
...⪻⪼...
“Selamat datang, Saintess, Penyihir Suci dan Tuan Muda Ramound. Kaisar menunggu Anda semua di dalam.”
Ivew menganggukkan kepalanya dan melirik sekilas gaun berwarna hijau dengan jubah putih bergaris emas di luarnya.
Beberapa pelayan yang lewat di sekitarnya menunduk hormat saat pandangan mata mereka bertemu dengan mata emerald Ivew. Gadis itu melirik Veister yang juga menggunakan jubah yang sama dengannya.
Setelah pembicaraan mengejutkan mengenai kemunculan roh tanah dengan Veister semalam. Penyihir suci itu segera meninggalkan kamarnya saat Ivew bertanya lebih lanjut mengenai roh tanah.
Pintu ruangan itu terbuka menampilkan Kaisar Aradi yang duduk di atas singgasananya. Ketiganya memasuki ruangan dan segera membungkuk hormat kepada Kaisar.
“Selamat datang kembali untuk kalian semua. Aku harap kalian tidak masalah saat aku mendesak pertemuan ini mengingat kondisi kekaisaran kita dalam keadaan darurat.”
“Tidak masalah, Yang Mulia.”
Veister menjawab sebagai perwakilan dan Kaisar Aradi menganggukkan kepalanya. Mata perak Kaisar Aradi beralih menatap ke arah Ivew yang masih menundukkan kepalanya.
“Apa kamu baik-baik saja, Lady? Ah, tidak maksudku, Saintess?”
Ivew mengangkat sedikit kepalanya dan mengangguk seraya menjawab sopan pertanyaan kaisar. Acara salam itu segera berakhir saat kaisar menyampaikan tujuan diadakannya pertemuan tersebut.
Ramound sesekali melirik Ivew yang berada di samping Veister. Wajah gadis itu tampak tegang membuat pemuda itu hampir saja tertawa dan meledeknya.
“Kita mengalami banyak kerugian karena serangan ini. Kepercayaan rakyat berkurang dan banyak ksatria serta rakyat yang saling berlawanan.”
“Jadi, maksud Anda melakukan penobatan adalah untuk menyatukan kembali kedua pihak, Yang Mulia?”
Kaisar Aradi mengangguk dan tersenyum kecil, begitu juga dengan Ramound yang tersenyum tipis. Veister melirik suasana sekitarnya dan kembali fokus kepada Kaisar.
Penyihir suci itu memasang pelindung serta sihir kedap suara agar pembicaraan mereka tidak bocor keluar.
“Apa para roh alam mengatakan sesuatu mengenai situasi ini, Saintess?”
Ivew menggelengkan kepalanya dan melirik Veister yang terus melirik sekitarnya. Gadis itu mulai merasakan perasaan ganjil yang tak bisa dijelaskannya.
Tak lama kemudian Kaisar menyudahi pertemuan mereka dan menyampaikan kabar bahwa pelantikan Ivew sebagai saintess akan diadakan lusa.
Gadis itu diminta untuk mengikuti serangkaian acara dan juga kelas untuk menambah pengetahuannya mengenai kekaisaran.
__ADS_1
Veister dan Ramound tentu menemani Ivew selama dua hari tersebut, meski sesekali Veister meninggalkan Ivew bersama Ramound saat dirinya mendapat panggilan dari Kaisar.
...***...
“Apalagi yang kamu pikirkan, Saintess?”
Ivew tersentak saat mendengar nada kesal Ramound yang duduk di sampingnya. Saat ini keduanya sedang berada di taman istana, sedangkan Veister kembali mendapat panggilan dari kaisar tentang acara yang akan diadakan esok hari.
Ivew hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menatap bunga di sekitarnya. Samar-samar gadis itu mendengar suara dari rakyat yang berdiri di depan gerbang istana kekaisaran.
Penobatannya sebagai saintess akan dilaksanakan di halaman depan istana kekaisaran dengan mengundang bangsawan yang sudah ada di istana serta sang penyihir suci, Veister.
Kenapa aku terus merasa gelisah soal hari esok? Apa ini juga ada hubungannya dengan Windy? Batin Ivew menggenggam erat kedua tangannya dan hal itu tak luput dari perhatian Ramound.
“Jangan berfikir negatif, Saintess. Lebih baik fokus dengan penobatan esok hari dan berusaha menunjukkan sebaik mungkin kepada rakyat bahwa kamu dapat dipercaya.”
Ivew kembali menatap hamparan bunga di depannya. “Aku tahu, hanya saja-”
“Jangan khawatir. Kami semua akan membantumu.”
Ivew terdiam saat pemuda di sampingnya itu memotong kalimatnya dan kemudian menguntai senyum di wajahnya saat menatap wajah Ramound yang tersenyum hangat kepadanya. Senyum yang cukup menenangkan rasa gundah di hatinya.
Ivew tersenyum kecil saat mendengar suara Etwar di kepalanya. Gadis itu mendongak menatap langit biru di atasnya dan beberapa awan kelabu yang tampak berdekatan bergerak pelan di atasnya.
Ivew kembali memikirkan perkataan Etwar soal bantuan dari roh tanah, Aland. Gadis itu belum sempat bertemu langsung dengan roh tanah yang dikatakan Veister cukup sensitif dan sudah bersembunyi cukup lama dari dunia.
Apa alasan roh tanah itu baru keluar saat ini dan apa alasannya roh tanah itu tidak membantu saintess sebelumnya? Apa rasa traumanya begitu parah? Dan yang lebih mengganggu pikiran Ivew adalah apakah roh tanah itu menyukainya?
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Keduanya menoleh menatap Veister yang berjalan santai dengan jubah hitam-perak yang biasa digunakannya. Penyihir suci itu segera duduk di samping Ramound dan menghela nafas lelah.
“Apa terjadi sesuatu, Veister?” tanya Ivew menatap wajah lelah sang pemuda.
Penyihir suci itu hanya menggelengkan kepalanya dan menceritakan sedikit aktivitas yang dilakukannya. Mulai dari menemui kaisar, memasang pelindung dan sihir keamanan bersama beberapa penyihir muda dan juga ksatria, serta memantau keadaan di sekitar istana kekaisaran.
“Wah … penyihir suci kita sangat bekerja keras.”
Veister hanya mendengus kesal mendengar pernyataan Ramound, sedangkan Ivew bangkit berdiri dan berjalan ke arah salah satu bunga lily putih yang berada di sudut lain taman istana kekaisaran membuat Ramound dan Veister hanya memandang punggungnya yang menjauh.
__ADS_1
“Biarkan saja dia. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri,” ucap Ramound melirik Veister di sampingnya.
“Aku tahu itu, Bodoh! Jangan memerintahku seenakmu,” ujar Veister kesal dengan Tuan Muda keluarga Angena itu dan memilih menggunakan sihir pelindung di sekitar mereka.
Pikiran gadis itu tiba-tiba memikirkan Laveron yang saat ini masih belum jelas keberadaannya. Rasa gelisah kembali hadir di hati Ivew, apakah Laveron akan bernasib seperti Duke Ekan yang sudah pergi tanpa ada yang mengetahuinya?
Apa semesta akan memberikannya luka kehilangan lagi? Ivew terlalu takut berandai-andai hingga tangannya tanpa sadar mematahkan lily putih di depannya.
“Saintess! Apa … kamu … mendengarku?”
Gadis itu mengerutkan keningnya dan melihat ke segala arah saat mendengarkan suara lembut Windy yang putus-putus.
Itu suara Windy, kan? Dimana dia? Batin Ivew melirik Veister dan Ramound yang tampak adu mulut.
“Benar. Itu Windy, tetapi kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaannya?” tanya Etwar tenang di dalam kepalanya.
Efir tiba-tiba hadir di sampingnya dalam bentuk bola api kecil berwarna merah bata. Ivew sedikit kaget saat bola api itu mendekat ke arahnya. “Aku merasakan hal yang aneh. Berhati-hatilah, Saintee-”
Belum selesai peringatan dari Efir sebuah panah hitam dengan ujung merah datang dari arah atas Ivew dan menghancurkan pelindung yang dibuat oleh Veister dengan ledakan yang bergema.
Veister dan Ramound yang sedang adu mulut tersentak dan segera mendekat ke arah Ivew. Namun, gerakan keduanya terhenti saat panah lainnya datang dan langsung menghantam lengan kanan Ramound.
Pemuda itu berteriak kesakitan saat panah hitam itu langsung melebur dan mengalirkan darah hitam dari lengannya.
Ivew yang sebelumnya sempat menghindar dari panah tersebut dengan bantuan Efir segera mendekat ke arah Ramound yang terduduk di samping Veister.
Penyihir suci itu segera menggunakan sihir penyembuhnya dan Ivew menatap tetesan darah Ramound di atas halaman istana yang membentuk sebuah tulisan.
Ramound yang pandangannya sedikit kabur itu melihat wajah Ivew yang berada di depannya tampak menahan amarah begitu juga Veister yang sedang menyembuhkan lukanya.
Kedua pemuda itu melihat ke arah Ivew memandang dan kembali menemukan hal yang akan mengganggu mereka.
“Fufu … kami menunggumu, Saintess Alam Selanjutnya!”
...⪻⪼...
Hai ... White Blossom disini .... 🌺
Gimana bab kali ini?
__ADS_1
Penasaran dengan kelanjutannya? aku rencana mau doble update nih ... Ada yang nunggu bab selanjutnya? Kalau ada komen ya ... 🌺