
⪻⪼
Langkah Rayn terhenti saat mendengar suara berat dari sosok berjubah yang berdiri tak jauh darinya. Pemuda itu berdecak kesal dan terus berjalan, selangkah demi selangkah menuju Ivew yang berusaha menegakkan tubuhnya. Manik orchid Rayn memandang ke arah sosok berjubah hitam yang berdiri bersama rekannya yang lain.
Sialan! Andai pedangku masih ada di sini! Batin Rayn yang kini berdiri di depan Ivew yang masih terduduk.
Gadis dengan mata emerald itu mengerang dan berusaha mendongak menatap sosok-sosok hitam tak jauh dari mereka. Salah satu sosok berjubah hitam yang berdiri paling depan kembali mengeluarkan bola hitam ukuran sedang di depannya.
Ivew mengangkat kembali tangannya dengan gemetar dan mengeluarkan perisa angin untuk melindungi mereka berdua. Rayn segera membantunya untuk berdiri dan menjadi sandaran untuk Ivew yang mulai kehilangan tenaga.
“Akhirnya ketemu ... kamu bisa mendengar ku, kan?”
Gadis dengan mata emerald itu sedikit tersentak saat mendengar suara lembut dari angin yang mengalir menggerakkan rambut hitam legam sepunggungnya. Ivew menatap angin biru muda yang muncul lebih besar di telapak tangannya.
Gadis itu menguntai senyum dan menembakkan anginnya untuk mendorong jauh sosok berjubah hitam di depan mereka. Salah satu sosok berjubah hitam yang hendak mengeluarkan sulur hitam ke arah keduanya terlempar mundur bersamaan dengan beberapa rekannya.
Rayn tersentak dan melirik Ivew yang masih tersenyum. Pemuda dengan mata orchid itu berusaha mencari senjata yang bisa digunakannya untuk membantu Ivew, sedangkan Ivew terus memukul mundur sosok-sosok berjubah
hitam itu dengan tembakan anginnya.
“Tuan Muda, apa Anda tau kita di daerah mana saat ini?” tanya Ivew tanpa menatap Rayn saat tangannya terus berusaha mengatur tembakan anginnya.
Rayn menoleh dan menjawab cepat, “Aku rasa kita di wilayah Angena lebih tepatnya di pegunungan batu yang berbatasan dengan daerah Flowerlax.”
Ivew mengangguk dan melirik bebatuan yang terletak di atas gunung. Gadis itu mulai memperhitungkan jarak kekuatan anginnya dengan bebatuan kokoh di atas gunung. Rayn yang melihat sosok-sosok di depannya terlempar mundur karena kekuatan Ivew melirik ke arah rimbunnya pohon di belakang mereka.
__ADS_1
Pemuda dengan mata orchid itu kembali menggendong Ivew dan berlari membawa tubuh gadis itu menjauh. Ivew yang digendong sedikit tersentak, tetapi segera berkonsentrasi untuk mengeluarkan kekuatan angin yang lebih besar.
“Tuan Muda Anda tidak takut ketinggian, kan?” tanya Ivew pelan saat mereka sudah menuruni lereng gunung yang penuh pepohonan.
Rayn melirik Ivew dan menggelengkan kepalanya, pemuda itu berusaha fokus menuruni lereng dan menghindari tergelincir karena membawa Ivew di gendongannya. Ivew mengangguk dan tersenyum.
“Pusaran udara yang mengalir di sepanjang dunia, bantu kami menghadapi kesulitan yang tak terduga. Pinjamkan alunan melodi mu untuk membantu kami bergerak. Albaloind!”
Rayn yang mendengar itu tersentak saat tubuh mereka tiba-tiba terbang dan dikelilingi oleh angin berwarna biru muda yang bergerak menutupi tubuh mereka. Manik orchid Rayn menatap pemandangan pepohonan di bawahnya dan melirik sosok-sosok hitam di belakang mereka yang kewalahan dengan anginnya.
Ivew menyeringai dan mulai menggerakkan anginnya untuk membentuk pusaran angin dan mengurung sosok-sosok hitam yang berusaha mengeluarkan sulur hitam mereka dan berakhir sulur itu menusuk rekannya.
Keduanya semakin jauh dari jangkauan sosok hitam itu dan Ivew menghela nafas lega saat manik emerald-nya menangkap mansion Angena di kejauhan serta rumah-rumah penduduk.
Rayn kembali melirik ke belakang saat perasaan tidak enak menguasai hatinya, pemuda dengan mata orchid itu menatap ke segala arah saat merasakan ada yang mengawasi keduanya.
Rayn menghela nafas lega saat dirinya sampai di titik terakhir yang dijelajahinya sebelum tertangkap sosok-sosok hitam itu. Pemuda dengan mata orchid itu meminta Ivew untuk menurunkan mereka saat manik mata Rayn menangkap seekor kuda yang berkeliaran tanpa arah dan juga pedang yang familar dengannya. Jemari tangan pemuda itu segera meraih tali sang kuda dan menatap pedang yang tertinggal di tubuh sang kuda.
“Ini kuda Anda, Tuan Muda?” tanya Ivew saat melihat Rayn di depannya tersenyum dan mengangguk.
“Bagaimana mungkin kuda bisa bertahan selama ini di tempat terbuka seperti ini?”
Ivew kembali bertanya menatap Rayn saat pemuda itu menurunkannya dan mencoba mengelus sang kuda dengan lembut. Ivew kembali merasakan angin mengalir di sekitarnya, menggerakkan rambut hitam legam sepunggungnya.
“Mereka akan segera datang!”
__ADS_1
Ivew mengernyit saat mendengar suara lembut angin mengalun di telinganya. Siapa? Siapa yang akan datang? Apakah musuh? Ivew melirik ke sana kemari saat menemukan tanah lapang kosong di depan mereka. Manik emerald gadis itu kembali melirik lereng pegunungan yang dipenuhi pohon dan gunung batu di atasnya.
“Apa seseorang tidak pernah menjelajah gunung ini, Tuan Muda?”
Ivew bertanya dan menatap Rayn yang masih sibuk pendekatan dengan kudanya. Pemuda dengan mata orchid itu beralih menatap Ivew dan ikut melirik lereng gunung dan gunung batu di atasnya.
“Hanya para ksatria keluarga Angena yang diizinkan menjelajah di daerah ini mengingat bahaya longsor batu dari gunung yang bisa terjadi kapan saja,” jelas Rayn berdiri di samping Ivew.
Ivew menatap sekitarnya yang terasa sepi. Gadis dengan mata emerald itu mengernyit saat merasakan perasaan aneh dan mengawasi sekelilingnya dengan mata waspada sembari menunggu jawaban dari Rayn.
“Ada apa? Apa kamu merasa juga di awasi?”
Rayn berbisik pelan ke arah Ivew dan mengisyaratkan gadis itu untuk menaiki kudanya. Ivew segera naik ke atas kuda Rayn diikuti sang pemuda yang naik setelahnya. Kuda coklat itu kembali dipacu oleh Rayn secepat yang dirinya bisa menuju kediaman Angena. Ivew melirik suasana sekitar yang sunyi dan semakin merasa janggal.
“Apa tidak ada yang mencari kita di sekitar daerah ini?”
Ivew kembali bertanya memecah hening di antara keduanya. Pemuda dengan mata orchid itu hanya berdehem pelan dan hendak menjawab pertanyaan Ivew. Namun, sedetik kemudian manik mata orchid-nya melebar menatap sebuah bola hitam yang melesat ke tanah di depan mereka. Menimbulkan ledakan dan membuat lubang yang besar.
Panik, Rayn berusaha menghindar dari lubang yang berjarak dua meter darinya, tetapi karena kuda yang terlalu cepat, Rayn gagal menghindari lubang di depannya dan berakhir terlempar dari kuda. Tangan pemuda itu dengan cepat meraih pedangnya untuk berjaga-jaga dan tangan lainnya berusaha meraih Ivew.
Keduanya mengerang saat merasakan rasa sakit yang menyerang tubuh mereka. Suara lengkingan kuda menarik perhatian mereka menatap kuda yang tiba-tiba meledak di lubang di depan mereka.
Manik emerald Ivew menatap ke arah sosok hitam dengan mata bulan sabit tak jauh di depannya, melangkah mendekat ke arah keduanya dengan salah satu tangan mengeluarkan bola hitam ukuran kecil sembari menjawab pertanyaan yang sempat diajukan oleh Ivew.
“Itu karena kami menyembunyikan daerah ini dengan sihir pembatas.”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨