjalanan itu bukan Anda?”
Leister kembali bertanya dan menatap Veister yang menggelengkan kepalanya. Pemuda dengan mata ruby itu segera memahami situasinya dan mulai menyadari sikap aneh kucing Veister selama perjalanan dengannya. Kucing hitam yang biasanya tertidur saat berada di dalam rangkulan Laveron ketika terkena angin itu justru hanya menatap lurus ke depan selama perjalanan bersamanya.
Pemuda bermata ruby samar-samar juga merasakan aura aneh dari kucing yang berada di dalam pelukannya. Namun, segera di abaikannya karena teralihkan oleh percakapan Laveron dan Ivew di belakangnya.
“Jadi siapa sosok yang menyamar menjadi Anda itu?”
Diano yang sedari tadi menyimak pembicaraan bertanya dan menatap Leister yang membantu merangkul bahu Veister untuk berdiri lebih baik. Pemuda dengan mata dua warna itu mengepalkan tangannya dan menatap cahaya hitam yang semakin banyak keluar dari celah jendela yang pecah.
“Dia penyihir hitam dan tujuannya untuk membunuh pengguna kekuatan alam!”
Leister terdiam dan melirik kaca jendela yang pecah. Kedua pemuda itu tersentak saat kembali melihat kaca lain di kamar yang sama pecah dan mengeluarkan sulur hitam penuh duri di kedua sisinya. Veister mulai mengangkat tangannya dan mengarahkan kekuatannya menuju sulur yang keluar dari celah kaca.
“Light uctter!”
Sebuah cahaya berwarna perak kecoklatan keluar dari kedua telapak tangan Veister dan bergerak memotong sulur penuh duri yang terjulur keluar jendela. Kedua pemuda itu segera menghindar saat sulur itu hampir mengenai mereka. Leister menutup hidungnya saat merasakan bau busuk yang menguar.
Manik dua warna Veister menatap tajam asap hitam yang keluar dari sulur. Kedua pemuda itu tersentak saat mendengar keributan dari dalam kamar dan segera menatap ke arah jendela kamar. Manik ruby Leister melebar saat menatap sosok hitam yang menyeringai lebar di kaca jendela dan segera menghilang.
Veister segera mendongak saat merasakan sesuatu mendekat ke arah mereka dan segera meneriaki
beberapa ksatria yang sedang berbicara dengan Diano di sekitar mereka untuk berlindung.
“Menghindar semuanya!”
...⪻⪼...
__ADS_1
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya ... ✨