
...⪻⪼...
Ujung dahan yang berada di samping Ivew patah menjatuhkan kedua gadis itu dari ketinggian dua puluh meter. Teriakan panik keduanya bergema hingga akhirnya terdengar oleh rombongan Laveron dan Leister yang berada tak jauh dari ujung pohon terakhir hutan hitam.
Mereka segera memandang ke atas dan berseru menemukan Ivew dan Lolita yang jatuh bebas dari ketinggian. Ivew kembali berusaha mengendalikan angin di tangannya, pusaran angin berwarna biru muda itu berputar di sekitar mereka. Ivew sedikit lega saat angin itu menahan laju jatuh mereka dan melirik Lolita yang tersenyum lega.
“Apa yang terjadi?!”
Laveron segera memacu kudanya menuju Lolita dan Ivew yang masih mengambang di atas langit diikuti oleh Leister dan rombongan lainnya. Pemuda bermata navy itu memanggil nama Ivew dengan panik saat kedua gadis itu kembali jatuh bebas.
“Kenapa anginnya hilang lagi?! Maafkan saya, Nona Muda!”
Ivew berseru frustasi saat anginnya kembali menghilang dan melirik Lolita yang sudah pucat menahan sakit, sedangkan Veister di punggungnya sedang tampak bergumam tak jelas dalam bahasa kucing. Manik emerald Ivew menatap tanah dari ketinggian lima meter. Gadis itu menutup rapat matanya dan bersiap merasakan rasa sakit saat menyentuh tanah.
“Wahai angin yang terus berhembus bantulah kami untuk tetap bertahan! Swieldn”
Ivew membuka matanya saat mendengar teriakan Laveron yang turun dari atas kudanya dan langsung berlari ke arahnya yang mengambang satu meter di atas tanah. Gadis bermata emerald itu terdiam saat melihat dirinya dan Lolita yang mengambang dengan sinar berwarna kecoklatan yang samar mengelilingi tubuh mereka.
Laveron segera meraih pundak sang adik yang tampak bingung dan linglung. Pemuda itu memeluk Ivew erat sedangkan Ivew melirik kucing Veister yang terdiam di samping Laveron saat dirinya teringat dengan suara berat seseorang sebelum dirinya mencapai tanah.
“Lolita! Apa yang terjadi dengan bahumu?!
Perhatian kedua saudara Mirabeth itu teralihkan oleh seruan panik Leister yang meraih tubuh Lolita yang hendak jatuh. Beberapa ksatria flowerlax di belakang mereka segera berjaga di sekitar mereka dari kemungkinan bahaya lainnya. Lolita hanya bergumam pelan dan semakin pucat saat merasakan rasa sakit menyerang tubuhnya. Kulit gadis itu semakin pucat saat urat-urat hitam mulai muncul menjalar menuju seluruh tubuhnya.
Leister dan yang lainnya terdiam saat melihat urat-urat hitam itu semakin jelas muncul di balik kulit pucat Lolita. Gadis bermata delima itu sudah kehilangan kesadarannya dan mulai bernafas dengan berat. Leister memeluk Lolita erat dan menjadikan kedua pahanya sebagai bantalan untuk Lolita.
__ADS_1
“Kita harus kembali, Tuan Muda! Nona Muda membutuhkan bantuan!” ungkap Laveron yang ikut berjongkok di samping Leister. Pemuda bermata ruby itu mengangguk dan memandang wajah Lolita dalam pangkuannya.
“Apa ini karena racun?”
Ivew bertanya pelan dan ikut duduk di samping Laveron. Gadis Kedua pemuda itu menoleh dan kembali melirik wajah pucat Lolita. Gadis bermata emerald itu semakin dipenuhi rasa bersalah saat melihat wajah kesakitan Lolita.
“Tidak! Itu karena serangan sihir hitam!”
Ivew tersentak dan langsung menatap kucing Veister yang duduk tenang di sampingnya. Sedangkan Leister dan rombongan lainnya terdiam saat kucing hitam yang berada di dekat mereka itu berbicara.
“Sihir hitam? Bagaimana mungkin? Lalu apa yang harus dilakukan?”
Leister bertanya dengan panik pada kucing hitam di depannya tak peduli dengan kenyataan atau logika bahwa kucing ini bisa berbicara. Veister tetap tenang dalam bentuk kucingnya dan mendekat ke arah Lolita yang semakin pucat dan merintih menahan sakit.
Laveron sedikit bergeser dan membiarkan kucing hitam itu mengambil tempat di samping Leister yang masih memangku kepala Lolita. Paw hitam kucing itu mendarat di kepala Lolita dan cahaya coklat bercampur perak menyinari mereka.
Laveron menatap dalam kucing di depannya dan melirik Ivew yang terdiam. Manik emerald gadis itu menatap punggung kucing hitam di depannya. Kstaria dan prajurit militer di sekitar mereka hanya diam menyaksikan pemandangan di depan mata.
“Apa anda baik-baik saja, Tuan Kucing?”
Seorang ksatria keluarga flowerlax mendekat ke arahnya. Kucing Veister menoleh dan mengangguk, sedangkan ksatria itu dengan wajah kagum dan bahagia ikut duduk di samping Veister.
“Apa saya boleh memegang paw kucing anda, Tuan Kucing?” tanya ksatria itu dengan pandangan memohon sedangkan rekannya yang lain terdiam dan memukul pelan bahunya.
Kstaria itu hanya meringis kesakitan dan tetap menatap kucing Veister dengan pandangan memohon. Ivew yang melirik keterdiaman kucing Veister tidak dapat menahan tawanya. Gadis bermata emerald itu menyenggol pelan Veister yang masih terdiam.
__ADS_1
Laveron dan Leister yang melihat kejadian di depan mereka hanya tersenyum saat suasana tegang hilang secara perlahan. Lelah ditatap terus menerus kucing Veister akhirnya mengangguk dan memberikan paw kecil berwarna pink itu kepada ksatria di depannya, membiarkan ksatria itu
menyentuhnya.
Ksatria itu tampak senang dan berseru bahagia hingga mengangkat dan mengendong kucing Veister tanpa di sadarinya. Sedangkan rekannya yang lain hanya tertawa dan cukup terhibur dengan rekan mereka yang sangat
menyukai kucing.
“Tuan Muda, apa langkah kita selanjutnya?”
Laveron bertanya mengabaikan kericuhan antara ksatria flowerlax dan rekan prajurit militer yang ingin menggendong kucing Veister. Pemuda bermata ruby itu melirik Lolita dipangkuannya dan melirik tembok putih yang membentang di depan mata mereka serta sisa cairan monster yang mulai membawa angin tak sedap. Ivew melirik Leister yang sibuk dengan pikirannya dan melirik kucing Veister yang mulai marah kepada ksatria flowerlax dan meminta turun.
“Kurasa kita harus kembali, Tuan Muda. Ada banyak hal mendesak yang harus dilaporkan termasuk serangan sihir hitam ini.”
Ivew berujar sembari merendahkan tubuhnya untuk mengambil kucing Veister yang meminta digendong olehnya.
Laveron mengangguk dan menyetujui pernyataan Ivew. Mereka kembali bergerak dengan Lolita yang berada satu kuda bersama Leister yang menjaganya dari belakang. Sedangkan kuda Nona Muda itu akan dituntun oleh ksatria flowerlax. Laveron yang memimpin rombongan melirik kucing Veister yang berada di pelukannya.
“Kenapa kamu berbicara di depan yang lainnya, Veister? Bukankah kamu ingin merahasiakan ini?” bisik Laveron pelan.
Kucing hitam itu menatap Laveron yang pandangannya tetap fokus ke depan dan melirik Ivew yang berada di samping kuda Laveron. Manik dua warna kucing itu kembali menatap ke jalanan di depan mereka.
“Entahlah ... hatiku tiba-tiba tergerak?”
...⪻⪼...
__ADS_1
Happy reading guys ... Jangan lupa tinggalkan like dan komentar agar cerita ini semakin baik kedepannya ....