Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
69 - Kemarahan Sang Saintess (4)


__ADS_3

...⪻⪼...


Ivew mendongak memandang ke arah suara yang familiar di telinganya. Sihir pembatas yang samar-samar di kejauhan tampak hilang manik emerald Ivew bertemu dengan manik navy seseorang di antara kerumunan yang hadir tak jauh dari mereka.


Air mata menggenang di pelupuk matanya saat api hijau di sekeliling tubuhnya perlahan menghilang. Sosok dengan mata bulan sabit itu berdecak kesal menatap kerumunan yang hadir di belakangnya.


Manik matanya menatap ke arah sosok berjubah hitam-perak dengan manik mata dua warna yang menatapnya tajam.Rayn yang sedari tadi berteriak panik di dalam perisai angin Ivew juga terdiam.


Manik orchid pemuda itu menatap wanita dengan mata ungu yang tersenyum lembut ke arahnya. Pemuda itu menghela nafas lega dan terduduk sembari menatap punggung Ivew yang bersandar pada perisai anginnya.


"Kita selamat, Ivew. Kita selamat."


Rayn kembali menghembuskan nafas lega dan menatap sosok bermata bulan sabit di depan mereka. Ivew berusaha bergeser sedikit menghindari dari tongkat hitam panjang yang tipis di depannya. Cahaya hitam yang hampir dilepaskan ke arahnya dari ujung tongkat itu menghilang karena kehadiran sosok-sosok baru di depan mereka.


"Bagus! Aku membutuhkan penonton untuk tambahan persembahan!"


Sosok dengan mata bulan sabit itu melirik Ivew dan segera melesat ke arah rombongan yang baru datang.


"Nakrag Tabita!"


Seruan keras terdengar di tengah kerumunan dan rombongan di depan sosok bermata bulan sabit itu menghilang. Manik emerald Ivew memicing tajam menatap ke segala arah. Mencari tempat kemunculan rombongan di depan mereka.


Gadis itu tersentak saat merasakan seseorang menepuk pelan bahunya. Ivew berbalik dan bertemu dengan pandang navy seorang pemuda yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Bang Laveron!"


Ivew segera memeluk pemuda di depannya. Mengabaikan rasa sakit dari luka serta cairan merah yang terus mengalir membasahi tanah. Sihir angin yang melindungi Rayn di belakangnya sudah menghilang dan pemuda dengan mata orchid itu langsung disambut pelukan oleh seorang wanita dengan rambut abu-abu tua yang sama seperti miliknya. 


Leister yang berdiri di belakang Laveron tersenyum saat menatap dua saudara itu akhirnya bertemu setelah berpisah cukup lama. Veister dengan jubah hitam peraknya berjalan ke dekat Ivew dan jongkok di samping gadis bermata emerald itu.


"Veister? Sejak kapan kamu tidak pakai tudung jubahmu?"


Ivew menatap Veister yang kini tersenyum ke arahnya. "Sejak kamu menghilang dan aku mengungkapkan identitasku."


Veister mengulurkan tangannya ke arah Ivew serta Rayn dan mulai mengeluarkan cahaya berwarna coklat bercampur perak. Keduanya tersentak saat menatap luka-luka di tubuh mereka yang mulai sembuh.


"Wah … reuni yang menyenangkan!"

__ADS_1


Veister memandang tajam ke arah sosok bermata bulan sabit yang berada dua puluh meter di depan mereka. Tongkat hitam panjang yang tipis milik sosok itu tampak bersinar dengan cahaya hitam di ujungnya. Pemuda dengan jubah hitam-perak itu segera bangkit dan berdiri beberapa langkah di depan Ivew.


Laveron yang masih di samping Ivew melirik sebagian rambut hitam sang adik yang berwarna putih. Manik


navy sang pemuda menatap noda merah yang berada di baju serta beberapa bagian tubuh sang adik. Laveron melepaskan jubah hitam yang sering digunakannya dan memakainya pada Ivew.


Manik emerald Ivew menatap Laveron yang menguntai senyum ke arahnya. Pemuda dengan mata navy itu membantu Ivew berdiri dan segera mengeluarkan pedangnya. Manik emerald Ivew beralih menatap Leister yang tersenyum ke arahnya.


Gadis itu sedikit membungkuk hormat menyapa tuan muda dari keluarga Flowerlax itu,  sedangkan Leister hanya tersenyum dan menepuk pundak Ivew pelan. Merasa bersyukur bahwa gadis itu dapat


mereka temukan.


"Terima kasih sudah membawa Rayn dengan selamat, Lady Mirabeth."


Ivew beralih memandang wanita dengan rambut abu-abu tua yang berdiri di samping Rayn. Senyum lembut hadir di wajahnya saat menatap wajah gadis di depannya.


Gadis dengan mata emerald itu ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya, melirik Rayn yang ikut tersenyum dengan tubuhnya yang dirangkul oleh seseorang. Senyum di wajah gadis itu sedikit hilang saat menatap wajah pemuda di samping Rayn.


"Kenapa? Kamu tidak suka melihatku?"


"Anda salah paham, Tuan Muda Ramound."


Ivew kembali menguntai senyum di wajahnya mengabaikan seringai di wajah Ramound yang selalu membuatnya kesal. Gadis dengan mata emerlad itu melirik wajah-wajah baru yang hadir di sekitarnya.


Sosok bermata bulan sabit di depan mereka tetap diam di tempat dengan cahaya di ujung tongkat hitam tipisnya semakin besar. Veister segera bergerak maju dan mulai mengeluarkan mantra untuk membuat sihir pelindung.


Sebuah kubah berwarna perak bercampur coklat hadir dan menutupi seluruh rombongan. Sosok bermata bulan sabit itu menyeringai saat bola hitam dengan diameter lima meter di depan tongkatnya diluncurkan ke arah perisai Veister.


Pemuda dengan mata dua warna itu mendengus kesal dan menambah lapisan perisainya. Suara tabrakan perisai dengan bola hitam itu membuat tanah di sekitar mereka bergetar. Kilatan hitam hadir di sekitar bola hitam yang terus berusaha menembus perisai pelindung Veister.


Ivew menggerakkan tangannya untuk mengendalikan angin dan membentuk perisai yang berada di depan dan di belakang lapisan terakhir pelindung yang dibuat Veister. Pemuda dengan mata dua warna itu berbalik memandang Ivew yang tersenyum dan mengangguk ke arahnya.


Benar juga. Sekarang aku tidak sendirian lagi. Batin Veister dengan tangan bergerak memperkuat perisai


terakhirnya yang sudah dilapisi perisai angin biru muda Ivew.


Manik navy Laveron kembali menatap rambut hitam Ivew yang berubah berwarna putih secara perlahan-lahan hingga meninggalkan warna hitam di bagian telinga ke atas.

__ADS_1


"Terima kasih sudah datang, Bang."


Laveron tersentak saat mendengar ucapan Ivew yang berdiri di sampingnya. Jemari tangan sang pemuda bergerak mengelus puncak kepala Ivew dengan mata yang terus menatap bola hitam di depan mereka.


"Abang akan selalu ada di sampingmu, bahkan jika jiwamu bukanlah jiwa milik adikku," bisik Laveron dengan wajah tersenyum.


Manik emerald Ivew melotot mendengar kalimat yang disampaikan Laveron. Gadis itu melirik Laveron yang tetap menampilkan senyum di wajahnya, tidak ada gurat marah di wajah sang pemuda.


"Bagaimana … abang ta-"


"Kita sama-sama punya rahasia, Ivew. Aku akan mengatakan semuanya saat semua ini selesai."


Laveron kembali mengusap puncak kepala Ivew dan menganggukkan kepalanya perlahan. Jantung gadis itu berdetak kencang saat mendengar Laveron mengetahui fakta lain dari jiwa di dalam tubuhnya.


Tangan gadis itu mulai berkeringat dengan pikiran yang mulai tidak tenang. Veister yang berdiri di depan terus menatap kilatan dari bola hitam yang mulai mengecil.


Senyum hadir di wajah sang pemuda saat menyadari bola hitam itu tidak mampu menembus perisai yang mereka buat. Veister segera menyatukan kedua telapak tangannya dan mulai menyebut mantra sihir.


"Dari kegelapan menuju cahaya yang abadi. Hitam putih yang saling bertolak belakang. Bantulah kami menahan pesona hitam yang menyesatkan. Seart atroy!"


Sulur-sulur berwarna emas keluar dari lingkaran sihir di bawa Veister dan segera bergerak menuju sosok


bermata bulan sabit di depan mereka. Tongkat hitam sosok itu segera mengeluarkan bola hitam untuk menghalau sulur-sulur yang mengarah kepadanya.


 Namun, semua tindakannya gagal dan salah satu sulur mulai melilit perutnya menghasilkan nyala api berwarna emas bercampur perak. Teriakan kesakitan sosok bermata bulan sabit itu bergema saat cahaya hitam keluar dari tubuhnya.


Manik emerald Ivew menatap sosok di depannya yang terus mengeluarkan asap hitam. Veister yang menutup mata berusaha menjaga konsentrasinya tersentak saat merasakan sesuatu memutus sulur emasnya.


"Ternyata kau benar-benar kembali ya, Penyihir Suci."


...⪻⪼...


Gimana chapter ini?


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ...


Aku menunggu komentar terbaik kalian. Salam dari White Blossom .... 💐

__ADS_1


__ADS_2