
...⪻⪼...
Leister dan Ivew turun dari kereta kuda dan disambut oleh seorang pemuda berambut coklat sepunggung yang diikat dibagian ujungnya dengan ikat rambut putih. Mata emas pemuda itu tampak bersinar dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
“Selamat datang di paviliun barat, Tuan Muda Leister,” ucapnya membungkuk hormat di depan Leister yang tersenyum dan menepuk bahunya pelan.
“Tidak usah formal, Raceta. Lagi pula kita tidak di tempat umum, kan?”
Leister tersenyum dan menarik tangannya dari bahu pemuda itu. Sementara Ivew yang baru saja turun langsung menatap pemuda dengan rambut coklat dan mata emas di depannya. Berusaha mencari kepingan informasi tentang sosok bernama Raceta Moly. Manik mata emerald-nya sedikit melebar saat menemukan informasi tentang pemuda di depannya yang terus tersenyum bersama Leister.
Raceta Moly adalah sosok pemuda yang menjadi ajudan Kaisar saat ini sekaligus merangkap sebagai asisten pribadi putra mahkota. Sosoknya yang ramah dan selalu tersenyum membuat nyaman para tamu dan para bangsawan yang datang ke kekaisaran.
Selain itu pemuda itu juga mengerjakan tugas lainnya terkait bidang politik dan penanggulangan serangan para monster. Singkatnya Raceta adalah sosok paling berpengaruh di bawah Kaisar dan Putra Mahkota. Dan juga sosok yang tak bisa diremehkan oleh para bangsawan.
Pemuda bermata emas itu melirik Ivew yang terdiam dan kucing hitam berekor perak yang ada di sampingnya.
“Salam kenal, Lady. Saya Raceta Moly, jika ada pertanyaan Anda bisa menghubungi saya. Jangan sungkan,” ucap Raceta memperkenalkan dirinya.
Ivew memperkenalkan dirinya sebagai sekretaris sementara Leister. Pemuda bermata ruby itu hanya tersenyum saat Ivew menekan kata sementara pada perkenalannya.
“Ah dan salam kenal juga Tuan Kucing jika ada yang ingin anda tanyakan silahkan hubungi saya.”
Ivew dan Leister terdiam saat Raceta membungkuk hormat pada kucing hitam Veister yang kini duduk di samping gaun hijau Ivew. Keduanya melirik kucing Veister yang diam dan menganggukkan kepalanya. Pemuda bermata emas tersenyum dan mempersilahkan keduanya untuk memasuki gedung pavilliun barat yang digunakan sebagai tempat istirahat perwakilan Flowerlax selama berada di kekaisaran.
__ADS_1
Raceta membawa mereka menuju kamar yang saling terhubung sehingga jika ada situasi darurat Ivew maupun Leister bisa saling bertemu dari pintu darurat di dalam ruangan mereka. Pemuda bermata emas itu segera pamit dan hendak menyambut utusan daerah lainnya di paviliun yang berbeda.
Leister mengajak Ivew untuk masuk ke dalam kamarnya hendak berdiskusi tentang sesuatu. Ivew menatap kagum kamar yang tertata rapi. Bahkan, ada wangi vanilla yang menguar dari ruangan di depannya. Leister menatap ke arah taman dari jendela kamarnya. Menatap langit malam yang mulai datang dan lampu-lampu yang mulai menyinari sekitar taman.
“Karena besok kita akan menyampaikan salam kepada Kaisar dan Putra Mahkota apa ada yang kamu tanyakan Ivew?”
Leister melirik Ivew yang berdiri di belakangnya dengan manik ruby-nya yang tetap fokus pada pemandangan di depannya. Gadis bermata emerald itu menggelengkan kepalanya. Meski merasa enggan untuk bertemu dengan kaisar atau pun putra mahkota dirinya tentu tak mungkin lari kembali ke rumah dan lari dari tanggung jawabnya yang sudah menyetujui permintaan Leister. Selain itu dirinya juga perlu mengumpulkan informasi demi bertahan hidup di kehidupan kedua ini dan juga menemukan dalang di balik semua hal yang terjadi kepadanya.
“Saya cukup percaya diri dengan persiapan saya Tuan Muda. Dan saya menolak perhatian dari bangsawan lainnya jadi saya harap Anda tidak terlalu membuat saya mencolok,” jawab Ivew tersenyum.
Leister mengangguk dan mempersilahkan Ivew untuk istirahat di kamarnya. Gadis bermata emerald itu berjalan menuju pintu lainnya yang berada berlawanan dengan arah pintu utama, pintu yang menjadi penghubung antara kamarnya dengan kamar Ivew.
Kucing Veister yang sedari tadi diam kini berubah kembali ke wujud manusia dan sedikit mengejutkan Leister yang hendak berbaring. Manik dua warna Veister memandang Leister yang tersentak menatap kehadirannya.
“O iya saya ada pertanyaan. Anda kenal dengan Raceta, Tuan Veister?”
“Apa dia juga tau identitas Anda sebagai penyihir suci?” tanya Leister setelah hening cukup lama.
Pemuda bermata ruby itu hanya terdiam saat Veister enggan untuk menjawab pertanyaannya. Bahkan, setelah pemuda itu menunggu hingga sepuluh menit. Leister menghela nafas dan mulai berbaring di atas tempat tidur. Veister bangkit dan berjalan menuju jendela kamar menatap suasana malam yang sangat tenang.
“Mungkin saja. Dan untuk besok kalian akan bertemu dengan kaisar, bukan? Berhati-hatilah karena aku tidak bisa ikut dengan kalian! Ada banyak pasang mata yang mengamati gerak-gerik kalian!”
Sementara itu di kamarnya Ivew merebahkan tubuhnya saat rasa lelah menguasai dirinya. Gadis itu menatap tato lima kelopak bunga di tangan kanannya. Menatap dua kelopak bunga yang sudah menampakkan warnanya.
__ADS_1
Mata emerald gadis itu menatap ruangan kamarnya yang sangat hangat dan juga penuh dengan wangi vanilla. Gadis itu bangkit duduk dan menatap gaun hijau yang diberikan Lolita kepadanya dengan wajah bahagia. Gaun pertama yang dipakainya sejak memasuki tubuh Ivew Mirabeth.
“Apa Veister di ruangan tuan muda, ya?” gumam Ivew pelan saat tak mendapati kucing hitam pemalas itu di dekatnya.
Gadis itu menatap kedua tangannya dan mencoba mengeluarkan kekuatan apinya. Mengeluarkan api dalam skala kecil dan mencoba mengendalikannya. Suasana yang sepi dan sedikit remang membuat api yang berada di telapak tangan Ivew memberikan bara cahaya yang menyebar ke sudut ruangan. Gadis itu tersenyum saat menatap api di tangannya bergerak seolah menari mengikuti kemauannya.
Ivew menggerakkan tangannya dan mengarahkan api itu menuju perapian yang berada di sudut lain ruangannya. Nyala api yang semula pudar kini membara dan semakin menghangatkan ruangan.
“Berhati-hatilah dalam menggunakan kekuatanmu! Jangan sampai lepas kendali!”
Ivew tersentak saat kembali mendengarkan suara dengan intonasi bersemangat itu memasuki pendengarannya. Angin sepoi-sepoi terbang di sekitarnya menggerakkan rambut hitam dan gaun
hijaunya.
“Ya ... Efir benar! Kamu harus berhati-hati agar kekuatanmu tidak lepas kendali dan tidak diketahui orang lain. Terutama Kaisar!”
Ivew kembali tersentak saat suara yang lebih lembut memasuki pendengarannya. Gadis bermata emerald itu memandang sekeliling ruangan saat merasakan perasaan aneh yang memasuki hatinya. Gadis itu menganggukkan kepalanya dan kembali membaringkan tubuhnya dan menutup matanya.
“Perasaanku tidak enak.”
Ivew bergumam sembari membelakangi jendela kamar yang jauh di belakangnya. Gadis dengan mata emerald itu merasakan sesuatu datang mendekat dengan kecepatan tinggi dan gadis itu membuka matanya tepat saat suara benturan benda keras pada kaca kamar di belakangnya bergema ke seluruh ruangan.
“Ivew?”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ... apa kalian punya pesan yang ingin disampaikan untuk para karakter dalam cerita ini?